
Selepas ashar, mereka berlima berangkat ke kota Sukabumi dengan menggunakan 2 mobil keluarga Amar. Sebenarnya Faiz ingin menyetir mobil sendiri, tapi ayah, bunda dan bibinya bersikukuh melarang.Selain karena
mengkhawatirkan keamanan anak itu, alasan paling logis adalah karena dia belum cukup umur dan belum memiliki surat ijin mengemudi. Akhirnya mereka berangkat dengan 2 mobil. Mobil rombongan Faiz, Amar dan Azka dikendarai oleh pak Nandi. Sementara Biru dan Fathia didampingi Sari yang sudah resmi dinobatkan menjadi body guard Biru.
“Faiz bisa nyetir, Yah. Jarang ada polisi kok di sini. Kalau ditilang pun Faiz bisa bayar pakai uang Faiz sendiri kok.”
Biru mencibir sambil menoleh ke arah Fathia. Cih, sombongnya sultan baru. Mentang-mentang uangnya banyak, dia pikir bisa berlaku seenaknya. Fathia membalasnya dengan senyum manja dan kepala miring.
"Sultan mah bebas," bisik Fathia dekat telinga Biru sambil cengar cengir manja.
“Peraturan itu dibuat dengan banyak pertimbangan ahli, Iz. Anak seusia kamu dianggap belum memiliki ketrampilan, pengetahuan, dan kemampuan yang dianggap mampu untuk mengemudi kendaraan roda empat. Kemampuan persepsi visual masih belum cukup mampu melihat jarak dan orientasi ruang. Selain itu kontrol emosi anak usia remaja tanggung juga belum baik, karena masa puber pasti mengganggu fungsi emosinya. Kalau kamu masih ngotot mau nyetir, lebih baik ikut ayah pulang ke Jakarta saja. Nanti kalau ada waktu ayah antar kamu ke sirkuit dan kamu bisa nyetir sesukamu di dalam sirkuit.” Satya bicara dengan nada bijak. Semua orang tua manggut-manggut setuju.
Faiz merengut. Sebelah kakinya menghentak ke bumi. “Faiz bukannya mau jadi pembalap, Ayah. Faiz hanya ingin merasakan sensasi menyetir di jalan pegunungan yang naik turun dan sempit. Faiz kan sudah pernah nyetir di sirkuit Sentul. Rasanya B aja, sudah tidak tertantang sama sekali.”
“Sabarlah, Iz. Tunggu usiamu 17 tahun. Kalau sudah punya SIM kamu boleh nyetir sendiri.” Bunda mendukung pendapat ayah.
Faiz tertunduk. Kesal.
Sementara Faiza tersenyum meledeknya dengan penuh kemenangan. Anak itu senang sekali melihat kakaknya kesal. Dia menjulurkan lidahnya sambil bersembunyi di balik tubuh ayah yang dirangkulnya di batas pinggang.
Uh. Kesal. Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau mendukungnya. Tidak juga Amar dan Azka yang hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri. Biru dan Fathia mendadak sibuk saling membenahi tatanan kerudungnya dengan gaya ala hijaber remaja yang sedang kondang. Kenapa sih mau nyetir sebentar aja mesti menunggu punya SIM. Anak-anak lain bahkan diijinkan bawa mobil sejak usia 12 atau 13 tahun buat gaya-gayaan di jalan raya. Kenapa Faiz cuma diijinkan bawa mobil dalam sirkuit? Padahal ayah dan bunda sudah mengakui kemahirannya. SIM itu urusan sepele. Kalau ditilang polisi kan tinggal bayar. Nggak mahal juga.
Amar merangkul bahu Faiz, “Tidak sampai 2 tahun lagi kok, Bro. Sabar ya! Kalau sudah sama-sama punya SIM kita berdua bisa touring bebas buat merayakannya,” hibur Amar dengan senyum tenangnya. Tangannya sibuk menepuk-nepuk pelan punggung Faiz.
__ADS_1
Senyum itu menular. Amar selalu punya cara untuk membuat emosi orang yang berada di sekitarnya mereda. Entahlah. Bawaan alam. Aura dari dalam tubuhnya begitu tenang seperti air di permukaan sebuah danau. Jarang beriak. Hal yang kasat mata itulah yang memiliki kekuatan menenangkan. Ajaib. Faiz tak ingin membantah lagi setelah anak itu merangkul dan menghadiahinya seulas senyum yang mendamaikan.
“Kalian boleh bawa 2 mobil. Satu akan dibawa pak Nandi dan yang satu lagi biar mbak Sari yang bawa. Kalian tinggal duduk manis menikmati perjalanan kalian. Bibi sudah buat reservasi khusus buat kalian di ruang VVIP yang pemandangannya paling top." Lily mengacungkan jempol melepas keberangkatan remaja tanggung itu ke kota yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
“Yey!” Biru dan Fathia berteriak riang. Keduanya langsung berlari lalu masuk ke dalam mobil minibus yang siap dikendarai Sari.
