METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
CEMBURU DAN CURIGA


__ADS_3

Faiza masih tersenyum riang saat Ritha tiba menghampiri mobil. Ia masih memandangi video pelepasan tukik yang lucu-lucu ke laut saat menjelang senja. Cara berjalannya yang unik dan lambat dengan tubuh yang bercangkang keras membuat gadis kecil itu gemas ingin menyaksikannya dari dekat. Dia begitu antusias. Langsung setuju dengan tawaran Biru berlibur ke berbagai tempat wisata unik di wilayah Geopark Ciletuh, Sukabumi Selatan.


“Duh, senang deh lihat anak Bunda sudah bisa senyum-senyum lagi.” Ritha bahagia melihat putri cantiknya yang beberapa hari ini murung karena keinginannya tetap tak bisa dipenuhi ayahnya. Bahkan sampai tadi pagi Faiza masih mogok bicara pada ayahnya yang disangka lebih sayang pada kakaknya.


Entah berapa kali Satya menggodanya dan membujuknya dengan berbagai tawaran menarik sebagai pengganti liburan ke Barcelona namun ditanggapi dengan cemberut saja.


“Jangan ngambek gitu dong, Sayang. Kita akan liburan ke Eropa bulan desember nanti biar bisa merasakan dinginnya salju. Pasti lebih seru.” bujuk Satya yang mulai cair sedikit memundurkan liburan jadi semester depan bertepatan dengan musim dingin di eropa.


Faiza hanya melirik dengan mata kecilnya yang bersorot setajam sembilu. Keluarga ini memang keras kepala semua. Ritha bingung sendiri kalau sudah deadlock begini. Tak ada yang mau mengalah. Menghadapi anak yang biasanya ceriwis mendadak diam terasa sangat menyiksa. Aksi tutup mulutnya benar-benar hebat. Faiza bahkan tak memberinya kesempatan untuk membujuk. Dengan sepanjang waktu tutup mulutnya Ritha tak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan selain pergi ke Barcelona. Ditawarkan pengganti dengan jalan-jalan 2 hari ke Singapura berdua bunda, ia menggeleng. Diajak ikut kunjungan kerja ke pulau tak bernama dimana terdapat resort mewah milik mereka di Nusa Tenggara Timur juga menolak. Bahkan berlibur berdua ke Raja Ampat pun tak membuatnya bergeming.


“Ayah Bunda sudah nggak sayang Iza lagi.” Faiza teriak dengan mata yang berkaca-kaca lalu berlari ke kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ketukan pintu siapapun tak didengarnya.


Ritha dan Satya saling berpandangan.


“Sudah. Biarkan saja dulu, Bun. Tidak semua keinginannya kita harus kita turuti. Dia harus belajar bersabar dan mengendalikan keinginannya.”


“Saya setuju soal itu. Tapi menurut saya dia itu sebenarnya sedang cemburu pada saudaranya. Mas kurang fair. Mas terlalu keras menolak keinginan Faiza. Sementara pada saat yang sama dia melihat nyaris semua keinginan janggal kakaknya Mas beri kelonggaran. Ini mungkin bentuk protes yang disebabkan oleh rasa cemburu. Sejak Faiz pulang kembali ke rumah kita terlalu fokus memperhatikan dia hingga anak bungsu kita merasa tidak disayang lagi."


Bisa dimaklumi. Biasanya hanya ada Faiza seorang yang meramaikan rumah yang sepi ini. Semua perhatian tertumpah padanya. Sejak ada kakaknya dia mulai membanding-bandingkan perbedaan sikap orang tuanya terhadap kakaknya dan diam diam mencemburuinya. Faiz dapat previllage untuk homeschooling demi hobinya, diberi sepatu mahal dan mendapat banyak perhatian dari orang tuanya. Sementara keinginan Faiza yang sudah beberapa tahun ini dikabulkan kali ini justru ditolak dengan alasan kesibukan turnamen kakaknya. Rasanya tidak adil. Ritha mulai sedikit memahami perasaan putrinya yang merasa cinta orang tuanya terbagi berat sebelah.


