
Biru tak peduli mamanya memandangnya dengan tatapan yang aneh saat tahu hal pertama yang dilakukannya setelah mendapatkan gawainya adalah menelpon Satya. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang begitu besar. Dia sempat menggerakan tangannya seperti ingin merebut gawainya.
"Aku harus telepon kak Satya." Biru mendekap gawainya dengan erat dan menatap perempuan itu dengan tajam.
Perempuan itu segera sadar dan mengurungkan niatnya merampas kembali gawai itu. Tindakan cerobohnya bukannya akan memperbaiki keadaan, namun semakin membuat runyam. Wajahnya masih tampak ketakutan. Sepertinya ia tengah membayangkan tindakan apa yang akan dilakukan Satya kalau tahu niat awalnya adalah menyulik cucu tirinya.
Pertemuan pertama, tak sengaja dan dalam keadaan yang sangat tidak diharapkan membuat Biru sedikit lega tapi hatinya tak sebahagia anak yang berada dalam tayangan reality show televisi tali kasih yang bertahun-tahun memendam rindu bertemu dengan ibu kandungnya. Biasa saja. Tak ada euforia sama sekali. Cenderung hambar sebab ada kabut yang menyelimuti hati dan membuat hatinya merasa kedinginan.
Pertemuan itu tak serta merta membuatnya lupa memikirkan bagaimana keluarga Satya mencemaskan nasibnya. Sekarang ternyata sudah hampir jam 9 malam. Mereka pasti sudah kelimpungan mencarinya sebab selama ini Biru tak pernah pergi tanpa kabar. Mbak Sari yang bertugas mengawalnya pasti sudah dimarahi habis-habisan karena lalai.
Saat pertama menyalakan gawainya, Biru melihat puluhan panggilan tak terjawab yang berasal dari nomor Sari, Ritha, Satya dan Faiz. Bibirnya otomatis tersenyum, senang karena memiliki keresahan yang sama. Mereka benar-benar perhatian mereka dan mengkhawatirkannya. Ia makin terdorong segera mengabari keluarganya agar semua tenang.
Biru melirik lagi perempuan yang masih gelisah memperhatikan tiap gerak geriknya. Tak mudah buat percaya begitu saja meski dia benar ibu kandungnya. Egonya berkata, buat apa peduli apa perasaan orang yang telah mencampakkannya sejak bayi. Mungkin ia bermental seperti ibu singa baru yang belum memiliki naluri keibuan. Singa betina muda mempunyai kecenderungan menggigit anaknya yang baru lahir bila menurut instingnya bayi itu memiliki kelainan. Untunglah ada kakak-kakak yang berjuang menyelamatkannya. Bayi singa betina itu tidak jadi dimakan induknya sendiri.
Keluarga Satya lebih penting daripada perasaan perempuan itu. Apapun yang terjadi pada dirinya, ia yakin keluarga itu tak akan pernah meninggalkannya. Cemburu dan pertentangan kecilnya pada Faiz bukan masalah, justru itu sebagai tanda cinta. Sementara itu, ia belum pernah melihat bukti cinta ibu kandungnya. Kalau dia memiliki naluri keibuan yang kuat, tentu dia bisa merasakan bisikan nafas anak kandungnya di manapun belahan jiwanya berada. Seharusnya ia tak pernah meninggalkan bayinya apapun yang terjadi.
“Wa’alaikum salam. Biru … Kamu dimana?” Suara Satya terdengar bersemangat menerima teleponnya. Ada kelegaan yang ditunjukan dari suara hembusan nafasnya.
“Saya ada di daerah Cimanggis, Kak. Tadi diculik sama mama.”
Mama Rissa melotot. Mungkin takut Biru keceplosan.
“Mama?”
“Ya, Mama Rissa.”
“Kamu baik-baik sajakah?”
“Baik, Kak. Kami baru mau makan malam. Nanti akan diantar pulang setelah makan malam.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Kalau kakak masih khawatir, Biru akan kirim share loc 8 jam ke grup chat keluarga.” Buat jaga-jaga pasti Satya akan mengirimkan orangnya ke peta lokasi yang dimaksud.
__ADS_1
“Iya, begitu saja. Salam buat mamamu.”
Biru senang menelpon Satya yang jarang banyak basa-basi. Cukup memberitahu keadaannya saja, ia sudah bisa memutuskan solusi A, B dan C untuk menolongnya.
Mama Rissa terlihat lega. Apa yang dikhawatirkannya tak terjadi. Biru sama sekali tak menyinggung niat awalnya menculik. Juga tidak menceritakan pengalaman buruknya disekap di rumah yang kotor dan kumuh.
Perempuan itu lebih banyak bertanya tentang bagaimana hidup Biru selama ini. Matanya tak henti memandang Biru sepanjang perjalanan sampai tiba di sebuah resto mewah yang menyajikan menu masakan jepang. Biru jadi risih dibuatnya.
Mama bercerita tentang peristiwa setelah kelahiran Biru versi dirinya. Sedikit berbeda dari cerita versi kak Lily yang telah merawatnya sejak masih bayi. Mama mengaku telah kehilangan bayinya lebih dari 17 tahun yang lalu.
