METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
OBROLAN KAYLA


__ADS_3

Berteman dekat dengan seseorang yang cukup terkenal di sekolah ternyata tidak semenyenangkan dalam bayangan Biru. Ada saja pandangan tak suka yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tidak di kelas. Tidak pula di luar kelas. Ada saja yang menatapnya dengan raut tak suka. Padahal ia sudah berusaha bersahabat dengan semua teman yang dikenalnya.


“Banyak yang ngomongin kamu sama kak Rio, Bi. Kalian pacaran?” tanya Kayla saat mereka makan bekal bersama di kelas pada jam istirahat.


Biru tak menyahut. Ia menyodorkan sekotak lauk untuk Kayla. Wow. Hari itu menunya woku cakalang, sambal dabu-dabu dan anggur sebagai pencuci mulut. Produksi air liur Kayla mendadak berlimpah sampai hampir tumpah-tumpah.


“Terima kasih, Bi. Kamu bener nggak dimarahin kakak kamu tiap hari bawa bekal dobel begini?”


“Enggak lah. Aku bosan dengar pertanyaan kamu yang itu-itu melulu, Kay. Masak sih tiap hari aku harus bilang kalau kak Ritha justru senang kalau aku berbagi dengan teman baikku.” Biru menjawab dengan diiringi senyum tipis. Sedikit kesal. Hampir tiap hari Kayla menanyakan hal yang sama. Padahal soal makanan itu kan masalah sepele yang tak harus dipersoalkan. Tinggal santap aja. Beres.


Aroma woku yang menguar begitu menggairahkan. Keduanya makan dengan lahap. Sesekali saling tatap dan memuji makanan yang mereka makan dengan acungan jempol dan ekspresi puas. Wangi dan enaknya masakan khas Minahasa itu memang istimewa. Tak sampai 5 menit bekal makanan mereka ludes tak bersisa.


“Bi, kamu risih nggak sih diomongin dan dijutekin banyak orang?”


“Risih.” Biru menyahut dengan kalimat pendek sambil menikmati anggur hijau yang rasanya manis menyegarkan.


“Kamu jadi pusat perhatian lo di sekolah gara-gara dekat dengan kak Rio.”


“Terus aku harus gimana, Kay?”


“Ya nggak harus gimana-gimana sih. Hak kamu juga mau dekat dengan siapapun.”


Biru mengacungkan jempolnya. Biru tidak mau membuat sesuatu yang sepele menjadi rumit karena perbedaan pandangan orang.


“Tapi benar kalian udah pacaran?”


“Belum. Temenan aja.”


“Dony kelihatannya naksir kamu juga. Dia kelihatan nggak suka kalau kamu dekat-dekat dengan kak Rio.”


“Biarin ajalah, Kay. Kamu nggak usah baper mikirin mereka. Tugas kita di sekolah itu belajar, bukan buat mikirin yang lain.”


Kayla mengangguk. Sikap cuek biru sebenarnya membuatnya khawatir. Entahlah. Biru seperti tak peduli pada pergaulan barunya di sekolah. Anak itu lugu dan baik


Ia meminta tisue Biru untuk membersihkan sisa bumbu kuning yang masih melekat pada kotak makan Biru dan mengumpulkan duri cakalang dalam kantong plastik untuk dibuang ke tempat sampah. Ia cukup tahu diri. Harus apik menjaga barang milik teman baik yang tiap hari memberinya makan enak yang jarang sekali bisa dikecapnya selama ini.


“Ini hari terakhir aku bekerja sebagai penjaga toko di pasar rumput, Bi.”


Biru menatap wajah sedih Kayla tanpa bisa bicara apapun.


“Pemilik tokonya bangkrut, nggak kuat lagi bayar sewa toko. Emang sih makin ke sini penjualan barang di pasar tradisional makin sedikit. Pengunjungnya juga jarang. Mungkin orang lebih suka belanja online.”

__ADS_1


“Dia mau alih profesi jadi petani di kampungnya.” lanjut Kayla.


“Tapi kamu masih bisa sekolah kan?”


Kayla tak menjawab.


