
Biru mengendap-endap pelan memasuki ruang kerja Ritha yang pintunya selalu dibiarkan terbuka saat sedang bekerja di dalamnya. Itu dilakukan agar semua orang rumah tahu ia sedang bekerja dan tak menyulitkan siapapun yang butuh bertemu dengannya. Akses terhadap ruangan itu terbatas. Hanya Ritha dan Satya saja yang dapat akses membuka pintu ruangan itu. Kalau ditutup tak ada seorang pun yang bisa masuk. Asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan ruangan pun hanya bekerja ketika Ritha sedang berada di ruangan itu. Sistem keamanan di rumah itu dirancang sangat ketat dan canggih.
Sebuah komputer dengan layar lcd berisi gambar-gambar desain lanskap gedung multi dimensi terlihat berada di depan meja kerja kakak iparnya itu. Itu tandanya Ritha sedang serius dengan pekerjaannya sebagai arsitek. Biru melihat Ritha sedang merancang lanskap gedung berupa taman minimalis yang dilengkapi air terjun dan bangunan semacam gazebo dari struktur baja. Keren. Desainnya artistik dan futuristik banget. Biru sih nggak bakal kepikiran bagaimana caranya bisa mendisain lanskap sebagus itu.
“Ada apa, Bi?” Ritha langsung menoleh begitu menyadari keberadaan Biru.
Biru tersenyum malu-malu. Masih ragu buat langsung mengungkapkan niatnya.
“Mau nego ijin buat nonton futsalnya Rio?” tebak Ritha sambil terus menatap layar komputer di depannya dan menggerak-gerakan tetikus buat melengkapi gambar desainnya.
Ah, niatnya sudah terbaca. Jadi malu. Biru memilih diam sampai Ritha membalikan kursinya agar bisa menatap adik iparnya.
“Memang penting banget nonton pertandingan futsal itu?” tanya Ritha lembut. Tidak marah. Tapi justru karena tidak marah itulah Biru jadi menaruh segan padanya.
“Ini pertandingan final, Kak. Sebelumnya kan Biru nggak pernah nonton. Kak Rio baik dan selalu menyempatkan waktu buat nonton pertandingan voli tim Biru. Kayak nggak pantes aja kalau nggak bales kebaikan dengan
kebaikan yang sama.”
“Siapa yang akan mengawasi kamu saat Rio ada di lapangan? Kamu nggak trauma karena kecelakaan bulan lalu? Pelakunya belum ketemu lo.” Ritha mencoba mengingatkan sesuatu yang membuatnya menjadi lebih protektif pada adik iparnya.
“Mungkin kecelakaan itu cuma kebetulan sedang sial kali, Kak. Pelakunya mungkin salah target. Biru kan nggak punya musuh.”
Ritha tak yakin itu sebuah kebetulan karena CCTV memperlihatkan gambar yang mendukung dugaan bahwa peristiwa itu disengaja dan terencana. Salah target mungkin, tapi itu tak mengurangi risaunya atas keamanan seluruh anggota keluarganya. Biru adalah bagian dari keluarganya. Meskipun ia bisa beladiri, namun pemikirannya masih terlalu lugu dan menganggap semua orang baik. Itu sebabnya dia tidak waspada pada kejahatan yang sewaktu-waktu mengintainya.
“Kakak masih was was. Bisa jadi mungkin otaknya adalah pesaing bisnis kakakmu atau orang yang benci sama keluarga kita. Selama belum ditemukan, orang itu bisa mencelakai kita kapan saja.”
“Kan ada Allah, Kak. Kita selalu berdoa untuk keselamatan dunia akhirat dan berusaha untuk selalu waspada kapan pun dimana pun. Tapi … semua kan terjadi atas kehendakNya. Orang boleh saja punya rencana mencelakai atau membunuh, tapi apa yang direncanakannya tidak akan terjadi tanpa seijinNya.” Seketika jawaban bijak itu muncul begitu saja di benak Biru. Semoga kata-kata itu mengena dan menyadarkan Ritha akan kecemasannya.
Ritha menarik nafas dalam. Apakah kecemasannya berlebihan? Tentu saja tidak. Semenjak menikah dengan Satya, ia terbiasa dengan protokol keamanan yang ketat karena nyawa keluarga mereka sering terancam. Berkali-kali ia mengalami pedihnya diteror orang tak dikenal. Peristiwa penembakan yang menewaskan Giring, kecelakaan yang nyaris merengut nyawa Satya, ancaman pembunuhan, dan beberapa teror lain membuatnya harus selalu waspada. Itu sebabnya rumahnya dilengkapi sistem pengamanan yang sangat canggih dan ketat. Kalau sesekali Biru pergi bersama Rio, Ritha masih bisa percaya karena anak itu sudah terbukti peduli keselamatan Biru dan sudah dibriefing Satya soal protokol keamanan keluarganya. Itu pun masih dibatasi perginya tidak sampai malam.
