
Kayla duduk di kursi mini bar, sementara Biru dan mbak Pun menyiapkan makanan untuknya. Diputar-putar ke kiri dan ke kanan sambil tersenyum. Aih, asyik sekali duduk di kursi yang bisa berputar 360 derajat. Baru kali ini Kayla menduduki kursi yang biasanya hanya bisa dilihatnya di TV. Di rumahnya boro-boro ada kursi serupa. Makan ya lesehan saja di lantai beralas tikar yang sudah lapuk.
Biru duduk di kursi serupa di sebelah Kayla. Ia membawa gelas, 2 buah apple, dan sekotak susu UHT rasa coklat. Dengan tenang ia menuangkannya ke dalam 2 gelas mungil itu. Sementara mbak Pun membawa kotak plastik yang tadi dikeluarkan Biru dari dalam kulkas lalu memanaskannya di dalam microwave.
Tak lama berselang sepiring nasi hangat dan ayam bumbu kecap sudah terhidang di hadapan kayla.
“Kamu nggak makan, Bi?”
“Sudah. Makanlah! Aku sudah kenyang. Mau nemenin kamu dengan makan apel ini saja.”
Biru tersenyum tipis. Tangannya dengan lihai mengupas kulit buah apel dengan pisau buah kecil.
Kayla langsung melahap makanannya. Biru selalu punya makanan enak yang memanjakan perut. Hati Kayla bertanya, kenapa sih ia harus lahir dari rahim perempuan miskin yang suaminya kerjaannya cuma jadi pekerja kasar dan menghabiskan sebagian besar upahnya untuk beli rokok. Bosan tiap hari hanya nasi tempe, tahu, ikan asin atau kecap. Sesekali makan telur yang didadar dengan tambahan potongan sayuran, bumbu dan tepung terigu dan itu rasanya biasa saja di lidah. Ayam, daging dan ikan adalah kemewahan yang belum tentu sebulan sekali didapatkan keluarga kayla. Padahal mereka telah bekerja keras. Tidak tinggal diam mengandalkan upah yang diterima papa, mama Kayla membantunya cari uang dengan bekerja serabutan. Kayla juga bekerja paruh waktu dengan penghasilan hanya tujuh ratus ribu sebulan. Dengan tiga orang bekerja saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masih harus hutang ke sana ke mari demi mencukupinya.
Ritha mengamati dari lantai atas sampai benar-benar yakin Kayla tidak akan mencelakakan adik iparnya itu. Satya mendekap istrinya dari belakang. Matanya ikut mengawasi gerak-gerik tamu adiknya itu. Mereka berdiri di ujung tangga melihat aktivitas dua remaja itu dari kejauhan.
Selesai mengupas kulit apel, Biru memotong-motong apel itu lagi menjadi potongan-potongan kecil yang bisa dinikmati dengan sekali suap. Anak itu terlihat sangat lugu. Tak menaruh curiga sedikit pun meski belum tahu siapa yang selama ini mencelakainya di sekolah maupun di jalan. Dia memperlakukan semua temannya dengan baik tanpa ada kecurigaan sedikit pun.
“Anak itu kelaparan.” gumam Ritha.
“Tapi sebaiknya dia tidak makan di meja makan kita, Cantik. Seharusnya dia tidak dibiarkan berlama-lama berada di rumah kita. Kalau mau memberi makan malam cukup ambilkan saja makanan dalam kotak lalu suruh dia pulang. Dia bisa makan di rumahnya sendiri atau di mana saja sesukanya. Atau kasih saja dia uang buat makan. Terserah mau beli makan di rumah makan manapun.” Satya masih menunjukan rasa tak sukanya, walau cukup berempati melihat anak dekil itu kelaparan.
Ritha hanya mendesah panjang tanpa komentar mendengar pendapat suaminya.
Tak ingin menduga atau berprasangka buruk apapun, namun tetap harus waspada. Kita memang tak bisa menilai orang hanya dari tampak luarnya saja. Baik buruknya seseorang tidak bisa dilihat dari penampilan atau kesan pertama saja.
“Kita ke kamar aja yuk! Mengawasi mereka dari rekaman langsung CCTV saja. Capek berdiri terus di sini.” ajak Satya sambil mencium tengkuk istrinya.
Ide bagus. Capek juga jadi pengawas. Apalagi energinya sudah terkuras oleh banyaknya aktivitas seharian ini. Ritha dan Satya beranjak ke kamar dan mulai mengawasi gerak-gerik tamunya lewat pantauan langsung CCTV yang disetel terhubung ke laptopnya.
Di meja mini bar Kayla bersendawa keras kekenyangan. Biru sampai jijik mendengarnya. Untung susunya sudah habis. Ia menyodorkan piring berisi sisa apel yang telah dipotongnya kecil-kecil ke depan Kayla. Jadi malas makan lagi.
“Cuci mulutnya.”
