
Biru menghabiskan waktu class meeting dengan aktif menjadi tim voli kelas 10-1. Meski minim latihan namun timnya yang terdiri dari Yurika, Hani, Erina, Kikan dan Wiwin cukup kuat. Tim besutan baru itu terkenal tangguh dan belum terkalahkan. Di babak penyisihan grup kelas 10 skornya paling tinggi dan otomatis masuk semifinal melawan kelas 11-1 dimana terdapat Shieny sekretaris OSIS yang jutek dan selalu nyinyir pada Biru.
“Besok kita lawan kelas triple one, Bi. Kamu harus siap-siap, jangan sampai kena mental. Ada kak Shieny di tim itu.”
“Memangnya di jago voli?”
“Dia kapten tim voli sekolah.”
“Oooh.”
“Dia bakal ngincer kamu deh, Bi.” kata Kikan sambil mengikat tali sepatunya.
“Maksudnya?”
“Pasti ada upaya buat bikin mental kamu jatuh. Kelas 11-1 terobsesi harus menang pertandingan voli!! ini. Kemarin sempat kalah sama tim 11-3 makanya jadi runner up grup kelas 11."
“Aku nggak pernah punya masalah sama dia.”
“Mungkin kamu beranggapan begitu, tapi dia nggak. Dengar-dengar dia itu sebenarnya naksir sama kak Rio tapi nggak dianggap karena ada kamu. Seluruh sekolah tahunya kamu pacaran sama kak Rio. Kalian sering kelihatan ke mana-mana berdua sih.”
Biru merespon dengan cuek. “Aku cuma temen deket, nggak pacaran kok. Kami tuh memang suka jalan bareng dan ngobrol soal olahraga. Cuma jalan nonton pertandingan ke GOR atau nonton bioskop kan nggak harus pacaran. Kalau dia naksir kak Rio kan tinggal bilang ke orangnya mau nggak jadi pacarnya. Aku mah slow aja, Ki. Aku nggak ngerebut pacar orang kok.”
Kikan dan tim lainnya manggut-manggut. Dalam hati Kikan masih bertanya, apakah Biru bersikap cuek karena bukan anak yang gampang terbawa perasaan atau karena dia belum dengar gosip-gosip yang bertebaran di kalangan siswa sekolah itu. Selama ini Biru dikenal sebagai anak yang tak terlalu bergaul dan tak suka bergosip. Dia selalu sendirian pas jam istirahat. Sesekali terlihat ngobrol dengan Dony dan Rio. Bulan-bulan awal masuk sekolah ia terlihat akrab dengan Kayla tapi akhirnya Kayla ninggalin karena sudah berubah glowing dan diterima masuk gengnya Bianca yang terkenal alay.
Arina menepuk bahu Biru, “Pokoknya besok kamu harus siap mental, Bi. Jangan sampai terprovokasi kalau misalnya ada yang ngapa-ngapain kamu. Kekuatan tim kita sangat tergantung sama kamu.”
“Namanya olahraga beregu, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh satu orang, Na. Anak-anak 10-1 juga semuanya harus dukung kita.” bantah Biru. Ia tak ingin memikul beban sendirian.
__ADS_1
Class meeting memang jadi ajang pertaruhan gengsi kelas. Namun bagi Biru hanya pertandingan persahabatan yang menang atau kalahnya dianggap biasa. Tidak ada target sama sekali.
“Anak-anak alay itu mana mau nonton pertandingan voli. Mereka mah cuma datang ke sekolah buat absen terus gosip atau kelayapan ke mall.” komentar Arina pesimis. Mereka memang selama babak penyisihan bertanding dengan minim suporter.
“Kamu sekarang kayaknya nggak dekat lagi sama Kayla ya, Bi. Dia kan sekarang kayak udah masuk ke geng anak alay itu.”
“Nggak usah ngomongin Kayla. Dia itu cuma pansos di geng anak alay itu. Kalau mau ramai suporter mendingan kita bisa suap si Bianca buat jadi suporter.” Kikan langsung menyambar kalimat Hani. Dia itu dari dulu konsisten tidak suka sama Kayla. Sejak masih dekil sampai jadi glowing Kikan tetap nggak suka sama Kayla.
“Suap? Caranya?”
“Pakai money politics lah. Tim pom pom girl bakal bergerak kalau ada duit.” Kikan menggerak-gerakan jari jempol dan telunjuknya seperti menghitung uang.
Arina mendorong pelan kepala Kikan seraya tersenyum. “Masalahnya duitnya dari mana, Kikan. Ini kan cuma pertandingan class meeting. Kalau menang hadiahnya paling cuma kaos. CUMA KAOS."
