METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
METAVERSE BIRU (1)


__ADS_3

Deg. Biru hampir terbelalak. Si mata biru ini punya indera ke enam ya? Apa dia belajar ilmu cenayang? Mengapa dia terlalu pintar? Jadi … Dia sebenarnya tahu kalau dialah yang jadi target penculikan itu. Artinya dia juga tahu dong siapa yang menculiknya. Kenapa tadi tenang-tenang aja saat bertemu penculiknya?


Tapi ... Baguslah dia lebih dulu tahu tanpa Biru harus cerita. Tapi kok bisa anak itu bersikap tenang seperti tak merasa punya masalah apapun. Entah terbuat dari apa otak dan hatinya. Dalam situasi ini dia masih bisa bersikap tenang dan datar seperti air danau kecil yang sama sekali tak beriak.


“Kamu sengaja mengumpan Bibi buat gantiin kamu ya?”


Faiz menggeleng pasti, “Aku tidak mungkin seperti itu. Tim mereka yang bodoh bisa salah identifikasi orang. Bibi kan tahu sendiri sejak pagi pakde minta aku mengontrol pekerjaan puluhan programer ahli guna menyelesaikan proyek cyber security yang dipesan sebuah perusahaan besar. Lagipula bukan aku yang minta Bibi bekerja di resto.”


Iya sih. Biru tahu tuduhannya itu tidak masuk akal. Biru memang bekerja di resto atas keinginannnya sendiri. Ia bahkan setengah memaksa Faiz agar diperkenankan ikut bekerja. Yang terpikir dalam benaknya adalah ingin belajar bisnis sekaligus membiasakan diri mengenali lebih banyak orang dengan karakter yang beragam. Selama ini Biru berada dalam lingkungan pesantren yang pemikiran orang-orang di dalamnya relatif homogen. Semua agamis. Tidak ada yang atheis. Tidak ada yang liberal atau komunis. Hampir tak ada orang yang berani melanggar peraturan pesantren yang berlandaskan ajaran agama sesuai al qur’an dan sunnah. Selain karena sangsinya tegas, orang-orang yang masuk dalam lingkungan pesantren sudah memahami doktrin-doktrin agama yang harus dipegang teguh. Orang yang tidak sepemikiran otomatis menghindar, tidak akan berani menginjakan kaki di dalam lingkungan pesantren yang agamis. Yang ada di pesantren paling paling hanya santri yang sedikit nakal. Hanya kenakalan remaja biasa yang tidak berkaitan dengan pemikiran atau pola hidup yang menyimpang jauh dari ajaran agama. Kenakalan itu pun lebih sering dilakukan di luar lingkungan pesantren. Takut kuwalat. Berbeda dengan Jakarta yang penduduknya amat heterogen. Segala pemikiran dan tingkah laku orang ada di dalamnya.


“Oh iya, kamu bilang tadi yang menculik adalah mafia musuh kak Bas. Apa itu berarti mamaku bermusuhan dengan keluarga Wirajaya?”


Faiz mengangkat bahu sambil mencibir.


“Katakan, Iz! Apa itu benar?”


“Aku nggak mau menduga-duga, Bi.” Faiz menggeleng. Sikapnya masih datar dan sulit terbaca apa maknanya. Dia memang bukan tipe anak yang ekspresif seperti Faiza. Sedih, gembira, lelah, marah dan semua emosi tergambar dengan garis wajah yang hampir serupa. Hanya satu ekspresi yang mendominasi, kesan angkuh dan dingin.


“Katakan, Iz! Kamu pasti tahu alasan mama merencanakan penculikan kamu.”


Faiz memilih mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia menutup rapat bibirnya, sama sekali tak membuka mulut sedikit pun.


“Iz…” Biru memasang wajah memelas. Ia tak tahu harus bertanya dengan kata apa lagi. Berdasarkan bukti dan kenyataan yang dilihat panca inderanya malam ini yang tertangkap di otaknya hanya satu kesimpulan, saat ini mama dan keluarga papanya saling bermusuhan. Biru hanya butuh penegasan dari Faiz bahwa kesimpulannya itu benar.


Faiz melangkah mundur.


“Bibi coba saja alat yang kuhadiahkan sebelum tidur. Di dalamnya ada kumpulan video Opa yang kususun dari dokumentasi Goldlight dan CCTV rumah. Videonya sudah diedit dan direpro menjadi video multi dimensi dengan kualitas gambar yang lebih baik. Aku tahu setelah bertemu Oma, Bibi pasti kangen sama Opa. Kalau alatnya sudah bisa berfungsi sempurna, Bibi bisa kok berkomunikasi dengan Opa. Coba aja! Semoga bisa menjawab keinginan Bibi bertemu beliau.”


Akh, dia sengaja mengalihkan pembicaraan. Sok bijak. Biru yakin, Faiz tahu tentang hubungan mamanya dengan keluarga papanya. Dia pasti tahu banyak tapi tak mau bicara. Dia terlalu pelit dalam urusan kata. Kali ini tak ada yang dijadikannya juru bicara. Masalah ini terlalu riskan. Ini bukan urusan sepele. Dia tak mungkin menggunakan mulut orang lain untuk mengungkapkan hal privasi.

__ADS_1


“Jawab dulu pertanyaanku, Iz! Apa mamaku bermusuhan dengan keluarga Wirajaya?” Biru meninggikan nada bicaranya agar bisa memaksa keponakannya untuk mengatakan sesuatu yang saat ini menggelayut dalam otaknya.


“Apa aku selama ini sengaja disembunyikan dari mamaku karena permusuhan itu?”


Faiz kembali angkat tangan. “Gunakan saja hadiah dariku. Mungkin Bibi akan tahu jawabannya.”


