METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
ANTARA BIRU DAN RIO


__ADS_3

Baru 3 minggu Biru masuk sekolah, tapi anak itu sudah punya banyak teman. Dua hari lalu ada 5 orang teman sekelasnya yang datang untuk diskusi dan mengerjakan tugas kelompok. Ritha meminta mereka beraktivitas di taman belakang. Entah apa saja yang dilakukan mereka selama lebih dari 6 jam di sana, Ritha tak memperhatikan dengan detil. Ia hanya mendatangi mereka untuk berkenalan dan meminta asisten untuk menyediakan cemilan dan jus buah. Selanjutnya ia membiarkan anak-anak muda itu berkegiatan sesukanya.


“Aduh, tante baik sekali. Jadi pengen sering-sering main ke sini.” ujar seorang anak yang tadi mengaku bernama Gustav seraya mengerlingkan sebelah matanya.


“Rumah Tante modern dan nyaman banget. Kata Biru tante yang mendisain sendiri ya. Saya juga bercita-cita ingin jadi arsitek lo, Tante. Doain ya supaya tercapai.” kata anak perempuan berambut bergelombang.


Ritha mengangguk dan tersenyum ramah. Rupanya anak-anak itu merasa betah berada di rumahnya yang nyaman dan Biru telah bercerita pada teman-temannya tentang dirinya. Bangga sedikit sih profesinya diapresiasi dengan baik oleh teman-teman Biru. Mereka betah berlama-lama di rumahnya. Tidak mungkin kalau hanya mengerjakan tugas saja. Mereka terdengar bersenda gurau di tepi kolam renang. Bahkan ada anak yang rambutnya basah dan berganti pakaian. Mungkin diceburkan teman-temannya ke kolam renang.Rumahnya menjadi ramai berkat Biru dan kawan-kawannya. Hanya privasinya sedikit terganggu karena sebelumnya rumah itu selalu sunyi dan Ritha suka menyelesaikan pekerjaan desainnya dalam kesunyian. Tak pernah terdengar riuh tawa canda anak-anak muda di rumahnya. Hanya suara celoteh Faiza saja yang biasa mewarnai harinya.


“Boleh ya tante kalau kita sering-sering main ke sini.” seru yang lain hampir bersamaan saat mereka pamit pulang lepas adzan maghrib.


“Asal aktivitasnya positif boleh. No alcohol. No drug. Dan jaga sopan santun.” Kalimat itu yang tercetus ringan dan santai dari mulut Ritha. Padahal dalam hati agak sangsi melihat penampilan teman-teman Biru yang sebagian tampak kumal dan urakan. Apalagi yang namanya Gustav itu songong banget. Sejak tadi memandang Ritha dengan tatapan nakal.


Hari ini Ritha melihat Biru berdebat dengan teman lelakinya di depan pintu pagar. Sudah beberapa kali Ritha mendapati anak lelaki dengan seragam SMU yang sama dengan Biru itu membuntuti Biru. Kalau dilihat dari rekaman video CCTV hampir tiap hari ia mendapati anak yang sama membuntuti Biru tanpa sepengetahuannya. Baru hari ini Biru menyadari itu dan sepertinya ia menegur temannya itu. Ritha makin penasaran, ada apa dengan mereka.


Hihihi, Ritha jadi tersipu sendiri. Tampaknya mulai ada kisah romansa remaja yang akan mengganggu hidupnya. Ritha mengamati gerak gerik keduanya dengan seksama dari balik jendela kamar. Hari ini ia tertarik jadi detektif romansa kelas kacang. Kedua remaja itu berdebat cukup lama. Entah apa yang diperdebatkan. Kalau ada masalah yang penting dibicarakan dan butuh waktu penyelesaian yang lama kenapa tidak diminta masuk saja ke rumah. Tak lama kemudian satpam membukakan pintu pagar lalu Biru segera membawa sepedanya masuk ke dalam garasi. Anak lelaki berseragam SMU yang samadengan Biru itu memaksa ikut memasukan sepeda motornya. Dia berbicara dengan satpam lalu memarkir sepeda motornya di halaman dekat pos satpam.


Ritha terpaksa turun setelah melihat Biru kembali berdebat dengan teman lelakinya itu.


“Ada apa Biru? Kenapa kamu tidak mengijinkan teman kamu itu masuk?”


