METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
HATI YANG MEMBIRU


__ADS_3

Biru kecewa karena Ritha tak mengijinkannya nonton pertandingan final futsal sore nanti. Padahal ia merasa telah berhutang budi pada Rio. Kakak iparnya itu over protektif, tidak mengijinkannya keluar sampai malam kecuali bersama keluarga atau ada hal penting yang tak dapat dihindari. Alasannya, ia tak mau Biru kenal dunia malam Jakarta yang katanya kotor dan keras.


“Kenapa, Bi? Nggak diijinin ya?”


Biru mengangguk.


“Ya sudah. Nggak apa-apa. Nanti aku kirim video pertandingannya kalau kamu mau nonton dari jarak jauh. Mendukung dengan doa aja cukup kok.”


Biru makin tak enak hati mendengarnya. Mendukung dengan doa itu beda efeknya dengan mendukung langsung di lapangan. Biru ingin dua-duanya, mendukung dengan doa dan hadir pula di lapangan.


“Lagipula kalau aku lagi main dan kamu nonton sendirian di tribun, aku takut malah jadi nggak konsentrasi. Takut ada apa-apa sama kamu, Bi. Aku bisa dibantai keluargamu kalau kamu sampai celaka lagi.”


Begitu ya? Kenapa sih nasibnya selalu dicelakai diam-diam? Kenapa orang yang tidak suka padanya tidak terang-terangan ngajak berantem atau kompetisi secara fair? Apa karena tahu Biru bisa silat sehingga mereka takut dan main belakang?


Orang yang ngempesin ban sepeda misterius. Pemotor yang mencelakainya pun misterius. Kayla juga tidak terang-terangan memusuhinya tapi menjelek-jelekan dirinya di belakang. Yang terang-terangan memusuhinya hanya Shieny seorang dan sekarang dia sudah tahu bagaimana menyerang dengan menjatuhkan mental Biru.


“Aku kok kayak ingin balik lagi ke pesantren ya, Kak.” gumam Biru ragu. Ia kangen Jampang dan lingkungan pesantren yang membesarkannya. Kangen melihat kang Asep juga.


“Kenapa? Nggak betah di Jakarta?”


Biru mengangguk.


“Apa yang bikin nggak betah?”


“Suasananya.”


“Memang sebenarnya apasih alasan kamu pindah ke Jakarta?”


“Nemenin Faiz sekolah.”


“Hanya itu?” Rio kelihatan tak percaya dengan jawaban sederhana itu.

__ADS_1


Biru mengangguk. Cukup hatinya yang tahu alasan lain harus pindah sekolah selain menemani Faiz.


“Kenapa Faiz harus ditemenin? Kayaknya dia bukan tipe orang yang butuh teman. Dia bisa melakukan segala hal sendiri.”


“Karena dia kecanduan main game. Harus ada yang ngingetin dia buat sekolah. Sebenarnya Faiz maunya home schooling tapi bundanya keberatan. Setelah aku kecelakaan kemarin Faiz sudah janji mau sekolah kalau turnamennya sudah selesai supaya bisa melindungi aku. Dia nggak akan ikut turnamen game online lagi dan fokus mengembangkan proyek IT impiannya.”


“Kamu itu kayak orang jaman dulu ya, tante dan keponakan bisa seumuran.” Rio tersenyum samar. Ingin Biru tetap bersamanya, tapi belum tahu apa sebenarnya masalah Biru jadi tidak bisa memberi solusi.


“Sebenarnya nggak seumuran juga. Aku nyaris 2 tahun lebih tua dari Faiz. Sekolah bareng karena dia terlalu pintar serta lulus program akselerasi sekolah. Dia masih 15 tahun, Kak.” terang Biru dengan mata mengikuti arah perpindahan bola voli di lapangan.


Rio mengangguk sambil merekam informasi apapun yang ia ketahui tentang Biru.


“Menurut aku kamu masih dalam tahap adaptasi, Bi. Harus tangguh. Kalau kamu bisa melewati masa adaptasi ini dengan baik, di mana pun kamu tinggal kamu akan bisa menyesuaikan diri. Tiap tempat punya budaya dan keunikan tersendiri. Selama ini kan kamu hidup di pesantren yang kental budaya islami, aktivitasnya teratur dan karakteristik orangnya pun hampir homogen. Di sini lebih bebas dan modern. Karakter orangnya pun lebih heterogen. Aku senang menemani kamu beradaptasi. Kalau kamu punya cerita atau unek-unek, sampaikan saja. Apapun yang terjadi, kamu harus berusaha betah di sini."


