METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
SALAH SIAPA?


__ADS_3

Udara Jakarta terasa sedikit menyusahkan kerja paru-paru mengolah oksigen. Katanya termasuk kota berpolutan paling tinggi di dunia. Hanya ada satu dua pepohonan yang nampak dari ketinggin rooftop rumah Menteng. Sisanya yang terlihat adalah bangunan, jalan raya yang padat oleh kendaraan yang mengeluarkan gas emisi mengotori udara, dan gedung-gedung yang tingginya menjulang. Ini bukan tempat impian Biru untuk tinggal. Bukan anti modernisasi, namun Biru terbiasa tinggal bersahabat dengan alam pedesaan.


Begitu menginjakan kaki di rumah Menteng, Biru menyempatkan diri mengucapkan terima kasih pada Bas yang telah membawanya ke Jakarta dengan selamat. Tapi Bas tak memberi respon apapun, menatapnya pun enggan. Biru kecewa namun ia berusaha bersikap masabodo. Tanpa berpikir macam-macam Biru mengikuti langkah kakak ipar dan keponakannya menyusuri tangga yang terhubung dengan lorong menuju lantai 2 rumah Satya. Sesuai janjinya, meski rindu kenangan tentang papa ia tak akan menginjakan kaki di rumah mendiang papa yang sekarang menjadi milik Bas. Biru sadar dirinya bukan anak yang diinginkan oleh siapapun lahir ke dunia itu. Lahirnya hanya sebagai takdir belaka. Sendirian menelan sepi dan rindu akan kasih sayang orang tua.


Faiza berjalan riang di depannya sambil berjinjit-jinjit. Senyum selalu mengembang di bibirnya yang mungil. Bahagia sekali jadi anak lahir dengan orang tua yang lengkap dan harmonis. Hidupnya terlihat seperti tanpa beban. Sayangnya takdir Biru tidak sebaik itu.


“Bun, supir mang Asep kira-kira bakal sampainya jam berapa?” tanya Faiz. Baru terdengar suaranya. Anak itu sejak tadi tak bersuara. Turun Heli dia langsung mengaktifkan gawainya. Sambil jalan ia sibuk dengan dunia yang berada di balik benda pipih itu.


“Paling cepat sore.”


“Aku pinjam komputer Bunda dulu ya sebelum komputerku datang."


Rupanya dia langsung kangen sama komputernya. Sebagian besar pakaian dan barang pribadi Biru dan Faiz memang dipindahkan dengan menggunakan mobil. Barang pribadinya terlalu banyak hingga tak mungkin dibawa dengan heli yang telah penuh dengan penumpang. Lagipula barang-barang itu belum selesai dikemas saat Bas terburu-buru hendak menerbangkan heli kembali ke Jakarta. Lelaki itu tidak punya stok sabar. Barang-barang itu akan diantar supir dengan perjalanan darat yang sekitar 4 jam lebih lama daripada perjalanan dengan helikopter.


“Buat apa?”


“Online Briefing dan latihan buat turnamen internasional.”


“Game online lagi?”


Anak itu mengangguk dengan ekspresi dingin.


“Perang-perangan kayak tadi?”


“Namanya Star war legend, Bun.” jelasnya.


Ritha tak bisa menyembunyikan kecewanya. Bibirnya mengerucut. Apapun namanya konsepnya tetap sama saja dengan perang-perangan.


“Nggak boleh?”


Ritha tak segera menjawab. Butuh waktu untuk berpikir bagaimana cara mengubah pemikiran puteranya yang sudah terlanjur kecanduan main game. Ia benar-benar bingung. Belum ada satupun ide yang melintas di kepalanya. Bodoh sekali. Menghadapi anak sendiri saja bingung.


“Kamu kan baru berhenti main game jam 9 tadi, Iz. Apa nggak capek? Lagian kita baru sampai rumah dan kumpul bareng. Masak kamu nggak kangen sama Bunda dan Iza.”


“Iya. Kita belum main bareng lo, Kak. Tadi begitu kakak nyampe rumah bi Lily sudah langsung disuruh naik heli sama pakde Bas. Bagaimana kalau kita main bola tangkap di kolam renang? Iza sudah mahir berenang lo.” Iza tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya yang menambah manis wajahnya. Dia selalu tampak bahagia kalau ada satu kepandaian baru yang bisa dipamerkan pada saudaranya.


Faiz menggeleng lemah.


“Kak faiz nggak mau main sama Iza?”


“Kamu main sama bibi Biru aja yang sama-sama perempuan. Kakak banyak urusan.” Faiz berjalan cepat masuk ke kamarnya. Ia membuka dan menutup pintu kamar otomatis dengan sidik jari telunjuknya.

__ADS_1


Faiza langsung menatap Ritha dengan wajah kecewa. “Kak Faiz marah, Bun? Iza salah apa?”


“Enggak. Iza nggak salah. Mungkin kak Faiz lagi capek.” hibur Ritha seraya membelai rambut Faiza dengan lembut dan memaksakan senyum agar puterinya tidak merasakan kecewa dengan sikap kakaknya yang acuh.


“Sekarang lebih baik Iza temani bi Biru ke kamarnya. Nanti kalau sudah beres, bisa turun ke bawah buat bantu bunda masak atau kalau mau main atau berenang juga boleh.”


Faiza mengangguk senang, meski ekor matanya melirik pintu kamar kakaknya yang telah terkunci otomatis dari dalam.


Ritha beralih menggenggam tangan Biru. “Nggak apa-apa kan menemani dan ditemani Iza dulu, Bi? Kak Ritha perlu ngobrol dengan Faiz.”


Biru mengangguk. Sangat paham jika saat ini Faiz lebih membutuhkan bundanya.


