
Sekitar setengah jam perjalanan sampailah mereka di lobi salah satu provider arung jeram ternama di tepi sungai Citarik. Bentuknya sudah layak disebut sebagai resort dengan standar pengelolaan yang cukup baik. Banyak orang datang berombongan karena provider memang menyediakan paket team building buat perusahaan atau perkumpulan. Paket itu tentu saja berisi sajian rekreasi alam sekaligus permainan yang dijadikan alat untuk membangun kekuatan tim. Kesembilan remaja itu langsung mendapatkan pelayanan ramah dari petugas pengelola dan diantar menuju 2 vila kayu yang letaknya bersebelahan. Welcome drink berupa kelapa muda yang segar dan singkong rebus yang masih hangat ikut menyambut kehadiran mereka. Kendaraan juga mendapat fasilitas valet parking yang aman tak jauh dari lokasi Vila.
Vila yang lebih besar diperuntukan untuk rombongan laki-laki, sementara yang perempuan memperoleh kamar di vila kayu kecil yang hanya terdiri dari satu kamar dengan 4 tempat tidur. Tak apa. Semua sudah merasa senang dengan fasilitas yang ada. Mana ada orang dikasih gratis protes. Ngelunjak itu namanya. Di rombongan itu yang boleh protes hanya Faiz. Si ganteng bermata biru itu sejak tadi hanya diam. Artinya, tidak ada masalah dengan pelayanan pihak provider arung jeram.
Arus air yang deras sudah terdengar dari Vila. Suaranya memanggil-manggil mereka hingga tak sabar ingin segera menghampiri.
"Ayo hampiri aku. Ayo hampiri aku." begitu kira-kira makna suara derasnya arus sungai kalau ditafsirkan menjadi bahasa manusia. Suaranya menggema. Menyihir mereka untuk segera menghampiri.
Dua orang pemandu rafting membagi mereka ke dalam 2 tim yang masing-masingnya berisi 5 orang, 2 cewek dan 3 cowok, dimana pak Nandi ikut sebagai bagian dari tim Amar, Azka, Kikan dan Hani. Sisanya berada dalam tim yang dipimpin Faiz. Mereka akan berada di perahu karet yang berbeda.
Kata bapak pemandu, arung jeram adalah kegiatan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Ada banyak manfaat dari aktivitas ini. Arung jeram dapat melatih kapasitas jantung dan paru-paru, kekuatan dan daya tahan otot, serta fleksibilitas sendi bahu dan pinggang. Selain bermanfaat, arung jeram nyatanya memang mengasyikan karena para pemain akan dibawa pada situasi penuh ketegangan dan keseruan. Situasi itu diyakini bisa jadi obat mujarab dalam mengatasi tekanan mental akibat rutinitas pekerjaan.
Setelah menghabiskan air kelapa dan berganti pakaian, mereka dipandu untuk menggunakan jaket pelampung dan helm sebelum beranjak ke perahu karet yang akan membawa mereka selama kira-kira 4 jam menyusuri sungai Citarik yang rutenya pengarungan katanya sudah memenuhi standar Federasi Arung Jeram Internasional atau International Rafting Federation (IRF). Jarak tempuh yang dipilih dalam paket yang dibayar Faiz sekitar 17 km menuju arah muara sungai di daerah Palabuhan Ratu.
"Kak Faiz, terima kasih ya sudah ngajak Fathi ke sini. Jadi nggak sabar. Ini pertama kali lo Fathi main rafting." Mata Fathia berbinar dengan senyum manja dan kepala miring yang menjadi ciri khasnya. Senang tapi ada takut-takutnya.
"Aku juga baru pertama kok, Fath." Doni mengerdipkan matanya menggoda Fathia. Faiz langsung menerkamnya dengan tatapan tajam hingga pemuda yang punya bakat play boy itu menunduk dan berhenti menggoda sepupunya.
Duh, galak banget sih calon bos besar itu. Padahal yang digoda saja kelihatan bahagia kok.
__ADS_1
"Sebelum mulai perjalanan, mari kita berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan kita semua. Berdoa mulai!" Faiz segera memimpin doa.
Semua anggota tim tertunduk dan komat kamit melantumkan doanya masing-masing. Tak terkecuali Biru yang nyaman berada di sebelah Rio dan pak Cecep, pemandu rafting yang mendampingi mereka. Sesekali gadis itu mencuri pandang ke arah Rio yang pada hari itu tak terlalu banyak bicara.
"Berdoa tak akan pernah selesai." teriak Faiz.
Semua anggota tim segera mengangkat kepala. Mau protes tapi tidak jadi. Mereka ingat bahwa bos selalu benar. Berdoa harus dilakukan sepanjang waktu, tidak ada kata selesai. Bodoh jika ada perintah menyelesaikan doa. Nanti Tuhan marah, sebab Tuhan cinta pada orang yang selalu meminta dan berharap hanya padaNya. Duh, falsafahnya dalam banget sih. Bos Faiz memang keren.
Pengarungan diawali dengan arus sungai yang stabil, sedikit berjeram dan tak banyak terdapat batu-batu besar. Santai dan ceria. Rombongan disuguhi ceramah tentang berbagai teknik rafting dan metode penyelamatan sambil mendayung pelan mengikuti arus air yang berwarna coklat karena bercampur tanah merah yang ikut terbawa arus sungai. Pemandangan alam yang hijau membuat mata menjadi segar. Maka nikmat Tuhan manakah yang ingin kau dustakan?
