
Bunda mengangguk dan tersenyum tenang. Sama sekali tak merasa seperti tertuduh. Tidak terkejut, gundah atau canggung sama sekali. “Om Ardi itu teman baik bunda. Selalu bantu bunda saat susah dan menyemangati bunda buat ambil kuliah lagi. Bunda nggak pernah bisa melupakan kebaikannya."
Tak ada yang salah dari bunda. Buktinya bunda bisa setenang itu menghadapi pertanyaan anaknya yang bernada menyudutkan. Faiz memutuskan untuk menghabiskan dulu makanannya sebelum bertanya lagi pada bunda. Mungkin lebih baik Doni diusir dulu. Kalau dia tidak mau pulang sekarang, lebih baik dia diminta istirahat saja di taman belakang agar bunda dapat bercerita dengan lebih nyaman tentang masalah pribadinya.
“Bunda tahu kalau tante Nisa dan Rosyid mengira ayah yang mengirim orang untuk menembaki mobil om Ardi?”
“Ya, bunda tahu. Ayahmu bahkan sempat menginap di kantor polisi karena pengakuan tantemu. Tapi mereka sudah diberi pengertian, kesaksian dan bukti bahwa ayahmu tidak berbuat sekotor itu, Sayang.” jawab Ritha yakin.
“Bunda tahu sampai sekarang mereka tetap meyakini apa yang didengar dan dilihatnya sendiri?”
“Ya. Mau bagaimana lagi? Ayah memang kalau sedang emosional suka berlebihan mengancam orang. Begitulah kebiasaan buruk ayah. Semua orang takut dengan ancamannya walaupun banyak orang tahu tak semua ancamannya itu benar-benar akan dilaksanakan. Ayahmu hanya suka menggertak aja."
"Hm." Faiz sudah hapal betul kebiasaan ayah yang satu itu.
"Ayah dan bunda sudah minta maaf dan membuktikan alibi ayah di depan kakek guru dalam musyawarah yang melibatkan keluarga besar. Kami telah mengungkapkan cerita yang sebenarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bunda juga rugi besar dalam kasus ini, Iz. Dana yang bunda tanam di PT CB amblas semua." Wajah bunda terlihat lesu.
"Masalah ini sudah ditutup setahun yang lalu saat peringatan setahun meninggalnya om kamu. Waktu itu tante Nisa bilang telah memaafkan dan mengikhlaskan kepergian om Ardi."
“Memangnya penembaknya benar-benar tidak ditemukan?”
“Ada kasus yang tidak bisa dibuka karena menyangkut hal yang sangat sensitif atau berkaitan erat dengan orang kuat yang tak bisa disentuh hukum, Sayang. Penyelidikan dihentikan agar tak makan banyak biaya. Berdasarkan hasil musyawarah keluarga, ayahmu fokus memperbaiki manajemen perusahaan itu agar bisa bangkit lagi dengan mengakusisi sebagai bagian dari Goldlight. Itu dilakukan demi mewujudkan keinginan terakhir om Ardi menyelamatkan hajat hidup para pekerja PT CB yang telah dianggapnya seperti keluarga. Om Ardi sudah tenang di surga. Ayah sudah mencoba menebus rasa bersalahnya telah salah paham dan mengancam om Ardi."
__ADS_1
Ritha menghela nafas perlahan. Seharusnya sudah tidak ada masalah setelah semua dibicarakan bersama keluarga. "Kalau kita bersikeras mengungkit siapa penembak misterius itu rasanya akan percuma, tak akan mengembalikan om Ardi hidup lagi. Lebih baik menerima ini sebagai takdir, sebab skenario hidup dan mati kita telah tertulis dalam lauhul mahfudz jauh sebelum kita lahir di dunia ini."
“Tapi kalau penembak itu ditemukan ayah dan aku tidak akan dibenci Rosyid, Bun.”
Bunda terbelalak. Tak menyangka kalau ternyata masalah itu berimbas terhadap buruknya hubungan anaknya dengan sepupunya. “Memangnya Rosyid membencimu?”
“Ya.”
“Bukankah ia masih menyalami kamu tiap kali bertemu.”
“Itu kan karena dia takut ditegur tak sopan sama kakek guru. Matanya selalu menatap aku dengan penuh kebencian. Padahal salahku apa? Apa aku yang bikin abinya meninggal? Apa aku yang bikin kakinya cacat? Aku nggak tahu apa-apa, Bun. Kalau saja aku tidak mengantar Fathia ke rumah lama om Ardi, selamanya aku nggak tahu apa-apa. Bahkan aku juga juga nggak pernah tahu ada cinta segitiga antara ayah, bunda dan om Ardi.” Faiz mengucapkan kalimatnya dengan berapi-api. Kesal. Kecewa karena telah keliru menganggap ayah bundanya adalah pasangan terbaik di jagat raya ini.