Ritha menatap kedua anak perempuan itu sampai masuk ke kamar yang berada di seberang kamar Faiz. Setelah dirasa cukup aman terkendali, ia mengetuk kamar Faiz.


Tok tok tok. “Iz, buka pintunya.”


Tak ada suara. Hening.


“Iz, Bunda mau bicara sebentar aja. Buka pintunya dong.”


Masih tak ada suara.


“Kamu boleh kok pakai komputer Bunda.” Ritha memancing dengan apa yang tadi dipinta puteranya dan belum sempat disetujuinya.


Tok tok tok. Tok tok tok


Ceklek. Akhirnya pintu terbuka juga setelah Ritha mengetuk pintu berulang-ulang kali sampai sendi jarinya yang digunakan untuk mengetuk terasa menebal.


“Kamu marah sama Bunda?”


“Enggak.” jawab Faiz datar.


“Marah sama Iza?”


“Enggak. Faiz nggak marah sama siapa-siapa. Faiz cuma mau sendiri. Ini lagi balas chat yang masuk di hp. Penting.”


“Nggak kangen sama Bunda?” tanya Ritha dengan mata sendu. Kedua netra biru itu saling bertatap.


Faiz menunduk. Ritha tak tahu apa arti bahasa tubuh puteranya. Menyesal, malu atau sengaja menyembunyikan sesuatu. Ritha meraih bahu lalu memeluk putera sulungnya yang kini tingginya telah menyamainya itu. Tubuhnya tampak sedikit kurus dengan tulang tegap seperti ayahnya. Tubuh Faiz terasa kaku bagai memeluk batang pohon. Pelukan bunda tidak membuat tubuh puteranya jadi lentur dan menghangat. Kok begini sih? Kenapa? Apa yang salah pada hubungan dirinya dan anaknya?


“Bunda kecewa dengan sikap kamu akhir-akhir ini. Bunda minta maaf kalau Bunda ada salah atau kurang perhatian sama Faiz.”

__ADS_1


“Bunda nggak salah.”


“Soal kamu dikeluarkan dari sekolah …”


“Itu pilihan hidup Faiz. Bukan salah siapa-siapa.” potong Faiz tegas dan yakin.


Anak remaja 15 tahun bicara masalah pilihan hidup? Ritha tidak paham apa maksudnya. Dia tak menyesal sedikitpun dikeluarkan dari sekolah. Mau jadi apa kamu Faiz? Kepala bundamu makin sakit saja mendengar jawaban itu.


“Mau apa kalau nggak sekolah?”


“Faiz mau bikin metaverse.”


“Metaverse?”


“Ya. Metaverse. Faiz belum bisa jelasin sekarang sama Bunda. Konsepnya sudah ada di kepala, tinggal mematangkannya saja. Tapi  Faiz yakin Faiz bakal bisa bikin metaverse Faiz sendiri. Nanti bunda Faiz bikinin avatar yang paling cantik."


Ritha sungguh tak mengerti apa yang ada dalam otak anaknya tentang metaverse. Dunia khayalan virtual? Game online? Atau apa?


“Avatar? Buat apa? Bunda nggak pengen punya avatar, Iz. Bunda ingin kamu sekolah."


Faiz menepis tangannya ke udara. Matanya menatap Ritha dengan sinar yang tajam namun lembut. “Bunda belum tahu avatar bunda itu pasti paling cantik dan tidak akan menua. Ayah pasti akan mengaguminya. Sekarang Faiz mau istirahat sebentar, Bun. Jam 11.40 nanti Faiz janji akan turun makan siang lalu sholat dzuhur. Setelah itu ada briefing online dan latihan untuk turnamen internasional  bulan depan. Faiz pinjam komputer atau laptop Bunda.”


Benar kata papa, kata-kata dan sinar mata Faiz mampu menghipnotis hingga Bundanya pun tak mampu berkata-kata lagi selain mengikuti apa maunya. Apa mungkin ia berbakat menjadi penyihir sebagaimana yang dikatakan teman-teman Amel yang merundungnya waktu kecil? Entahlah.


Ritha menepuk bahu Faiz. “Gunakan komputer Bunda yang ada di ruang kerja. Itu komputer terbaik untuk Bunda merancang desain bangunan. Spesifikasi VGA, memori, dan kecepatannya sangat tinggi. Tolong gunakan dengan baik."


“Nggak boleh dipindah sementara ke kamar Faiz, Bun?”


Ritha menggeleng.


“Ya sudah. Nggak apa-apa.”


“Kamu boleh istirahat, Tapi tolong kasih Bunda waktu untuk ngobrol sama kamu tentang metaverse impian kamu itu. Kapan aja kamu sempat, kabari Bunda ya!”


“Bunda nggak sibuk kerja atau ke kantor?”


“Sekarang Bunda akan punya banyak waktu untuk anak-anak Bunda. Untuk bibi Biru, kamu dan Faiza. Maafkan Bunda kalau selama ini terlalu banyak waktu buat kerja. Bunda janji akan selalu ada buat kalian."


“Bunda jangan minta maaf melulu. Bunda nggak salah. Lagipula sekarang kan bukan lebaran.”


Tak tahu kamu dikeluarkan dari sekolah salah siapa, Iz. Bunda tidak boleh merasa bersalah dan kamu juga tidak merasa bersalah. Lalu, yang bersalah siapa? Tak mungkin peraturan sekolah sebab peraturan itu umum berlaku di sekolah lain. Ritha jadi bingung sendiri. Entah bagaimana caranya bicara dengan Faiz. Pemikiran anak itu begitu sulit tersentuh.

__ADS_1


_______


Many thanks to your support🙏


__ADS_2