
Suasana pertandingan bola voli berlangsung seru tapi tak banyak yang mau menonton sampai pertandingan usai. Kebanyakan penonton mencari-cari sosok manajer tim 10-1 yang membuat mereka penasaran. Efek terfaiz-faiz kemarin menular ke banyak siswi SMU itu bagai virus corona, penyebarannya sangat cepat dan masiv. Awal pertandingan banyak siswi yang ke lapangan. Begitu yang dicari tak ada, mereka langsung meninggalkan lapangan dengan rasa kecewa. Tak banyak orang yang berminat pada olahraga voli. Lebih banyak yang nonton gladi resik pentas seni buat acara prom night nanti malam di salah satu hotel berbintang 4 di bilangan Menteng.
Pertandingan final bola voli yang melelahkan itu selesai melalui rubber set dengan skor 25-20, 19-25 dan 15-17 untuk kemenangan tim 10-1. Biru dan rekan timnya gembira meski suporter pada pertandingan final hanya sedikit. Selebrasi di lapangan tak seheboh waktu pertandingan semifinal kemarin, karena itu mereka melanjutkan perayaan kemenangan dengan makan-makan di kafe seberang jalan. Sebuah perayaan intim yang dihadiri oleh tim kecil yang baru seminggu akrab. Hanya bertujuh saja, 6 pemain tim inti dan satu personil cadangan.
Rio tak mendukungnya lebih baik daripada suporter alay yang memenuhi lapangan demi Faiz. Dia sempat menonton set pertama saja. Selanjutnya ia pergi tanpa pamit. Biru tahu Rio pasti disibukan oleh kegiatan OSIS, namun kecewa karena tak sempat bertanya siapa gadis yang membawakan buket bunga dan perlengkapan ketua OSIS itu semalam. Padahal ia masih penasaran setengah mati.
Hari ini berbeda dengan hari kemarin, semangat Biru sedikit menguap berkumpul dengan titik embun di awan. Semangatnya terbang menjauh darinya. Bukan lelah oleh pertandingan rubber set yang membuat tubuhnya lunglai, melainkan karena hari ini tidak ada satu pun hal yang membuat dirinya merasa ditaburi bunga-bunga kecil. Rio tak mengucapkan selamat atas kemenangannya meski lewat ketikan di gawainya. Biru telah salah, terlalu banyak berharap kebaikannya akan dibalas dengan kebaikan serupa. Ia terlanjur sudah membayangkan akan memperoleh kejutan kecil, pujian, atau ucapan selamat atas kemenangannya dari orang-orang di sekelilingnya. Padahal prestasinya tidak seberapa. Hanya juara sekolah pada pertandingan antar kelas. Harapan yang berlebihan itulah yang justru membuatnya kecewa dan mengganggu stabilitas emosinya.
“Bagaimana kabarnya Faiz, Bi?” tanya Yurika sambil menyeruput es cappucino jelly.
“Baik.” Biru menjawabnya dengan malas.
“Penonton final nggak seramai pas semifinal. Kayaknya itu efek Faiz deh.”
“Nggak usah dibahas, Yur. Yang penting kita menang.” jawab Biru yang masih ogah membahas keponakannya yang licik itu. Kenapa sih orang terpukau padanya. Belum tahu saja kalau wataknya arogan, keras kepala dan licik. Biru masih jengkel dengan kelakuannya kemarin.
“Besok dia nggak datang ke sekolah lagi?” Yurika masih saja ingin tahu soal Faiz.
“Enggak.”
“Yang ambil rapor kamu siapa?”
“Mungkin bundanya Faiz.”
“Cantik ya?”
“Banget.”
__ADS_1
Yurika senyum senyum sendiri. Mungkin merasa sudah menemukan modus yang tepat buat mendekati bundanya Faiz. Trik lama, agar bisa dekat dengan anaknya mesti ambil hati bundanya dulu.
“Kamu nggak pernah merasa ‘insecure’ gitu tinggal di rumah keluarga kakak kamu?”
Biru benar-benar malas menjawab pertanyaan-pertanyaan Yurika. Ia masih bergulat dengan perasaan kecewanya. Tapi sayang, ia tak boleh mengabaikan teman baik yang sudah bersusah payah bersama memperoleh kemenangan sederhana di pertandingan voli hari ini. Cukup Biru sendiri yang merasakan kecewa oleh harapannya sendiri yang terlalu tinggi. Jangan lampiaskan pada orang lain yang tak pernah bersalah.
“Kadang. Tapi aku selalu ingat kata ustadzah Mutia bahwa Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Nggak usah ‘insecure’ dengan kekurangan kita tapi fokus aja mengasah kelebihan kita dan bersyukur pada Tuhan. Allah pasti akan menambah nikmat buat hambaNya yang bersyukur.”
“Dalem banget sih, Bi. Udah cocok kayaknya kamu jadi ustadzah.” komentar Kikan dengan gaya sinis.
