METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
TAMAN DAN MIMPI


__ADS_3

Mereka sama-sama berlari melintasi jalan setapak yang naik turun dari pesantren ke kebun kopi. Tidak lewat jalan umum yang bisa dilewati kendaraan. Sengaja. Semakin menantang jalan yang dilewati bagi remaja akan menjadi suatu hal yang menyenangkan. Dari jauh sudah tampak para pekerja tampak sedang memetik buah kopi yang telah matang dengan warna merah segar. Faiz rindu pada wangi kopi menguar ke seluruh kebun bergabung dengan segarnya udara pegunungan. Rindu menjahili pekerja kebun. Juga rindu pada permainan petak umpet dan berkejaran diantara kebun kopi dan taman mawar di kebun belakang dimana terdapat mata air murni yang rasanya segar. Banyak sekali kenangan masa bermain yang dilakukannya pada waktu kecil bersama Biru, Amar dan Azka. Semakin besar intensitas waktu bermainnya semakin sedikit karena mereka memiliki minat yang berbeda sehingga waktu luangnya hampir tak pernah bersamaan.


Sekarang liburan. Waktunya bermain dan kumpul bersama lagi. Sebelumnya liburan semester digunakan Faiz untuk pulang atau berlibur bersama keluarganya. Sisa liburan kali ini kayaknya asyik kalau bermain dan berkumpul dengan saudara sepupunya mengenang kebersamaan mereka melewati masa kecil.


“Mar, kamu kemarin datang di acara haulnya om Ardi?”


“Iya.”


“Banyak yang datang?”


“Banyak banget, Kak. Aula dan masjid pesantren penuh.”


Alhamdulillah. Semua orang pasti ingin mengenang kebaikan om Ardi yang turut berperan besar dalam pengembangan pesantren. Faiz ingat, om Ardi sering memberinya hadiah saat ia berhasil melewati tantangannya. Terakhir om Ardi memberinya hard disk istimewa yang dipesannya khusus dari perusahaan ternama di Amerika. Hard disk itu ringan dan besarnya hanya seukuran kepalan tangan tapi kapasitas penyimpanannya sangat besar. Hard disk itu masih dipakai sampai sekarang untuk memback up karya-karyanya dalam dunia pemrograman game. Om Ardi menghadiahkan hard disk itu karena ia berhasil mencapai target menang lomba pemrograman game.


Om Ardi begitu baik padanya. Kenapa ya kalau orang baik sering kali terlalu cepat dipanggil Tuhan? Herannya kenapa anaknya acuh tak acuh dan menyebalkan begitu. Jadi penasaran. Apasih yang membuat Rosyid seperti itu.


“Menurut kamu si Rosyid gimana, Mar?” Faiz meminta pendapat Amar yang posisinya netral dan selalu jujur apa adanya.


“Nggak tahu. Nggak begitu kenal. Gimana, Ka? Kamu kan teman sekelasnya.” Amar malah mengarahkan anggukan kepalanya pada adiknya yang sejak kecil gemar mengekorinya.


“Dia pendiam banget, tapi pinter. Juara kelas.”


“Suka melukis?”


“Iya. Lebih tepatnya suka bikin komik.”


Hah? Suka bikin komik? Kenapa anak menyebalkan itu hobinya bisa sama?


“Manual? Atau pakai komputer kayak aku?”


“Manual, Kak. Kalau kak Faiz kan bikin komiknya dengan cara merepro foto melalui media digital. Kalau Rosyid itu gambar sendiri manual pakai tangan.”


Uh. Faiz tersenyum remeh dengan ekor mata sedikit berkedip. Serupa tapi tak sama. Caranya membuat komik jauh berlari tiga jaman ke belakang. Karya seni handmade memang lebih berkarakter, orang menganggapnya  unik karena hasil coretan tangan tidak pernah ada yang benar-benar sama persis. Selain itu produk homemade dihargai mahal dengan alasan membuatnya melibatkan hati dan perasaan. Padahal komik modern lebih canggih, bisa diutak-atik jadi multi dimensi sehingga pembacanya merasa benar-benar bisa melihat karakter yang diceritakan dalam komik. Tentu saja membuatnya pun melibatkan hati dan perasaan yang tak kalah dalamnya agar dapat membuat karakternya benar-benar hidup.


“Temannya banyak?”


“Enggak. Tapi banyak yang kagum padanya.”


“Bukan kagum, mungkin lebih tepatnya iba.” koreksi Faiz. Entah mengapa hatinya menolak cerita Azka. Padahal anak itu sedang berbicara apa adanya. Merasa tersaingi? Oh, mungkin.


“Kagum, Kak. Bukan iba.” bantah Azka.


“Jaman sekarang itu orang banyak yang kagum karena iba, Ka.”

