METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SENYUM FAIZA


__ADS_3

Pada hari pengambilan rapor Biru terlebih dahulu menemani Ritha mengambil rapor Faiza di sekolahnya yang megah sebelum mengambil rapor di sekolahnya. Rute pengambilan rapor dilakukan dari sekolah yang letaknya jauh sehingga mereka berangkat lebih pagi dari rumah. Beruntung Biru tidak mau bersekolah di sekolah islam internasional yang letaknya jauh dari rumah. Sekolah itu berada di wilayah Jakarta Selatan. Butuh perjalanan lebih dari satu jam dari rumah Menteng dengan mobil pribadi untuk sampai di sekolah Faiza. Menyiksa sekali bila tiap hari harus berjibaku dengan kemacetan di jalan protokol dimana terdapat banyak pusat perkantoran. Kasihan Faiza. Masih kecil sudah harus membiasakan diri dengan berbagai tekanan di jalan untuk sampai di sekolah.


Gedung sekolahnya teramat megah dengan fasilitas premium yang memanjakan siswa-siswinya. Gedung yang nyaman, laboratorium lengkap, dan kurikulum yang berstandar internasional dengan bahasa Inggris sebagai pengantar. Wali murid yang datang semuanya menggunakan mobil mewah sekelas super car. Pakaian, tas, dan perhiasan yang dikenakan mereka pun berlabel internasional. Benar-benar membuat siapapun yang memandangnya berdecak kagum. Ajang pengambilan rapor tak ubahnya seperti fashion show produk-produk internasional yang digelar tanpa catwalk.


Biru yang takjub dengan suasana di sekelilingnya hanya mengekor Ritha dan Faiza. Alamak, Biru menepuk dahi. Setelah diperhatikan ternyata yang penampilan dan apa yang dilakukannya sama persis dengan nanny anak-anak konglomerat itu. Mereka mengekor ke manapun anak majikannya.


Ketika Ritha masuk kelas, Faiza memilih duduk di taman bercengkrama dengan teman-temannya. Tentu saja Biru mengikuti gadis kecil itu. Topik hangat yang sedang dibicarakan anak-anak berpenampilan necis itu adalah rencana liburan ke luar negeri.


“Aku dan keluargaku mau berangkat ke Paris nanti sore naik pesawat luftanza kelas bisnis. Iih, rasanya sudah nggak sabar mau lihat ke menara Eifel dari dekat dan belanja-belanja produk fashion yang lagi ngetren. Kalian mau titip apa? Channel, Hermes atau Louis Vuitton?” Anak perempuan kecil dengan pipi chuby dan ikat rambut tinggi itu tersenyum angkuh menceritakan rencana liburannya.


Beuh, Biru muak melihat gaya anak kecil itu. Namun ia hanya bisa mengelus dada dalam hati. Anak sultan-sultan Jakarta mah bebas. Semua tinggal ngomong tak perlu mikir harga dan dari mana uang buat membayar keinginannya.


“Aku mau liburan ke Dubai, Guys. Kami akan makan mewah di ketinggian menara Burj Khalifa yang sampai sekarang masih jadi gedung tertinggi di dunia.” sahut anak yang berada di sebelahnya tak mau kalah angkuh.


“Aku sih mau ke Los Angeles besok. Sudah daftar kelas short course tari kontemporer.” Anak lainnya ikut bercerita dengan menampilkan ekspresi angkuh yang dibungkus senyum malu-malu. Biru tidak merasa gemas melihatnya. Baginya semua yang ditampilkan anak-anak itu adalah kebahagiaan semu. Ia hanya ingin menyubit aja melihat anak sekecil itu sudah jago akting.


Anak-anak lain pun berebut menyebutkan nama-nama kota lain seperti Singapura, Seul, Tokyo, Amsterdam, Sidney, dan banyak lagi kota-kota besar dunia yang akan jadi destinasi wisata mereka. Mereka sibuk membanggakan kota yang akan menjadi tujuan liburan mereka.