“Selamat siang, Tante.” Anak lelaki itu langsung menyapa dan tersenyum ramah padanya.


Ritha menjawab salamnya dengan kening berkerut. Hatinya bertanya, kenapa Biru menolak anak itu ya? Padahal sekilas kelihatannya ia anak yang baik dan sopan.


Biru langsung nyelonong masuk ke dalam rumah. Terlihat masih marah dan enggan menemui temannya.


“Ada masalah apa sama Biru?”


“Biru keberatan saya membuntutinya sampai di rumah, Tante. Padahal saya hanya ingin memastikan dia aman sampai di rumah. Sepedanya kan mahal. Saya takut ada begal aja di jalan.” Anak itu menjawab dengan lugas tapi sopan.


“Aku nggak butuh pengawalan ya. Jangan sok tahu.” Biru menyahut dengan nada keras dari dalam rumah. Ternyata anak itu masih duduk di ruang tamu. Tidak langsung pergi ke kamarnya.


“Ehm, boleh tante tahu siapa namamu?”


“Rio, Tante.”


“Teman sekelas?”

__ADS_1


“Bukan. Kakak kelas Biru, Tante.”


“Oke. Masuklah, Nak! Kita ngobrol baik-baik supaya tidak ada salah paham.”


“Nggak perlu, Kak. Kami nggak ada masalah apa-apa kok. Suruh aja dia jangan buntuti Biru terus. Biru bisa jaga diri kok.” cegah Biru yang masih saja tak berkenan dengan kehadiran temannya itu.


Anak lelaki itu menatap Ritha seperti meminta bantuannya bagaimana bisa menaklukan Biru yang tengah marah.


“Masuk yuk, Rio! Kita minum dulu. Kamu pasti haus.”


Biru terlihat cemberut waktu Ritha mempersilakan Rio masuk. Sementara Rio tersenyum penuh kemenangan karena merasa mendapat angin segar dari empunya rumah.


“Mau minum jus jeruk?”


“Boleh. Terima kasih, Tante.”


“Mbak Pun, tolong ambilkan jus dingin dan camilan untuk tamu kita ya.” Ritha meminta asisten rumah tangga yang telah bersiap di ruang tamu itu untuk menyiapkan sedikit hidangan ringan.


“Coba ceritakan kalian sebenarnya punya masalah apa. Mungkin Kakak bisa bantu jadi mediator. Kakak lihat kalian berdebat lama di depan gerbang tadi.” Ritha menatap kedua remaja itu bergantian. Mencoba bersikap bijak mencari solusi terhadap masalah kecil keduanya.


Biru merengut. Sama sekali tak memberi respek pada tamunya. Matanya malah memandang ke arah lukisan bunga yang tergantung di dinding.


“Ehm.” Ritha mendehem kecil.


“Saya mau Biru mengijinkan saya tetap mengikuti dia pulang, tapi Biru menolak.” Akhirnya Rio yang memulai cerita tentang masalah kecil keduanya.


“Saya lihat di CCTV kamu juga membuntuti Biru waktu berangkat ke sekolah sebab tidak lama setelah Biru pergi, sepeda motor kamu berjalan pelan mengikutinya.”


Biru mendongak dan melotot. Selain marah pada Rio, Ia juga tak menyangka kalau Ritha lebih tahu daripada dirinya. Mungkin Biru berpikir kalau Rio hanya membuntutinya waktu pulang sekolah saja.


Sementara Rio menunduk malu. Kelakuannya telah terciduk oleh kamera CCTV yang diawasi oleh empunya rumah.


“Saya kesal sama dia, Kak. Dia itu kurang kerjaan. Saya kemarin dikomplain pengurus OSIS gara-gara dia memundurkan jam rapat penting OSIS. Ternyata dia punya hobi baru tiap pulang sekolah selalu membuntuti saya. Mereka menyuruh saya nasehatin dia supaya profesional. Padahal saya nggak punya hubungan apa-apa sama dia dan nggak tahu juga kalau dia ngikutin saya tiap pulang sekolah. Makanya saya peringatkan dia supaya mulai besok tidak perlu membuntuti saya lagi. Herannya dia menolak. Jelas saya makin kesal dong, Kak. Saya nggak butuh dibuntuti DIA.” Biru mengucap kata dia dengan keras dan menunjuk wajah Rio dengan jari telunjuknya.


