METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
KECELAKAAN


__ADS_3

Panik. Ritha tertegun sejenak sebelum akhirnya menyambar hijab instan dan tas kecil yang kemarin dipakainya keluar rumah mendampingi Satya pada pertemuan dengan klien. Biru kecelakaan. Baru saja Satya menelponnya memberitahukan bahwa Biru ditabrak pengendara sepeda motor yang sengaja melarikan diri beberapa ratus meter dari rumahnya. Ritha diminta segera menjenguk ke rumah sakit, sementara Satya yang masih berada di kantor akan langsung ke kantor polisi dulu guna mengurus laporan kasus tabrak lari itu sebelum ke rumah sakit. Saat ini Biru tengah berada di ruang UGD di rumah sakit yang jaraknya tak lebih dari 1 kilometer dari rumahnya.


Setelah memeriksa kembali barang-barang penting seperti dompet dan kartu-kartu penting yang perlu dibawanya, Ritha bergegas keluar kamar. Setengah berlari menuruni anak tangga dengan hati yang gundah. Sambil berjalan ia menelpon supir agar segera menyiapkan mobil.


Di halaman depan ia melihat pak Agus membawa masuk sepeda yang sudah ringsek. Semakin resahlah hatinya. Bagaimana keadaan Biru ya? Sepedanya saja sampai ringsek begitu.


“Mbak Biru katanya sudah dibawa ke rumah sakit yang di ujung jalan Sumbawa. Baru saja satpam pak Haikal mengantar sepeda yang tadi dipakai mbak Biru.” lapor pak Agus dengan raut sedikit panik menunjuk sepeda ringsek yang ditaruhnya di samping pos satpam. Orang yang mengantarkan sepeda sudah tak terlihat.


“Jadi kecelakaannya dekat rumah pak Haikal?”


“Katanya begitu. Sengaja tabrak lari."


Ritha membuang nafas dengan kasar ke udara. Siapa yang tega sengaja menabrak sepeda Biru? Ada apa ini?


“Tolong pak Agus koordinasi dengan satpam itu ya. Kalau bisa minta kopi rekaman CCTV depan rumahnya.”


“Baik, Bu. Tapi kata satpam kasusnya sudah ditangani polisi kok. Polisi sudah minta rekaman CCTVnya.”


“Ooh, baiklah. Bagaimana keadaan Biru? Apa satpam pak Haikal sempat cerita?”


“Luka-luka dan trauma. Waktu dibawa ke rumah sakit masih kayak orang linglung katanya, Bu.”


Ritha tak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan pak Agus sebab ia telah melihat supir pribadinya -pak Didin- telah mengeluarkan mobil dari garasi dan.berhenti di sebelah Ritha yang masih bersama pak Agus berbicara di dekat pos satpam yang berdekatan dengan pintu gerbang rumah. Tanpa menunggu supirnya keluar dan membukakan pintu untuknya, Ritha langsung meraih handel pintu belakang mobil, masuk lalu duduk dengan sempurna di kursi belakang BMW hitam itu.


“Titip anak-anak ya, Pak Agus. Kalau Faiza sudah pulang dari sekolah, jangan boleh ke mana-mana dulu sebelum


saya ijinkan. Saya ke rumah sakit dulu.”


Seharusnya Faiza sudah pulang. Kenapa terlambat ya? Hati Ritha jadi was was tak karuan. Diliriknya jam tangan yang melingkar di lengan kanannya. Jam 14.05. Biasanya kalau tidak ada kendala yang berarti atau pemberitahuan khusus dari jemputannya paling lambat jam 14.00 sudah sampai di rumah. Ada apa ini? Tidak ada pemberitahuan apa-apa tentang keterlambatan Faiza. Gundahnya semakin melebar.


Ritha segera mengambil gawainya lalu menelpon supir mobil jemputan Faiza.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam. Kami baru saja sampai di depan rumah, Bu. Mobil kami ada di belakang mobil ibu yang baru saja keluar dari rumah.”

__ADS_1


Ritha mengengok ke belakang. Hatinya langsung lega melihat Faiza terlihat turun dari mobil jemputannya disambut pak Agus di pintu gerbang.


“Oh iya. Maaf, pak. Saya agak cemas soalnya nggak biasa jam 2 belum sampai rumah.”


“Maaf, bu. Hari ini jalanan macet banget ada demo di pusat kota. Faiza mau diajak pergi ya, Bu?”


“Oh, tidak. Saya hanya akan pergi ke rumah sakit dekat sini saja kok. Faiza harus istirahat dulu di rumah. Terima kasih ya, Pak.”


Tak lama berselang setelah Ritha mengakhiri pembicaraan dan memasukan kembali gawainya ke dalam tas, mobil telah sampai di UGD rumah sakit yang dimaksud. Ritha berjalan lebih santai sebab sudah memastikan Faiza aman


sampai rumah. Ia menemui Biru yang terbaring lemah di ranjang UGD. Dokter dan perawat baru saja selesai menutup luka terbuka yang selesai dijahit pada lengan kiri dan pelipisnya. Wajahnya terlihat pucat. Sebagian tubuhnya memar.


“Biru…”


Gadis itu menoleh sembari meringis.


“Apa yang sakit?”


“Seluruh badan sakit, tapi kata dokter akan sembuh dalam seminggu atau dua minggu ini.” Biru tersenyum tipis dan melirik dokter muda yang sedang berdinas jaga di ruang UGD itu.


“Benar begitu, Dok?” Ritha menanyakan kembali pada sang dokter agar memberi penegasan bahwa apa yang dikatakan Biru adalah benar.


