
Pagi-pagi sekali Faiz telah menyiapkan segala perlengkapan pribadinya sendiri karena pak Didin sudah berjanji menjemputnya pagi ini. Bukan ayah. Faiz tahu waktu ayah sangat berharga, sayang bila hanya digunakan untuk menjemput Faiz yang sebenarnya sudah bisa pulang ke rumah sendiri tanpa dijemput. Faiz bukan anak kecil lagi. Ia bahkan sudah bertekat meninggalkan nama Baby F supaya tidak dianggap anak kecil yang manja lagi. Lagipula nama Baby F lebih cocok untuk anak perempuan imut seperti Faiza. Boni kembali menghampirinya di kamar. Dari sikapnya Faiz tahu pasti Boni datang membawa misi tertentu.
“Udah beres-beres aja, Fa. Masih pagi banget lo ini.”
“Aku akan dijemput pagi-pagi sekali, Bang”
“Sarapan dulu yuk!”
“Sebentar, Bang. Aku harus menyelesaikan beres-beres baju dan perlengkapan ini dulu.”
Boni mengangguk. Ia makin mendekat ke Faiz dan ikut membantu membereskan barang-barang pribadinya ke dalam sebuah ransel.
“Cepet banget udah mau pulang aja, Fa. Padahal aku masih pengen main dan latihan bareng kamu."
Faiz menanggapinya dengan senyum tipis.
"Walaupun baru bertemu muka sebentar tapi aku merasa kita sudah jadi soulmate. Aku pasti bakal kehilangan kamu banget, Fa."
Faiz nyengir kambing. “Sekarang bahasanya udah bukan soulmate lagi, Bang. Istilah ngetrennya bestie.”
Boni menghempas tangannya di udara. Terlihat jijik mendengar kata bestie. “Aku nggak suka denger kata itu. Kesannya kecewek-cewekan, kurang macho. Lagipula aku lihat di google translate bestie itu dalam bahasa italia artinya binatang buas. So, bisa jadi ketika kita menyebut seorang teman dekat dengan sebuah kata yang artinya binatang buas belakangan bisa jadi bumerang. Orang yang kita anggap teman bakal menerkam kita. Aku percaya ucapan itu bisa berarti doa, jadi jangan salah mengambil kata. Jangan sampai maksud kita menyebut teman dekat tapi dikabulkan Tuhan dalam arti lainnya dari bahasa yang berbeda.”
"Hahaha. Terserah kamu, Bang."
Boni pasang tampang serius. Berat. Cara berpikirnya terlalu kompleks dan ogah menggunakan bahasa-bahasa anak gaul yang sedang trending. Apalagi kalau kedengarannya kurang macho. Takut banget disangka hombreng. Kemarin tak mau memanggilnya Baby, sekarang ia tak mau menyebut bestie.
Boni pasang tampang lebih serius. Sementara Faiz menanggapinya dengan santai.
“Kata coach kamu udah mutusin kontrak terhitung mulai hari ini.”
“Iya.”
“Sebabnya?"
Faiz tersenyum dengan sebelah bibir melengkung. Matanya masih fokus menutup ransel yang telah dipenuhi barang pribadinya.
"Capek?”
__ADS_1
“You know lah, Bang.”
Boni menghempaskan udara yang keluar dari hidungnya dengan sedikit kasar. Ada kekecewaan yang besar di matanya. Sejak mengenal Baby F, Boni punya harapan besar padanya. Apalagi setelah meraih kemenangan spektakuler semalam. Hanya satu kata yang mewakili kata hatinya, salut. Kalau tidak ada Faiz GGS bisa dipastikan akan kalah sesuai keinginan bandar judi besar itu. Rusak sudah sportifitas karena ulah para pencari cuan yang brutal itu. Kapan lagi ia bisa bertemu pemain pro yang cerdas, disiplin dan sportif seperti Faiz.
Sayangnya meski hatinya nyaman berteman dengan Boni, Faiz tak bisa mundur atau menarik kembali janjinya pada keluarganya. Lagipula Faiz benar-benar sudah bosan dan jenuh jadi gamer. Kemenangan ini dianggapnya sebagai suatu puncak pencapaian yang membuatnya bisa pergi dari belenggu game online dengan kepala tegak. Tidak enak diperbudak permainan, uang dan bandar judi.