__ADS_1
Kayla nyengir. Tak lama apel itu pun berpindah semua ke perut Kayla. Mbak Pun membereskan piring dan gelas bekas makan mereka lalu menyucinya saat itu juga.
Keduanya pindah lagi ke ruang tamu dengan membawa segelas air bening. Biru sudah menguap tapi tak kuasa mengusir tamunya yang datangnya saja sudah terlalu malam.
“Bi, kamu bisa nggak nolong aku?”
“Nolong apa?”
“Keluargaku dikejar-kejar rentenir. Semua nggak berani pulang hari ini karena takut. Itu salah satu sebab kenapa aku nekat nyari rumah kamu malam-malam begini. Boleh nggak aku nginep di rumah kamu?”
“Aku harus ijin dulu sama kakakku, Kay. Tapi kayaknya nggak boleh deh. Selama orang yang mencelakai aku belum ketemu, keluargaku ketat banget memproteksi aku. Maaf ya!”
Kayla mengangguk tanpa menyembunyikan kekecewaannya.
“Memangnya berapa utang yang ditagih rentenir itu?”
“Tiga juta.”
Biru tak langsung menyahut. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia menyimpan uang sebanyak itu di dalam laci lemari bajunya.
“Nanti aku hitung dulu uang saku yang sudah kutabung ada berapa. Kalau misalnya nggak sampai 3 juta nggak apa-apa ya.”
“Iya. Nggak apa-apa, Bi.”
“Kamu mau juga kalau dikasih baju bekas aku?”
“Mau. Mau banget, Bi.” Jawabnya antusias.
“Tunggu ya!”
“Aku nggak boleh ikut masuk ke kamarmu, Bi?”
“Eh, boleh.” Terbersit sedikit ragu di benak Biru namun ia segera mengabaikannya. “Yuk!” ajaknya kemudian
__ADS_1
Biru mengambil uang saku yang diberikan kakaknya yang disimpannya dalam dompet khusus. Selama ini ia memang berhemat. Jarang jajan karena merasa segala sesuatu yang dibutuhkannya telah tersedia berlimpah di rumah kakaknya. Sesekali saja ia menggunakan uangnya untuk nraktir bakso asisten rumah tangga atau pekerja rumah ini. Sedikit ia sisihkan untuk infaq jum’at. Sisanya disimpan dengan rapi di dompet yang ia taruh di laci lemari pakaiannya buat jaga-jaga kalau kalau ada kebutuhan khusus agar tak perlu meminta pada kakaknya. Biru tak mau terlalu merepotkan kakaknya. Memiliki kakak yang sayang dan memperlakukannya dengan baik adalah suatu anugerah. Biru tak berhenti bersyukur pada Tuhan dan tentu saja harus selalu memperbaiki tingkah lakunya agar menjadi orang yang tahu berterima kasih dan kakaknya tak pernah menyesal membesarkan adik tirinya.
Pandangan mata Kayla tak pernah lepas seakan ia ikut menghitung jumlah uang dalam dompet Biru. Berkali-kali ia menelan air liurnya. Seumur hidup ia tak pernah punya uang sebanyak itu. Ia benci kenapa Tuhan tidak menakdirkannya lahir sebagai anak orang kaya.
Jumlah uang seluruhnya ada tiga juta dua ratus ribu rupiah. Biru menyisihkan uang dua ratus ribu lalu mengambil kertas dan melipatnya setelah meletakkan uang tiga juta yang akan diserahkan pada Kayla.
“Ini uang pinjaman kamu. Jumlahnya pas 3 juta ya.” Biru mengucapkan akad hutang piutang dengan jelas sembari menyerahkan uang yang telah dilipatnya dalam kertas.
“Terima kasih, Bi. Aku pasti akan mengembalikan secepat aku bisa. Doakan kerjaanku lancar ya."
Biru mengangguk.
Kini Biru mengambil beberapa potong pakaian secara random lalu dimasukan dengan rapi ke dalam kantung kertas sebelum diberikan pada Kayla.
“Ini baju buat kamu.”
Kayla tersenyum lebar. “Terima kasih banyak ya, Bi. Kamu baik banget sama aku.”
Biru tersenyum. Ia senang bisa berbagi walau hanya baju bekas yang bisa diberi.
“Kamu pulang naik apa?”
“Nggak tahu. Tadi berangkatnya sih jalan kaki.”
“Naik ojek online malam begini berani nggak?”
“Berani.” jawab Kay pasti.
“Ya udah. Aku pesenin ya. Sudah dibayar dengan e-pay ya."
Biru mengambil gawainya dan membuka aplikasi ojek online. Ia menyerahkan ke kayla agar gadis itu dapat mengetik alamat rumahnya.
Ting. Pesanan terkirim. Biru mengajak Kayla ke luar rumah dan meminta pak Agus menemani kayla sampai ojek onlinenya datang. Biru sendiri mengawasi dari dalam rumah sembari mengamati pergerakan driver pada aplikasi ojek online.
__ADS_1
_________
Biru, kamu baik sekali. love you⚘⚘⚘