METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
GEN KSATRIA


__ADS_3

Seluruh kejadian yang terjadi di muka bumi ini adalah takdir. Hanya kenangan yang tersisa dari om Ardi yang baik hati. Faiz makin penasaran mengapa kasus kematiannya tak terungkap meski ayah membayar orang khusus untuk menyelidikinya. Tidak ada arwah yang mati penasaran. Om Ardi telah damai di sisiNya. Justru orang yang hidup masih tersiksa oleh luka dan sulit mengikhlaskan, terutama yang ikut dalam peristiwa kecelakaan itu, yaitu Rosyid dan tante Nisa. Keduanya adalah saksi hidup yang mendengar ancaman ayah dan menyaksikan bagaimana penembak misterius itu mengarahkan pelurunya ke mobil mereka secara membabi buta. Jika masalah ini dibiarkan, maka seumur hidup yang tertanam dalam benak mereka ayah adalah seorang pembunuh.


“Kamu boleh bawa dan pelajari semua berkas, hard disk, dan buku agenda ini.” Eyang Dewi memasukan semua berkas, sebuah hard disk, dan buku agenda itu dalam tas laptop milik almarhum om Ardi dan menyerahkannya pada Faiz.


“Eyang berharap semua masalah ini bisa clear dan seluruh keluarga mengikhlaskan kepergian om kamu. Banyak yang sudah datang melamar tante Nisa. Eyang sebenarnya berharap tante kamu menikah lagi.”


“Tidak menganjurkan jadi janda selama sisa hidup seperti eyang?”


Eyang tersenyum dan mengacak-acak rambut Faiz. "Jadi janda itu berat, Iz." keluhnya dengan tetap tersenyum anggun.


“Rosyid yang kayaknya nggak mau punya ayah sambung, Yang. Padahal mang Rony cinta mati sama tante Nisa, tapi lamarannya ditolak."


“Siapa itu mang Rony? Guru komputer yang berhasil bikin kamu jadi gamer?” Kini senyum eyang Dewi berubah sinis. Mana ada orang tua yang bangga dengan profesi gamer. Mungkin kesannya kerjaannya hanya main-main percuma. Padahal kalau diseriusi cuannya lumayan besar, sebanding dengan atlet sepak bola profesional.


“Aku pemain e-sport tangguh, Yang. Aku sempat jadi profesional player termuda walaupun cuma beberapa bulan.”


“Sekarang sudah berhenti? atau ..."


“Tetap main game sekedar buat hobi dan tidak mau diatur-atur bandar judi. Faiz sekarang mau fokus ke pengembangan Cyber Security sama pakde Bas."


"Kamu kerjasama dengan pakde Bas?"


Faiz menjawab dengan anggukan yakin. Ia menyeringai nakal dengan mata mengarah pada eyang Dewi dan sedikit tersenyum. Dagunya sedikit terangkat. Orang yang melihat pasti gemas ingin memukulnya.


Eyang Dewi geleng-geleng kepala. “Kamu disekolahkan di pesantren bukannya jadi ulama atau dai kondang, malah jadi pemain game dan hacker."


Faiz terkekeh pelan. “Yang penting Faiz tidak merugikan orang, masih bertauhid dan nggak lupa ibadah, Yang.” jawabnya enteng. Biar Amar saja yang jadi ustadz. Lama-lama di pesantren bosan juga. Peraturannya terlalu ketat dan rutinitasnya itu itu saja.


“Kalau berdasarkan kepercayaan kasta Hinduisme aku kayaknya nggak punya darah genetik menjadi pendeta atau brahmana, Yang. Aku lahir dalam dinasti Ksatria, keturunan bangsawan Tionghoa dan Jawa.” seloroh Faiz bangga.


Eyang malah melotot dan menjewer telinganya sampai merah. Rasanya telinga hampir putus karena dipelintir dengan keras. “Kamu tidak merasa lahir dari rahim keturunan kakek guru Haji Umar Pulukadang, Hah?”


Hehehe. Faiz memegang telinganya yang terasa panas sambil meringis. Alibinya patah di hadapan eyang Dewi. Teori genetikanya tidak berlaku. Ia selalu lupa kalau kakeknya dari bunda merupakan keturunan guru dan pemuka agama terkenal dari Minahasa.


Entahlah. Sejak kecil ia sama sekali tak menaruh minat untuk jadi guru atau pemuka agama yang menurutnya hidupnya terlalu lurus tanpa warna. Membosankan. Jiwanya hanya bisa bergelora bila terlibat dalam pemberontakan dan berhasil menguasai sesuatu. Ia suka sesuatu yang menantang dan banyak menghasilkan uang. Sesekali berbuat nakal itu diperlukan untuk membakar semangat. Bukan suatu masalah anak jebolan pesantren menekuni profesi apa pun yang disukainya. Orang islam itu yang penting seumur hidup tetap menjaga tauhid, menjalankan syariah, dan ibadah wajib. Sahabat Rasulullah saja tak semua jadi ulama.


“Gen brahmana kamu rupanya tidak dominan.” Akhirnya eyang berkomentar lebih bijak. Makin besar karakternya makin terlihat lebih mirip dengan Satya. Dia hanya menurunkan genetik warna bola mata bundanya.


Setelah melalui pertimbangan yang cukup pelik, akhirnya Faiz memutuskan untuk pulang ke Jakarta bersama eyang Dewi besok pagi. Ia terlanjur penasaran ingin melihat isi hard disk, membongkar berkas, dan bicara dengan ayah dan bundanya tentang peristiwa di balik kematian om Ardi. Baginya mengungkap misteri kematian om Ardi lebih penting dan lebih menantang daripada jalan-jalan.