Faiza lebih banyak diam mendengarkan. Ia sempat menyebut akan ke kota Barcelona ketika salah seorang temannya bertanya padanya. Biru ngenes juga melihat tampang keponakannya yang biasa ceria jadi murung. Namun di depan teman-temannya Faiza masih mampu pura-pura bahagia sebagaimana teman-teman lainnya. Padahal Biru tahu keluarga mereka tidak punya persiapan apapun terkait visa atau tiket perjalanan ke Barcelona. Faiza sedang berusaha memungkiri keputusan ayahnya untuk tidak pergi wisata ke luar negeri tahun ini. Impiannya harus tertunda sampai liburan berikutnya. Ayahnya sedang sibuk dengan bisnis dan perusahaannya yang sedang banyak inovasi baru, sementara kakaknya sibuk ikut turnamen game online.


Sejak makan malam beberapa hari yang lalu Biru melihat gadis kecil itu murung. Celotehnya yang biasa cicit cuit sepanjang hari nyaris tak pernah terdengar. Air mukanya muram.


Faiza menarik tangannya dengan alasan ingin pipis, ia menjauh dari gerombolan teman-temannya yang hanya sibuk membicarakan rencana liburan ke luar negeri. Padahal ia tidak pergi ke toilet, melainkan masuk mobil yang terparkir di samping gedung sekolah. Dengan keras ia membanting tubuhnya di kursi belakang mobil BMW seri 7 itu


“Aku sebel sama kak Faiz. Gara-gara dia sibuk turnamen ayah nggak ngajak liburan ke luar negeri, Bi.” keluh Faiza dengan tampang cemberut menyalahkan kakaknya yang licik dan egois itu.


Bundanya belum keluar dari ruang kelas. Sebagai pengganti nanny, Biru mengikuti Faiza duduk di kursi belakang mobil lalu menutup pintunya. Pak Dudung terlihat heran melihat tingkah anak majikannya yang tak biasa namun supir itu tak berani bertanya-tanya. Takut disemprot oleh gadis kecil yang hatinya sedang dilanda galau. Dengan sabar, Biru akan mencoba menghibur dan memberi pengertian sebisanya.


“Aku juga kesal sama Bunda yang nggak mau dukung aku buat jalan -jalan ke Barcelona. Katanya kita harus mencintai Indonesia dan nggak boleh lebih bangga sama negeri asing dibandingkan dengan negara sendiri. Aku harus bagaimana, Bi? Bibi dengar sendiri kan kalau teman-temanku semua berlibur ke luar negeri. Masak aku sendiri yang liburan nggak pergi ke mana-mana. Mau ngapain aku di rumah aja, Bi. Aku pasti bosan. BOSAN SEKALI.” ujar Faiza setengah memekik. Gadis kecil itu seperti tertekan oleh keadaan. Ingin berwisata ke luar negeri seperti teman lainnya, tapi tak didukung keluarganya yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

__ADS_1


Biru merangkul tubuh mungil itu dan memeluknya dengan erat. “Kita ke rumah adik Alisa aja yuk, Za.” Bujuk Biru sembari mengelus-elus punggung keponakannya yang dadanya turun naik dengan cepat.


“Ke Jampang?”


“Iya.”


“Ngapain? Ngelihat kebun kopi, peternakan atau taman bunga? Kampungan, Bi. Iza malu kalau nanti diminta cerita kegiatan liburannya cuma gitu-gitu aja."


“Kita bisa buat ceritanya jadi lebih menarik.”


Faiza tersenyum remeh seolah menjadikan cerita liburan di Jampang menjadi menarik adalah hal yang mustahil. Di Jampang tidak ada salju, tidak ada gedung tertinggi di dunia, tidak ada patung liberty dan tidak ada gedung opera yang mendunia.


“Yang kamu butuhkan itu cerita saat kamu masuk sekolah nanti kan?” tanya Biru dengan senyum lembut menatap netra coklat Faiza yang mirip dengan dirinya. Kelopak matanya agak sipit, alis tipis dan bulu mata yang panjang.