“Kamu akan tetap main game?”
“Mungkin sesekali, Bang. Kalau kangen aja. Nggak mau jadi pemain pro lagi. Aku nggak mau terikat dan diatur-atur orang. Capek, Bang.”
“Apa rencana kamu selanjutnya.”
“Ya sekolah dong, Bang. Aku kan masih SMU.”
“Bukannya kamu home schooling?”
“Sudah janji sama keluargaku kalau aku mau masuk sekolah biasa aja mulai semester depan. Pengen ikut organisasi sekolah dan punya waktu nongkrong bareng sebagaimana anak seusiaku. Aku merasa masih
terlalu muda untuk gabung dengan pemain pro. Abang dengar sendiri kan semalam apa komentar teman-teman tim. I’am a Baby.”
Benar. Nama itu yang sekarang membuat Faiz kurang percaya diri. Kesannya terlalu imut dan manja. Sudah merasa malu menyandang nama itu, sama sekali tidak mewakili karakter dirinya.
“Ada pemain lain yang dijuluki Baby Alien juga nggak masalah. Jangan hiraukanlah yang begitu begitu itu. Nama kamu buat branding bagus, enak didengar dan bikin penasaran. Aku yakin kamu bisa makin terkenal hari ini. Apalagi kalau video yang semalam viral. Banyak gamer dan fans cewek yang bakal klepek klepek lihat gamer yang selama ini misterius ternyata ganteng maksimal."
Faiz tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Tapi ia harus istigfar dan menahan diri agar tidak terlalu mempengaruhi hati. Siapa tahu ini cobaan hidupnya. Kata ustazd, ada cobaan itu ada yang bentuknya kesenangan namun ada pula yang bentuknya kesusahan. Segala sesuatu pasti ada resikonya. Makin terkenal, banyak uang dan banyak fans bisa jadi justru menambah beban hidup dan menjerumuskan kita pada kesombongan.
"Di mana pun kita selalu ada orang yang suka atau nggak suka sama kita, Fa. Pro kontra itu wajar. Yang penting kamu menujukan prestasi bagus. Dengan permainan kamu kemarin orang-orang sudah mengakui kamu lebih dari layak disebut pemain pro. Banyak yang akan sangat kehilangan kalau kamu mundur, Fa.”
Faiz tersenyum samar. Ia telah menyelesaikan pekerjaannya beres-beres pakaian dan perlengkapan yang dibawanya dari rumah. Dengan ramah ia mengajak Boni pindah ngobrol ke ruang makan yang masih sepi. Hanya ada bu Huri kru asisten yang terlihat sibuk membereskan logistik tim.
“Kamu kok berani memutuskan kontrak, padahal pinaltinya kan nilainya lumayan. Jangan-jangan kamu sudah dapat tawaran kontrak yang lebih tinggi daripada di sini?” Boni melanjutkan obrolannya ke arah yang lebih sensitif. Uang. Biasanya uang yang jadi alasan pemain dibajak klub pesaing.
Faiz menarik kursi di seberang Boni agar mereka dapat duduk berhadap-hadapan di meja makan. Boni mengambil nasi uduk dengan lauk bihun, semur tahu jengkol dan daging sapi, bawang goreng dan sambal. Ternyata itu bukan buat dirinya, tapi buat Faiz. Ia mengambil lagi nasi uduk dan lauknya dalam jumlah yang lebih banyak untuk dirinya sendiri.
“Terimakasih, Bang.”
“Senang bisa berkesempatan melayani super star game seperti kamu, Fa. Asal tahu aja, aku salah satu fans kamu."
__ADS_1
Trik Boni sedikit membuat Faiz tersanjung. Ternyata ada teman yang mengikhlaskan diri melayaninya di rumah karantina ini. Padahal di rumah saja, Bunda sudah mengajarinya untuk melakukan segala hal pribadi sendiri termasuk menyiapkan makannya sendiri ke dalam piring.