__ADS_1


"Aku ikut kamu, Iz." putus Doni yakin ketika Faiz mengatakan akan pulang ke Jakarta.


"Aku juga. Aku mau mengantar Fathia ke toko reparasi tas premium langganan mamaku. Kebetulan lusa ada teman klub voli yang datang dari Sulawesi ngajak latihan." Hani pun memiliki keinginan serupa. Kompak.


"Kalian benar nggak apa-apa melewatkan liburan?"


"Kapan waktu kita masih bisa ke sini lagi."


"Insya Allah kalau panjang umur, bang Doni." ralat Fathia mengingatkan bahwa untuk mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan harus disandarkan pada Tuhan. Kita tak pernah tahu seberapa panjang umur kita.


"Iya. Insya Allah."


Fathia langsung mengacungkan jempolnya untuk Doni. Senyum tak lepas dari bibirnya.


"Baiklah. Tolong beritahu rencana kita pada rombongan Amar ya, biar mereka nggak nunggu-nunggu kita."


"Siap, Bos." Doni langsung sigap dengan gawainya.


Hani dan Fathia langsung beranjak pergi ke kamar tidurnya di lantai 2. Sementara Faiz dan Doni masuk ke kamar yang dulunya berfungsi sebagai kamar tidur tamu di lantai bawah.


"Tiga hari lagi Baby F akan tanding lawan Steve ya, Bos?"


"Hm."


"Boleh."


Malam belum terlalu larut. Kangen juga sama universe war. Faiz langsung mengaktifkan lagi mode data pada gawainya.


Ting ting ting ting ting... lonceng notifikasi berbunyi bertalu-talu. Berisik. Rupanya ia lupa menonaktifkan lonceng notifikasi.


Diliriknya sudah ada ribuan direct message ke akun sosial media yang sekarang berlambang meta. Faiz tak ingin membacanya. Kadang-kadang tak peduli dengan pendapat orang itu penting buat kesehatan mental. Karena sifat cuek itulah Faiz bisa konsentrasi hanya pada tujuannya saja tanpa mengukur salah dan benar dari persepsi netizen yang beragam isi kepala dan hatinya.


Ia langsung membuka aplikasi universe war dan mengenakan head set. Arena universe war sedang ramai-ramainya. Boleh dibilang jam 9 malam memang merupakan prime time bagi permainan online itu. Baru buka aplikasi, pesan singkat dari fans langsung berderet-deret menyapanya.


"Hi, Baby F."


"Kemana aja beberapa hari ini?"


"Kangen kamu, Baby😍😍😘"

__ADS_1


"Duel yuk!"


"Selebrasi dong. Masak menang turnamen diem-diem bae. Bagi-bagi give away dong."


"Baby F ... Kangen ..."


"Love you, Baby F😍"


"Kemana aja lu, Bab?"


Masih banyak lagi pesan singkat yang disampaikan para penggemar fanatiknya. Isi kalimatnya beragam. Capek kalau harus baca dan balas satu per satu. Bisa jadi ia malah tak punya waktu untuk memulai latihan singkat dengan Doni malam ini kalau harus menanggapi semua sapaan. Lebih baik dijawab saja dengan kalimat sapaan yang general yang dapat dipahami netral oleh semua fans.


"Hi, friends." Tulisnya di pesan singkat.


Kalimat itu langsung direspon oleh penggemarnya yang kebanyakan merasa senang kalau Faiz menyapa. Deretan kalimat pesan singkat tanggapan langsung muncul dalam hitungan detik. Ada juga yang berteriak histeris melalui pesan suara. Suasana memang selalu seriuh itu. Jangan heran.


"Kamu mau pakai pahlawan apa, Don?"


"Lady Piggy."


Hah? Orang segagah Doni suka karakter pahlawan berbentuk hewan gemuk menjijikan berwarna kulit merah muda itu. Faiz menatap lagi tubuh Doni dari atas sampai ke bawah. Pilihan pahlawannya sangat kontradiktif dengan tubuhnya yang tinggi besar. Apa hati Doni seperti Hello Kitty?


"Kenapa suka lady piggy?"


"Bentuknya menggemaskan, montok dan lucu."


"Tapi dia gerakannya agak lamban."


"Justru itu. Kelambanannya membuat Lady Piggy tak pernah diperhitungkan lawan. Bisa menyusup dengan santai dan diam-diam ke benteng lawan."


"Sidah pernah menang dengan pahlawan Lady Piggy?"


"Beberapa kali." jawab Doni dengan nada bangga. "Kamu mau pakai pahlawan apa, Bos? Ninja Shisimaru?"


"Aku lagi mau pakai Gupta, spiderman dari India. Ini karakter pahlawan baru yang jarang diminati gamer."


Untuk latihan Faiz memang suka mencoba pahlawan-pahlawan universe war baru yang kurang disukai gamer. Sejenak ia mempelajari kemampuan dasar dan senjata apa yang dikuasai pahlawan pilihannya. Ini penting. Kata pepatah tak kenal maka tak sayang berlaku dalam semua hal dalam hidup ini, tak terkecuali dalam memilih pahlawan dalam game online.


_______

__ADS_1


Happy weekend⚘⚘⚘


Ngopi cantik yuk☕


__ADS_2