
Rosyid menyambut keluarga mereka hanya untuk bersalaman supaya tidak ditegur kakek guru. Itu yang terbersit di kepala Faiz. Dugaannya diperkuat dengan kelakuan Rosyid, setelah salaman ia langsung pergi ke kamarnya dengan langkahnya yang tertatih. Tanpa bicara sepatah pun. Namun sinar matanya menyiratkan sebuah kebencian, terutama ketika memandang ayah. Faiz bertanya-tanya dalam hati kenapa sepupunya itu bersikap begitu pada ayahnya. Apa salah ayah? Padahal ayah selalu tersenyum dan mengelus rambutnya dengan tulus tiap kali bertemu dengannya.
“Bagaimana kabarnya kak Faiz? Betah di Jakarta?” tanya Nissa saat mata Faiz masih mengikuti langkah Rosyid sampai anak itu menutup pintu kamarnya.
“Betah, Tante.”
“Habis menang turnamen game internasional ya? Selamat ya, Kak.”
“Terima kasih, Tan.” Mata Faiz masih mengarah menuju pintu kamar Rosyid. Ada apa sih dengan anak itu?
“Maafkan Rosyid ya! Dia masih harus melanjutkan pekerjaan melukisnya, jadi nggak bisa menemani kamu.”
Siapa juga yang mau ditemani anak itu? Sejak dulu juga Faiz tidak pernah berteman dengan anak kecil yang tak pernah menunjukan ekspresi yang menyenangkan tiap kali berjumpa. Wajahnya datar. Sorot matanya aneh. Jauh lebih baik Faiz main di kebun kopi bareng sama Amar dan Azka yang selalu bersikap hangat dan tunduk padanya. Tante Nisa pasti sedang merasa tak enak hati melihat mata Faiz masih mengarah ke pintu kamar anaknya, makanya menutupi sikap Rosyid yang tak ramah dengan alasan yang mungkin saja bisa diterima.
Memangnya Faiz pernah salah apa. Heran. Sudahlah kakinya cacat akibat kecelakaan itu, apa otaknya juga mau dicacatkan oleh pikiran buruknya sendiri. Faiz tak paham. Menurutnya sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri.
“Bunda tidak ada di sini, Tan?”
“Barusan pergi ke rumah Abahnya mang Asep.”
“Sama Faiza juga?”
“Iya. Berombongan sama nenek, eyang Dewi, Fathia, Faiza, bi Biru dan pengawalnya.”
“Hebat ya, Tan. Bi Biru sekarang punya pengawal.” Faiz melemparkan canda dan senyum konyol tapi sepertinya tidak ditanggapi dengan respon yang sama. Wajah tantenya masih muram.
“Kamu harus hati-hati, Kak. Jangan sampai celaka kayak bi Biru, apalagi kalau sampai ehm_” Nisa tak dapat memanjutkan kata-katanya. Netra coklatnya tampak berkaca-kaca. Senyumnya tertahan, kesedihan yang terbias dalam raut wajahnya.
Jadi trenyuh. Pasti tante Nisa tiba-tiba ingat almarhum suami dan anaknya yang meninggal karena kecelakaan tragis itu. Dia memang terlalu melankolis. Waktu dua tahun belum cukup buat move on dari kenangan itu.
“Maaf. Tante ingat lagi kecelakaan 2 tahun yang lalu ya?”
Nisa kembali mencoba tersenyum menyembunyikan rasanya. Menerima hidup yang tak sempurna itu memang sulit. Namun ia tak ingin menampakkan rasa marah dan kecewanya. Masa sedih dan apatisnya sudah berlalu. Ia sudah mulai belajar untuk menerima nasib meski hingga saat ini ia masih belum bisa menertawakan nasib, apalagi mensyukurinya sebagai pemberian indah dari Tuhan.
Entah bagaimana caranya mensyukuri nasib bila kenyataannya Nisa selalu bertanya tanya dalam hati mengapa ia terlahir sebagai anak nomor 2 dalam arti harfiah maupun kiasan. Seumur hidupnya ia tak pernah jadi nomor satu dari segi apapun. Sejak kecil ia dapat lungsuran pakaian, buku dan benda lain yang telah tak terpakai oleh kakaknya. Sampai jodohnya pun jatuh pada orang yang seumur hidupnya menyimpan nama kakaknya dalam hati yang paling dalam. Miris.
__ADS_1
Hampir setiap orang suka membandingkan dirinya dengan kakaknya yang cantik, cerdas, dan memiliki kesempurnaan hidup. Tak terkecuali ibu mertuanya sendiri. Perempuan itu lebih mencintai Ritha ketimbang dirinya. Kenyataan itu membuat dirinya terus merasa rendah diri.