Biru manggut-manggut. Biru makin tak enak hati karena Rio terlalu baik padanya. Ia selalu mendukung dan menemaninya saat susah maupun senang. Masak sih Biru tidak bisa melakukan hal yang sama buat orang sebaik Rio? Keinginannya mendukung pertandingan futsal Rio nanti sore jadi makin meledak-ledak. Bagaimana ya caranya bisa dapat ijin keluar dari kak Ritha? Ngajak Faiz nggak mungkin. Anak itu terlalu sibuk dengan turnamen universe war. Ngajak Faiza lebih tidak mungkin karena anak itu masih terlalu kecil dan kurang terlalu suka pertandingan olahraga. Hobi Faiza lebih cenderung mengarah ke dunia seni daripada olahraga. Apa ia boleh mengajak salah satu pekerja rumah buat mendampinginya?


Sambil menonton pertandingan Biru berpikir keras mencari cara agar dapat kesempatan keluar rumah nanti sore. Ia ingin menonton pertandingan futsal Rio diam-diam. Rio tak perlu menjemputnya agar tidak merepotkan dan jadi beban pikiran. Rio pasti senang kalau dapat surprise. Ia juga akan beli buket bunga dan coklat sebagai hadiah buat kemenangan Rio nanti.


Pertandingan semifinal voli kedua usai dan dimenangkan oleh tim 11-3. Rio mengajaknya mampir ke sebuah rumah makan sederhana buat makan siang sebelum mengantarkannya pulang.


“Jangan gitu, Bi. Aku nggak rela lo kakak ipar cantik kamu disamain dengan anjing herder.” ralat Rio dengan senyum bijak yang mengembang sempurna di wajahnya.


Biru menutup mulutnya. “Maafkan Biru, kak Ritha!” ujarnya lirih berulang-ulang sambil menepuk-nepuk bibirnya. Jahat banget sih mulutnya sampai-sampai menyamakan kakak iparnya yang super perhatian itu dengan anjing herder. Astagfirullah, pokoknya biru benar-benar menyesal keceplosan begitu.


“Makan dikit aja nemenin aku. Nanti makan lagi di rumah.” Saran Rio terdengar sempurna.


Baiklah. Baiklah. Biru ikuti saja saran itu.


Di rumah makan padang kecil itu Biru hanya memesan es jeruk dan makan peyek udang sebagai camilan. Sementara Rio makan dalam porsi besar nasi, rendang dan telur dadar yang tebal. Dia makan lahap sekali.


“Memangnya ibu kak Rio nggak masak di rumah?”

__ADS_1


“Ibuku kerja, Bi. Ayah juga. Di rumah ada asisten rumah tangga, tapi hanya buat bersih-bersih dan cuci setrika saja. Kalau masak suka nggak ada yang makan, jadi mubazir. Sesekali ibuku masak makan malam untuk kami bertiga. Kakakku sudah kuliah di Yogya. Kakak sulungku sudah kerja dan menikah. Sekarang tinggal di Palu. Rumah sepi kalau siang-siang begini."


“Kak Rio anak bungsu?”


Rio mengangguk.


“Sama dong.”


“Tapi keponakanku masih bayi. Kalau keponakan kamu udah bisa jadi manajer tim voli.” Rio mengerdipkan sebelah matanya sambil tersenyum. Aih, senyum Rio itu lebih terasa manis daripada gula pasir.


Hahaha. Iya memang beda. Rio bersaudara kandung dengan kakak-kakaknya. Sementara Biru hanya saudara seayah.


Akh… kenapa kok hati Biru jadi membiru lagi ya. Rasa bencinya akan sosok mamanya yang perebut suami orang kembali bangkit. Gara-gara mama nasib Biru jadi begini. Dihina orang sampai disuruh bunuh diri supaya terhindar dari kutukan. Kenapa ia tidak lahir dari rahim mama Rima seperti kakak-kakaknya yang lain saja.


Rio melirik Biru, melihat gadis itu berhenti makan dan tiba-tiba pandangannya seperti mengawang. Pasti masih ada sesuatu yang merisaukan hatinya lagi


“Kenapa bengong, Bi? Ada yang salah?”


Biru buru-buru mengembangkan senyum. “Nggak apa-apa kok, Kak. Hanya teringat sesuatu aja.”


“Kangen orang tua?” tebak Rio


Biru mengangguk. “Besok libur kayaknya aku perlu ziarah ke makam ayah ibuku.” jawab Biru datar.


Terpikir dalam benak Biru, mungkin ada baiknya kalau ia mengaku sebagai anak mama Rima saja. Biru anak yatim piatu. Sudah labeli dirinya begitu saja. Lupakan mama kandungnya yang sudah tak mempedulikan dirinya sama sekali. Tak usah punya harapan lagi bertemu dengan orang yang telah membuangnya. Percuma. Malah bikin hatinya makin membiru saja.


“Aku boleh ikut?”


Tentu saja tidak. Biru menggeleng. Mama Rima telah meninggal jauh sebelum Biru dilahirkan. Biru tak ingin Rio bertanya-tanya siapa ibunya yang sebenarnya. Malu. Ia takut Rio bakal kecewa dan tak mau menemaninya lagi.


________

__ADS_1


Masih terbiru-biru buat hati Biru yang membiru.🤭


love all about blue💞


__ADS_2