__ADS_1


Azka diam. Anak-anak Lily tak ada yang berani menyanggahnya apa kata Faiz, meskipun Amar yang usianya lebih tua dari Faiz. Sejak kecil mereka sudah segan pada kakak sepupunya itu dan cenderung menuruti apapun perintah dan kemauan si ganteng bermata biru itu.


“Betul kan, Mar?” Faiz mencari pembenaran dengan menoleh ke arah Amar dan memberinya sedikit tatapan intimidatif.


“Bisa jadi.” Amar memilih jawaban yang menggantung saja.


Faiz tidak terlalu suka dengan jawaban itu. Otaknya langsung menduga, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Amar bila memilih tidak mendukungnya.


“Kok bisa jadi sih, Mar? kalau menjawab sesuatu itu jangan nanggung.” tegurnya.


“Pernyataan kak Faiz benar, tapi tidak sepenuhnya dianggap benar untuk kasus Rosyid. Kagum itu disebabkan karena orang punya banyak hal yang menarik. Bisa harta, kecakapan, kepintaran, ketampanan atau yang lainnya. Bisa juga kagum karena perjuangan dan keteguhan.” Tetap saja Amar mencari aman dengan jawaban yang tidak pasti ya atau tidak.


“Menurut kamu orang mengagumi dia karena apa?” desak Faiz.


“Karena dia pintar.” jawab Azka menyela dengan jawaban pasti.


Rasanya kok Faiz tidak terima ya kalau Rosyid dikagumi karena pintar.


“Apa dia lebih pintar dari aku?”


“Enggak. Kak Faiz tetap paling pintar.”


Faiz tersenyum lega. Faiz gitu lo. Mana ada yang menyainginya. Hahaha


“Ohya?”


“Iya.”


“Menurutmu dia bakal lolos?”


“Nggak tahu.”


“Kamu nggak ikut kelas akselerasi juga, Ka?”


“Enggak lolos seleksi. Kata Abah nggak apa-apa. Ikut kelas akselerasi belum tentu enak. Bisa jadi bosan belajar melulu atau stres karena pelajarannya tidak sesuai dengan umur.” Azka menunjukan pembenaran atas ketidakmampuannya. Tujuannya pasti hanya untuk menghibur diri.


“Kata Abah kita harus bisa mengukur kemampuan. Jangan kayak bayi dipaksa lahir prematur. Mungkin ada fungsi tubuhnya yang belum berkembang normal.” tambah Amar dengan yakin. Kedua bersaudara itu memang selalu kompak dalam segala hal. Termasuk pada cara menghibur diri atas ketidakmampuannya. Itu yang membuat mereka tak pernah minder dan mensyukuri hidupnya


“Kita ikut kelas normal aja ya, Kak?” Azka memandang kakaknya mencari dukungan.


“Benar.”


“Biar sama dengan yang lainnya.”

__ADS_1


“Iya.”


Hasil didikan bi Lily ternyata sama semua, anak-anaknya suka bekerja keras tapi tak berambisi besar. Kedua orang tuanya relatif setipe, selalu mencontohkan mengutamakan keselarasan perkataan dan perbuatan. Sehari-harinya keluarga itu hidup sederhana, jujur, serta disiplin dengan waktu dan aktivitasnya.


Faiz memilih tidur-tiduran di rumput hijau yang serupa permadani terhampar di dekat kebun mawar belakang rumah. Ini tempat favoritnya, juga teman sepermainannya. Tidur telentang dengan tangan yang dihentangkan


terbuka menatap langit sambil menceritakan mimpi dan harapan yang tiap hari boleh berubah-ubah. Namun kedua anak bi Lily tak pernah mau mengubah mimpinya. Tiap hari mengatakan hal yang sama. Rumahnya adalah surga. Seandainya diberi kesempatan terlahir kembali, mereka ingin lahir dari kedua orang tua yang sama, memiliki rumah yang sama, kebun kopi, peternakan dan semua hal yang mereka telah miliki sekarang.


“Aku mau kuliah di al Azhar Kairo lalu pulang ke Indonesia jadi guru di pesantren sambil ngurus kebun kopi Abah.” Amar selalu mengatakan hal yang sama berulang-ulang.


Beda dengan Faiz yang keinginannya banyak. Tiap menemukan sesuatu yang baru, ia akan menjadikan itu sebagai cita-cita hidup. Pernah ingin menjadi pilot pesawat tempur agar terlihat keren. Lain waktu setelah merasakan trenyuh melihat bibi Lily berhari-hari dirawat di ruang ICU dan temannya yang meninggal karena wabah demam berdarah, Faiz berharap kelak ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan banyak orang yang sakit. Setelah pulang dari kunjungan ke sekolah polisi di Sukabumi, Faiz terpengaruh pada atraksi polisi saat latihan menembak, menjinakan bom dan melakukan berbagai simulasi penyelamatan warga. Ia pun ingin menjadi polisi pengayom masyarakat. Akhir-akhir masa SMP setelah tahu sumber dana terbesar yang membiayai klinik gratis dan pesantren ini adalah bisnis ayahnya, cita-citanya kembali ke selera asal, yakni ingin menjadi seperti ayah yang disegani karena dikenal sebagai pengusaha sukses yang gemar melakukan berbagai kegiatan filantropis.


