METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
BAYARAN MANAJER TIM


__ADS_3

Pertandingan semifinal telah usai. Kelas 10-1 memastikan diri masuk final esok hari. Begitu selebrasi berakhir, Faiz langsung berganti baju lalu melemparkan jersey norak bertuliskan manajer ke kardus logistik yang telah kosong.


“Ayo pulang, Bi. Aku harus siap-siap turnamen. Kudu pemanasan dulu sebelum mulai pertandingan resmi jam 1 siang.”


Ternyata main universe war juga ada sesi pemanasan juga. Persis olahraga ya. Pantes banyak yang menggolongkan permainan perang-perangan online itu sebagai e-sport.


“Pulang duluan aja. Bibi masih mau nonton pertandingan semifinal tim kelas 10-2 lawan 11-3. Biar tahu kekuatan lawan di final besok.” jawab Biru santai.


Biru masih berteduh di bawah pohon flamboyan yang rindang. Ia belum ingin pulang, masih menunggu pertandingan voli berikutnya. Lapangan masih ramai.


Yurika menyenggol Biru dengan sikunya. Entah mau apa dia, selalu berusaha cari perhatian tiap kali Biru bicara dengan keponakannya. Kadang suka senyum-senyum sendiri memandang keponakannya dengan rasa kagum yang agak berlebihan. Biru jadi risih.


"Ayo cepat, Bi!" ajak Faiz dengan nada lebih keras.


"Bibi pulang sendiri aja." Biru masih bersikeras tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Baginya penting untuk nonton pertandingan ini agar tahu kekuatan lawan di final besok.


Melihat tante dan keponakannya saling keras, Rio mendekati Faiz dan mencoba menengahi. “Biar nanti Biru saya yang antar sampai rumah, Iz. Dijamin pulang nggak ada lecek apalagi lecet.” kata Rio santai


Faiz malah mendelik. “Di sekolah ini banyak yang jahat sama Bibi gue. Apa jaminannya kalau dia nggak akan lecek atau lecet. Baru masuk sekolah ban sepedanya dikempesin. Sebulan kemudian ditabrak pemotor gelap yang sampai sekarang pelakunya masih misterius. Barusan Bibi gue dihina-hina cewek kaleng rombeng di depan orang banyak. Lu bisa nggak ngelindungin Bibi gue?” Faiz menantang Rio dengan matanya dan omongan lu gue yang begitu fasih keluar dari mulutnya layaknya anak Jakarta tulen.


“Bibi kamu perlu lihat pertandingan calon lawannya di final, Iz. Nggak bisa juga kamu paksa pulang. Egois itu namanya. Percaya deh sama aku! Aku akan berusaha sekuat tenaga buat melindungi Bibi kamu. Kalau pulang nanti Bibimu lecet atau lecek, aku rela kok diapain aja sama kamu.” Rio membeli tantangan Faiz dengan nada santai, tapi meyakinkan. Berani juga ia pasang badan untuk Biru.


“Oke. Gue pegang omongan lu ya. Kalau ada apa-apa sama Bibi gue, lu yang harus tanggung jawab. Inget! LU HARUS TANGGUNG JAWAB."


Rio mengangguk. "Gue siap tanggung jawab." jawab Rio gagah.


Faiz kelihatan cukup puas mendengar jawaban Rio.


“Faiz, besok jadi manajer kita lagi ya.” pinta Yurika saat Faiz hendak membalikan badan meninggalkan area lapangan.


“Sorry, nggak bisa. Bayaran hari ini aja belum diterima. Lagipula gue harus latihan lebih keras supaya lolos lagi di akhir turnamen babak kedua.” jawab Faiz tanpa menoleh. Ia telah melangkah cepat menuju parkir mobil dimana pak Didin telah menunggunya sejak tadi.


Yurika menoleh ke arah Biru. “Emang kamu bayar dia buat jadi manajer cabutan?’


Biru tersipu. "Dia itu memang kalau berbuat sesuatu harus diiming-imingi imbalan. Perhitungan banget orangnya."


“Dibayar berapa?”

__ADS_1


“Bayarnya nggak pakai uang kok.” ucap Biru merendah. Tak apa harus kehilangan uang ratusan ribu untuk sepatu Faiz. Biru ikhlas kok. Yang penting sekarang ini mereka sudah menang. Biru rasa pertandingan final tak akan seheboh tadi.


“Dibayar pakai apa?” Kikan mendekat karena terlalu penasaran.


“Dia minta sepatu.”


Yurika langsung terlihat sangat antusias sekaligus penasaran. Apapun tentang Faiz selalu menarik buat dikuliknya. “Sepatu? Sepatu apa? Nomor kakinya berapa?”


“Kamu mau beliin , Yur?”


