METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
NONTON TURNAMEN


__ADS_3

Sudah tiga minggu Faiz di rumah. Dia belum juga bosan berlama-lama berada di depan lcd computer dalam kamarnya. Jika tidak berlatih atau mengikuti pertandingan permainan daring yang belakangan dikategorikan sebagai bagian dari  E-Sport, Faiz bilang dirinya sedang menjelajah semesta metaverse. Entah apa maksudnya. Ritha tak pernah mengerti. Demi bisa menerka apa yang ada di kepala puteranya, Ritha bahkan mencari tahu banyak hal tentang semesta metaverse di internet. Hari-harinya kini banyak tersita untuk mencari tahu tentang perkembangan terbaru di dunia maya. Makin banyak informasi yang singgah dalam pikirannya Ritha justru semakin bingung. Menurutnya informasi di internet itu sudah terlalu banyak, rumit dan gaduh. Sulit menemukan informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk mencerna dan menguji kebenaran informasi yang diperolehnya dari internet, Ritha butuh banyak afirmasi media terpercaya dan analisa yang mendalam. Sungguh tidak mudah.


Papa bilang, setiap generasi memiliki sebuah budaya unik yang mencerminkan generasi mereka. Untuk memahami pemikiran anak, orang tua harus terlebih dulu memahami bagaimana dunianya. Jangan asal menghakimi anak bersalah. Bisa jadi, orang tua hanya belum memahami jalan pikirannya. Perbedaan pemikiran orang tua dan anaknya sering kali disebabkan oleh perbedaan pola pikir sebagai imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Itulah sebabnya Ritha merasa perlu mencari tahu dunia Faiz agar paham semesta metaverse macam apa yang ada di kepala anak itu. Kakek dan ayahnya menyebut anak itu visioner. Benarkah? Jangan-jangan Faiz hanya kebanyakan berkhayal.


Klik. Begitu membuka pencarian tentang metaverse, yang muncul adalah berita popular tentang Ghozali Everyday yang mendadak kaya karena berhasil menjual NFT berupa foto selfie pribadinya dari hari ke hari selama beberapa tahun. Setahu Ritha NFT merupakan suatu bentuk karya seni digital yang unik dan bersertifikasi. Mungkin semacam wadah digital untuk karya pada artis atau seniman. Sulit menentukan nilai sebuah karya seni. Hari ini bukan lagi lukisan maestro yang terkenal seperti Monalisa karya Leonardo Davinsi yang diminati orang kaya untuk dijadikan koleksi sekaligus investasi, tapi foto selfie mahasiswa biasa pun bisa terjual dengan nilai fantastis. Entah siapa kolektor yang mengagumi foto yang menurut Ritha biasa saja itu sebagai karya seni atau barang koleksi pribadi. Ritha menganggap itu fenomena aneh, sulit dicerna logikanya. Seni memang tak bisa dinilai dengan logika.


Hal lain yang membuatnya tak habis pikir adalah orang-orang di dunia maya menciptakan uang krypto atau bitcoin sebagai alat pembayaran. Kursnya bisa berubah-ubah berdasarkan permintaan pasar layaknya kurs dollar atau mata uang asing lainnya di transaksi forex (Foreign exchange). Apakah metaverse itu bentuk dunia bayangan? Apa saja yang ada di dalam dunia nyata mungkin akan diciptakan duplikatnya di dunia maya. Ataukah metaverse itu hanya dunia semu yang diciptakan bagi orang-orang yang putus asa di dunia nyata?


Argh… Pening. Ritha tak sanggup melanjutkan penelusurannya. Daripada tambah bingung lebih baik ia akhiri saja pencariannya. Tak ada guna menduga-duga. Ritha harus menjalankan strategi baru, cari tahu dengan mengamati sendiri apa yang dilakukan anaknya.


Diam-diam Ritha telah meminta teknisi kemanan rumah mengubah setting keamanan rumah dimana sidik jarinya diprogram mendapat akses untuk membuka dan menutup seluruh pintu di rumahnya, termasuk kamar Faiz. Tentu saja karena ia perlu mengawasi aktivitas anaknya yang bermasalah itu dari dekat. Benar-benar tak berjarak secara fisik agar tercipta kedekatan batin yang lebih erat lagi. Setidaknya Ritha masih percaya pada dunianya. Pelukan ibu di dunia nyata tak akan tergantikan dengan kenyamanan artifisial di dunia maya. Ritha yakin itu. Anaknya butuh lebih banyak perhatian dan kasih sayang.


Ceklek. Pintu kamar terbuka. Faiz menoleh dan menatapnya dengan tatapan tak senang. Privasinya pasti terganggu dengan kehadiran ibunya. Tapi anak itu tak bersuara. Ia masih fokus memandang layar lcd besar di depannya guna bekerja sama dengan timnya untuk memenangkan pertandingan itu.


“Bunda hanya mau nonton aja, Iz.” katanya pelan.


Faiz hanya melirik saja. Ekor matanya tetap memancarkan tatapan tak suka.


Ah... mungkin ia hanya belum terbiasa. Ritha menguatkan hati untuk tetap bersama anaknya.


