METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
PERLAHAN


__ADS_3

Faiz membaca catatan dalam agenda peninggalan om Ardi dengan perlahan dan sangat hati-hati agar tidak salah dalam menyimpulkan hipotesis. Hubungan om Ardi dengan pemilik PT Cantika Bestari tampaknya tak terlalu baik. Hanya sekedar hubungan profesionalitas kerja. Lebih tepatnya, sang pemilik hanya memanfaatkan keahlian dan kecintaan om Ardi pada pekerjaannya. Begitu pun dengan sekretaris yang kemungkinan dijadikan oleh pemilik sebagai mata-mata. Konon sekretaris itu masih punya hubungan kerabat dengan pemilik. Tak ada keluhan atau tuduhan dalam catatan om Ardi. Tapi sementara ini berdasarkan yang tersirat dari catatan Faiz menduga sekretaris om Ardi pasti kurang becus kerjanya. Semakin hari catatan di agenda kerja om Ardi makin panjang. Hal ini bisa diartikan bahwa menjelang akhir hayatnya om Ardi mulai mengelola kegiatan hariannya sendiri tanpa bantuan sekretaris.


Tentu saja Faiz tak bisa kerja sendirian menyelidiki kasus ini. Ia harus menyewa orang khusus yang lebih kompeten. Untunglah om Teguh bersedia bantu menyuruh orang untuk kembali menyelidiki kehidupan orang-orang yang sudah ditandai oleh Faiz kemungkinan keterlibatannya pada peristiwa penembakan itu.


Selain itu Faiz punya kesibukan baru sekarang. Dengan memanfaatkan sebagian aset kripto yang telah dijualnya dan uang tabungan hasil main game, ia berencana membuat club resto di dekat rumahnya. Selama liburan ini ia bersama Doni keluar masuk beberapa club resto yang sedang booming di kalangan anak muda Jakarta dan memperhatikan aktivitas orang di sana. Ia menemukan peluang bisnis baru.


Pemilik salah satu resto terkenal menawarkan kerja sama membuat club syar'i yang tak menjual alkohol, dan makanan haram, tanpa harus menggunakan brand mereka. Rencananya Faiz akan menggabungkan fungsi resto anak muda dengan tempat mabar alias main bareng komunitas e-sport sekaligus sebagai tempat penjualan handphone dan aksesorisnya yang berbasis merchandise e-sport.


"Konsepnya beda. Saya suka ide kreatif anda, Bos. Saya bersedia kerja sama meski hanya untuk memasok koki dan makanannya saja. Padahal biasanya partner lain harus beli franchise kami lengkap dengan sistem dan manajemen klub kami."


"Apa menurut om ide saya ini tidak menguntungkan?"


"Saya nggak bilang begitu, Bos. Konsep anda berbeda dengan club resto kami. Tentu saja anda tak butuh brand, sistem dan manajemen yang sama dengan club resto kami. Hanya saja kalau menurut saya pemasarannya akan lebih mudah kalau pemiliknya adalah pemain e-sport. Biasanya pemain e-sport punya fans fanatik yang daya belinya bisa diolah jadi bisnis."


Faiz mengangguk pasti. Ia sangat setuju dengan pendapat itu. Sudah terbayang pemasaran awalnya nanti akan seperti apa sebab dirinya telah lebih dahulu mempersiapkan fans base bentukan Doni. Sebuah komunitas yang tergolong baru tapi jumlah orang yang bergabung sudah ribuan orang. Sejak pengumuman launching perdana 3 hari yang lalu aktivitas fan base itu cukup aktif. Doni menggarapnya dengan serius. Dia juga yang sekarang mengelola akun Rony F yang telah diubah jadi Baby F sesuai dengan nama panggung Faiz. Banyak sekali pakem-pakem yang ditetapkan Faiz dalam mengelola akun media sosial berbasis meta itu agar privasi keluarganya tak terganggu. Orang hanya boleh mengenalnya sebagai baby F pemain universe war.


"Kamu bayar saja pemain e-sport profesional buat jadi brand ambasador."


"Gampang itu om. Brand ambasador dan basis fans sudah ada." Faiz bicara dengan entengnya.


Faiz menahan diri buat tersenyum. Ia belum ingin jujur kalau dialah pemain e-sport yang akan jadi brand ambasador itu. Usaha aja belum jelas untung ruginya. Daripada membayar orang khusus jadi brand ambassador lebih baik memanfaatkan kelebihan diri sendiri dulu.


"Oke bagus kalau begitu. Saya percaya anda memiliki bakat bisnis dan intuisi tajam. Senang bisa bekerja sama dengan anak muda yang kreatif seperti anda. Nanti draf kontraknya segera diemail sekretaris saya."


"Baik, om. Terima kasih. Semoga usaha kita sukses dan langgeng ya." Faiz menyalami rekan kerjanya dengan yakin.


Faiz selalu percaya diri. Nothing to lose. Semua hal dikerjakannya tanpa beban. Inisiatif investasi sendiri dari hasil kerja kerasnya sendiri. Semua suka-suka. Faiz sudah benar-benar siap sukses atau gagal.

__ADS_1


"Amin."