Biru membalasnya dengan senyum. Ada rasa malu dianggap sok agamis. Lebih baik ia diam saja menikmati air mineral dingin yang banyak agar hati dan otaknya tidak menggelepar ke sana ke mari seperti ikan lele yang jatuh di lantai tanpa air.
“Liburan sekolah mau ke mana, Bi?”
“Belum tahu. Faiza ngajak tur ke Barcelona, tapi Faiz masih harus menyelesaikan turnamen. Kakakku nggak mau pergi liburan tanpa anak kesayangannya itu. Aku sendiri nggak punya keinginan kecuali pulang ke Jampang."
Biru bicara yang sebenarnya, tapi teman-temannya kelihatan tak terlalu suka. Duh, jadi merasa bersalah. Apa iya jawabannya itu terkesan menyombongkan diri karena berbicara tentang liburannya ke luar negeri. Biru jadi ingin memukul-mukul mulutnya yang terlalu jujur dan spontan. Dia bukan Faiza yang bersekolah di sekolah internasional. Gadis kecil itu bisa saja dengan enteng bicara harus liburan ke luar negeri karena sebagian besar teman sekolahnya pasti melakukan hal yang sama, Harusnya kalau ngomong itu dipikirkan dulu situasinya, Biru. Teman-teman tim voli sekolahnya memang bukan tergolong orang miskin, tapi mereka juga bukan orang yang kelebihan uang sampai liburan harus ke luar negeri. Untung saja diakhir kalimat kamu masih menyisipkan kata ingin pulang ke Jampang. Mudah-mudahan saja persepsi sombong dinetralkan oleh kalimat terakhir.
“Ikut kami muncak aja yuk.” ajak Kikan membuyarkan keheningan.
“Muncak? Maksudnya ke Puncak?”
“Tepatnya treking ke puncak gunung Gede Pangrango.”
“Sama siapa aja?”
“Tim voli aja bareng sama anak-anak PAS.”
__ADS_1
“Sorry, aku nggak bisa Ki. Udah rencana pulang kampung ke Manado dari jauh-jauh hari. Ngajaknya mendadak banget sih,” sesal Yurika.
Diantara mereka bertujuh hanya Kikan yang anggota PAS atau pencinta alam sekolah. Dia jelas sudah siap naik gunung karena perjalanan itu pasti sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh PAS. Sementara tim voli baru dibentuk Hani secara dadakan karena ada class meeting. Sebelumnya hanya Hani yang ikut tim voli sekolah sebab dari SMP Hani memang sudah ikut klub voli yang sempat jadi juara tiga di PORDA Jakarta Pusat. Yang lain ditunjuk mendadak berdasarkan hasil ujian praktek olahraga voli. Kebetulan saja personal tim yang semula tak akrab langsung kompak dan meraih kemenangan.
“Keluargaku juga sudah beli paket liburan ke Sumba.” ujar Wiwin tak mau kalah.
“Aku janji jenguk nenek di Wonogiri. Sudah pesan tiket kereta sebulan yang lalu.” kata Fifi yang berencana libur ke rumah nenek.
Kikan terlihat kecewa. Ia mengalihkan pandangannya ke Arina.
“Aku sudah tanda tangan kontrak magang jadi sales kosmetik.” jawab Arina dengan dengan suara lesu seolah menunjukan bahwa dirinya tak berdaya karena terlebih dulu sudah memutuskan menggunakan liburannya untuk mencari tambahan uang untuk beli buku dan perlengkapan sekolah pada tahun ajaran baru nanti.
“Aku ikut deh, Ki.” Hanya suara Hani yang membuat Kikan tersenyum. Akhirnya ada juga personal tim voli yang mau ikut mengisi liburan dengan naik gunung.
“Kamu, Bi?”
“Prinsipnya sih mau mau aja, Ki. Tapi aku harus ijin kakakku dulu.”
“Aku juga ijin orang tuaku dulu ya, Ki.”
“Nggak masalah. Kita bertiga keep kontak terus aja ya. Nanti aku kabari saja perlengkapan apa yang harus dibawa dan catatan do & don’t-nya ya.”
Hani dan Biru mengangguk. Semua sebenarnya sudah punya rencana liburan masing-masing. Sayang sekali keakraban tim voli baru berlangsung. Jika tidak, mereka pasti bisa merencanakan liburan bersama merayakan kemenangan dengan kompak satu sama lainnya. Liburan kenaikan kelas selalu menjadi momen yang dinanti tiap anak sekolahan. Biasanya mereka yang naik kelas pasti dapat hadiah-hadiah tertentu, termasuk liburan ke tempat yang mereka inginkan sebelum kembali masuk ke sekolah di kelas yang baru.
Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hore. Hore. Hore.
________
__ADS_1
Bagi yang jenuh dengan aktivitas harian. Sesekali liburan yuk🏞🏖
Gong xi fa chai bagi yang merayakan imlek 1 februari 2022.