“Kesehatan mental menurutku lebih penting, Bang. Lama-lama aku merasa nggak punya kebebasan. Siang malam terpaksa main game terus demi meladeni keinginan fans yang ternyata sebagian.diantaranya abang tahu sendiri profesinya apa.” Faiz sedikit mencibir mengingat fans garis keras yang menghujaninya dengan banyak hadiah dan uang belakangan diketahuinya sebagai bandar judi.
“Tapi kamu bisa dapat uang lebih banyak dari game.”
Faiz tersenyum tipis. Benar juga sih. Game memberinya banyak uang. Mungkin hanya Faiz yang memutuskan berhenti berkarir sebagai gamer pro saat baru naik daun. Pemain lain pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan
emas meraup lebih banyak cuan karena otomatis dengan posisinya sebagai runner up turnamen perseorangan dan juara turnamen tim bayarannya pasti meningkat tajam. Faiz agak gamang soal yang satu itu. Siapa sih yang nggak ngiler kalau ditawarkan banyak uang dan popularitas.
Boni melihat tanda kegamangan itu. Ia menikmati nasi uduk jengkol yang lezat sambil mengamati bagaimana tanggapan Faiz selanjutnya. Harapannya Faiz mengubah keputusannya dan tetap ada dalam tim GGS. Bocah itu sangat jenius, disiplin dan bermental baja. Kualifikasi gamer macam itu sangat langka. Ada yang jenius tapi tempramen dan tak mau diatur. Ada yang mentalnya baja tapi kemampuan otaknya agak lemot. Sementara remaja berbakat yang memiliki kualifikasi nyaris sempurna seperti Faiz hanya lahir 1 diantara berjuta umat manusia di muka bumi ini. Sayang kalau bakatnya tidak dimanfaatkan sebagai pemain profesional.
“Aku bisa bantu ngomong sama mister Yamagata agar memberikan kamu privelege soal waktu bertanding dan latihan hanya maksimal 4 jam sehari diluar jam sekolah. Lagipula sampai akhir tahun nanti hanya ada turnamen-turnamen kecil kok. Yang penting kamu masih ada di tim kami.”
Faiz tak menjawab. Setelah mencari kesungguhan di mata Boni, ia kembali menyantap sarapan paginya. Harus buru-buru. Pak Didin, supir yang akan menjemputnya mungkin sebentar lagi akan sampai di rumah karantina.
“Atau kamu mau nilai kontraknya ditambah?”
Tawaran Boni makin menggiurkan. Main game maksimal 4 jam sehari di luar jam sekolah, bisa main daring di mana saja dan tambahan nilai kontrak, Faiz hampir saja mengiyakan sebelum bayangan wajah bunda dengan mata birunya yang menyala berkelebat di benaknya.
“Bagaimana, Fa?”
“Aku harus ngobrol dulu sama orang tuaku, Bang.” Itu jawaban pas buat berkelit. Jangan bilang ya atau tidak sebelum kompromi dengan ayah dan bunda. Boni pasti maklum. Faiz masih 15 tahun. Remaja seusia itu masih
harus dalam pengawasan orang tua.
Faiz hampir tersedak karena tawa kecilnya. Ia langsung mengambil air mineral lalu meneguknya Beuh. Bau jengkol mulai mengkontaminasi udara sekitar. Faiz yang tak terbiasa bicara sambil makan merasa sedikit terganggu. Ia menangkupkan sendok dan garpu sebagai tanda menghentikan makannya. Sebelum beranjak sikat gigi, ia mengambil buah-buahan agar bau mulut sedikit ternetralisir.
"Aku tunggu kabar baiknya ya. Mister Yamagata pasti sangat senang kalau kamu masih mau bergabung dalam timnya."
Ya pasti. Orang bakal senang kalau cuan mengalir terus. Bagaimana pun juga klub GGS adalah sarana bisnis. Sama saja perannya dengan klub sepakbola di dunia nyata. Faiz tahu misi Boni hari ini adalah membujuknya untuk tetap bertahan di klub GGS.
Meski demikian Boni teman yang baik. Lepas dari misi klub GGS, ia tetap kapten tim dan pemain game handal yang tidak pernah nyinyir dan menghargai bakat pemain lain. Kemungkinan ia melakukan itu karena profesional dan sebagai bestie, bukan demi bisnis mister Yamagata.
________
Let's go to the new era🌻🌻🌻
__ADS_1