Ritha terdiam. Cerita itu bukan aib namun bukan pula hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Ia sama sekali tak menyangka kalau Ardi masih menyimpan perasaan padanya sampai akhir hayatnya. Padahal menurutnya Nisa lebih cocok dengan Ardi sebab lebih cantik, patuh, dan lebih baik agamanya. Cinta karena terbiasa nampaknya tidak berlaku untuk semua kasus di dunia ini. Meski sudah punya anak tiga dan memiliki keluarga yang harmonis namun dalamnya hati Ardi tetap tak terukur.
Tanpa kucuran dana segar, operasional perusahaan tak dapat lagi berjalan. Utang pada vendor telah mencapai limit. Usaha mencari dana ke sana ke mari mentok. Gaji buruh saja sudah terlambat 2 bulan. Akhir bulan lalu saat ada tagihan cair pembayarannya baru bisa dicicil sebagian.
“Pemasaran produk masih bagus, Rith. Kalau kita berhenti produksi sekarang, perusahaan akan kena pinalty dari pelanggan karena banyak dari mereka yang sudah setor downpayment 30 sampai 50% dari nilai order.” terang Ardi waktu mereka bertemu di ruangan kerja papa Umar di pesantren. Waktu itu Ritha sedang menjenguk sekaligus konsultasi mengenai perkembangan pendidikan Faiz. Sementara Ardi baru saja selesai diskusi rencana kurikulum tambahan dengan papa Umar.
“Memangnya pemilik nggak bisa nyari pinjaman, Bang?”
“Susah nyari orang atau lembaga yang percaya dalam kondisi seperti ini. Nama pemilik sedang jatuh. Satu-satunya jalan adalah dengan membeli sahamnya dan kita menyuntikan dana ke perusahaan agar operasional dapat berjalan. Setelah dokumen pengesahan pergantian kepemilikan selesai, kita bisa lebih mudah cari investor."
__ADS_1
"Buruh sudah resah karena gajinya terlambat, Rith. Mereka masih bersabar tidak mogok kerja atau demo karena aku selalu meyakinkan bahwa kami pasti bisa bersama-sama mengatasi kondisi sulit ini. Aku yakin kok kalau perusahaan masih bisa diselamatkan. Sayangnya aku sudah tak punya tabungan lagi dan mas Satya nggak mau bantu karena nggak suka dengan karakter pemiliknya yang culas."
“Mas Satya nggak ngasih saran apa-apa?”
“Dia tegas bilang lebih baik aku balik ke Goldlight. Bawa pelanggannya ke Goldlight dan biarin perusahaan itu bangkrut.”
Ritha diam. Tak tahu harus komentar apa. Kalau Satya sudah ngomong seperti itu, tak ada yang bisa mengubahnya. Ritha tak bisa merayu suaminya untuk urusan bisnis. Apalagi ia sama sekali tak tahu menahu mengenai dunia bisnis kosmetik. Selama ini ia hanya membantu Satya di bidang konstruksi. Unit bisnis lainnya tak pernah disentuhnya.
“Tapi aku nggak bisa egois begitu, Rith. Aku merasa berkhianat kalau melakukan apa yang disarankan mas Satya. Lagipula aku sudah terlanjur janji pada ratusan karyawan akan berusaha menghidupkan lagi operasional perusahaan demi mereka. Nggak mungkin aku membawa serta buruh-buruh itu ke Goldlight. Padahal mereka menyandarkan hidup dari pekerjaannya di perusahaan itu. Kalau dibangkrutin, perusahaan nggak mungkin bisa bayar pesangon. Kasihan. Sebagian dari mereka mungkin kesulitan mencari pekerjaan lagi karena faktor usia dan keahlian.”
“Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku, Rith. Aku merasa menjadi nahkoda sebuah kapal yang bocor. Upaya yang harus kuusahakan adalah berusaha keras menambal bagian yang bocor, bukan melarikan diri dengan sekoci sementara kapal dibiarkan karam.”
Ritha tak tega mendengarnya. Andai ia merupakan salah satu diantara penumpang kapal itu, ia pasti berusaha menambal bagian yang bocor. Membiarkan kapal tenggelam bukan pilihan. Karena itulah Ritha menguras tabungan, menjual perhiasan, dan meminjam uang dengan jaminan pribadi demi membantu PT CB bangkit lagi. Ia percaya Ardi pasti bisa mengelola semuanya. Tentu saja ia melakukannya tanpa sepengetahuan Satya.
"Aku akan usahakan ada dana likuid 5 milyar minggu depan. Semua urusan bang Ardi saja yang urus, termasuk negosiasi dengan pemilik. Papa jadi saksinya ya."
"Ya. Mudah-mudahan niat baik kalian direstui Allah. Bekerja itu niatnya jangan hanya mencari uang. Hendaknya tiap usaha kita bisa menjadi perantara kebaikan buat orang banyak." Kakek guru tersenyum bijak.
Kerjasama itu tak dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ada kakek guru alias papa Umar yang menjadi saksi pembicaraan itu.
______
__ADS_1
Semangat terus ya, jangan putus ada😘🤩🤩🤩