METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
KRYPTO


__ADS_3

Ritha tak mengerti mengapa harus ada uang dunia maya. Apa karena orang tak lagi percaya pada alat tukar di dunia nyata? Namun ketidaktahuannya tidak membuatnya gengsi untuk bertanya meski pada anaknya sendiri. Saat ditanya apa untungnya punya uang krypto, Faiz bilang banyak. Prinsipnya uang krypto sama saja dengan uang rupiah atau dollar yang bisa jadi alat pembayaran, bisa jadi alat investasi maupun media spekulasi. Uang krypto juga bisa dipakai untuk membeli barang di dunia nyata setelah ditukarkan menjadi mata uang dollar, rupiah atau mata uang negara manapun layaknya kita menukar uang di money changer. Sepertinya dunia maya yang disebut sebagai metaverse itu adalah suatu tempat tersendiri yang memiliki peraturan serta sistem ekonomi tersendiri.


“Bunda tetap nggak ngerti krypto, Iz. Pusing." keluh Ritha.


Faiz tersenyum tipis. “Tanya ayah aja. Ayah juga punya krypto kok.”


“Ayah punya krypto?”


Satya tak pernah bercerita tentang krypto tapi Ritha tahu suaminya itu sejak muda punya kegemaran berspekuasi dalam transaksi valuta uang asing dan saham. Bisa jadi investasinya juga merambah ke mata uang yang dipakai di dunia maya. Selain bisnis di sektor konstruksi, Ritha memang enggan terlibat di bisnis-bisnis Satya yang lain. Apalagi yang ada kaitannya dengan transaksi pertukaran mata uang, saham, investasi dan segala yang berkaitan dengan dunia keuangan. Mengurus urusan rumah dan perusahaan konstruksi saja sudah cukup menyita waktu dan pikirannya.


“Iya. Ayah punya semua hal, Bun. Tanah rumah ini di metaverse juga ayah sudah beli. Jadi secara legal ayah punya sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan di dunia online maupun offline. Keren kan? Yang ayah belum punya di metaverse cuma Bunda. Bunda cuma ada di dunia nyata karena Bunda nggak percaya sama metaverse.” Faiz tersenyum dengan gaya tengil. Cara menggodanya mirip dengan ayahnya, tampak dingin tapi bikin hati cenat-cenut dilanda resah. Terbayang lagi olehnya betapa repotnya menghalau banyak perempuan yang memburu suaminya yang tampan dan mapan itu. Memiliki Satya membuat hidupnya tak pernah bisa tenang.


“Masak sih?”


“Bunda ketinggalan jaman. Faiz sudah punya billboard di lapak game online sepak bola, Bun. Lumayan. Dapat uang sewa 5 krypto per minggu dari yang iklan di billboard Faiz. Harga sewa billboardnya bisa lebih tinggi kalau sedang ada turnamen sepak bola.” Anak itu bicara datar dan tenang. Ada aroma kebanggaan yang tersirat di matanya.


Ritha ternganga. “Dari mana kamu punya uang buat beli lapak billboard itu? Lalu uang sewanya dipakai buat apa?”


“Awalnya aku dapat krypto hadiah dari menang kompetisi pemrograman game online waktu SMP dulu. Selanjutnya dapat uang dari bikin avatar-avatar game dan saweran orang kalau menang main game. Kryptonya Faiz tabung dan tetap akan ditabung dulu buat investasi. Kalau sudah cukup buat beli lapak baru lagi, Bun.”


Ya ampun. Rupanya diam-diam anak itu sedang berinvestasi di dunia maya. Otak bisnisnya pasti diwarisi dari darah ayahnya. Pandai membaca peluang dan mengambil kesempatan bisnis tanpa harus koar-koar pada siapapun. Ritha mulai sedikit paham apa yang dipikirkan anaknya. Jiwa bisnisnya sudah mulai tampak tegas dan jelas. Meski demikian ia belum rela anaknya mengorbankan sekolah untuk ambisinya yang belum pasti. Belum saatnya Faiz berspekulasi. Ia masih terlalu muda.


“Kamu sudah punya lapak berapa?” tanya Ritha penasaran.


“Dua. Baru minggu lalu Faiz beli lapak billboard di arena universe war. Harganya lumayan mahal. Tapi baru sehari beli sudah ada yang sewa untuk iklan produk perusahaan elektronik Korea.”


“Baru beli sudah ada yang mau sewa?” Diam-diam Ritha mulai mengagumi kemampuan anaknya membaca dan merealisasikan peluang bisnis yang tak pernah diduganya.


