
Insiden pelukan diantara pelik selesai saat arus sungai mulai bersahabat. Pada etape terakhir pengarungan arus sungai tak lagi deras. Tak terlihat ada batu-batu besar yang menghalangi laju air mengalir. Mereka telah jauh mengikuti arus sungai hampir sampai muara sungai di kawasan pantai Palabuhan Ratu. Perarungan berhenti di sebuah dermaga buatan yang letaknya sangat jauh dari vila yang telah ditetapkan sebagai tempat akomodasi mereka malam ini. Tak mungkin kembali dengan jalan kaki. Namun pihak provider telah menyediakan transportasi gratis untuk kembali ke vila, sebab itu merupakan bagian dari paket wisata arung jeram.
Lelah. Badan terasa pegal. Namun hati terasa plong meski suara jadi serak karena lebih dari 4 jam perarungan mereka tak hentinya berteriak-teriak dan tertawa lepas. Pak Cecep sebenarnya telah mempersilakan mereka menikmati makan siang yang telah disediakan penyelenggara, tapi Faiz minta waktu rombongan untuk berkumpul terlebih dulu. Doni dan Rio sudah menduga Faiz akan marah setelah mereka sampai di daratan. Sejak etape terakhir raut wajahnya memancarkan rona merah padam sebagai efek dari percampuran antara kulit yang terbakar terik matahari dengan kemarahan yang terpendam.
“Kalian berdua harus dihukum.” Faiz menuding Rio dan Doni dengan jari telunjuknya.
Kedua remaja yang dituding menatap sepatunya yang basah. Tak berani bersitatap dengan mata elang berwarna biru menyala. Sinarnya bisa menusuk tajam sampai menembus jantung.
Dihukum? Anggota rombongan Amar semua bertanya-tanya. Mereka tak mengerti mengapa harus ada yang dihukum setelah bersama-sama terlihat sebagai satu tim solid menyelesaikan kegiatan arung jeram tanpa cedera. Padahal kulit mereka sudah keriput. Bibir membiru. Perut mereka sudah keroncongan. Cacing-cacing perut mengamuk minta asupan makanan disegerakan. Harusnya mereka makan siang karena waktu sudah menunjukan hampir pukul 2 siang.
“Ada apa, Kak?” tanya Amar dengan raut tenang menepuk pundak kakak sepupunya.
“Dua cecunguk itu modus, ngambil kesempatan buat menyentuh dan memeluk perempuan yang bukan muhrim. Menurut kamu hukuman apa yang pantas buat mereka, Mar?”
Amar memandang Rio dan Doni dengan tatapan sama tajamnya. Raut wajahnya masih tenang.
“Maaf, kami tidak bermaksud begitu. Tadi itu refleks karena kami ingin menolong.” Rio dan Doni kompak membela diri dengan alasan yang sama. Faiz lebay. Pelukan di saat pelik itu biasa, bukan termasuk hal yang amoral. Kenapa harus dihukum?
“Tidak. Mereka memang sengaja memanfaatkan momen ketakutan perempuan.”
“Nggak benar itu. Kami hanya berusaha melindungi perempuan.”
Faiz melipat tangannya di dada. Dagunya sedikit mendongak. Bibirnya mencibir. Sinar mata birunya seperti api yang berkilat.
__ADS_1
“Apa perempuan di tim kamu dilindungi dengan cara dipeluk-peluk, Mar?” Faiz sengaja melemparkan pertanyaan pada Amar yang lebih ketat dalam urusan penerapan syariat agama.
“Tidak.” jawab Amar pasti.
Faiz mengalihkan pandangannya pada Rio dan Doni dengan tatapan yang setajam belati. Begitu mata bertemu mata, sinar mata itu langsung menusuk menembus jantung hingga terasa akan berhenti berdetak. Doni memegang dada kirinya. Rasanya sakit seperti ada luka dalam.
“Kikan dan Hani perempuan yang berani, kuat dan terlatih. Mereka tim pencinta alam, jadi sudah terbiasa menghadapi ganasnya alam. Berbeda dengan Fathia dan Biru.” Rio masih tak mau kalah membela diri.
"Oh maksudnya kamu mau bilang, yang salah adalah bibi dan sepupuku? Iya?" bentak Faiz dengan seringai wajah serius.
"Bukan begitu. A_"
“Nggak ada alasan." potong Faiz tegas. Ia tak mau memberi kesempatan Rio bicara lagi.