Yes! Berhasil menggandeng kerjasama dengan pemilik club resto yang terkenal punya menu makanan enak dan kekinian. Banyak anak muda menghabiskan waktu di club restonya. Doni adalah salah satu pelanggan yang sering berpesta atau sekedar menghabiskan waktu nongkrong di club resto terkenal milik om Vincent demi pergaulan ala remaja metropolitan. Jujur, secara pribadi Faiz tak suka suasana berisik, lampu kelap kelip berwarna warni dan dentuman musik. Duduk sebentar saja sudah membuat sakit kepala. Padahal ia hanya pesan yogurt dan roti sosis panggang saja. Hanya satu yang diam-diam dinikmatinya dari suasana club resto itu, yaitu pemandangan cewek-cewek berkulit bening dan bertubuh aduhai yang berseliweran di dalamnya. Hanya cuci mata, bukan untuk dijadikan teman. Ia berusaha cuek, pasang tampang serius dan menghindar kalau ada yang mendekat.


"Sebaiknya kita tetap jual minuman beralkohol, Bos. Yang ringan-ringan aja. Pangsa pasar kita terlalu sempit kalau membatasi hanya menyediakan minuman non alkohol." ujar Doni mencoba mempengaruhi Faiz untuk melenturkan pendapatnya soal minuman beralkohol. Kebanyakan club resto kegemaran anak muda selalu menyediakan jenis minuman beralkohol sebagai magnet buat menarik pelanggan.


"Atau kita sediakan saja minuman dingin dalam kaleng yang mengandung sedikit alkohol."


Faiz melotot. "Pokoknya enggak, Don. Sampai mulut kamu membusuk, aku nggak akan terima usul kamu. Kalau kamu belum bisa menghentikan kebiasaan minum minum, lakukan di luar restoku. Aku mau bisnis yang halal dan sehat aja."


Doni langsung membungkam mulutnya sendiri. Bos selalu benar. Tapi prinsipnya memang keren sih, nggak berkah orang islam yang memperjualbelikan barang yang diharamkan. Pendidikan pesantren masih membekas dalam dirinya. Kalau mau langgeng kerja sama Faiz, Donilah yang harus menyesuaikan diri. Bukan sebaliknya.


"Hai, boleh gabung di meja kalian?" Dua orang gadis remaja berkulit bening menghampiri setelah om Vincent meninggalkan mereka berdua. Senyumnya seperti akan meruntuhkan dunia. Cantik sekali.


Bukan waiters, dua gadis cantik itu pelanggan klub. Yang satu pakai tank top hitam dan celana jeans. Yang lebih mungil menggunakan dres A line warna salem. Dua duanya cantik, berdandan natural dan kelihatannya masih seusia anak SMU. Keduanya terlihat celingak celinguk kebingungan dengan suasana club resto yang identik dengan tempat hiburan malam itu.


Ah, itu modus atau bukan ya? Paling juga mau kenalan dan ujung-ujungnya minta dibayarin.


"Kalian boleh gunakan meja kami. Kebetulan kami juga sudah mau cabut." Faiz berdiri dan mempersilakan dua gadis itu untuk duduk di meja yang telah dibayarnya.


Kalau tidak mau berdiri di depan meja bar atau sengaja berjingkrak di depan panggung musik, pengunjung club resto itu harus membayar sewa meja. Tak ada fasilitas yang digratiskan.


Doni memandang Faiz dengan tatapan kesal. Sok alim. Harusnya biarkan saja duduk bersama sebentar. Lumayan kan kalau bisa kenalan dan ngobrol-ngobrol asyik dengan dua cewek cantik itu.


Akhirnya Dony dengan berat hati mengikuti langkah Faiz ke luar dari ruangan. Harus mulai membiasakan diri dengan sikap Faiz yang kadang agak sulit ditebak maunya. Padahal tadi ia sempat menangkap Faiz menikmati pemandangan cewek-cewek cantik. Tapi rupanya hanya berani menikmati dari jauh dan enggan didekati. Sama sekali tak tertarik meski hanya sekedar kenal nama.


"Waiter restonya nanti wajib pakai hijab, Bos?" pancing Doni sambil nyengir mengikuti langkah panjang bosnya. Berharap jawabannya tidak. Apa menariknya kalau pegawainya nanti pakai hijab semua.

__ADS_1


"Tidak. Bebas. Orang semua agama dan keyakinan bisa kok kerja di restoku." jawab Faiz dingin.


Yes. Doni tersenyum girang. Berarti ada kemungkinan Faiz menerima waiter yang kulitnya bening-bening seperti batu pualam putih.


"Tapi lebih baik kalau pekerjanya pakai baju seragam, Bos. Biar kelihatan lebih bonafid dan pelanggan mudah mengenal mau minta bantuan pada siapa kalau ada sedikit kesulitan pada pelayanan."


"Nanti dipikirin. Kita harus gerak cepat. Sekarang aku mau nego pemilik rumah yang mau kita sewa. Soal interior resto mungkin aku akan minta tolong bunda, biar gratis fee arsiteknya."


Bah, banyak duit ternyata masih cari gratisan juga.


"Enak banget ya jadi kamu, Bos. Banyak banget privilegenya."


Faiz tersenyum samar.


"Kalau misalnya ada anak SMU kita yang mau daftar part time sebagai waiter boleh nggak?"


"Boleh."


"Cowok cewek boleh ya."


"Boleh."


"Tapi lebih seru kalau seragam waiters ceweknya pakai rok mini dan kaos yang lehernya berbentuk V yang belahannya rendah kayak waiters di restonya om Vincent tadi."


Faiz tak menanggapi.


__________

__ADS_1


Happy weekend🌻🌻🌻


__ADS_2