Gadis kecil itu mengangguk. Ia membenamkan tubuhnya lagi dalam pelukan Biru.


Faiza mengangguk. “Harus ada sesuatu yang spesial hingga orang bisa terbengong-bengong mendengarkan cerita kita.”


“Kalau begitu kita buat konsep liburannya dulu yuk! Setelah itu kita tentukan ittenarynya, siapkan perlengkapan yang diperlukan terus, kemudian baru kita eksekusi.”


Faiza menaruh jari telunjuknya di kening. Kelihatannya mulai agak tertarik ikut memikirkan ide Biru.


“Tema liburannya menjenguk kakek dan bibi sambil jalan-jalan di salah satu situs geologi dunia. Cukup keren nggak?”


Mendengar kata dunia, Faiza jadi tertarik menyimak. Anak itu mengangguk-angguk dengan binar mata yang mulai menampakkan antusiasme. Yang perlu digaris bawahi adalah situs geologi dunia. Memang dia anak yang international oriented. Anak yang dilahirkan pada jaman globalisasi dimana hampir seluruh budaya berasimilasi menjadi satu budaya dunia menganggap sertifikasi atau pengakuan dunia itu penting. Biru senang pancingannya mulai berhasil.


“Memang ada situs Geologi dunia di Sukabumi, Bi?”


“Ada. Namanya Geopark Ciletuh. Di kawasan itu ada taman bumi berupa padang rumput yang hijau seperti bukit teletubies, ada pantai yang menyimpan bebatuan tua yang konon menjadi tonggak awal terbentuknya bumi, ada pantai pasir putih tak kalah indah dengan pantai di Barcelona, ada penangkaran penyu, ada air terjun, ada sungai yang airnya hijau seperti Green Canyon, dan

__ADS_1


banyak obyek wisata lain yang mungkin teman-teman kamu belum tahu.”


“Masak sih?”


“Kita bisa bawa kamera dan drone buat bukti yang bisa kamu tunjukan ke teman-teman kamu nanti. Nanti Bibi akan minta teman Bibi yang fotografer profesional supaya jadi kameramen yang mendokumentasikan perjalanan kita dalam bentuk video. Hasilnya pasti keren dan bisa diperlihatkan kepada teman-teman kamu sebagai bukti nyata. Percaya sama Bibi. Pasti keren.”


“Tapi boleh nggak sama Bunda?” tanyanya sendu.


“Kalau alasannya menjenguk Bibi dan kakek pasti boleh dong. Jadi dua hari kita ikut kegiatan pesantren kilat di tempat kakek. Seminggu berikutnya kita jalan-jalan” Biru tiba-tiba saja dapat ide nakal yang menarik, mengajak ikut pesantren kilatnya sebentar buat alasan padahal tujuan utamanya jalan-jalan.


“Seminggu kita jalan-jalan?”


“Iya.”


Wajah Faiza tambah berbinar setelah Biru menyodorkan beberapa foto tempat-tempat wisata yang pernah ia kunjungi di Sukabumi Selatan.


“Wah… Ini dimana, Bi?" tanya Faiza antusias melihat video singkat pelepasan tukik-tukik lucu ke laut bebas.


"Itu di penangkaran penyu Ujung Genteng."



"Aku mau ke sana. Aku mau ikut melepas tukik juga, Bi. Lucu-lucu sekali anak-anak penyu itu. Aku suka. Aku suka.” Faiza terlihat sangat antusias sekaligus gemas melihat tukik-tukik lucu dalam video itu. Senyumnya mengembang cantik dengan rona merah muda di pipi. Wajahnya tak murung lagi. Cahaya wajahnya mulai bersinar lembut seperti fajar yang muncul dari garis batas cakrawala.


________


Gong xi fa chai💞


Semoga makmur, sehat, bahagia, dan sejahtera selalu

__ADS_1


__ADS_2