METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
KUASA


__ADS_3

Fathia diliputi oleh rasa bersalah namun ia tak berdaya dengan dominasi kakak sepupunya yang keras hati itu. Siapa sih yang berani melawan Faiz. Kalau sudah ngomong A berarti ia sudah memutuskan bulat tentang A dan tak ada seorang pu yang bisa


mengubahnya. Alih-alih membela, ia malah berpikir bagaimana cara membantu Doni. Paling tidak ia ingin mencoba meringankan hukumannya untuk mengobati rasa bersalahnya.


Berkali-kali ia melirik Doni, namun anak itu tidak pernah tampak putus asa mendekati Faiz. Serius banget dia mau jadi asisten Faiz. Dia sama sekali tidak marah atau tersinggung dengan kelakukan Faiz yang terkesan otoriter dan sok berkuasa itu.


Saat turun dari mobil yang mengantar mereka kembali ke vila, ia melihat Faiz sengaja menjauh dari Doni. Kakak sepupunya itu tampak sibuk dengan suatu bersama Amar. Entah urusan apa. Sepertinya rahasia, sebab ia jelas-jelas mengibas-ngibaskan tangan sebagai isyarat agar Doni menjauh darinya.


“Apa hukumannya, Bang?” tanya Fathia saat Doni masih celingak-celinguk mencoba mencari tahu masalah yang sedang dibicarakan Faiz dan Amar dari kejauhan.


“Nulis kata maaf dalam 1000 bahasa.”


“Hah?” Fathia terbelalak sambil memegang kedua belah pipinya dengan tangannya.


Doni tersenyum tipis. “Amar yang ngasih hukuman begitu. Idenya keren juga.” Doni terlihat bangga. Tak sedikit pun ada rasa takut atau keberatan dengan hukuman yang dia terima.


Fathia manggut-manggut. Oh, jadi Faiz menyerahkan dakwaan dan hukuman pada Amar. Rupanya ia tak mau mengotori tangannya dengan suatu hal yang tidak penting. Hukumannya kedengaran ringan padahal kalau dilakoni pasti berat. Bayangkan 1000 bahasa. Siapa sih manusia yang bisa


menguasai 1000 bahasa. Menguasai empat bahasa saja sudah tergolong manusia istimewa. Walau hanya 1 kata, tapi ditulis dalam 1000 bahasa bukan hal yang mudah. Untunglah sekarang ada mbah google yang bisa ditanya tanpa uang mahar seperti mbah dukun. Proses pencarian bisa dipermudah sedikit dengan adanya teknologi informasi yang masif.


“Mau dikerjain kapan? Nanti aku bantuin nyari di google biar cepat.”


“Aku bisa ngerjain sendiri kok, Fath. Jangan bikin Faiz makin marah deh, imbasnya berat.”


“Dia nggak akan marah kalau nggak ada sentuhan fisik.”

__ADS_1


“Makasih, Fath. Aku beneran bisa ngerjain sendiri.”


“Tapi aku yang nggak enak. Seharusnya kita dihukum bersama-sama, Bang. Kan semuanya terjadi gara-gara aku. Masak bang Doni dihukum aku enggak. Nggak adil dong.”


“Masalahnya bukan adil atau nggak adil. Lelaki itu harus bertanggung jawab. Aku tahu kok apa yang dilakukan Faiz ini cuma shock terapi. Dia ingin menandai bahwa kamu itu berharga agar nggak ada lagi cowok yang berani macam-macam sama kamu.”


Apa iya Fathia seberharga itu? Emang sih dia kakak sepupu yang paling manis. Walau kepalanya terbuat dari batu, tapi hatinya memiliki kelembutan yang tersembunyi.


“Pokoknya aku mau bantu bang Doni. Boleh ya?”


Doni menggeleng.


“Boleh ya?” Kini yang keluar adalah jurus andalan perempuan, yaitu suara manja dan tatapan mengiba.


“Jangan, Fath. Aku bisa mengerjakan sendiri. Gampang kok. Tinggal tanya satu-satu sama mbah google aja. Menurut wikipedia yang tadi aku baca, Indonesia saja punya 718 bahasa daerah. Sisanya bisa dicari dari Bahasa asing. Aku sih optimis semalaman pasti selesai.”


“Please, Fathia. Jangan ditafsirkan begitu." Doni jadi serba salah. Tak tega melihat wajah iba Fathia tapi takut Faiz marah kalau ia kepergok berduaan dengan sepupunya.


"Please, Fathia. Jangan bikin aku kena masalah lagi dengan Faiz. Aku sama sekali tidak keberatan kok dengan hukuman ini. Aku tetap bangga dan kagum sama Faiz. Aku harap kamu mengerti."


“Pengen banget jadi asistennya ya?" Fathia memasang wajah cemberut dan melipat dua tangannya di dada.


Doni mengangguk pasti.


