METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
BILA GABUT


__ADS_3

Ritha cukup terbantu dengan adanya Rio yang mengantar Biru pulang sampai rumah. Walaupun sesekali masih terlihat meringis menahan nyeri tapi wajahnya terlihat bahagia mendapat perhatian dari kakak kelasnya itu. Mereka terlibat obrolan akrab sepanjang perjalanan menuju rumah.


“Maaf ya, gara-gara Biru kak Rio jadi nggak jadi nonton pertandingan basket.”


“Nggak apa-apa, Bi. Aku malah khawatir sama kamu.”


“Aku sial melulu ya? Padahal aku merasa nggak punya musuh tapi kok ada aja yang nyelakain aku. Hari pertama sekolah ada yang ngempesin ban sepeda aku. Sekarang ada pemotor yang nendang sepeda aku.”


“Mudah-mudahan besok nggak ada lagi yang jahat sama kamu, Bi. Kasus ini sudah ditangani polisi. Tapi kak Satya nggak ngijinin kamu ke sekolah naik sepeda lagi. Harus diantar sama pak Didin.” Ritha menimpali obrolan mereka dengan suara yang lembut.


Biru manyun, agak kecewa dengan keputusan kakaknya itu. Tapi yah mau menyangkal dengan apa. Biru tahu kok keputusan itu dibuat demi keselamatan dirinya juga. Rio benar, Jakarta tidak sama dengan Jampang walaupun


sama-sama diawali dengan huruf ‘J’. Kehidupan di sini lebih kejam dan manipulatif. Buktinya jelas. Biru yang belum tahu apa-apa saja jadi korban orang tak dikenal yang mencelakainya tanpa sebab yang jelas. Kalau misalnya ada orang marah atau benci padanya, kenapa tidak mengatakan dan menantangnya secara terbuka saja.


Rio juga kecewa. Hobi barunya mengintai gadis manis yang mengayuh sepeda di jalanan Menteng mendadak terhenti. Untung ia sudah punya beberapa foto dan videonya. Kalau kangen bisa dipandangi tanpa sepengetahuan obyek gambarnya.


Rio membantu mendorong kursi roda Biru sampai di kamarnya di bagian bawah rumah dekat dengan ruang keluarga. Sebelum direnovasi menjadi megah, kamar itu dulu digunakan sebagai kamar Satya dan Ritha waktu pengantin baru. Sekarang dijadikan kamar tamu. Kamar Ritha dan anak-anaknya berada di lantai 2.


“Bi Biru kok mukanya jadi bengep.” Faiza menyambutnya senyum saat mereka melintasi ruang keluarga. Wajahnya ditutup sebagian dengan telapak tangan. Gayanya takut-takut tapi mengintip.


Sementara di belakang Faiza ada Faiz yang tak bersuara. Matanya menatap tajam setiap pergerakan orang yang datang mengantar Biru, namun bagian tertajamnya tertuju pada Rio. Mereka berdua mengikuti rombongan yang masuk ke kamar Biru guna membantu merebahkan gadis itu di kasurnya.


“Bi Biru ditabrak orang di dekat rumahnya pak Haikal ya? Orangnya gimana yang nabrak? Sakit banget ya? Izza bisa bantu apa?” Faiza langsung nyerocos kayak petasan cabe rawit. Banyak banget pertanyaan diberondongnya bagai peluru.


“Jangan cerewet, Za! Bi Biru butuh banyak istirahat biar cepat sembuh. Kamu boleh bantu bi Biru menemaninya, mengambilkan air dan makanan. Boleh juga menyiapkan obat.” kata Ritha sambil merangkul puterinya.


Faiza menoleh ke atas memandang mata ibunya lalu mengalihkan pembicaraannya, “Aku tadi nggak berangkat ke sanggar tari, Bun. Sudah ijin sama eyang Dewi soalnya kata pak Agus Izza nggak boleh ke mana-mana sampai Bunda pulang.”


Ritha mengangguk. Diacak-acaknya rambut gadis kecilnya dengan gemas. “Makasih ya, Iza pintar.” pujinya agar gadis kecilnya itu otomatis mengembangkan senyum dan tenang. Kalau dibiarkan jiwa wartawannya bakal membuat suasana menjadi kurang nyaman karena banyaknya cicit cuit.


“Buat kamu, Bi. Cepat sembuh ya! Aku mau langsung pulang.”


Rio pamit sembari meletakkan buket bunga dan coklat yang dibawanya di atas nakas tempat tidur. Mungkin malu hendak menyerahkannya langsung pada Biru di hadapan keluarganya.

__ADS_1


Biru tersenyum manis. Di matanya banyak bintang bertaburan.


“Terima kasih, Kak. Maaf merepotkan.” Biru tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Ekspresinya hanya terlihat di sebelah pipi kanannya karena sisi sebelahnya terdapat luka dan memar merah kebiru-biruan.


“Wow, Bibi dapat coklat dan bunga. Izza mau dong. Mau mau mau...” Izza hampir merebut buket bunga itu saat Rio baru saja melangkah hendak keluar kamar.


Ritha mencegahnya dengan menarik pelan tangan gadis kecilnya. “Jangan diambil, Za. Itu buat Bibi yang sedang sakit. Kamu bisa makan coklatmu sendiri yang disimpan dalam kulkas.”


“Izza mau yang itu.” rajuknya manja menampakkan ekspresi mau menangis.


Ritha memberi isyarat tegas tidak sekali lagi dengan gelengan kepala dan tatapan tajam. Izza merengut kecewa, namun harus belajar menahan diri dari menginginkan milik orang lain.


