METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
APA YANG SALAH?


__ADS_3

Di kelasnya yang baru, Biru harus menyesuaikan diri lagi sebab sebagian besar teman tidak sekelas dengannya di kelas 10. Untunglah ada Kikan yang menawarkan diri duduk di bangku sebelahnya di bagian tengah ruangan kelas, tempat favoritnya. Kayla yang sekarang berpenampilan glowing duduk di belakangnya, duduk bersama Bianca. Keduanya tampak akrab, agaknya mereka sudah bergabung dalam klub yang sama. Klub Flamboyan yang anggotanya selalu narsis update kegiatan kumpul-kumpul dan pamer barang-barang mewah dalam tiap fotonya di media sosial meta.


“Followernya udah mulai banyak, Bi. Makanya jadi agak-agak sombong gitu.” cibir Kikan yang memang tak pernah suka dengan keberadaan Kayla. Bahkan Kikan berniat pindah saat tahu Kayla dan Bianca memilih duduk di belakang bangku mereka.


Biru membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Memang gaya Kayla sudah berubah drastis. Selain wajahnya yang glowing, seragamnya yang baru dan tatanan rambutnya yang modis juga merubah penampilan seorang Kayla. Tas ranselnya juga merek ternama.


“Kamu turun grade juga, Bi?” Kayla bertanya sinis saat mereka berdua bersitatap tadi.


“Iya.” Biru menjawabnya dengan malas.


Kayla membalasnya dengan senyum canggung. Ia langsung duduk di bangku yang berada tepat di belakangnya dan tidak berkata-kata lagi setelah itu.


“Sekarang kelas unggulan didominasi cowok. Heran deh. Kenapa cowok jadi lebih pintar setelah masuk SMU ya?”


“Kata siapa?”


“Ya kata akulah. Buktinya sekarang di kelas unggulan lebih banyak cowoknya. Dari 40 siswa, ceweknya cuma 9 orang. Kelas kita lebih banyak ceweknya. Nggak asyik.” Kikan menggerutu setelah tahu kelasnya didominasi siswi perempuan. Kikan memang anak pecinta alam yang lebih suka melakukan aktivitas fisik dan bergaul dengan cowok. Dia paling tidak suka cewek yang menye-menye.


“Makanya kita harus berusaha keras supaya masuk kelas unggulan tahun depan.”


Kikan menggeleng dan menghela tangannya. “Kita nikmati hidup aja, Bi. Nggak usah terlalu ngoyo. Kita bikin geng cewek sendiri aja yang anggotanya cewek kuat, bukan yang menye-menye dan narsis. Aku sudah janjian ketemuan di kantin dengan Hani jam istirahat nanti. Kamu ikut nggak? Makan bekalmu di kantin aja, Bi.”


Biru mengangguk. Mungkin harus punya trik khusus agar ia bisa punya lebih banyak teman. Tidak makan siang sendirian dalam kelas. Terus terang Biru iri melihat keponakannya langsung punya banyak teman dan fans di hari pertamanya masuk sekolah. Personal brandingnya gila. Apalagi sekarang ada Doni yang pasti akan berperan besar membuatnya semakin bersinar. Selalu bikin Biru kesal dan makin merasa rendah diri. Kenapa ia tak bisa dipuja banyak orang seperti Faiz?


Berjalan menuju kantin yang ramai, Biru melihat dari kejauhan meja-meja kantin telah dipenuhi oleh rombongan kelas 11-1 yang bersuka ria. Ia melirik Faiz yang tetap membawa kotak makan yang ia yakini isinya sama dengan kotak makan siangnya. Biru tersenyum. Nasibnya sama, harus makan sehat sesuai dengan peraturan keluarga kakaknya dimana semua anggota keluarga harus membawa bekal makan siang yang sudah ditentukan takaran dan gizinya oleh koki keluarga yang juga ahli gizi. Bukan hanya Biru dan anak-anak, aturan berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Kak Ritha dan kak Satya juga membawa bekal makan siang ke kantor.