Babak belur kok cuma, Dok. Melihatnya saja ngenes. Pasti rasanya pegal dan nyeri sekali. Ritha ingin protes, tapi melihat keramahan dokter yang menangani Biru ia pikir kata-kata yang diucapkan terakhir adalah intermezzo. Bukan untuk meremehkan keadaan pasiennya.


Dokter mempersilakan Ritha untuk duduk di depan meja kerjanya. Ia memperlihatkan hasil rongent dan CT Scan Biru. Tak ada tulang yang patah atau retak. Pembuluh darah otak juga tidak ada yang pecah. Aman. Setelah mendengarkan penjelasan detil dari sang dokter, Ritha bisa menarik nafas panjang menghiraukan kekhawatirannya yang terlalu berlebihan.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami mungkin perlu observasi beberapa jam sampai psikologis Biru lebih tenang dan infusnya habis. Setelah itu Biru boleh dibawa pulang. Biru gadis yang kuat. Melihat luka luarnya, saya pikir kalau orang lain yang mengalami hal yang sama mungkin ada organ dalam yang bermasalah."


Biru memang kuat. Anak itu lahir dengan fisik dan mental baja.


"Bu Ritha bisa ikut suster buat mengurus administrasinya di bagian pendaftaran pasien dan mengambil obat-obatan yang akan dibawa pulang di apotik.”


“Terima kasih, Dok.”


Ritha mengurus administrasi dengan dibantu salah seorang perawat jaga yang menangani Biru. Tak makan waktu lama karena sistem administrasi sudah menggunakan teknologi jaringan yang terkoneksi langsung ke seluruh bagian rumah sakit dan jaringan perusahaan asuransi penjamin pasien. Ritha membiasakan keluarganya untuk membawa kartu chip asuransi berdampingan dengan kartu identitas penduduk agar bila terjadi sesuatu urusannya menjadi lebih cepat dan mudah.

__ADS_1


“Bagaimana perasaanmu, Bi?” tanya Ritha ketika telah kembali lagi di samping ranjang Biru.


“Sudah lebih baik lebih tenang. Tadi Biru kaget banget, Kak. Ada orang boncengan naik motor yang sengaja menendang keras sepeda Biru. Motornya bahkan sempat oleng saking kencangnya nendang sepeda biru, tapi mereka langsung ngebut. Biru nggak tahu siapa mereka. Kepala Biru pusing. Sekilas sempat melihat pengendaranya pakai jaket dan helm ojol.”


Pengendara ojek online? Apa motivasinya sengaja mencelakakan Biru? Tidak masuk akal.


“Penumpang ojolnya kamu nggak ingat?”


“Kalau dari bodynya kayaknya cowok, Kak. Dia pakai jaket hitam, celana jeans dan helm full face. Peristiwa itu terlalu cepat dan tak terduga. Biru hanya sempat ambil nafas cepat tapi nggak bisa optimal mengeluarkan tenaga dalam untuk melindungi diri.”


“Apa motivasinya dia sengaja mencelakakan kamu? Memangnya kamu punya musuh di sekolah? Kamu kan baru sekolah sebulan, Bi.” Ritha jadi prihatin. Ia mulai berpikir untuk memindahkan Biru ke sekolah lain yang lebih bonafid.


Biru menggeleng pelan. Ia sendiri bingung. Semua tampak baik-baik saja di sekolah. Kalaupun ada tatapan mata tak menyenangkan, Biru pikir itu biasa. Tidak ada seorangpun yang bisa menyenangkan semua orang. Nabi yang memiliki karakter sempurna saja punya musuh. Apalagi Biru yang hanya orang biasa. Biru tak pernah berpikir akan ada orang yang sengaja mencelakakan dirinya begini.


Tiba-tiba Ritha teringat Rio yang biasanya membuntuti Biru berangkat dan pulang sekolah seperti pengawal. Kemana dia?


Ting. Gawai Biru berbunyi nyaring. Tangannya langsung meraba-raba mencari tas ransel sekolahnya yang diletakkan di sisi kanan pinggangnya.


“Cari hp?”


Biru mengangguk. Ia ingat lagi janji nonton basket dengan Rio nanti sore. Ia harus mengabarkan Rio kalau dirinya tak bisa memenuhi janji itu.


Ritha membantu mengambilkan gawai Biru dari dalam tasnya. Benda pipih itu aman dari benturan karena dilapisi karet pelindung dan anti gores.


Meski terasa nyeri dan pegal, Biru menggerakan tangannya pelan membuka pesan di gawainya. Ia langsung mengetik sesuatu dengan ujung bibir sedikit melengkung ke bawah menahan nyeri.


“Chat dari siapa?”


“Kak Rio.”


“Tadi nggak ngantar kamu pulang?”


“Kak Rio ada rapat OSIS, Kak."


Oh jadi itu alasan Rio tidak membuntuti Biru hari ini. Jangan-jangan apa yang dikatakan Rio sebagai alasan membuntuti Biru itu benar. Ada orang yang sejak pertama Biru masuk sekolah berniat buruk pada gadis itu. Tapi kenapa? Masak ada orang yang mencelakakan orang lain tanpa sebab? Banyak keheranan dan pertanyaan berputar di kepala Ritha. Baginya ini adalah suatu hal yang tidak biasa. Biru anak baik. Mustahil ada orang yang membencinya tanpa sebab.

__ADS_1


_______


Hmm... kira-kira siapa ya yang mencelakakan biru?🤔


__ADS_2