“Faiz sudah lebih besar, Cantik. Sejak kecil dia sangat keras kemauannya. Takutnya kalau kita keras memaksakan kehendak dia malah makin menentang kita.”


“Mas pikir karakter Faiza tidak sama kerasnya dengan kakaknya?”


Satya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebentar kemudian merapatkan jari jemari tangan kanan dan kirinya dalam genggamannya sendiri sembari menggigit bibir. Bahasa tubuhnya mengungkapkan bahwa sebenarnya ia resah, tak tahan dengan sikap diam putrinya.

__ADS_1


Sesaat kemudian ia menenangkan diri dengan menghembuskan nafas dengan kecepatan nyaris setara hembusan angin topan. Yah, selama ini Satya melihat Faiza berbeda dengan kakaknya. Dia anak yang ceria, banyak bicara, patuh, dan tak pernah ada konflik dengan siapa pun. Baru kali ini anak itu menunjukan taringnya dengan diam membatu. Perubahan sikap itu membuatnya tertekan oleh rasa bersalah sekaligus rindu. Kangen senyum gadis kecilnya yang biasanya jadi obat yang manjur meringankan beban di kepalanya saat pulang ke rumah. Kangen celoteh manjanya. Kini nyatalah sudah di balik keceriaannya, anak itu juga mewarisi sifat kepala batu. Betah berhari-hari ngambek karena keinginannya tidak dituruti. Tapi Satya harus kuat bertahan. Jangan sampai anak itu berkesimpulan sikap buruknya bisa dijadikan alat untuk mengubah keputusan ayahnya.


“Sudahlah, Cantik. Mas pusing. Tolong kamu saja yang bujuk Faiza ya. Jelaskan bahwa alasan nggak bisa pergi liburan ke Barcelona bukan hanya jadwal turnamen Faiz yang sangat ketat, tapi situasi di perusahaan sedang genting karena banyak proyek dan inovasi baru yang butuh perhatian ekstra. Selama 3 bulan ini aku harus intens mengendalikan bisnis dan tak bisa diwakilkan. Kalau ditinggal, pasti ada aja yang berantakan. Kita bisa rugi besar.” keluhnya sambil menatap istrinya dengan matanya yang sayu. Menyerah pasrah untuk urusan Faiza.


Ritha tersenyum menyanggupi tugasnya dengan anggukan yang lembut dan anggun. Ia tahu Satya bekerja lebih keras akhir-akhir ini. Lelakinya hanya tidur sekitar 3 jam sehari. Kadang kurang dari itu. Kemarin Ritha mendengar Satya memaki Gian, salah satu asisten kepercayaannya. Ada satu kesalahan besar yang berakibat kerugian pada salah satu unit bisnisnya. Memaki bukan kebiasaan Satya. Tekanan besar dari klien proyek asal China membuatnya begitu sibuk dan emosional. Dihentikan tak bisa lantaran sudah teken kontrak, namun buat maju pun urusannya dipersulit dari segala sisi. Benar-benar berat dan tak punya


pilihan. Ini tantangan baru sekaligus potensi cuan dalam perkembangan ke depannya.


“Baiklah. Mas konsentrasi aja ngurus bisnis. Biar nanti aku ngobrol pelan-pelan dengan Faiza. Memang butuh waktu dan kesabaran ekstra. Mudah-mudahan dia mau belajar mengerti. Kita harus sabar buat


mendidik anak ekstrovert yang tumbuh dengan lingkungan yang tidak sesuai dengan prinsip keluarga kita. Dugaanku dia pasti terpengaruh teman-temannya karena sekarang memang sedang tren berlibur ke destinasi wisata yang hits di negara empat musim. Bagi Iza teman itu penting karena dia tidak bisa benar-benar sendiri.”