Yurika mengerdipkan sebelah matanya. Ia menunggu jawaban Biru dengan sabar. Tidak ada salahnya juga kalau mampu dia belikan sepatu buat calon gebetan high quality boy seperti Faiz. Siapa tahu dengan itu ia bisa dekat dengan keponakan Biru yang ganteng itu.


Biru mengambil gawai dan membuka pesan yang belum lama dituliskan Faiz soal merek dan tipe sepatu yang diinginkannya. “Dia minta X Dior Air Jordan High Sneakers nomor 42.” jawab Biru santai. Ia berharap ada salah satu temannya yang mau membelikan sepatu Faiz itu.


Semuanya langsung melongo. Domblong seperti sapi ompong. Biru celingak-celinguk tak mengerti. Sementara Yurika langsung menyerah angkat tangan. Wajah Yurika terlihat menyedihkan seperti prajurit yang pulang karena kalah sebelum bertanding.


“Nggak salah, Bi?” tanya Rio memastikan.


“Nggak salah. Memang sepatu itu yang dia mau. Emang kenapa?” Biru masih belum menyadari letak kebodohannya.


“Itu sepatu harganya sepasang sekitar 150 juta.”


“Gila. Mahal banget ya bayaran manajer tim voli kelas 10-1. Kerja nggak sampe 2 jam aja minta 150 juta hahaha.” komentar Hani. Ia tertawa sambil geleng geleng kepala.


“Itu bukti kalau tim kita berkelas. Hahaha.” tambah Kikan bangga. Gadis itu tertawa keras sekali sampai tim yang tengah bersiap memulai pertandingan berikutnya menoleh ke arah mereka. Entahlah. Kalau tidak tahu, orang pasti menyangka Kikan kerasukan kuntilanak penunggu pohon flamboyan.


Mereka berdiri meninggalkan pohon flamboyan setelah mendengar suara peluit panjang tanda dimulainya pertandingan semifinal berikutnya.


“Kira-kira Faiz bakal nagih beneran nggak, Bi?” tanya Rio penasaran. Terasa geli karena ia berbisik terlalu dekat dengan telinga Biru. Deru hembusan nafasnya itu menggelitik membuat Biru tak bisa menahan senyum.


“Pastilah. Dia itu nggak bisa dijanjiin. Pasti bakal nagih terus.”


“Terus kamu punya duit buat beli sepatu itu?”


“Ya enggak lah. Beliin aja yang kw di Pasar Rumput.”


Hahahaha. Keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


"Dia pasti tahu kalau itu kw. Gimana kalau dia ngambek ya?"


"Aduin aja ke bundanya kalau dia memeras bibinya." Biru tertawa lagi.


Meski tak terlalu menanggapi, sebenarnya dalam hati Biru risau juga. Bodohnya dia nggak tahu harga sepatu yang diinginkan keponakannya. Alamak ternyata ada ya sepatu semahal itu.


"Tapi Faiz itu memang sudah kelihatan profesional banget sih. Gaya dan strateginya jadi manajer tim kelihatan berkelas. Kayaknya nilai bayaran yang diminta wajar deh, Bi."


"Nggak usah kebanyakan muji dia, nanti kak Rio malah minder."


Rio kembali terkekeh. Ia merangkul bahu Biru mengajaknya duduk menyaksikan pertandingan di tribun yang paling atas. Selain teduh, di tribun paling atas tidak disesaki suporter alay.


"Kak Rio menang pertandingan futsalnya?"


"Nanti sore finalnya."


"Lawan kelas berapa?"


"Lawan kelas 11-3."


"Jadi pengen nonton."


"Kalau mau nonton aku jemput. Pertandingannya di GOR futsal Anak Sehat."


"Nggak ngerepotin?"


"Nggak ada yang direpotin buat kamu, Bi."


Biru tersipu, merasa tersanjung hanya dengan mendengar kalimat sesederhana itu.


"Pulangnya sore banget nggak?"


"Selesainya bisa sampai habis maghrib, Bi. Apalagi kalau sampai ada perpanjangan waktu dan adu pinalti."


Biru menimbang-nimbang baik buruknya. Sebaiknya ia ijin dulu pada kak Ritha dari sekarang.


Sambil menonton, Biru mengetik pesan pada Ritha. Berharap banget Ritha memberinya ijin kali ini saja. Ia benar-benar ingin menyaksikan dan mendukung Rio di pertandingan final futsal class meeting. Hitung-hitung sebagai balas budi sebab hari ini Rio sudah mendukungnya padahal lawannya tim kelas Rio sendiri.

__ADS_1


___________


Selamat terbiru-biru💞, tapi jangan minta terburu-buru ya. Nikmati saja alurnya🙏


__ADS_2