METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
METAVERSE BIRU (2)


__ADS_3

Biru mendengar curhat perempuan yang memiliki pandangan berbeda dari cerita keluarga yang diyakininya sejak kecil. Cerita versi ibunya terasa agak panas, seperti bara api yang hendak melalap apapun yang ada di sekelilingnya. Kalau dipikir-pikir kemarahannya cukup masuk akal. Selama ini Biru tak tahu alasan keluarganya mengasuhnya di tempat terpencil dan tak memperkenalkannya dengan mama padahal mereka tahu mamanya masih hidup. Mereka juga tahu di mana mamanya tinggal dan bagaimana kehidupannya setelah menikah lagi sebagai isteri siri seorang pengusaha kaya. Mama ternyata tidak punya anak dari suami barunya. Kasihan juga sih nasib perempuan ini. Tapi ….


“Mama akan memindahkan sekolah kamu di sekolah internasional.”


Deg, Biru terkejut dengan keputusan sepihak itu. Baru saja ia menaruh hati pada ibu kandungnya, kini respeknya menjadi berkurang mendengar kalimat otoriter itu.


“Biru tidak mau pindah. Biru sudah betah di sekolah itu, Ma. Sudah banyak teman baik dan letaknya juga tak terlalu jauh dari rumah.”


“Rumah?”


“Ya, maksudnya rumah kak Satya.” Biru mencoba membenarkan klaimnya atas rumah. Ia tahu tak memiliki hak hukum atas rumah itu. Hanya numpang.


Rissa menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sofa restaurant yang terbuat dari kulit. Banyak gundah yang terlihat dari garis-garis halus wajahnya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.


“Kamu tidak dikasih warisan dari papamu?”


“Banyak. Bentuknya deposito dan saham Goldlight. Surat-suratnya ada di deposit box sebuah bank nasional.”


“Berapa?”


Biru menjawabnya hanya dengan senyum. Ia tak ingin jujur pada perempuan yang baru dikenalnya sekalipun dia ibu kandungnya. Lebih baik hati-hati menjaga haknya.


“Kamu bisa gunakan uang itu buat beli apartemen atau rumah di kawasan Menteng?”


“Mungkin bisa.” jawabnya asal. Aslinya Biru tak tahu berapa harga properti di kawasan yang terkenal elit itu karena memang tak pernah kepikiran.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak tinggal sendiri saja supaya lebih bebas?”


“Nggak pernah kepikiran. Alhamdulillah Biru merasa nyaman tinggal di rumah kak Satya. Fasilitas lengkap dan tidak perlu keluar uang sepeserpun. Banyak orang yang bisa dimintai bantuan kalau Biru mengalami kesulitan.”


Tidak enaknya cuma satu, hidupnya tidak aman sebab ada saja orang yang berniat mencelakainya.


Rissa menelan ludah. Sendiri memang tidak enak. Hampa. Tapi kita bisa punya banyak teman kalau banyak uang. Rissa tersenyum samar. Biru tak paham apa makna senyumnya. Mungkin masih kurang puas mendapati jawaban putrinya. “Berapa persen kamu dapat saham Goldlight?”


Biru memilih menunduk dan diam.


“Lebih sedikit dari sahamnya Lily?”


Biru menatap mata ibunya yang terlihat sekali masih mendendam pada keluarga anak tirinya. Sebab itulah Biru memilih kalimat aman, pura-pura tidak tahu.


“Aku tidak paham. Tapi deviden yang kudapat banyak. Aku beruntung. Tidak kerja, tapi tabunganku bertambah terus.” jawabnya dengan nada riang dan meyakinkan.


“Kamu harus dapatkan hak yang sama dengan apa yang didapatkan Lily.”


Rissa bicara dengan penuh penekanan dan kilat mata yang berapi-api. Biru mulai resah dengan keadaan ini. Kenapa sih yang dibicarakan soal harta melulu? Apa tidak ada topik yang menarik dibicarakan selain tentang harta? Apa yang dikatakan mama persis dengan pemikiran dan orientasi yang dilontarkan Kayla. Cocok. Orang Jakarta kebanyakan terjangkit budaya materialistis. Biru bisa melihat fenomena itu dipostingan populer media sosial.


Orang-orang dengan mudahnya memuji dan mengelu-elukan penampilan sosok sosialita yang memposting penampilan dalam balutan kemewahannya. Mereka terlihat bahagia. Hidupnya tampak mudah tanpa problema. Tapi apa begitukah kehidupan yang sebenarnya? Entahlah. Tanpa disadari dampak postingan itu menggiring opini bahwa uang dapat membeli segalanya. Kekuasaan, jabatan, kehormatan, pertemanan dan masa depan dapat dibeli dengan uang atau harta yang kita miliki. Semakin mewah kehidupan yang ditampilkannya, orang makin mudah populer dan banyak pengikut. Semakin banyak pengikut, makin mudah pula menggiring pemikiran orang dan makin banyak pula orang yang endors produk untuk meningkatkan penjualannya. Kemewahan adalah sebuah kebanggan, karena itu harta sangat penting dalam kehidupan ini.