Satya merangkul istrinya lalu menciumi puncak kepala dan keningnya berulang kali sebagai ucapan terima kasih atas pengertiannya.


Pagi tadi Faiza duduk di meja makan dengan wajah kusut. Ia hanya mengambil sepotong nagasari dan menghabiskan susu murni yang telah disediakan mbak Imah di hadapannya. Aksi mogok bicaranya masih berlangsung. Saat diminta menyalimi


“Maafkan ayah ya, Za!”


Faiza tak menjawab. Melengos pergi dengan berlari masuk ke dalam mobil.


Satya memegang dadanya, “Sakit ya rasanya dikacangin anak sendiri.” gumamnya sebelum memberi kecupan selamat jalan buat istrinya.


Ritha hanya bisa tersenyum tipis. Ia pun heran begitu cepatnya perubahan sikap Faiza pagi itu namun tak berani bertanya langsung apa yang sudah terjadi pada Biru di depan anaknya. Perlu sedikit sabar menahan rasa penasarannya.


“Rapormu bagus, Za. Kamu mau minta hadiah apa sama Ayah?” pancing Ritha lembut agar Faiza mau bicara apa sebenarnya keinginannya.

__ADS_1


“Aku mau liburan di Jampang aja, Bun.” jawabnya dengan ekspresi ceria.


Ritha terperangah. Bagaimana bisa pindah destinasi liburan impian dari Barcelona ke Jampang hanya dalam waktu satu jam? Pasti Biru yang telah mempengaruhi anak ini. Hebat juga dia bisa mencairkan kepala batu yang sudah ngambek berhari-hari karena cemburu pada kakaknya. Apa mereka berkongsi karena memendam cemburu pada orang yang sama?


“Jampang?”


“Iya. Kita akan jenguk kakek, keluarga bibi Lily dan bibi Nisa. Bukankah silaturahmi itu baik? Kata bi Biru silaturahmi itu bisa memperbanyak rejeki dan memperpanjang umur."


“Benarkah?” Sulit rasanya Ritha percaya ucapan anaknya. Ia melirik Biru yang memberi isyarat membenarkan dengan anggukan kepala dan senyum.


“Aku dan bibi Biru akan pergi ke Geopark yang sudah tercatat sebagai salah satu situs geologi tertua di dunia oleh UNESCO. Iza akan ikut atraksi pelepasan tukik dan bikin video yang bagus tentang perjalanan kita. Bibi Biru akan minta temannya yang fotografer buat ambil gambar dan edit videonya yang pasti keren.” Faiza sangat antusias. Senyumnya mengembang tanpa henti.


Ritha menatap Biru. Bukan tanpa sebab Biru ingin pulang ke Jampang. Apakah ini modus Biru untuk kembali mengacaukan suasana hatinya sendiri dengan cinta yang salah? Ataukah murni ingin kembali ke tempat Indah dimana ia telah dibesarkan selama ini. Ada secuil curiga yang muncul di kepala Ritha. Bagaimana pun ia harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan.


"Oke. Bunda juga ikut. Kita bertualang bersama ya."


Faiza dan Biru saling berpandangan dengan sinar mata yang sedikit redup. Agaknya anak-anak itu keberatan jika Ritha ikut. Namun Ritha tak peduli. Ia merasa harus mendampingi kedua gadisnya. Lagipula ia rindu bertualang ke alam bebas. Biarkan saja Faiz dan Satya sibuk dengan dunia mereka sendiri.


______


Masih suasana Gong xi fa chai. 1 Februari 2022


Selamat dan sukses untuk semua💞⚘⚘⚘


Memasuki bulan kasih sayang, yang punya bunga⚘ hati 💖 kopi☕ silet atau kursi pijat boleh diklik sebagai tanda cinta Faiz, Iza dan Biru. Semoga barokah buat semua makin dikokohkan cintanya dan diperbanyak rejekinya😘

__ADS_1


Amiiin YRA


__ADS_2