Pertandingan perang-perangan. Sebuah permainan yang sama dengan yang dilihat Ritha di kamar asrama beberapa minggu yang lalu. Bom, senjata, peralatan perang, percikan darah, api, gedung hancur dan segala kekerasan perang tetap mendominasi situasi yang tercipta oleh hadirnya permainan itu. Benar-benar layaknya medan pertempuran. Namun sumpah serapah dan kata-kata kasar jarang terdengar lagi. Sebagai gantinya ada suara seseorang yang bertugas sebagai pemimpin yang mengatur strategi perang dan mengarahkan pemain bertindak sesuai situasi. Mungkin di dunia nyata orang itu adalah jenderal militer. Jika benar analoginya begitu, Ritha jadi penasaran apa posisi Faiz dalam tim itu? Panglima angkatan laut, darat atau udara? Kalau dianalogikan sebagai perang bharatayudha, apakah posisi Faiz sebagai pahlawan petarung gada seperti Bima, pemanah ulung seperti Arjuna atau pemain pedang hebat seperti Nakula Sadewa? Ritha sibuk bertanya-tanya dalam hati mengenai peran anaknya dalam tim perang itu.


Dentuman bom, suara senjata, dan teriakan orang yang memekik kesakitan tetap terdengar memilukan buat Ritha yang tidak suka berada dalam situasi hiruk pikuk perang. Hatinya teriris. Ritha suka dunia yang damai. Namun demi Faiz Ritha tetap memaksakan diri berada di kamar itu. Perlu hati yang kuat buat mendampingi aktivitas puteranya dan cari tahu apa sebenarnya yang diinginkan Faiz dengan konsep metaverse yang didengung- dengungkannya sebagai alasan mengabaikan sekolah. Mungkin telinga dan perasaannya lama-lama akan kebal mendengarkan suara-suara itu. Anggap saja ini latihan mental kalau tiba-tiba ia harus berada dalam situasi perang, setidaknya itu telah siap mental. Menyakitkan namun harus dijalani.


Ritha mencoba menyesuaikan diri. Caranya adalah dengan membayangkan dirinya sebagai relawan palang merah yang membantu para korban perang itu. Peran itu yang paling cocok buatnya ketika berada di medan perang. Ia sadar selamanya tak mungkin jadi pahlawan sebab tak memiliki naluri membunuh. Hatinya lembut penuh rasa kasih. Cukup jadi relawan palang merah saja yang membantu siapapun yang terluka tanpa memandang dari kubu mana.

__ADS_1


Kasur Faiz yang didudukinya sebenarnya empuk tapi tak nyaman. Tidurpun tak lagi santai. Apalagi sebabnya kalau bukan hatinya yang resah atas ulah anak remaja tanggung yang sangat keras kepala itu. Ritha merasa sebagai ibu harus memastikan anaknya berada di jalan yang benar. Setiap ibu pasti akan berpikir sepertinya dan rela melakukan hal yang tak disukainya demi anak.


Satu jam berlalu, pertandingan usai dengan kemenangan dipihak tim Faiz.


“Celebration, please!” teriak sang jenderal yang entah bagaimana rupanya.


“We are the champion.” Semua anggota tim kompak menyerukan kalimat yang sama. Tak terkecuali Faiz.


Satu pekikan datar turut diucapkan Faiz sebelum membuka headset khususnya yang canggih. Headset itu memiki speaker dengan getaran lembut dan fasilitas kaca mata tiga dimensi yang canggih. Ritha pernah menggunakan headset serupa untuk nonton film. Dengan penampakan gambar multi dimensi dan speaker aktif yang sensitif terhadap aneka bunyi, penonton film merasa berada dalam suasana dan tempat sang tokoh berada. Benar-benar tampak nyata.


“Sudah selesai pertandingannya?”


“Sudah.”


“Menang?”


“Besok pertandingan lagi?”


“Ya. Faiz kan sudah bilang kalau turnamennya sebulan penuh.”


Ritha menelan salivanya. Haruskah ia mendampingi anaknya terus selama sebulan penuh dengan cara seperti ini? Jika ya, apakah ia mampu?


“Bunda kenapa masuk kamar Faiz?”


“Mau ikut nonton turnamen. Turnamen kamu itu ada yang nonton nggak sih.”

__ADS_1


“Banyak yang nonton, Bun. Bunda kalau mau nonton tinggal lihat streamingnya di website war universe legend jam 3 sore. Siaran ulangnya jam 10 malam.”


“Banyak mana dengan penonton turnamen sepak bola?”


“Sama banyaknya. Bahkan mungkin lebih banyak.”


“Kamu berasa jadi setara bintang sepak bola dunia seperti CR 7 dong.”


Faiz tersenyum bangga tanpa sepatah kata.


Mungkin itu yang membuatnya mengutamakan permainan daring daripada sekolah. Dengan posisinya sekarang sebagai pemain professional termuda, dia pasti punya kebanggan tersendiri. Apalagi banyak fans mengelu-elukannya. Tak terhitung berapa kali Ritha mendengar dukungan supporter yang mengelu-elukan Nama bekennya “Baby F”


“Dapat hadiah apa kalau menang turnamen itu?”


“Piala dan uang.”


“Pialanya berbentuk NFT?”


Faiz mengangguk membenarkan. Piala kok cuma gambar virtual yang nggak bisa dipegang. Ritha masih saja heran kenapa konsep NFT bisa melekat pada anak-anak generasi sekarang. Dunia mereka hanya sebatas informasi, semu belaka.


“Uangnya berbentuk bitcoin atau krypto?”


Lagi-lagi anak itu mengangguk.


“Apa untungnya punya uang krypto? Kamu bisa beli makan pakai krypto? Bisa beli baju, rumah atau kendaraan juga?”

__ADS_1


“Bisa, Bun.”


__ADS_2