
Helikopter yang dikendarai ayah kembali mendarat di heli pad belakang rumah bibi Lily. Ada sedikit sesal dan malu bila harus berjumpa kakek guru. Untunglah pesantren sedang libur hingga tak banyak santri yang tinggal. Meski begitu Faiz tak pernah menyesali keputusannya yang mungkin bagi sebagian orang adalah keputusan buruk. Mana ada santri yang kecanduan game dianggap baik. Tindakannya pasti mencoreng wajah kakek guru. Ia harus minta
maaf lagi dan lagi karena tidak bisa menjadi cucu yang baik dan membanggakan.
Amar dan Azka telah menyambutnya dengan senyum. Kedua sepupunya itu pasti kangen sudah berbulan-bulan tidak bertemu dan main bareng. Faiz pun demikian. Kira-kira apa yang direncanakan dua anak itu untuk menghabiskan sisa liburan semester ini ya? Tak mungkin di rumah saja.
Mang Asep langsung memberinya ucapan selamat dan memeluknya. Begitupun anak-anaknya.
“Selamat ya, Iz. Nggak sia-sia kamu bolos dan keluar dari pesantren. Akhirnya bisa jadi juara turnamen game online internasional.” ucapnya dengan senyum sarkasme.
Faiz menunduk. Ia tak merasa bangga dengan pencapaian itu dan tak menyesal dengan kelakuan nakalnya saat terakhir di pesantren. Biasa saja.
“Ayo tanding lawan aku, Kak.” tantang Amar dengan berani. Dia tak pernah takut kalah. Baginya permainan itu tak penting kalah atau menang. Yang penting kebersamaannya.
“Lagi bosan, Mar. Mau istirahat main game dulu. Kita lihat markas aja yuk!”
“Jangan main dulu, Iz. Kamu harus temui kakek guru dulu.” perintah Satya tegas.
Faiz hanya bisa mengerdipkan matanya pada Amar dan Azka. Sopan santunnya kalau datang ke sini sebagai tamu memang harus menemui kakek guru dulu. Selain kakek kandungnya, kakek guru telah berjasa besar bertahun-tahun mendidiknya. Karena itulah kakek guru adalah orang pertama yang harus dihormati. Lagipula kalau tak terlihat menyambut kedatangannya, kemungkinan besar bunda pasti ada di rumah kakek.
“Aku antar yuk!” Amar dan Azka langsung mengawal mereka.
Mereka berjalan bersama ke rumah kakek yang berada di lingkungan pesantren. Letaknya berbatasan dengan klinik gratis dan pekarangan rumah bibi Lily. Sekarang kakek tinggal bersama nenek, tante Nisa dan anak lelakinya yang bernama Rosyid.
Tante Nisa sudah hampir 10 tahun mengabdi menjadi ustadzah di pesantren. Beliau tinggal bersama suami dan keluarganya di kota Sukabumi yang berjarak puluhan kilometer dari wilayah Jampang. Pada hari belajar tante Nisa datang dan pergi dari kota Sukabumi ke Jampang dengan diantar supir keluarganya. Tapi semenjak om Ardi dan anak bungsunya meninggal karena sebuah kecelakaan tragis, tante Nisa memutuskan untuk tinggal bersama kakek di lingkungan pesantren. Selain lebih dekat dengan tempatnya mengajar suasana di pesantren juga lebih kondusif buat trauma healingnya. Ada kakek dan nenek yang selalu mendampinginya.
Sebenarnya eyang Dewi ingin tante Nisa dan anak-anaknya tinggal bersamanya di Jakarta, tapi tante Nisa lebih suka mengajar di lingkungan pesantren. Hanya Fathia, anak sulungnya yang sejak kecil mau ikut menemani eyangnya tinggal di Jakarta.
__ADS_1
Keluarga tante Nisa mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Sukabumi. Menurut cerita Rosyid mereka tengah berada dalam satu mobil yang sedang melaju ketika diberondong beberapa butir peluru tajam oleh orang tak dikenal yang melintas dengan mengendarai sepeda motor. Kaca mobil sebelah kanan pecah, ban meletus lalu mobil oleng dan terguling di jalan yang cukup sepi sehingga mereka terlambat mendapatkan pertolongan. Abi dan adik bungsunya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sementara tante Nisa luka parah yang mengakibatkan beliau koma selama 3 hari di ruang ICU.
Rosyid sendiri mengalami trauma dan luka parah yang mengakibatkan ia harus kehilangan salah satu kakinya. Semua orang berkesimpulan bahwa peristiwa itu kecelakaan tragis yang pasti direncanakan orang. Kasus sudah ditangani pihak kepolisian namun hingga kini pelaku penembakan itu masih misterius. Ayah Satya tak tinggal diam. Ia telah menyewa detektif khusus menyelidiki kasus itu. Hasilnya tak terlalu menggembirakan sebab sampai 2 tahun belum juga menemukan titik terang siapa pelaku penembakan itu.
Sejak saat itu kakek guru lebih perhatian pada Rosyid daripada cucu-cucunya yang lain. Mungkin karena anak itu mengalami trauma parah dan katanya butuh proses healing yang cukup lama. Tante Nisa pun demikian.
Faiz mencoba untuk mengerti walau terus terang Faiz tak bisa menyembunyikan rasa cemburu padanya. Semua mata yang tadinya mengaguminya sebagai anak paling cerdas dan tampan, kini beralih memperhatikan Rosyid yang menurutnya hanya anak biasa. Rosyid tampak aneh dengan satu kaki palsunya. Siapa sih yang tidak iba pada nasibnya. Wajar jika dia mendapat perhatian dari banyak orang, sebab anak yatim menurut kepercayaan agama memang istimewa. Mengusap kepalanya saja sudah mendapatkan pahala.