“Silakan makan dan minum sesukanya sepuasnya. Hari ini bos Faiz yang akan traktir kalian semua.” seru Doni dengan suara lantang.


“Wow.” Semua siswa yang berada di kantin takjub. Sebagian langsung pesan makanan termahal yang diinginkannya tapi tak mampu dibeli karena uang sakunya tak cukup. Sebagian memilih berterima kasih dulu sebelum memesan makanannya. Tapi semuanya terlihat bahagia.


Biru langsung melirik keponakannya. Anak bermata biru itu tersenyum angkuh di samping Doni dengan memegang kotak makan siangnya.


“Kalian jangan pikir bos Faiz pelit ya. Bos Faiz tidak bisa makan sembarangan. Dia tetap makan makanan sehat yang dimasak khusus koki rumahnya untuk menghindari iritasi perut. Hahahaha.” Doni terus saja mempromosikan bos barunya. Cari mukanya ketara sekali. Biru jadi benci. Bahaya juga kalau Faiz terpengaruh dan dimanfaatkan Doni.


Sumpah Doni melakukan personal branding yang gila buat Faiz. Bombastis. Apasih tujuannya? Mendapat lebih banyak simpati teman? Ingin menunjukan bahwa dia kaya? Terlalu berlebihan. Sombong. Biru ingin memperingatkan keponakannya tapi tak sampai hati dan ia pikir ini bukan waktu yang tepat.


“Anak kelas lain juga ditraktir kan, Don?” Kikan bertanya dengan suara keras.


“Semua akan ditraktir. Semua siswa sekolah kita harus bahagia hari ini.”

__ADS_1


Kikan tersenyum. Sebagaimana siswa lainnya, Kikan ikut gembira dengan adanya makan siang gratis hari ini. “Kamu mau aku pesankan minuman apa, Bi? Aku mau pesan Ramen seafood dan jus jeruk.”


“Sama, jus jeruk aja.” Biru menyahut dengan malas. Ia membiarkan Kikan pergi meninggalkannya di meja kantin bersama Hani dan Yurika yang telah bersiap dengan semangkuk Japchae dengan warna merah merona dan jus jeruk dingin yang gelasnya berembun.


Air liur Biru hampir menetes melihat makanan yang tersaji di depan Hani dan Yurika. Kelihatannya enak banget. Semangkuk mie putih yang dimasak ala korea dengan modifikasi lebih banyak cabai. Biru sadar makanan itu mungkin tidak sehat, tapi terlihat begitu menggiurkan. Kantin selalu membuatnya goyah. Bagaimana mungkin ia tetap makan makanan bekalnya sementara yang disajikan di meja kantin adalah makanan hangat yang lebih ngetrend di kalangan anak muda dan menggiurkan.


Biru makan bekal makan siangnya dengan gelisah. Untunglah ia datang di waktu yang tepat. Dalam sekejap setelah pengumuman itu meja kantin telah dipenuhi oleh siswa-siswa yang bergembira bisa jajan gratis. Sebagian memesan makanan lalu membawanya ke tempat lain sebab penuhnya meja kantin. Tak sampai 30 menit, semua dagangan bapak dan ibu kantin ludes tak bersisa. Banyak siswa berterima kasih dan mengelu-elukan Faiz dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Anak itu membalasnya dengan senyum dingin yang membuat kekesalan Biru bertambah-tambah. Bekal makan siangnya terasa hambar. Maunya malah menggigit dan menelan keponakannya yang sombong itu hidup-hidup.


“Bi, nanti sore boleh nggak aku main di rumah kamu?” tanya Yurika. Biru sudah tahu, niat Yurika pasti supaya selangkah lebih terdepan untuk mendekati keponakannya.


Biru tak menjawab.


“Kamu nggak pergi ke mana-mana kan?”


“Enggak.” Biru menjawab dengan malas. Entahlah. Hari ini emosinya turun drastis. Ada saja yang membuatnya semakin kecewa dan marah.