Sementara Biru hanya mendengar cerita itu tanpa tahu harus percaya atau tidak. Setelah kelahirannya mama mengaku mengalami baby blues dan tertekan karena keluarganya tak menginginkan bayi berkulit kebiruan yang kemungkinan akan membutuhkan biaya banyak karena kelainan yang didapatnya sejak lahir. Bayi itu dianggap pembawa sial. Ayahnya meninggal sebelum dia dilahirkan. Beberapa anak perusahaan milik keluarganya bangkrut dan kondisi keuangannya carut marut. Warisan yang didapatnya juga hanya sedikit. Buat menutupi kerugian usaha dan hutang judi keluarganya saja tak cukup.
“Asal kamu tahu, mama sayang kamu. Mama sudah bersikeras mempertahankan kamu. Tapi bayi cantik itu dikabarkan kondisinya makin hari makin menurun. Mama bahkan tak diperbolehkan menyusui atau menemuimu lagi di NICU setelah hari kedua kelahiranmu.
“Siapa yang tidak memperbolehkan?”
“Dokter dan nenekmu.”
“Oooh.”
Biru menatap matanya. Ada gurat kesedihan yang teramat dalam. Tampaknya perempuan itu tak sedang menutupi perasaannya.
“Sehari kemudian, nenek dan om kamu mengabarkan kematian bayi yang mama lahirkan. Mereka menyambut ambulan yang datang membawa mayat bayi. Mama tak bisa apa-apa. Tak sadarkan diri selama berjam-jam. Baru seminggu kemudian mereka mengantar ke pemakaman bayi diberi nama Aludra Zain. Itu nama yang mama berikan untukmu, Nak.”
Aludra Zain? Apa benar ia dan Aludra Zain adalah orang yang sama. Bagi Biru cerita itu benar-benar drama keluarga yang mirip kisah sinetron yang mengada-ada.
Lama keduanya saling Diam. Biru fokus menikmati aneka jenis sushi yang telah tersaji di hadapannya. Lapar. Saat ini ia tak mau berpikir terlalu berat. Lebih baik ia tak usaj peduli cerita tentang siapa dirinya. Kisahnya terlalu menyakitkan.
“Apa kakakmu memperlakukan kamu dengan baik, Bi?”
“Mama bisa lihat sendiri. Aku sehat dan tak pernah kekurangan suatu apapun.”
“Harta kakakmu banyak, tapi pakaian kamu bukan barang branded internasional.” protesnya.
__ADS_1
“Kak Lily dan kak Satya juga mengenakan brand lokal kok, Ma. Mereka bukannya orang yang suka mengumpulkan barang-barang brand internasional. Barang-barang yang kami pakai kebanyakan produk lokal dengan kualitas premium. Baju yang kukenakan sekarang ini adalah seragam kerja Happy Resto & Game House.”
“Kamu kerja di tempat itu?”
“Jaga toko.”
Mama memperlihatkan wajah tak suka.
“Aku kerja atas kemauanku sendiri kok. Kak Satya memberi aku uang saku bulanan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Aku juga punya tabungan yang berasal dari warisan papa yang sampai saat ini belum dicairkan. Jangan khawatir, Ma! Hidupku tak kekurangan. Aku belum pernah sekalipun tinggal di rumah kumuh yang banyak kecoanya.” Biru tersenyum satire.
Mama membalasnya dengan senyum aneh. Entah apa artinya. Biru malu bertanya. Mama juga enggan melanjutkan ceritanya. Ia malah menyuapi Biru dengan salmon mentai sushi yang telah dilumuri saus.
“Mama senang sekali ketemu kamu saat mama telah divonis tak bisa melahirkan anak lagi seumur hidup. Maukah mulai sekarang kamu tinggal sama mama?”
Biru hampir memuntahkan salmon mentai sushi yang masih berada di tenggorokannya. Buru-buru ia menetralisir perasaannya dengan menghirup ocha dingin miliknya. Biru menggeleng pasti, “Tidak.” jawabnya singkat namun
menohok.
“Kenapa? Rumah mama tidak banyak kecoanya kok.”
Tidak banyak kecoa, tapi mungkin ada monster yang lebih mengerikan daripada kecoa.
Biru menahan senyum kecewanya. Sungguh. Ia belum yakin hidupnya akan lebih baik bila tinggal dengan ibu kandungnya yang masih menyimpan dendam dan benci pada anak-anak ayahnya. Mama bukan orang baik. Setidaknya itulah kesimpulan yang direkam kepalanya. Biru masih bertanya-tanya apa tujuan mama menculik Faiz. Ada permasalahan apa antara mama dengan anak-anak suaminya?
“Tinggallah bersama mama, Bi! Apapun yang kamu mau akan mama wujudkan kalau kamu mau tinggal sama mama."
“Keluarga mama telah mengganggap Biru mati. Apa mama yakin mereka bisa menerima Biru?”
Perempuan itu diam. Menyangga kepalanya yang sepertinya sangat berat dengan kedua tangannya.
_______
Mohon maaf tidak bisa update setiap hari🙏 sebab bulan2 ini direpotkan oleh urusan pekerjaan.
__ADS_1
Semoga masih tetap bersabar bersama Biru😍