Tak lama kemudian mereka melintasi medan sungai yang sedikit menyempit dengan batu-batu besar yang menciptakan jeram besar dan riak alami pada air sungai. Perahu karet mulai terguncang-guncang memberikan tanda bahwa mereka harus sigap dan waspada menjaga fungsinya masing-masing berjalan sebagaimana mestinya agar perahu tidak sampai terbalik dan mencelakai seluruh anggota tim.
Huu, semua peserta spontan berteriak histeris antara ketakutan dan senang saat perahu menghantam jeram dan batu besar bertubi-tubi di kiri dan kanan. Rasanya begitu sulit terlukiskan. Antara kaget, takut dan senang beradu jadi satu rasa yang unik. Perahunya nyaris terbalik. Pemandu memberi arahan agar semua tim tetap berusaha berada di tempatnya masing-masing dan menjalankan fungsinya untuk menjaga keseimbangan.
Hahahaha. Huuuuuu. Suara tawa dan teriakan menggema tanpa henti.
BYUR. Tubuh semua peserta basah kuyup oleh percikan air yang tercipta dari hantaman air deras saat perahu karet tiba-tiba seperti terbang karena perbedaan permukaan sungai yang cukup tajam sehingga kalau dilihat permukaan jatuhnya air mirip dengan air terjun. Perahu jatuh ke permukaan air di bawah dengan gerakan sangat cepat dan menciptakan percikan besar yang membuat jantung berdebar-debar. Untungnya perahu tetap aman. Tidak terbalik. Benar-benar menakjubkan. Ngeri-ngeri sedap.
Setelah melalui hal menegangkan itu mereka dapat tertawa lepas bersama. Meski tetap harus waspada jangan-jangan ada batu lagi yang membuat perahu jadi oleng.
__ADS_1
"Kak, Fathi takut." Wajah Fathia putih memucat. Faiz hanya bisa menghiburnya dengan senyum.
Rasa takut, senang berganti-ganti dengan begitu cepatnya. Yang bisa dilakukan untuk menetralisir perasaan adalah berteriak dan tertawa lepas.
Pemandangan hijau sekitar sungai sangat memanjakan mata. Mereka melintas daerah aliran sungai dimana yang memiliki ciri khas berbeda. Kadang pemandangan di sekitarnya adalah pohon-pohon yang tinggi dengan akar tunggang besar yang menonjolkan kekuatannya menghadapi arus sungai yang deras. Lain waktu mereka melintasi area persawahan dengan padi yang tampak hijau seperti permadani, latar pegunungan yang biru menjulang, dan rumah penduduk khas pemandangan di wilayah pedesaan. Suatu ketika mereka berada di sungai yang letaknya jauh lebih rendah dari daratan sekitar, tampak menyeramkan sebab mereka tengah berada di lembah yang dihiasi batu alam dan pepohonan. Entah bagaimana cara menyelamatkan diri andai terjadi kecelakaan di tempat itu. Tak mungkin memanjat ke daratan yang tinggi itu. Mungkin perlu berenang mengikuti arus sungai dulu sampai didapati daratan yang sejajar dengan permukaan air sungai.
Pemandangan eksotis itu tentunya akan menjadi atraksi penghibur di sela-sela teriakan histeris peserta arung jeram. Meskipun memperoleh suguhan pemandangan alam yang sangat eksotis, akan tetapi jangan mudah terpana dengan keindahan tersebut. Pasalnya yang dihadapi adalah aliran arus sungai cukup deras. Saat sedang asyik menikmati pemandangan eh tiba-tiba terhentak oleh sajian hantaman bebatuan yang mengguncang perahu. Alamak, benar-benar harus waspada. Detak jantung tetap berlari kencang oleh peristiwa-peristiwa mengejutkan yang dihasilkan oleh jeram dan hantaman bebatuan. Jangan lengah sedikitpun sebab sungai Citarik memiliki panjang 44km yang bermuara pada Pantai Pelabuhan Ratu ini mempunyai aliran cukup deras dengan tipe berbatu yang dapat membentuk arus air sempurna untuk kegiatan rafting yang memacu adrenalin.
Fathia berteriak keras ketika sisi perahu tempatnya duduk terhantam batu besar hingga gadis tanggung itu terjungkal. Refleks Doni langsung menangkap tubuhnya dan memeluk dengan tubuh tinggi besarnya. Tentu saja itu membuat Faiz berang.
"Eh, jangan modus meluk-meluk adek gua ya, Don."
"Sorry, Bos. Nggak sengaja." Doni nyengir kuda. Ia melepaskan Fathia dengan perlahan disertai senyum tengil lalu tangannya kembali mendayung perahu karet agar terhindar dari benturan batu besar berikutnya.
Rasanya ingin menjitak kepala remaja bertubuh tinggi besar itu. Tapi apa daya, Faiz harus konsentrasi menghadapi arus jeram dan bebatuan yang merintangi pengarungan sungai Citarik ini.
Sesekali ia melihat Rio juga melakukan hal yang sama pada Biru. Sumpah. Kekesalannya makin menjadi-jadi. Ia bahkan memperingatkan Rio dengan memukul dayung karet ke helmet yang digunakan Rio di kepalanya agar Rio menyadari kesalahannya. Kegembiraannya ternodai karena harus menjaga bibi dan adik sepupunya dari ulah cowok-cowok yang menggunakan kesempatan buat bersentuhan fisik dengan kedua kerabatnya. Tidak mungkin juga ia melakukan modus yang sama. Sama siapa? Pak Cecep? Dasar kampret!
_______
__ADS_1
Happy refreshing🏞🌻