"Tim berikutnya, formatur harus diganti supaya perempuan lebih diutamakan melindungi perempuan lainnya. Bi Biru ikut rombongan kamu, Mar. Hani ikut rombongan tim kami. Kalian boleh berpelukan untuk melindungi sesama perempuan jika memang dibutuhkan.” putus Faiz yang sepertinya menerima alasan Rio yang membedakan perlakuan berdasarkan karakter dan kemampuan anggota tim mereka.
Doni hampir mengembangkan senyum. Dikira masalah sudah selesai. Ternyata belum. Faiz kembali membentak, “Kalian berdua tetap harus dihukum.”
Doni pun spontan menarik gerakan senyumnya jadi raut kecewa. Ia mengurut dada dan menarik nafas panjang guna mendukung keputusan untuk terima saja hukuman dengan lapang hati. “Kami minta maaf dan berjanji tak akan mengulangi lagi." akunya dengan berani.
"Kami berdua sudah minta maaf tadi, Iz. Biru dan Fathia nggak marah. Mereka berdua mengerti dan memaafkan kami. Tadi itu benar-benar spontan. Kami nggak ada maksud buruk sedikitpun.” jelas Rio.
Kenapa sih Rio masih saja cari alasan pembenaran dirinya. Padahal mengaku, minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi itu mudah. Jangan diperpanjang lagi lah masalah ini biar cepat selesai dan semua bisa mengisi perut dengan lahap. Ini sudah waktunya makan. Faiz mungkin malah lebih marah kalau ia terus mencari pembenaran. Bagaimana pun dia bos, apapun yang dikatakan bos adalah benar.
__ADS_1
Doni menyikut perut Rio dan memberi isyarat dengan matanya agar Rio tak bicara lagi.
“Maaf, Bos. Kami khilaf. Ke depan kami akan memperbaiki diri agar tidak terjadi lagi kasus yang sama.” Doni memilih untuk mengaku salah dengan menggunakan kata kami biar cepat selesai urusannya. Cacing di perutnya sudah menggeliat.
“Mar, silakan kamu kasih hukuman yang kira-kira pantas buat mereka. Yang lain boleh lanjut makan ke resto. Tidak ada kesempatan buat yang mau membela mereka berdua. Dua makhluk ini harus dihukum karena telah merusak kebahagiaanku.”
Faiz berjalan angkuh menuju resto sunda yang ternyata dimiliki oleh provider arung jeram yang sama. Mereka boleh memilih makanan prasmanan apa saja. Gratis. Karena harganya sudah termasuk dalam paket yang telah dipilih dan dibayarkan. All you can eat ala sundanese.
Doni dan Rio pasrah. Dua orang yang disegani di sekolah mendadak tak bisa berkutik menghadapi si mata biru. Mau bagaimana lagi? Kekuasaan dan uang di atas segalanya. Keduanya hanya bisa berharap Amar yang baik hati meringankan hukuman mereka agar mereka cepat dapat mengisi perut dengan makanan yang lezat setelah lelah berjibaku dengan arus air sungai yang deras. Laparnya tak tertahankan.
"Hukumannya jangan berat-berat ya, Mar. Tadi itu bukan modus. Sumpah. Kami nggak sengaja, hanya gerakan spontan dengan maksud melindungi. Buat kami pelukan seperti itu bukan sesuatu tindakan yang amoral."
Amar membuang nafas pelan. Ia tahu prinsip kedua teman bibinya itu memang berbeda. Tapi tak ada dispensasi hukuman, sebab tindakan mereka telah terlanjur mengurangi kebahagiaan Faiz hari ini. "Hukumannya, nanti malam kalian harus menyiapkan api unggun dan barbeque. Jangan lupa menulis seribu kata maaf dalam berbagai bahasa lalu serahkan pada kami tulisan itu sebelum ayam jantan berkokok besok pagi. Jika terlambat, terpaksa kalian harus pulang kembali ke Jakarta.
Hah? Hukuman macam apa itu? Kedengarannya itu ringan seperti hukuman anak SD tapi kenyataannya itu berat. Sama beratnya dengan dibebani 5 karung beras sekaligus di punggung.
Maaf. Sorry. Appologize. Sillyehabnida. Hapunten. Nyuwun pangapunten. Sumimasen. Ampura, Agung ampure. Meuah. Meuampon. Afwan. Midispiace. Gomen'nasai. Es tut mir leid. Pasensya na po, dan seterusnya. Bagi yang kasihan sama hukumannya Doni dan Rio silahkan lanjutkan lagi kata maaf dalam 1000 bahasa.
________
Selamat berkarya
Sehat, bahagia dan sejahtera selalu⚘⚘⚘
__ADS_1
Terima kasih atas apresiasinya