"Bahaya lo. Lebih baik Abang pikir ulang. Tidak enak hidup jadi anak orang kaya seperti dia. Apalagi jadi orang dekatnya.”

__ADS_1


“Aku tahu memiliki harta dan kuasa memang tak selamanya enak. Kamu mau bilang kalau banyak orang yang dengki atau dendam padanya kan? Justru di situlah letak menariknya, Fath. Menurutku Faiz itu kharismatik banget. Nggak hanya cerdas dan anak orang kaya, tapi aura kepemimpinannya kuat. Orang nggak butuh banyak alasan buat mengajukan diri jadi


orang kepercayaannya. Aku lihat dia cuma percaya sama Amar. Sayangnya Amar telah kukuh memilih jalan hidup yang berbeda dengan Faiz. Tidak mungkin mendampingi dia. Pastinya dia butuh orang lain yang setia mendampingi dong. Apalagi di Jakarta dia belum punya banyak teman. Makanya aku nggak mau melewatkan kesempatan ini."


Fathia tertegun. Dalam hati ia membenarkan ucapan Doni. Memang kakak sepupunya itu butuh orang kepercayaan. Kata Eyang, dalam hidup kita harus punya sahabat baik atau orang kepercayaan yang membantu kita dalam suka maupun duka. Dulu kakek Faiz membangun bisnis didampingi kakeknya sebagai orang kepercayaan yang memiliki kesetiaan, kesungguhan dan kerendahan hati sebagaimana syarat abdi dalem keraton. Susah senang dihadapi bersama karena sang abdi yakin junjungannya adalah orang yang akan membawa kebaikan buat orang banyak. Tapi apa iya masih ada orang berjiwa seperti itu di jaman yang sudah berorientasi materialisme seperti sekarang? Jangan-jangan Doni mau jadi asisten karena memandang kekayaan orang tua sepupunya. Tentu saja berbeda kasusnya dengan kakeknya yang setia mendampingi keluarga Wirajaya sejak mereka masih merintis bisnis. Orang yang datang setelah sukses, jarang yang tulus. Sebagian besar hanya bertujuan kecipratan harta saja.


"Keluarganya itu punya pesaing bisnis yang bisa berbuat apa saja. Kakekku meninggal demi menyelamatkan kakeknya Faiz. Ada juga om Giring dan om Wiryawan yang tertembak mati demi menyelamatkan nyawa ayahnya kak Faiz. Apa bang Doni nggak takut mati muda seperti mereka?"


"Mati itu urusan Tuhan, Fath. Dari sebelum kita lahir Tuhan sudah tuliskan kapan tanggal kematian kita beserta sebab musababnya. Buat apa takut mati? Kapan pun kematian itu akan datang pada waktu yang ditentukan Tuhan."


Ah iya. Eyang juga pernah bilang begitu. Hidup itu hakikatnya adalah menjalani apa yang telah ditetapkan Tuhan. Jodoh, rejeki dan maut kita ada di tanganNya. Tugas kita hanya bekerja keras dan melakukan yang terbaik saja, hasilnya serahkan pada Gusti Allah. Buktinya abi yang menolak mendampingi pakde Satya sebagaimana permintaan eyang juga mati muda, karena takdirnya memang seperti itu. Oh Tuhan, Fathia jadi kangen sama abi.


"Sebaiknya Abang nggak usah terlalu menunjukan kalau abang pengen banget jadi orang dekat dia. Main cantik aja. Kasih dia sesuatu yang membuat dia sedikit tergantung dengan salah satu kelihaian abang." saran Fathia dengan senyum tipis mengembang di bibir mungilnya.


"Tunjukan aja kalau abang setia, rendah hati dan sungguh-sunguh. Kata eyang 3 hal itu adalah ciri orang yang cocok menjadi abdi yang mendampingi orang-orang besar."


Ehm .... Doni mengangguk. Gadis lugu yang tampak bodoh itu rupanya belajar falsafah jawa dari orang yang disebut eyang. Boleh juga sarannya diterapkan.


"Aku akan bantu cari di google kata maaf dari bahasa-bahasa internasional. Bang Doni cari dari bahasa lokal aja dulu. Nanti aku kasih bang Doni pas makan malam. Setuju?" Akhirnya Fathia menemukan cara untuk menolong Doni tanpa diketahui berduaan oleh Faiz dan Amar yang beraliran ortodhok itu.


Doni mengangguk. Supaya masalah cepat selesai, tak ada salahnya menyetujui permintaan Fathia. Menurutnya berbagi beban adalah solusi yang tepat. Ia mungkin tak perlu lembur semalaman untuk mengerjakan hukuman itu dan besok bisa ikut outbound dengan fisik yang lebih segar karena cukup tidur.


Yes! Fathia memang baik


________

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu ya💚


Tetap semangat bagi yang menjalani isolasi mandiri maupun di rumah sakit⚘🌻🌻


__ADS_2