“Besok kakak akan ke sini lagi bawa coklat khusus buat kamu.” Rio menoleh untuk berjanji pada Faiza. Anak kecil memang sering cemburu pada hal yang sederhana. Kalau Rio tahu akan bertemu dengan keponakan Biru yang manja dan ceriwis itu, pasti ia akan dengan senang hati membelikan coklat tambahan buat gadis kecil itu.


Faiza tersenyum penuh harap. Sementara Faiz menganggap itu menyebalkan karena curiga bakal dijadikan modus Rio buat sering-sering datang ke rumahnya.


Rio meninggalkan kamar Biru dengan diiringi Ritha yang mengantarnya sampai halaman rumah. Pak Didin mengantarkannya kembali ke rumah sakit dengan mobil karena sepeda motor Rio tertinggal di sana. Rio memang tak berniat berlama lama karena Biru masih perlu banyak istirahat.


“Kak Rio pacar Bibi ya?” tanya Faiza dengan kepala miring dan senyum tengil yang bikin tangan orang yang melihatnya gatal ingin mencubit pipinya.


“Bukan.” jawab Biru singkat dan jelas.


“Kok ngasih bunga dan coklat?” sanggah Faiza tetap dengan senyum tengil dan tatapan kepo tingkat tinggi.


“Emang harus jadi pacar kalau mau ngasih bunga dan coklat?”


“Iya. Itu sudah aturan pakem,” jawab Faiza tegas sok tahu. Sesaat setelahnya gadis kecil itu tertawa-tawa sendiri penuh kemenangan seakan memastikan bahwa tebakannya pasti benar.


Berbeda dengan Faiza, Faiz tampak menyorotkan tatapan tak suka. Sikapnya sedingin salju.


“Teman sekelas Bibi?” tanya Faiz dengan suaranya yang datar namun penuh nuansa mengancam. Mata elangnya seperti hendak merobek jantung. Biru takut melihatnya, merasa akan menjadi mangsa buruan yang siap diterkam. Keponakannya yang satu itu jarang bicara. Sekali bicara itu kata-katanya terasa menghunus dalam dan ia selalu bingung mencari jawaban yang tepat akurat.


“Bukan. Kakak kelas. Dia ketua OSIS di sekolah kita.”

__ADS_1


Mata biru Faiz belum meredupkan pijar yang terasa dingin. Biru makin jengah. Nggak asyik banget sih si Faiz. Biru kan nggak salah. Orang sakit bukannya dihibur, malah dicurigai macam-macam. Memang sih dia tidak mengungkapkan tuduhannya dengan kata, tapi matanya itu yang bicara.


“Nanti kalau sudah selesai turnamen universe war, Faiz akan masuk sekolah normal buat melindungi Bibi dari siapapun yang berniat mencelakai Bibi.” ujarnya tegas.


Biru mengelus dada. Lega. Ada hikmahnya juga ia kecelakaan hari ini. Rupanya kecelakaan yang dialaminya menggugah Faiz untuk melindungi tantenya dari marabahaya. So sweet juga anak itu. Dingin di luar tapi hangat di hati. Biru tahu, apapun yang diucapkan Faiz pasti akan dilaksanakannya. Dia selalu komitmen dengan ucapannya. Mungkin kecelakaan ini adalah jalan Tuhan untuk menggugah hatinya kembali ke sekolah.


“Terima kasih, Iz. Bibi senang kita bisa sekolah bareng.”


Faiz mengangguk lalu ke luar dari kamar bibinya.


“Bibi nggak malu sekolah bareng keponakan?” tanya Faiza masih konsisten dengan senyum tengilnya.


“Enggak dong, Za. Siapapun pasti bangga punya keponakan kayak kalian. Bibi udah siap-siap mental kok kalau bakal dicemburuin sama fans kakak kamu yang ganteng itu.”


“Ihh… Bibi. Kenapa kalian nggak sekolah di sekolah aku aja sih. Aku kan juga mau pamer kakakku yang ganteng sama teman-teman sekolah aku.”


Biru terkikih pelan sementara Faiza cekikikan. Anak itu menemani Biru di kamarnya. Ia bahkan membawa buku PRnya dan mengerjakan tugasnya di kamar Biru. Gadis kecil itu memaksa Biru membuat beberapa akun media sosial buat menghibur diri saat bosan harus istirahat dalam kamar.


"Biar nggak bosan, Bibi bikin akun tic tak aja. Kan Bibi pernah janji mau upload video joget Iza yang di rumah bibi Lily itu. Kita bisa nonton video yang lucu-lucu di tic tak lo, Bi."


"Masak sih."


Biru meraih gawainya, mengunduh aplikasi lalu membuat akunnya yang baru di media sosial itu. Hihihi... Faiza benar. Banyak video dengan durasi singkat yang menghibur. Ada parodi kehidupan, komedi, tarian kocak, bahkan ada yang jualan dengan cara absurd atau mengajarkan rumus matematika dan kimia dengan cara yang unik. Dengan media internet Biru bisa seolah merasakan jalan-jalan ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Apalagi Ritha meminjamkan headset khusus berisi kacamata tiga dimensi yang telah dilapisi filter anti radiasi dan speaker aktif yang modern. Cukup membuatnya merasa terhibur meski hanya berada di kasur.


______


Love love love.💖💖💖


Thanks for your appreciation with like, comment, vote, flower and a cup of coffee


Semangat semangat semangat


Jangan gabut walau pandemi masih berlangsung

__ADS_1


__ADS_2