Kikan nyengir kuda. Besar pasak dari pada tiang dong. Hehehe.
Biru mengacungkan jempol sambil tersenyum. Olahraga itu perlu sportifitas tinggi. Beda dengan politik yang segalanya kudu dibayar pakai uang. Kalah atau menang harus disikapi dengan jiwa besar. Akhirnya seluruh anggota tim sepakat dengan pendapat Hani dan mengabaikan ide nyeleneh Kikan buat bayar suporter.
Mereka masih duduk di tepi lapangan sambil makan roti isi daging panggang yang dibawa Biru dan minum air mineral dingin yang disediakan Anjas sang ketua kelas.
“Btw kemarin aku ketemu Kayla di GI jalan sama om-om. Dia sekarang BO ya?” Arina mengawali pembicaraan berikutnya berisi gosip.
Biru yang semula diam dan tak peduli gosip terperangah begitu mendengar pembicaraan rekan timnya tentang Kayla. Dipikir-pikir wajar dia digosipkan begitu karena dalam waktu sebulan kerja sampingan jadi terapis sekarang dia sudah pakai i-phone dan barang-barang bermerek. Memangnya berapa sih gaji seorang terapis paruh waktu? Apa mungkin menyentuh angka puluhan juta? Orang pasti terdorong berpikiran negatif karena perubahannya yang terlalu drastis.
“Tanya Biru tuh yang pernah dekat dengan Kayla.” Hani mengerdipkan matanya ke arah Biru.
Semua anggota tim Voli jadi memandang ke arah Biru. Eh Biru jadi serba salah harus bagaimana menyikapinya.
__ADS_1
“Maaf, aku nggak tahu apa-apa tentang Kayla!” ungkapnya jujur.
“Elo udah dibuang ya, Bi?” Wiwin yang sejak tadi tak bicara tiba-tiba meledek Biru dengan memiringkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
“Bukan Biru yang dibuang, Win. Dia aja yang emang nggak pantes temenan sama Biru yang jebolan pesantren." bela Kikan.
"Memangnya dia ngakunya kerja apa sama kamu, Bi?”
“Terapis spa di kawasan Blok M.” Lagi-lagi Biru tidak bisa menjawab kecuali dengan apa yang pernah disampaikan Kayla padanya.
Kikan tertawa terbahak-bahak. Sementara Biru terbengong-bengong.
“Tuh bener kan dugaan aku. Asal tahu aja ya. Sampai sekarang itu rumahnya Kayla masih ngontrak dekat stasiun Manggarai. Bapaknya masih jadi kuli angkut pasar. Ibunya masih kerja serabutan. Dari mana dia dapat uang buat ngikutin gaya hidup geng alay kalau nggak kerja di spa plus plus. Dari awal aku yakin dia BO. Udah jadi rahasia umum kalau terapis spa itu biasanya BO juga.”
"Spa plus plus itu apa, Ki?" tanya Biru dengan raut lugu. Ia benar-benar tak tahu.
"Itu spa yang menyediakan jasa prostitusi terselubung."
Astagfirullah, Biru kaget. Ia mengelus dadanya dengan tangan kanannya beberapa kali usap. Biru tidak sempat kepikiran sampai sejauh itu. Yang Biru tahu spa itu adalah cara orang merelaksasi tubuh dengan mandi air hangat, aromaterapi dan pemijatan. Dia pernah ikut spa yang memang dikhususkan untuk perempuan di sebuah salon muslimah. Pelanggan dan terapisnya sama-sama perempuan dan tidak melanggar syar'i.
Kenapa Kayla sampai mau bekerja di tempat seperti itu ya? Pantas dia pernah bilang mungkin spa tempat kerjanya tidak akan sama dengan spa di salon muslimah langganan kakaknya. Apa uang membutakan segalanya? Padahal kalau Kayla mau, ada teman kakaknya yang butuh pelayan kafe dan ia bersedia merekomendasikan Kayla untuk dapat pekerjaan itu.
Biru tak tahu alasan Kayla menjauh darinya. Apa karena malu dan merasa tak pantas berteman dengannya atau ada hal lain. Tapi masa bodo. Biru sudah terlanjur kecewa dibilang pelit. Enggan buat dekat lagi dengan Kayla. Lagipula Biru merasa pemikirannya dengan Kayla tak sejalan. Tak perlu dipaksakan. Lihat saja nanti perkembangannya seperti apa. Lagipula gosip itu belum tentu benar. Biru enggan berpikir terlalu jauh.
__________
Love you, Biru💖
__ADS_1