Faiz mengangguk. Tersenyum dengan bangganya.

__ADS_1


“Berapa pendapatan kamu?”


“Seminggu?”


“Ya. Seminggu.”


“Seminggu total penghasilan rata-ratanya sekitar 15 sampai 20 Krypto. Kalau dirupiahkan sekitar seratus jutaan, Bun.”


“Seratus jutaan per minggu?”


Ck ck ck... anak 15 tahun yang tiap hari terlihat banyak duduk di depan komputer mengaku bisa punya penghasilan ratusan juta perminggu? Rasanya sulit dipercaya namun ini nyata. Faiz tak berbohong. Ia menunjukan sebuah catatan yang mirip rekening koran berisi mutasi transaksi kryptonya pada Ritha.


Siapa yang menjamin transaksi ini nyata? Entahlah. Tapi uang di bank pun saat ini tercatat dalam bentuk mutasi uang masuk dan keluar saja. Banyak orang tak menggunakan uang fisik untuk transaksi pembayaran namun hanya dengan mendebet dana di rekening tabungan. Krypto ini pun ternyata semacam itu. Ritha hanya bisa geleng-geleng kepala saja memandangi catatan transaksi krypto yang disodorkan Faiz.


“Tenang aja, Bun. Faiz belum bisa ngalahin penghasilan ayah kok. Tapi Faiz yakin Faiz bisa seperti ayah.” Faiz tersenyum bangga dan yakin bisa menyamai keahlian ayahnya tanpa minta modal sedikit pun. Semua diusahakannya sendiri secara diam-diam. Salut.


“Tidak ada yang meminta kamu investasi, Iz. Waktu seusia kamu ayah masih sekolah. Seharusnya kamu pun begitu. Kenapa sih kamu nggak mau sekolah. Bunda mengkhawatirkan masa depan kamu. Bunda nggak yakin dunia yang kamu sebut metaverse itu akan selalu eksis. Bisa jadi semua ini cuma tren sesaat. Suatu saat manusia pasti akan bosan beraktifitas di dunia maya. Semua itu semu. Manusia tetap butuh makan, minum dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya yang tidak bisa didapat dari dunia maya."


Belajar memang harus terus berlangsung seumur hidup di mana pun dan kapan pun itu. Bagus kalau prinsip itu melekat di kepala anaknya.


"Kata professor Rey pakar ekonomi makro, sekolah itu sekarang sudah nyaris menjadi hal yang tidak berguna. Cuma buang-buang waktu saja karena kurikulum sekolah itu basi dan tak sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Dunia masa depan lebih membutuhkan orang yang bekerja keras dan berpikir kreatif. Bunda tahu nggak ada orang lulusan SMP yang tadinya hacker bisa kerja dengan gaji tinggi di perusahaan internasional sebagai System Security?”


“Ya. Bunda tahu.”


Tentu saja Ritha tahu ada beberapa anak muda tanpa ijasah yang mendapatkan pekerjaan bergengsi dengan gaji tinggi. Beritanya ada di mana-mana. Beberapa tokoh besar dunia pun ternyata drop out dari sekolah.


"Bunda tahu anak lulusan SMP itu punya keahlian belajar dari mana?" Faiz menyecarnya dengan pertanyaan yang interogatif. Sebenarnya siapa yang salah sih. Kenapa jadi bundanya yang dicecar?


"Menurut berita sih belajar otodidak dari internet."

__ADS_1


Ritha sadar bila dirinya didikte dan digiring untuk membenarkan opini anaknya. Dunia terasa jungkir balik. Bukannya seharusnya ibu yang menasehati anaknya? Akh... Ritha tak berdaya. Mau tidak mau harus mengikuti arah kemana pembicaraan Faiz.


“Nah, itu artinya sekarang orang bisa dapat kerja dengan keahlian yang diperoleh dari belajar otodidak, bukan karena  ijazah. Bunda nggak perlu mencemaskan Faiz, apalagi sampai berhenti kerja gara-gara Faiz. Semua akan baik-baik saja, Bun.”


“Bunda sayang Faiz. Bunda hanya mau yang terbaik buat anak Bunda.” ucap Ritha lemah. Ia tak punya kalimat apik buat menyangkal argumen anaknya sendiri. Merasa bodoh. Ia hanya berharap Faiz tergerak hatinya untuk mengasihani ibunya yang mungkin dianggapnya memiliki pemikiran kolot ini.


