
Biru sedang tertidur lelap imbas pengaruh obat yang diberikan perawat lewat suntikan di selang infusnya. Ia terlihat lebih tenang. Sesekali terlihat bibirnya meringis namun sejenak kemudian menunjukan senyum tipis yang damai. Nafasnya teratur.
“Bagaimana keadaan Biru, Cantik?” Satya menghubunginya melalui panggilan video. Masih di kantor polisi. Itu terlihat dari beberapa orang berpakaian polisi terlihat lalu lalang di belakangnya.
“Luka luarnya banyak. Sebagian memar dan ada luka terbuka yang sudah dijahit di pelipis dan lengan kirinya. Tapi hasil foto rontgen dan CT Scannya bagus. Kata dokter tidak ada luka dalam atau patah tulang. Sekarang Birunya sedang tidur. Hanya butuh observasi kira-kira sejam lagi menunggu Biru lebih tenang dan infusnya habis. Setelah itu boleh langsung pulang.”
Ritha mengalihkan kamera gawainya menunjukan Biru yang tengah tertidur lelap.
“Alhamdulillah kalau tidak perlu rawat inap. Mas minta maaf ya, kayaknya nggak bisa ke rumah sakit. Urusan laporan polisi belum selesai dan setelah ini mungkin harus balik ke kantor lagi."
“Nggak masalah. Selesaikan saja urusan Mas. Cukup aku yang nunggu di sini. Nggak lama kok.”
“Terima kasih ya, Cantik. Sudah mau direpotkan dengan masalah adikku.”
“Jangan gitu ah! Biru kan adikku juga, Mas."
"Oh iya, tadi Biru bilang dia sengaja dicelakai orang, kasusnya ternyata bukan tabrak lari. Sepedanya sengaja ditendang pemotor yang tidak bertanggung jawab.”
“Iya. Mas sudah lihat CCTVnya. Sepeda Biru memang sengaja ditendang pengendara motor itu. Masalahnya plat nomornya tidak terlihat jelas oleh CCTV. Pihak kepolisian sudah menghubungi kantor Ojol yang jaketnya dipakai pengendara motor mencari tahu kemungkinan nomor-nomor plat motor yang diduga digunakan pemotor itu tapi tidak satupun yang terdaftar sebagai mitra ojol mereka. Sementara polisi menduga nomornya kemungkinan bodong.”
Hmm, kasihan Biru. Entah apa salahnya sampai ada orang yang tega sengaja mencelakainya. Ritha menggelengkan kepala sambil berjalan keluar ruang observasi IGD. Ia duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang IGD agar pembicaraannya tidak mengganggu pasien IGD yang mungkin butuh istirahat.
“Biru cerita nggak kalau punya musuh?”
“Enggak. Dia merasa nggak punya musuh. Lagipula Biru kan baru sebulan di Jakarta, Mas. Dia juga bukan tipe anak yang suka cari masalah sama orang. Pergaulannya masih terbatas rumah dan sekolah. Kalau pergi kemana-mana pun selalu sama keluarga. Kecil sekali kemungkinan dia punya musuh.”
“Iya. Makanya aku bingung juga menerka motif apa yang membuat orang mencelakai Biru sesadis itu. Apa ini ada kaitannya dengan pesaing bisnis kita ya?”
__ADS_1
“Masak pesaing bisnis menjadikan Biru sasaran sih, Mas? Emangnya mereka kenal Biru."
“Aneh juga sih tapi dendam bisnis bisa saja membutakan orang dan memungkinkan orang melakukan segala cara sebagai pelampiasan. Tapi sudahlah. Nggak perlu dipikirin. Bikin pusing hehehe.” Satya terkekeh dengan senyum lebarnya yang seperti virus, mudah menyebar dengan cepat hingga membuat orang yang bersamanya tertular ikut tersenyum.
“Kita serahkan saja sama polisi buat menyelidikinya. Ke depannya mungkin kita perlu lebih waspada, jadi Biru akan diantar jemput ke sekolah.” tambah Satya yang langsung disepakati dengan anggukan kepala Ritha.
Yah, kasus ini memang sepertinya bukan masalah yang mudah. Masih menjadi teka teki terselubung banyak pertanyaan yang sulit di nalar. Meski demikian, Ritha bersyukur Biru kuat dan memiliki kemampuan cukup baik dalam mempertahankan diri.
Sedikit kaget ketika melirik, Rio telah berdiri di depannya dengan memegang buket bunga coklat ratu perak yang berhias bunga mawar merah. Aih, anak muda. Romantis banget sih. Bikin Ritha mendadak jadi iri ingin memiliki buket serupa. Andai Satya tahu bagaimana hatinya saat ini, apakah ia akan memberikan buket yang lebih indah.
“Ditutup dulu teleponnya ya, Mas. Ini ada temannya Biru yang datang menjenguk.”
“Eh, jangan ditutup dulu! Coba arahkan kameranya ke temannya Biru. Aku mau tahu bagaimana tampangnya,” cegah Satya yang penasaran pada teman adiknya. Perlu waspasa menyortir teman-teman adiknya yang sedang dalam masa pencarian jati diri.