Kini keadaannya semakin merendah, nyaris berada di dasar jurang yang paling dalam. Coba pikir. Mana ada yang mau memandang hormat pada seorang janda yang memiliki anak dengan keterbatasan fisik. Meski harta peninggalan dari suaminya lebih dari cukup, namun janda tetaplah janda yang sah saja dipandang orang dengan sebelah mata. Sementara kakaknya memiliki kehidupan yang sempurna. Dia memiliki suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan anak yang cerdas, sehat dan fisik yang sempurna. Miris tiap kali membandingkan kehidupan yang semakin hari semakin jauh gap antara Ritha dan dirinya.
“Kemarin siang kami baru mengadakan pengajian haul mengenang kepergian om kamu dan Tria yang ke 2 tahun di aula pesantren, Kak. Tante jadi kebayang-bayang lagi.” Nisa berusaha menutupi gundahnya dengan senyum yang hambar.
“Ooh maaf, Tan. Faiz nggak tahu dan nggak bisa hadir.”
Duh, Faiz jadi malu sudah berpikiran buruk. Mungkin si Rosyid hari ini sedang sedih mengingat abinya. Kasihan. Nggak kebayang kalau Faiz yang harus kehilangan ayah. Pasti sangat menyedihkan.
Sesungguhnya Faiz tidak pernah mengenal Rosyid dengan baik. Mungkin karena umurnya sedikit berjarak dan jarang bertemu muka. Sekarang Rosyid masih kelas 6 SD dan mereka tak pernah bermain bersama. Sejak abinya masih hidup pun Rosyid sudah menjaga jarak dengannya. Entah sungkan atau ada alasan lain. Rosyid berbeda dengan kakaknya Fathia yang ramah pada siapapun.
Ah, lupakan pikiran tentang Rosyid. Faiz merasa perlu menanyakan hal lain, “Pelaku penembakannya belum ketemu juga ya, Tan.”
“Belum.”
“Kira-kira siapa, Tan?”
Nisa menggeleng. Banyak luka yang dirasakannya. Namun ia tak ingin terlihat lemah di hadapan keponakannya.
DEG. Kalimat terakhir tante Nisa membuat Faiz tersentak. Kok jadi kesannya om Ardi dan ayahnya meninggal demi melindungi keluarga ayahnya. Faiz yakin, tante Nisa bilang ikhlas hanya buat menghibur diri. Aslinya dia masih belum move on. Kalau sudah ikhlas mestinya ekspresinya lebih tenang dan damai, tidak ada sesuatu yang mengganjal lagi di hatinya. Sedang sekarang, ia melihat tantenya masih berwajah muram. Jelas dia belum move on.
“Apa om Ardi meninggal demi melindungi ayah?” Faiz merasa perlu menegaskan makna kalimat yang diucapkan tantenya. Logikanya terus bertanya bagaimana tante Nisa bisa melontarkan pernyataan yang menyudutkan seperti itu. Padahal ayah tidak ada di lokasi kejadian. Lagipula om Ardi sudah lama tidak kerja sama ayah lagi.
Nisa menghindar dengan melemparkan senyum tipis. Tak ada kerut di matanya. Bibirnya juga datar. Faiz tahu senyum itu pasti senyum terpaksa yang dilakukan oleh orang yang gamang hatinya agar terlihat lebih tegar.
“Sudah lupakan saja, Kak! Kamu harus pandai-pandai jaga diri dan keselamatanmu sendiri. Orang-orang jahat yang ingin mencelakai keluarga kamu masih berkeliaran di mana-mana.”
“Tenang saja, Tan. Ayah dan bunda sudah bikin sistem pengamanan yang ketat.”
“Pokoknya kamu tetap harus jaga diri, Sayang.”
“Memangnya om Ardi meninggal karena dicelakai musuh keluarga Halim?” desak Faiz yang masih penasaran dengan pernyataan Nisa yang mengganggunya.
“Kemungkinan.”
__ADS_1
“Bi Biru juga?”
“Bisa jadi. Mereka tak akan berhenti menyelakai siapa pun yang berhubungan dengan keluarga Wirajaya Halim sebelum target utamanya celaka."
“Lalu siapa target utamanya?”
“Kamu dan ayahmu.”
"Banyak orang di luar sana yang tidak suka dengan keberadaan kalian." imbuhnya lagi.
Faiz terkekeh Ia merasa tak punya musuh. Ayah juga baik-baik saja. Tadinya ia menebak dalam hati, pasti tante Nisa akan menyebut nama pakde Bas. Seharusnya pakde Bas yang paling banyak musuhnya karena bisnisnya bersinggungan dengan para mafia.