Faiz berjalan dengan malas menuju mobil SUV lalu duduk di sebelah pak Nandi yang telah siap duduk di belakang kemudi. Wajahnya masih terlihat suntuk. Amar dan Azka mengikutinya dengan langkah tenang dan raut gembira. Meski tergolong tidak jauh, namun kedua bersaudara itu jarang sekali berkesempatan main ke kota Sukabumi. Sehari-hari hidupnya hanya seputar pesantren, rumah, kebun dan peternakan. Sesekali ikut abahnya berkunjung ke rumah atau kebun mitra-mitra perusahaan agrobisnis mereka di kampung-kampung yang cukup terpencil. Tidak hanya di kawasan Sukabumi, kadang sampai kawasan di balik gunung Halimun yang sudah masuk kawasan
kabupaten Lebak Banten.
“Kak, nanti anterin aku ke toko A ya. Aku mau cari drone. Nanti kakak tolong pilihkan drone yang paling bagus tapi harganya jangan yang mahal-mahal banget.”
“Drone apaan?”
Faiz mulai tersenyum. Wajah suntuknya berangsur hilang. Mendengar kata yang berhubungan dengan teknologi informasi membuatnya bergairah. Padahal itu cuma drone, apalagi kalau yang disebut Amar benda lain yang lebih canggih.
“Tumben kamu tertarik sama drone. Mau buat apa, Mar? Buat sistem baru yang mengawasi pekerja kebun dan peternakan?”
Amar tersenyum. Ia sama sekali tidak kepikiran sejauh itu. Ide bagus juga sih, agrobisnis perlu juga dikelola secara modern mengandalkan teknologi informasi. Siapa tahu ada pencuri biji kopi atau lada yang tidak terpantau oleh abahnya. Selama ini abahnya hanya mengandalkan kepercayaan saja pada para pekerja kebun. Mana tahu ada yang berkhianat, terutama di kebun yang luas dan letaknya jauh dari jangkauan pengawasan.
“Bukan, Kak.”
“Terus buat apa?”
__ADS_1
“Buat bikin video dakwah.”
“Video dakwah?”
“Iya, aku mau ambil video pemandangan alam nanti diisi suara tilawah santri atau dzikir. Kakak ingat Umair Hasballah kan?”
“Santri yang suaranya merdu dan menang lomba musabaqah tilawatil qur’an itu?”
“Iya. Aku mau rekam suaranya digabungkan dengan video pemandangan alam dan tulisan bacaan qur’annya. Nanti diupload di channel youtube atas nama pesantren. Mang Rony sudah lama ngasih ide itu. Tapi kitanya terlalu sibuk. Nggak sempat keluyuran cari gambar yang bagus. Padahal alam Sukabumi Selatan ini masih asri dan alami. Belum banyak orang yang tahu. Supaya jalan-jalan kita ada manfaatnya buat umat, aku kepikiran buat video dokumenter yang bisa dimanfaatkan buat dakwah.”
Sumpah. Itu ide bagus. Bisa juga Amar berpikiran agak maju. Faiz menunjukan sedikit antusiasmenya dalam wujud senyum kambing yang mengembang di bibirnya.
“Kita sudah punya prototipe, Kak. Kakak ingat video yang kita ambil iseng di belakang rumah pakai drone kakak?”
Faiz makin bersemangat mengangguk. Mereka memang pernah mendokumentasikan keindahan pemandangan di belakang rumah Amar dengan kamera dan drone. Sudah dibantu edit sama mang Rony. Hasilnya bagus. Sebagian gambarnya sudah Faiz jadikan latar pada komik multidimensi yang dibuatnya. Ternyata Amar berpikiran lain. Ia menggunakan video itu untuk kepentingan dakwah. Subhanallah. Otak anak itu memang diciptakan memiliki kecenderungan berbeda. Kalau Faiz berpikir menggunakan video itu buat kesenangan pribadi dan potensi cuan, dia malah berpikir buat dakwah. Salut.
“Video yang sudah diedit mang Rony sudah diupload di channel VLOG milik pesantren. Jumlah yang nonton lumayan banyak dan sudah bisa dimonetisasi sebagai pendapatan pesantren. Nggak banyak sih, tapi selain buat dakwah video macam itu bisa jadi salah satu sumber pendapatan pesantren tanpa harus buat proposal sumbangan."
“Wuih, keren.”
Azka ikut tersenyum bangga, padahal dia tak punya peran apa-apa dalam pembuatan video itu. Selama ini anak itu cuma mengekor saja kemana kakaknya pergi dan beraktivitas. Persis seperti bayangan Amar. Yang ambil gambar Faiz dan Amar. Mang Rony yang mengedit dan merekam suara tilawah Umair lalu menggabungkannya menjadi video dakwah yang pastinya dipersembahkan untuk penonton muslim yang tidak suka menonton musik yang kebanyakan berisi gambar model yang pakaiannya tak sesuai syariat islam. Video pemandangan alam yang diisi musik suara alam dan tilawah qur’an seperti itu punya pangsa pasar tersendiri. Mang Rony memang keren. Tapi …. Kemana perginya dan kenapa harus pergi? Tanda tanya itu kembali nyangkut di otak Faiz. Ia belum sempat bertanya pada ayah gara-gara perdebatan tak bermutu saat pamit tadi. Jelas pesantren mungkin akan kesulitan mencari guru komputer pengganti yang sekeren mang Rony.
__ADS_1
Selamat membaca. Semoga menginspirasi💖