Faiz memandang matanya dengan sinar mata yang tajam namun teduh. Sinar biru matanya beradu dengan mata ibunya. Ssrr... Rasanya ada sebuah gelombang tak terlihat yang memberi sinyal agar Ritha meyakini keputusan Faiz adalah yang terbaik. Entah belajar hipnotis dari mana. Sesaat kemudian Ritha hanya bisa pasrah dan tak lagi keras menggugatnya. Apalagi setelah itu puteranya memeluknya. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Merasa spesial sebab anak yang biasanya bersikap dingin kini menunjukan bahwa dirinya sudah bisa melindungi ibunya dengan rengkuhan hangat tubuhnya.


Faiz tumbuh semakin besar dan mengagumkan. Ritha bersyukur atas karunia Tuhan yang begitu besar. Tidak semua ibu diberi kesempatan memiliki anak laki-laki yang sempurna fisik dan akalnya. Ternyata dia tidak hidup seperti robot yang hanya peduli dunianya sebagaimana terlihat. Sebelumnya Faiz hampir tak pernah berinisiatif memeluknya terlebih dulu sebab Ritha tak pernah sabar ingin merengkuh buah hatinya setiap kali bertemu muka. Maklum, selama ini mereka hanya bertemu sebulan sekali dalam waktu yang singkat. Ritha harus memupuk rindu bertemu anaknya. Hari ini Ritha menyangsikan prasangka buruknya sendiri. Berada dalam rengkuhannya membuat Ritha yakin masih tersisa afeksi dan keperdulian Faiz terhadap ibunya. Detak jantungnya terdengar teratur dan damai, membuatnya ingin selalu berada dalam rengkuhan anaknya yang telah beranjak remaja.


“Faiz juga sayang Bunda.” Dia berucap lirih, namun kalimatnya mengandung kehangatan yang tak mampu tergambarkan. Bisikan lembut itu membawa pesan bahagia di telinga Ritha.


“Lalu kenapa Faiz tidak mau menuruti keinginan Bunda?”


“Karena Faiz yakin Faiz tidak berada di jalan yang salah. Bunda harus percaya bahwa Faiz akan selalu sayang Bunda sampai kapanpun. Sayang tidak harus mengorbankan kebahagiaan kita masing-masing kan, Bun. Jangan cemaskan masa depan Faiz! Faiz pasti mampu bertanggung jawab atas diri sendiri. Yang perlu bunda lakukan adalah mendukung Faiz dengan doa."


Entahlah. Rasanya aneh mendengar kalimat bijak itu dari seorang anak 15 tahun yang dikeluarkan dari sekolah. Apa katanya tadi? Dia mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kalimat itu ego anak abg atau pemikiran orang dewasa? Ritha masih belum bisa percaya seratus persen.


"Bunda jangan terlalu mencemaskan masa depan Faiz. Ada Allah yang menjaga dan mengurus hambaNya. Lebih baik Bunda tetap berkarya dengan apa yang Bunda suka. Bunda juga nggak perlu nonton turnamen universe war kalau Bunda tidak suka."


Tidak. Bunda tetap akan mendampingi kamu sampai bunda yakin kamu mampu bertanggung jawab. Ritha bicara dengan hatinya sendiri.


"Kalau Bunda mau jual desain arsitektur di metaverse, Faiz bisa bantu lo. Bunda bisa jual desain teknis arsitektur ke seluruh penjuru dunia. Pasti banyak orang yang butuh desain lanskap, gedung atau interior gedung. Bunda bisa jual bundling beserta NFTnya. Arsitektur kan juga karya seni. Orang pasti bangga bisa beli desain arsitektur unik berlisensi beserta NFT multidimensi."


Apa-apaan ini? Kenapa anaknya malah menawarkan peluang bisnis baru yang menarik untuknya? Seharusnya Ritha yang menasehatinya untuk kembali ke sekolah. Faiz terlalu pintar membaca dan mengambil hati. Papa benar, tak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusan anak itu. Bahkan ibu kandungnya pun tak bisa memaksakan kehendak padanya. Faiz selalu punya banyak cara mempengaruhi agar orang mendukung keputusannya tanpa kecuali. Ini adalah sebuah pemberontakan tanpa kekerasan.


_______


Terima kasih, pembaca yang baik hati😍

__ADS_1


Emak-emak yang punya anak abg mungkin mengalami susahnya memahami pikiran anaknya yang berbeda zaman. Sabar ya...


__ADS_2