Bingung juga sih, kenapa pakde Bas kelihatan aman dan tenang-tenang saja hidupnya. Apa benar karena ia dan ayahya yang menjadi target pembunuhan? Tapi, apa tujuan musuh bisnis keluarga mengincar dirinya yang bahkan tak pernah bersentuhan dengan bisnis Goldlight sama sekali. Logika Faiz akan lebih menerima kalau yang disebut oleh tante Nisa adalah nama pakde Bas. Kakak ayahnya itu senang menyerempet dunia kejahatan. Makanya dia tak mau berkeluarga. Mungkin takut kalau keluarganya sengsara gara-gara kegiatan bisnisnya yang berada di zona abu-abu.
Logika tante Nisa sepertinya ada yang salah. Sebagaimana kebanyakan emak emak logika bisa diabaikan akibat pengaruh dugaan dan gosip yang ditelan mentah mentah masuk ke dalam otak emosionalnya. Faiz sangsi meninggalnya om Ardi berkaitan dengan musuh bisnis ayahnya. Terlalu dini untuk menyimpulkan ke arah itu tanpa ada kejelasan bukti. Jabatan terakhir om Ardi adalah plant director sebuah perusahaan kosmetik pesaing Goldlight di Sukabumi. Mungkin saja orang yang menyerangnya itu musuh bisnis om Ardi sendiri. Apalagi lokasi penyerangannya lebih dekat ke Sukabumi dibandingkan lokasi bisnis ayahnya yang berada di Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Kecelakaan itu pasti tak ada hubungannya dengan ayah. Pokoknya Faiz tidak terima ayahnya disangkut pautkan kecuali memang ada bukti nyata yang menguatkan logikanya.
Kemana saja Faiz selama ini sampai tak tahu perkembangan penyelidikan kasus kematian om Ardi. Ah iya. Dia terlalu fokus mengejar mimpinya di dunia metaverse dan mengejar ambisinya dapat banyak cuan dengan menang di berbagai pertandingan dan turnamen game online.
Pantas saja Rosyid selalu memandang ayah dan dirinya dengan tatapan benci. Mungkin dia pikir yang harusnya mati adalah Faiz dan ayahnya, bukan abi dan adik bungsunya. Cih, picik sekali kalau sampai dia berpikiran begitu. Memangnya takdir Allah bisa dibelok-belokan. Kalau tulisan di lauhul mahfudz menyatakan yang harus meninggal ayah dan Faiz, mana bisa dibelokan ke orang lain.
Ah. Prasangka liar yang memenuhi otaknya bikin kesal saja. Tante Nisa tak sepenuhnya bisa terus terang sebab masih terlihat dihantui oleh pikiran emosional. Faiz bukan tak bersimpati dengan nasib satu-satunya tante dari pihak ibunya itu. Menurutnya tante Nisa dan anak lelakinya terlalu melankolis. Mungkin tante Nisa dan anaknya butuh piknik dan melihat bahwa begitu banyak anugerah Tuhan di muka bumi ini. Tuhan pasti punya cara untuk menguji hambaNya agar menyadari kasihNya seluas samudera. Sayang sekali, orang sedih kebanyakan tak butuh nasehat, hanya butuh tempat bersandar untuk mengadu. Apalagi nasehat dari anak bau kencur. Tak mungkin di dengar. Anak seusia dirinya juga bukan tempat bersandar. Boro-boro jadi tempat bersandar, mengatasi urusan pribadinya sendiri saja masih labil. Lebih baik pergi saja dari situasi ini. Biar urusan tante Nisa dan Rosyid diselesaikan sama bunda, eyang Dewi, dan nenek saja. Faiz tidak mau ikut campur.
“Faiz pamit mau ke kebun kopi dulu sama Amar dan Azka ya, Tan. Salam buat Rosyid."
"Buat tante, semoga cepat move on ya.” ucapnya sebelum pergi dengan menunjukan senyum yang tulus.
Nisa sedikit terperangah didoakan cepat move on oleh keponakannya. Maksudnya apa? Apa dia masih bersikeras menjodohkan dirinya dengan guru komputer yang jelas-jelas mengarahkan keponakannya itu menjadi pecandu game online sampai tega mempermalukan kakeknya yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai guru teladan.
Faiz tak mau berpikir panjang untuk menduga-duga sesuatu yang minim informasi dan samar. Lebih baik mengajak Amar dan Azka yang sejak tadi menunggunya di beranda bermain.
“Kita ke kebun kopi atau ke rumah abah?”
________
Selamat membaca☕💖🏖
__ADS_1