Rio masih menunduk. Wajahnya memerah, namun sekilas Ritha melihat senyum kecil di bibirnya. Anak muda pemalu. Apa tujuannya dia selalu membuntuti Biru ya? Mungkinkah dia menaruh hati pada adik iparnya?


“Dengar ya! Asal kamu tahu, aku juara memanah tingkat provinsi Jawa Barat. Aku juga pernah juara 3 pencak silat sekabupaten Sukabumi. Tanpa kamu, aku bisa jaga diri kok.” Biru mengangkat dagunya dengan angkuh.

__ADS_1


“Tapi kamu baru di Jakarta, Biru.” Rio berucap lemah dengan wajah sedikit terangkat. Rupanya harga dirinya terusik atas sikap angkuh Biru. “Jakarta tidak sama dengan Sukabumi.” tegasnya kemudian.


Biru tak menjawab. Hanya bibirnya yang mencibir.


“Banyak orang jahat di sini. Buktinya kamu sudah mengalami sendiri kan. Hari pertama kamu masuk sekolah sudah ada orang yang ngempesin ban sepeda kamu. Salahkah aku jika ingin memastikan kamu aman sampai di rumah?”


Biru tetap diam. Benar juga sih. Di sekolahnya dulu mana ada yang tega berbuat begitu.


Mbak Pun datang membawa jus jeruk dan cheese cake dingin yang tampilannya menggoda. Ritha langsung mempersilakan dua remaja itu minum dan mencicipi cake agar suasana lebih memencair. Sering kali emosi lebih mudah mereda kalau perut kenyang dan mudah membara saat perut lapar.


"Sekarang apa mau kalian?" tanya Ritha santai. Ia memandang dua remaja yang sama-sama asyik menikmati cheese cakenya.


"Dia harus profesional. Saya nggak mau ditegur pengurus OSIS lagi. Malu." ucap Biru tegas.


Pandangan Ritha beralih pada Rio. "Kamu bersedia?"


"Tentu, Tante. Saya akan memperbaiki kesalahan saya tapi ijinkan saya tetap berteman dengan Biru."


"Berteman ya berteman aja. Nggak usah diam-diam ngintilin aku berangkat dan pulang sekolah." Biru menaruh cheese cakenya yang baru separuh pindah ke perut. Emosi lagi dia mendengar jawaban Rio.


"Saya ingin melihat Biru setiap hari. Bisanya cuma tiap berangkat dan pulang sekolah aja. Kan kami nggak sekelas. Dia kalau jam istirahat nggak pernah ke kantin. Bagaimana kalau saya jadi tukang ojek Biru saja, Tante? Boleh? Saya antar jemput tiap hari. Gratis."


Ritha jadi ingin tertawa sendiri. Dasar anak muda. Ada aja modus buat mendekati anak gadis orang.


"Bagaimana, Biru?" Ritha menoleh ke arah Biru


"Boleh?" Biru malah balik bertanya.


Ritha ingin menepuk dahinya sendiri melihat Biru justru tersipu. Dugaannya salah. Ritha pikir Biru akan menolak ide Rio karena tidak mau boncengan dengan orang yang bukan mahrom. Pesantrennya kan ketat soal hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Harusnya itu sudah tertanam di kepalanya. Tapi melihat binar di matanya, sepertinya Biru berharap Ritha mengijinkan.


"Biru sebenarnya bisa saja diantar supir kami, Nak Rio. Tapi Biru ingin naik sepeda ke sekolah supaya lebih sehat dan kami mengijinkan karena dia cukup mumpuni dalam bela diri. Kalian boleh berteman tapi tidak ada kebijakan naik motor berdua ya. Kalau sesekali mampir ke sini boleh, tapi Biru harus tetap pulang sekolah tepat waktu. Dan kamu harus profesional dalam berorganisasi. Kepentingan orang banyak harus didahulukan."


Keduanya terlihat kecewa dengan keputusan Ritha tapi menerima keputusan itu dengan anggukan kepala. Biru kembali mengambil cheese cake yang tadi telah diletakkan di atas meja. Ia kembali menyuap sesendok hidangan lembut yang berbahan dasar keju itu dengan riang. Sesekali matanya melirik ke arah Rio.


Dasar ABG labil.


__________

__ADS_1


Jangan lupa like terus ya dan rekomendasikan ke teman-teman.


#ngarepgetoktular# hihihi😁


__ADS_2