__ADS_1
“Biru mau kok pergi ke tempat futsalnya didampingi asisten rumah tangga, satpam atau yang lainnya kalau kakak khawatir Biru kenapa napa.” pinta Biru dengan wajah memelas.
Ritha tak sampai hati melihat wajah murung adik iparnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Bas yang salah satu bisnisnya adalah sebagai penyedia tenaga keamanan.
“Tunggu sebentar.”
Diambilnya gawai dari atas meja kerjanya lalu menghubungi Bas. “Mas Bas, saya perlu satu orang bodyguard perempuan untuk nanti sore. Sewa pengamanan untuk 6 jam.”
“Kamu mau kemana?”
“Bukan buat aku, tapi buat Biru.”
“Ngapain anak itu dikasih bodyguard segala. Biarin aja dia mati sekalian. Biar nggak ngerepotin.” Bas menjawab dengan nada tinggi dan sinis.
“Itu urusan saya, Mas. Yang penting kan saya bayar. Saya order dalam rangka bisnis pengamanan, bukan gratis. Berapa tarifnya? Saya akan transfer sekarang juga.”
Blup. Telepon ditutup begitu saja tanpa kepastian. Itu kebiasaan Bas yang membuat siapa pun yang berurusan dengannya jengkel. Bas terlalu sering menutup telepon seenaknya dan membiarkan permasalahannya mengambang tanpa kepastian.
“Kita tunggu sebentar lagi ya. Mas Bas belum jawab.”
“Kenapa kakak minta bantuan Kak Bas?”
“Karena dia punya bisnis pengamanan, Bi. Mas Bas punya banyak bodyguard dan satpam profesional. Kak Ritha nggak tenang membiarkan kamu pergi sampai malam sendirian. Kalau ada apa-apa sama kamu, bagaimana kakak harus bertanggung jawab pada kakakmu. Keluargamu punya banyak pesaing bisnis yang sebagian diantaranya bisa menghalalkan segala cara untuk balas dendam atau mendapat keuntungan dari musibah yang kita alami. Ini bagian dari protokol keamanan Satya Wirajaya Halim. Tak bisa dibantah, apalagi diabaikan. Nggak mungkin mbak Pun yang nggak ngerti apa-apa diminta menemani kamu. Harus orang profesional."
Biru menunduk sedih. Kok jadinya merepotkan begini sih. Hidup di sini kok ribet banget ya. Jangan-jangan standar protokol keamanan ini memang sudah turun temurun berlaku sejak jaman papa masih ada. Kemana-mana harus ada yang mengawal. Bahkan untuk hal sepele nonton futsal saja harus dikawal bodyguard.
Aduh bagaimana ini? Bukan cuma ribetnya pengawalan yang membuatnya gundah. Runyam urusan kalau sudah berhadapan dengan Bas yang selalu marah, marah dan marah padanya. Apa sebentar lagi Bas akan datang buat memarahinya? Lebih baik tadi ia turuti saja apa kata Ritha dan Rio yang menyarankannya untuk tidak datang ke lapangan futsal.
Tak lama berselang mbak Pun datang ke ruangan itu membawa seorang perempuan muda bertubuh tegap dengan baju safari dan celana panjang hitam.
__ADS_1
“Perkenalkan nama saya Sari, Bu. Saya ditugaskan pak Bas kemari.”
Ritha tersenyum. Rupanya Bas langsung merespon permintaannya walau tak memberi kepastian apapun di telepon tadi.
“Selamat datang di rumah kami, mbak Sari. Saya butuh pengamanan buat Biru, adik bungsu suami saya. Dia akan pergi nonton pertandingan futsal. Mungkin selesainya agak malam. Bulan lalu sempat ada orang yang mencelakakan dia dan pelakunya belum diketahui sampai saat ini. Sebab itulah kami was was melepasnya pergi sendirian." terang Ritha dengan nada santai.
"Siap, Bu."
"Mbak Sari bisa bawa kendaraan?”
“Bisa, Bu.”
“Mobil atau motor?”
“Dua-duanya bisa.”
“Kalau begitu supaya tidak mencolok mungkin mbak Sari bisa mengantar Biru pakai motor saja seperti kebanyakan siswa di sekolahnya Biru. Tolong jaga dan awasi dia. Jangan sampai ada orang yang mencelakai dia lagi.”
“Siap, Bu.”
“Nah, mulai sekarang kamu sudah bisa memulai tugasmu. Argo sudah mulai jalan."
"Siap, Bu."
Ritha menoleh ke arah Biru yang wajahnya masih saja muram meski sudah diijinkan keluar bersyarat.
“Biru, kamu boleh pergi diantar mbak Sari.” Ritha tersenyum lebar.
Biru meresponnya dengan anggukan pelan. Ia menyesal. Permintaan sederhananya ternyata harus merepotkan banyak orang. Hidup keluarganya tidaklah mudah. Tidak bisa bebas. Peraturan dan protokol keamanannya bahkan lebih ketat dari peraturan pesantren.
__ADS_1
________
Happy reading💖