Ritha meminta ijin dengan isyarat angggukan kepala untuk mengarahkan kameranya pada Rio. Remaja itu langsung menyembunyikan buket di belakang pinggangnya dan pasang wajah senyum walaupun sedikit takut dengan sikap Satya yang tegas.
“Rio, Om.”
“Om lihat lo buket bunga yang kamu sembunyikan. So sweet banget sih kamu jenguk Biru pakai bawa buket bunga dan coklat. Kamu itu sebenarnya teman atau teman.” goda Satya yang ternyata bisa melihat buket yang disembunyikan Rio. Ia menatap curiga sebab ingat dengan Dave yang gemar memberi bunga pada orang yang dicintainya.
Melihat Rio salah tingkah dan berwajah merah, Ritha kembali mengarahkan kamera menghadap dirinya. Ia tersenyum dalam hati. “Nanti di rumah kita terusin ngobrolnya lagi ya, Mas. Kita masih punya banyak hutang tema diskusi. Assalamu’alaikum.” tutup Ritha sembari melambai-lambaikan tangannya di depan kamera. Alamat lama ngobrol dengan Satya kalau tidak segera diakhiri karena dia punya obyek lain yang bisa dijadikan bahan pembicaraan selanjutnya
Biar urusannya dengan Satya dibicarakan nanti malam saat pillow talk.
“Birunya tadi sedang tidur, Ri. Tapi setengah jam lagi mungkin kami akan bersiap pulang kok.”
“Kalau begitu, boleh saya tunggu di sini menemani Tante? Saya takut kalau masuk mengganggu istirahat Biru dan pasien lain.”
__ADS_1
Ritha mengangguk. Rio langsung duduk di kursi stainles sebelah Ritha. Kebetulan sekali. Ritha bisa bertanya-tanya tentang teman sekolah biru.
“Ri, kamu tahu siapa yang ngempesin sepeda Biru waktu pertama kali masuk sekolah?”
Rio menggeleng.
“Kenapa? Kamu nggak berusaha cari tahu orangnya?”
“Karena CCTV yang mengarah ke tempat parkir rusak. Menurut saya pasti bukan kebetulan rusaknya. Memang ada anak-anak yang sengaja iseng merusak benda itu agar aksinya tidak ketahuan pihak sekolah.”
Ritha mengangguk. Anak remaja sekarang berbuat iseng saja memerlukan upaya ganda tapi kok masih ada aja yang masih memiliki energi dan buang waktu untuk melakukan hal tak berguna macam itu. Bayangkan, untuk mengempesi sepeda teman dia harus merusak CCTV sekolah. Ck ck ck…
“Apa kamu pernah mendapati orang yang mengintai Biru di perjalanan dari dan ke sekolah?”
“Tidak.” Rio menunduk. Ia malu. Tapi ia mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak ada orang yang dilihatnya mengintai Biru. Hanya dirinya yang suka melakukan spionase bodoh macam itu.
Sebenarnya awalnya Rio mengikuti Biru didorong oleh rasa penasarannya ingin tahu rumah gadis lugu yang kadang bersikap galak itu. Tertarik pada anak baru yang bersepeda ke sekolah dengan sepeda merek terkenal yang nggak kaleng-kaleng. Padahal pulang sekolah kan panas. Unik aja ada gadis remaja jaman modern yang tampangnya cukup modis dan glowing tapi nggak takut kulitnya terbakar matahari siang. Lama-lama kok asyik membuntuti gadis cuek itu. Apalagi yang dibuntuti tak pernah peduli dan menyadari itu.
Kalau sehari tak menguntit Biru terasa ada sesuatu yang kurang. Entahlah. Rio menikmati kebiasaan barunya memandang Biru mengayuh sepedanya dengan riang. Tak jarang ia mengabadikan momen itu dengan kamera
gawainya. Terbersit juga dorongan ingin kenal lebih dekat, namun takut dikecewakan karena gadis itu tinggal di kompleks perumahan paling elit yang nggak mungkin ditinggali sembarang orang. Sedangkan Rio hanya anak pegawai BUMN kelas menengah. Selain merasa minder, Rio merasa perlu mengamati kebiasaan dan perangai gadis agar bisa menyusun strategi untuk mendekatinya.
Soal kemungkinan siapa orang yang mencelakai Biru, Rio mulanya terpikir mungkin musuh sekolahnya dari SMU swasta lain yang hobi tawuran. Namun setahun belakangan ini perselisihan sudah tidak terjadi karena pihak sekolah telah berunding dan sepakat berdamai satu sama lain yang disaksikan oleh pihak kepolisian dan pamong praja. Sampai saat ini Rio belum mendengar ada perkara dengan sekolah itu. Lagipula biasanya anak-anak biang rusuh itu tak pernah tawuran di dekat sekolah atau kompleks elit Menteng. Mereka bergerombol naik kendaraan umum seperti kopaja atau metromini yang saat ini jumlahnya sudah semakin berkurang. Pusat pertemuan mereka mengarah ke sekitar Manggarai atau daerah Senen. Dugaannya dengan mudah termentahkan, meskipun ada kemungkinan kecil ini ulah mereka yang sengaja ingin cari gara-gara dengan sekolahnya.
________
Thanks for your like, comment, vote and gift 😘
__ADS_1