Apalagi abinya meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan tragis. Semua makin iba padanya. Hanya saja menurut Faiz segala perhatian yang diberikan orang-orang terlalu berlebihan hingga anak itu berubah menjadi congkak dan suka cari perhatian dengan memanfaatkan rasa iba orang.
Sadar atau tidak, semenjak itu pula Faiz mulai mencari pelampiasan dari ketersisihannya dengan lebih banyak main game online. Kemenangan demi kemenangan yang diperolehnya dengan cepat dari kelihaiannya menyusun strategi dengan menganalisa algoritma permainan dan keunggulan masing-masing avatar pahlawan yang dikendalikannya. Tak mengherankan kalau Faiz sempat beternak akun yang kemudian ia jual pada gamer baru yang ingin naik tingkat secara instant. Lama kelamaan game mulai meracuni pikirannya sampai berani bolos sekolah dan meninggalkan banyak kegiatan wajib pesantren. Motivasinya bukan lagi mengatasi rasa kesepian dan bosan dengan kehidupan di pesantren, melainkan beralih pada ketenaran dan uang.
Faiz tidak respek pada Rosyid yang dengan cacatnya menjadi manja dan selalu minta perhatian banyak orang.
Belakangan Faiz tahu sudah ada beberapa guru pesantren yang mengkhitbah uminya untuk dijadikan istri, namun Rosyid selalu menolak dengan keras. Ia membenci orang yang mengkhitbah uminya dengan alasan tak mau punya ayah lain selain om Ardi yang telah pulang menghadapNya. Ia bersikukuh agar tante Nisa tetap menjanda sama seperti eyang Dewi yang memutuskan menjanda setelah puluhan tahun ditinggal suaminya. Anak itu keras kepala. Kasihan uminya. Padahal tante Nisa kan masih muda.
"Assalamu'alaikum, Kakek guru." Faiz mendahului mencium tangan kakek kandungnya daripada tamu lainnya.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Apa kabar cucu ganteng kakek? Kamu makin bertambah tinggi dan bersih. Kamu sudah mencapai keinginanmu menjadi pemenang lomba game internasional?" Kakek guru menjawabnya dengan suara yang lembut penuh wibawa. Ia juga memeluk hangat tubuh cucu tertuanya, mengusap kepalanya dan merapalkan doa buatnya.
Faiz senang kakek tidak pernah marah walaupun ia telah mengecewakannya. Keluarnya Faiz dari sekolah pasti telah mencoreng nama baiknya dan menurunkan kredibilitasnya sebagai guru teladan. Bagaimana bisa diakui lagi sebagai guru teladan, sedangkan mendidik cucunya saja sudah gagal. Kira-kira begitulah pandangan orang terhadapnya sekarang. Kasihan. Gara-gara Faiz reputasinya jadi turun.
"Faiz sudah putuskan untuk berhenti kontrak jadi gamer profesional, Kek."
"Kenapa? Sudah bosan?"
Faiz mengangguk.
__ADS_1
"Tapi sayang, menurut peraturan pesantren kamu sudah tidak bisa kembali lagi."
"Tidak apa, Kek. Saya memang ingin tinggal bersama ayah, bunda, Faiza dan bi Biru di Jakarta."
"Baiklah. Tapi jangan lupa pesan kakek ya."
Faiz mengangguk.
"Apa?"
"Jaga iman, jaga aman dan jaga orang tua."
Kakek guru tersenyum bijak. Beliau kembali memeluk dan mengacak-acak rambut cucunya.
"Bagus. Cucu kakek memang pintar."
Faiz membalasnya dengan senyum. Tak ada kata kecewa di mata kakek padahal ia telah mencoreng wajahnya. Sayang kakek pada cucunya memang seluas samudera.
Tak banyak wejangan yang diucapkan kakek. Bukan karena bosan atau lelah namun karena kakek perlu memberikan waktu buat ayah Faiz yang telah mengantri salaman dengan kakek guru di belakangnya. Faiz segera bergeser untuk salaman dengan tante Nisa yang wajahnya masih ditempeli banyak gurat kesedihan. Beban hidup membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Padahal dia adiknya bunda tapi karena wajahnya yang kusam dan lesu terlihat seperti adiknya nenek.
Rosyid seperti biasa, selalu menyambutnya dengan tatapan mata tajam yang sulit diterjemahkan. Sejak kecil dia memang sudah terlihat ingin bersaing. Dia iri pada Faiz yang dianggapnya punya segala-galanya, kedekatan dengan kakek, harta yang melimpah, cerdas, ganteng dan keluarga yang harmonis.
Faiz harus mengulurkan tangannya lebih dulu baru disalimi oleh Rosyid. Gayanya bikin kepala terasa berdenyut dan darahnya mendidih. Dia tidak seperti Amar dan Azka yang selalu menunjukan wajah penuh cinta dan santun menghormati Faiz sebagai kakak yang menurut silsilah jelas lebih tua.
Rosyid juga membenci ayah. Entah apa sebabnya. Padahal om Ardi dan tante Nisa tak pernah sebenci itu pada ayah. Kenapa anaknya bisa begitu? Aneh. Memang sih ia masih mau menemui dan salaman tiap kali berjumpa, tapi kelihatan sekali kalau ia melakukannya dengan terpaksa dan seolah sengaja menantang dengan menampakan wajah yang tidak menyenangkan. Pokoknya kalau ada pemilihan saudara sepupu paling menyebalkan maka Rosyid menempati urutan pertama. Setelah itu baru ada kak Amel dan kak Aliya -anak pakde Bram- yang cerewet, mendominasi dan lagaknya kayak ratu.
__________
__ADS_1
Selamat membaca.