“Cita-citamu masih tetap sama, Mar?” tanya Faiz sambil memandang langit dan menghirup segarnya wangi mawar yang membangkitkan gairah.


“Iya.”


Setelah 3 bulan lebih tak bersua pun Amar tetaplah Amar yang memiliki mimpi dan cita-cita yang sama sejak kecil.


“Kak Faiz cita-citanya berubah lagi?” Amar menoleh sebentar memandang Faiz. Azka juga melakukan hal yang sama. Seperti ada yang menggerakan kedua saudara itu untuk selalu melakukan hal yang sama tanpa komando. Sesaat kemudian mereka kembali memandang langit biru dengan awan putih yang berarak-arak mencari tempat nyaman buat berkumpul dengan gerombolan awan lainnya. Sesekali burung terbang melintas.


Pada musim-musim tertentu di langit kadang terlihat rombongan burung-burung bermigrasi bagaikan sebuah gambar yang berjalan di antara awan putih dan birunya langit. Itu adalah hal yang paling dirindukan. Kapan ya Faiz bisa bersantai seperti ini lagi menyaksikan migrasi burung-burung. Jampang merupakan kawasan lintasan sekaligus tujuan dari migrasi burung-burung. Biasanya migrasi itu terjadi diantara bulan Oktober hingga Maret. Kata guru Biologi pada bulan-bulan tersebut musim dingin terjadi di belahan bumi utara sehingga menyebabkan pasokan makanan mulai menipis. Akibatnya, burung-burung yang hidup di kawasan tersebut melakukan migrasi ke wilayah selatan yang jauh lebih hangat dan menyimpan makanan. Proses migrasi ini terus berlangsung setiap tahunnya dan bisa dijadikan ukuran baik buruknya kelestarian ekosistem di alam dan kondisi perubahan iklim.


Proses migrasi burung seringkali membentuk sebuah formasi yang unik. Hal inilah yang banyak diabadikan oleh fotografer pencinta burung di beberapa kawasan migrasi. Sekarang foto formasi unik ketika burung bermigrasi di bawah cahaya mentari senja dijual dengan harga yang lumayan di metaverse. Faiz baru kepikiran. Orang-orang kota pasti ingin menyaksikan keindahan yang langka terjadi itu dan tertarik menjadikan peristiwa alam ini bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi yang efektif. Di negara-negara seperti Eropa dan Amerika, aktivitas “birdwatching” atau proses melihat burung migrasi sudah dijadikan suatu ekowisata tahunan.


Migrasi burung dalam kepercayaan tradisional di Jampang, Dayak dan Badui Dalam memiliki arti tersendiri. Kedatangan burung-burung migrasi tersebut menandakan proses pergantian musim sehingga masyarakat adat melihat aktivitas burung-burung migrasi sebagai waktu datangnya musim hujan dan waktu mulai bercocok tanam.


“Kak Faiz cita-citanya ganti lagi nggak?” Amar mengulangi pertanyaan yang sama. Ia sudah penasaran menanti Faiz bercerita tentang mimpinya yang baru.


Faiz tersenyum, tahu jika kedua adik sepupunya pasti menginginkan ia bercerita tentang mimpi dan cita-citanya yang baru. Terakhir mereka tiduran bersama di taman ini Faiz bercerita tentang mimpinya membuat dunia metaverse keluarganya sendiri dan ingin menjadi pemain E-Sport internasional. Cita-cita yang gamblang jadi pemain E-Sport terlalu mudah dicapai, meskipun ia harus mengorbankan sekolahnya dan berpisah dari kedua sepupunya yang menjadi teman bermain sejak awal usia sekolah.


“Aku belum punya cita-cita baru lagi, Mar.”


“Nggak lanjut main gamenya?”


“Enggak. Aku nggak mau diperbudak para pencinta game."


Faiz celingak-celinguk memastikan tidak ada orang lain selain mereka bertiga yang mendengar. "Ssttt. Jangan bilang siapa-siapa ya, sebagian mereka yang banting uang di universe war ternyata bandar judi.”


“Hah? Judi?”


_____________


Happy weekend🌻

__ADS_1


Bantu sharing ke teman lainnya ya dan jangan lupa like, komen, hadiah dan vote untuk mendukung Faiz


__ADS_2