“Bibi butuh jawaban kamu. Katakan saja ya atau tidak. Apa susahnya sih.” Biru mulai kesal dengan sikap Faiz yang terkesan bertele-tele.


“Aku ngantuk.” Si mata biru itu langsung membalikan tubuh lalu buru-buru keluar dari kamar dan membiarkan Biru terus dilanda rasa penasaran.


Argh. Biru mengepalkan tangannya. Kecewa sebab Faiz memilih untuk lari menghindar.


Baiklah, Iz. Ini sudah malam. Waktunya istirahat. Biru akan bersabar menunggu besok untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sama. Biru bertekat dalam hati akan bertanya terus sampai dapat jawaban yang memuaskan hati. Biru harus tahu siapa mamanya dan kenapa hubungannya dengan anak-anak sambungnya putus begitu saja. Mama pasti punya alasan kenapa berniat menyulik Faiz dan tak mau mampir menemui kakaknya meski hanya sekejap. Biru tak akan merasa puas sebelum tahu apa alasan itu. Jawaban itu sangat penting bagi hidupnya.


Biru membiarkan Faiz berlalu. Ia bergegas menutup pintu kamarnya.


Sebaiknya shalat dulu. Setelah itu Biru akan menonton video yang oleh Faiz diberi judul metaverse biru dengan menggunakan helm karakter kucing itu. Sepertinya Faiz benar. Aktivitas menonton memang paling pas dilakukan menjelang tidur. Siapa tahu bisa jadi sarana pengantar tidur dan bisa membuatnya terlelap dalam mimpi indah.


Selesai shalat, Biru kembali menghubungkan kabel HDMI ke smart TV, mematikan lampu, dan menyalakan lampu tidur yang temaram agar suasananya mirip seperti di bioskop. Tak lupa juga memasang helm karakter kucing itu di kepala. Helm yang empuk dan nyaman, namun jika diraba di dalamnya terdapat kabel-kabel halus dan lempengan logam tipis yang entah apa fungsinya. Alat itu memang dirakit khusus. Bukan alat yang berfungsi sebagai earphone seperti yang dijual di mall.


Lanjutan video itu berisi video rangkaian foto-foto Biru dari sejak bayi sampai momen setelah pindah sekolah ke Jakarta. Faiz merangkainya dengan apik menggunakan efek animasi multi dimensi sehingga gambarnya tampak seperti nyata di depan mata. Ia juga melengkapinya dengan tulisan berisi lirik lagu yang mengiringi tiap gulungan animasi foto itu. Biru judul lagunya. Dinyanyikan oleh penyanyi lawas Vina Panduwinata. Itu lagu jadul banget tapi terasa pas karena judulnya Biru dan liriknya menggambarkan bahagianya seseorang akan kehadiran sosok yang mencinta. Musiknya juga apik.


Tiada pernah aku bahagia


Sebahagia kini oh kasih


Sepertinya kubermimpi


Dan hampir tak percaya

__ADS_1


Hadapi kenyataan ini


Belai manja serta kecup sayang


Kau curahkan penuh kepastian


Hingga mampu menghapuskan


Luka goresan cinta


Yang sekian lama sudah menyakitkan


Kau terangkan gelap mataku


Kau hilangkan resah hatiku


Kau hidupkan lagi cintaku


Yang telah beku dan membiru


Lembar pertama dimulai ucapan "We love you, Biru" dan foto keluarga Satya dan Lily yang diambil di halaman rumah Lily saat liburan semester lalu. Mereka adalah keluarga yang selama ini membersamainya dan menyayanginya.


Lembar berikutnya ada foto bayi kecil berkulit biru yang berada dalam incubator di ruang NICU. Mengenaskan sekali keadaannya. Bayi kecil itu harus hidup sendirian dalam ruangan kaca kecil dengan monitor dan selang-selang bergelantungan disekelilingnya. Bayi kecil itu ditinggalkan sebab khawatir akan tumbuh sebagai anak cacat yang penyakitan dan merepotkan keluarga.


Foto berikutnya membuat Biru tersenyum sebab yang terlihat adalah foto bayi tengkurap dengan bandana merah yang lucu menggemaskan. Bayi itu terlihat tumbuh sehat dan bahagia. Semua momen tumbuh kembang bayi Biru yang lucu menggemaskan lengkap terekam pada lembaran foto animasi. Dari pose duduk menggigit mainan, merangkak, sampai momen belajar jalan diabadikan dalam berbagai pose yang menggemaskan. Semua foto itu bisa dipastikan didapat dari album kak Lily sebab malaikat tak bersayap itulah yang merawatnya dengan cinta yang tulus. Rasa bersalah dan haru mulai menyusupi dada Biru mengingat kesalahannya diam-diam mencintai suami kakaknya yang pengasih itu.


Terimakasih, kak Lily. Aku tak ada artinya tanpamu. Maafkan Biru belum bisa membalas kebaikanmu.


Selanjutnya yang terpampang adalah foto animasinya sejak balita, TK, SD, SMP, dan SMA  berserta momen-momen penting seperti pertandingan silat, lomba memanah sampai dengan sebagai pemain volley di class meeting beberapa bulan lalu. Hampir semua momen penting dalam kehidupan Biru terdokumentasi rapi dalam video itu. Biru tersenyum memandang gambar dirinya dari masa ke masa. Amazing. Sunguh luar biasa. Di balik sikap angkuh

__ADS_1


dan ekspresi datarnya, Faiz menyimpan sisi melankolis yang begitu mengagumkan. Ia mengerjakan video ini dengan begitu detail. Biru sendiri tak pernah terpikir mengabadikan momen hidupnya dalam bentuk video animasi sebagus itu.


Aku harus berterima kasih atas hadiah ini. Sungguh. Ini adalah hadiah yang mengagumkan


__ADS_2