“Gimana sih caranya deketin Faiz? Boleh nggak nemenin dia main game?”


“Nggak bisa, Yur. Faiz main game di kamarnya. Aksesnya dibatasi. Aku tantenya saja nggak bisa masuk ke kamarnya.”


“Biasanya dia kalau sore ngapain, Bi?”


“Nggak pernah hang out?”


“Nggak. Hidupnya hanya untuk main game dan menyelesaikan proyek metaversenya. Nggak ada yang berani mengganggunya kalau dia sedang fokus mengerjakan sesuatu.”


“Ya ampun, cool banget ya Faiz.” Mata Yurika selalu berbinar-binar bila menyebut nama keponakannya. Biru makin sebal melihatnya.


Yurika langsung mengapit lengannya dengan manja. Hani dan Kikan melihatnya tersenyum, mungkin merasakan sama jijiknya melihat kelakuan Yurika yang berlebihan mengagumi keponakan Biru itu. Belum tahu sifat buruknya sudah terpesona terlalu dalam.


“Bi, bantu aku dong! Gimana caranya supaya aku bisa dekat dengan keponakan kamu?”


“Tanya tuh sama Kikan dan Hani. Dia nggak mau dekat dengan cewek.”


“Benar, Ki? Apa dia punya kelainan? Hombreng?”


Tak sengaja Biru spontan memukul Yurika dengan sikutnya hingga gadis Manado berkulit putih bak pualam itu mengaduh. Biarpun kesal dengan keponakannya, ia tak suka keponakannya dibilang hombreng. Seenaknya aja Yurika ngomong begitu.


"Jaga mulut kamu ya!" gertaknya galak. Matanya yang memerah menatap tajam mata Yurika yang tampak kebingungan melihat reaksi Biru.

__ADS_1


Tanpa meminta maaf, Biru meninggalkan meja menghampiri Faiz yang sedang bercengkrama dengan para cowok kelas 11-11. Ia tak bisa lagi menahan marahnya. Jantungnya berdetak tak beraturan. Nafas saja sulit.


“Iz, aku mau ngomong sama kamu.”


“Nanti aja di rumah, Bi.”


“Aku mau ngomong sekarang.”


“kayak kebelet pipis aja harus sekarang. Ada apa sih, Bi?”


Bukan kebelet pipis, tapi lapar ingin makan daging kamu. Hiy. Biru merapatkan giginya dengan geram.


Biru menyeretnya menjauh dari teman-temannya. Ia marah namun Faiz menanggapinya dengan sikap santai dan dingin. Sama sekali tak merasa kalau ada yang salah dengan dirinya.


“Apa maksudnya kamu nraktir semua orang hari ini? Mau nunjukin kalau kamu anak orang kaya? Sombong!”


Faiz tersenyum tipis dan bicara dengan nada yang datar. “Emangnya salah nraktir orang dengan uangku sendiri?”


Ya, tidak ada salahnya sih.


“Emang salah jika aku mau melihat mereka semua gembira?”


Tidak. Tidak ada yang salah dengan niatmu. Tapi kamu sombong, Faiz. Kamu itu menyebalkan.


“Ini hari pertama aku masuk sekolah, Bi. Aku mau melihat mereka semua bahagia.”


“Halah, tujuan kamu pasti demi pamor di sekolah.”


Faiz tertawa hambar. “Memang salah kalau punya pamor di sekolah?” tantangnya.


Tidak.


“Bibi ini kenapa sih? Aku makan bekal makan siang yang disiapkan bunda kok. Apa yang salah?”


Dia salah apa ya? Akh, Biru jadi bingung dengan perasaannya. Tidak ada yang dirugikan dengan tindakan Faiz. Teman-teman bahagia. Bapak dan Ibu kantin bahagia dagangannya laris dan bisa menutup kantin lebih cepat. Apa yang salah ya?


 _______________


Menurut reader apa yang salah ya?😁

__ADS_1


__ADS_2