“Ma, makananku sudah habis sejak tadi. Aku bosan. Capek duduk terus. Bisakah mama mengantarku pulang? Sebentar lagi aku harus kembali pulang buat les privat bahasa inggris dan latihan memanah.”


“Mama masih belum puas, Bi. Masih kangen. Latihan dan lesnya dijadwal ulang aja lain hari.”

__ADS_1


“Kasihan guru privatnya, Ma. Dia kan digaji berdasarkan kedatangan. Kalau mau melakukan perubahan jadwal mestinya sehari sebelumnya. Kalau sekarang dia pasti sudah dalam perjalanan.”


“Jangan pelit dan perhitungan banget, Bi. Bayar saja gajinya hari ini, beres urusan. Uang kakak kamu itu nggak ada serinya. Bayar gaji guru privat cuma recehan, nggak perlu kamu pikirin.”


Ehm, Biru menghentakkan sebelah kakinya. Bagaimana ngomongnya ya? Ia benar-benar bosan mengobrol dengan topik harta dan harta. Selintas Biru ingat lagi rangkaian foto multidimensi yang ditontonnya semalam. Keluarga Lily dan Satya selalu ada dalam hidupnya selama ini, bukan yang lain. Kata pelit dan perhitungan yang berkali-kali dilontarkan mamanya kali ini membuat hatinya tersayat. Mereka tidak seperti itu.


Keluarga Lily dan Satya bukan crazy rich yang tenar di media sosial. Seharusnya mama tahu itu. Anak-anak dalam 2 keluarga itu tidak dididik untuk menjadi seperti Amel dan Aleya yang terkenal sebagai selebgram. Pakaiannya tak harus barang bermerek internasional, meski kualitas dan kenyamanan tetap menjadi prioritas.


Biru tahu alasan kenapa keluarga kakaknya hidup dalam kesederhanaan. Kata kang Asep, kalau kita hidup terlampau tinggi akan sulit bangun ketika harus jatuh. Roda kehidupan itu selalu berputar. Sebagai pengusaha, ada momen mendapatkan untung besar. Tapi  tak selamanya begitu, ada kalanya mereka juga berada di titik paling rendah karena mengalami kerugian besar. Itu terjadi pada siapapun.


Biru pernah melihat kang Asep murung karena penurunan kuantitas dan kualitas kopi pada suatu musim panen. Hasil panen tak sesuai ekspektasi walaupun ia telah bekerja keras serta berpengalaman mencegah dan menghadapi serangan penyakit atau hama. Kadang ada faktor X yang tak bisa dijelaskan.


Kata ustazah Aminah, setiap manusia harus meyakini takdir perputaran roda kehidupan sebagai bagian dari kuasa Tuhan. Sebab rasa sayangNya, manusia tidak hanya diuji dengan keberhasilan. Kadang-kadang kegagalan itu jadi peringatan sekaligus guru kehidupan untuk mengingatkan kita tak boleh sombong atas apapun. Semua yang ada di dunia ini sesungguhnya milik Allah dan akan kembali padaNya. Biru yakin, keadaan yang sama pasti terjadi juga pada perusahaan sebesar Goldlight. Ia mulai berbaik sangka, mungkin mama tidak tahu saat ia akan dilahirkan kondisi perusahaan tengah berada di titik kritis menjelang bangkrut lalu kak Satya berjuang membangkitkan lagi kinerja Goldlight sampai sekarang. Apakah itu yang menjadi benang merah kesalahpahaman mama dan keluarga anak sambungnya selama ini? Entahlah.


“Biru senang bisa ketemu dan makan siang sama mama.”


“Apalagi mama. Senang banget. Rasanya seperti kejatuhan bintang dari langit.”


“Wah, hancur lebur dong dunia kalau benar-benar ada bintang jatuh dari langit.”


Biru cengengesan. Maksud hati bercanda, tapi mamanya tak mengerti arti candanya. Makanya langsung melotot dan cemberut. “Kenapa kamu ngomong begitu?”


“Bercanda, Ma. Kata antariksawan, bintang itu besar dan bersinar. Ukurannya jauh lebih besar daripada bumi. Jadi kalau bintang jatuh di bumi, sudah pasti kiamat hehehe. Bumi akan terbakar dan hancur berkeping-keping.”


Untunglah aura positif dari senyumnya bisa menular pada perempuan yang bertampang angkuh tapi otaknya agak membatu. Muncul senyum tipis di bibirnya walau tingkat ketulusannya masih dipertanyakan. Sepertinya mama tidak benar-benar paham maksud Biru.

__ADS_1


Hmm, Biru jadi tahu gen dari siapa yang membuat otaknya tak segenius Faiz. Untunglah ia tak hidup dalam pengasuhan mamanya. Paling tidak, ia terpaksa belajar keras agar lebih pintar karena tuntutan lingkungan. Takdir tidak seburuk sangkanya. Jalan Tuhan begitu indah.


__ADS_2