Hati Biru seperti teriris. Dia tahu kalau Kayla membiayai hidupnya sendiri dari penghasilannya sebagai penjaga toko paruh waktu. “Nanti aku coba tanya kakakku apa ada pekerjaan part-time buat kamu. Kalau kamu butuh sesuatu


jangan sungkan ngomong sama aku. Insya Allah aku bantu semampuku.”


Kayla tertunduk lesu. Tak enak hati selalu merepotkan teman barunya. Tapi yah... pada siapa lagi ia bisa menceritakan curahan hatinya selain Biru. Teman lain paling cuma pura-pura miris mengetahui nasibnya. Sulit rasanya percaya pada orang lain. Pengalaman sudah membuktikan mengeluh kepada teman itu tak berguna tapi malah bikin sakit hati. Bukannya membantu atau menenangkan hati, malah menjelek-jelekan dirinya pada teman lain di belakangnya.


“Aku sudah ditawarin pekerjaan baru oleh teman mamaku. Katanya penghasilannya lumayan. Besok aku sudah mulai training.”


“Pekerjaan apa?”


“Katanya sih jadi terapis.”


“Terapis?”


“Ya. Nama kerennya begitu tapi kerjaannya sama aja dengan tukang pijat. Katanya kerjanya di tempat Spa. Orang yang datang ke sana akan dipijat, lulur, dan mandi air hangat.”


Biru mengangguk-angguk. Ia juga pernah ikut spa di salon muslimah mengantar kak Ritha dan eyang Dewi. Spa itu adalah tempat orang untuk memanjakan diri. Emang enak. Badan akan jadi lebih segar dan harum begitu keluar dari tempat spa. Pikiran juga lebih rileks.


Kayla mengangguk. Ia tak yakin apakah spa tempat kerjanya nanti akan sama dengan spa yang dimaksud Biru. Kakak Biru berhijab juga. Pasti mereka hanya pergi ke salon spa khusus muslimah.


“Aku salut lo sama kamu bisa sekolah sambil kerja. Aku pikir tadinya aku anak paling tidak beruntung di dunia ini karena ayahku sudah meninggal saat aku lahir dan ibuku ninggalin aku begitu saja. Kenal sama kamu membuat aku bersyukur punya kakak yang baik dan kaya. Dari kecil aku dikasih makan enak, baju bagus dan tempat tinggal yang nyaman. Mereka juga perhatian dan baik sama aku. Nanti kalau kamu sudah betah kerja dan ada lowongan terapis part-time, kasih tahu aku ya. Aku juga mau belajar mandiri.”


“Nggak usah, Bi. Sekolah aja yang bener. Kamu bisa balas budi baik kakakmu kapanpun. Toh mereka juga nggak mengharap apa-apa dari kamu. Aku yakin mereka ingin kamu sukses. Belajar yang bener biar dapat pekerjaan bagus yang bikin mereka bangga.”


“Aku masih gamang, Kay. Nggak tahu mau jadi apa. Mungkin masa depanku hanya jadi ibu rumah tangga. Hahaha...” Biru menertawakan dirinya sendiri yang belum tahu cita-cita pastinya mau jadi apa. Belum kepikiran. Hidupnya hanya mengalir seperti air.


“Ibu rumah tangga juga nggak apa-apa asalkan suaminya mapan. Jangan kayak mamaku, nikah sama papa modal cinta doang. Padahal cinta itu absurd, bisa luntur dan hilang begitu saja seiring waktu. Akibatnya hidupku dan adik-adikku berantakan, Bi. Sudahlah hidup kami miskin, rumah sering dipenuhi makian dan pertengkaran. Udah kayak di neraka.”


Biru menepuk punggung Kayla. “Sabar ya, Kay. Kamu pasti kuat.”


“Aku iri sama hidupmu, Bi. Aku ingin jadi kamu.” ucap Kayla sendu.


“Aku malah iri sama ketegaran kamu, Kay.” balas Biru sembari tertawa. Semua orang punya sisi pedih masing-masing, namun kepedihan itu yang membentuk karakter manusia yang lebih kuat dan tegar.


Kayla terharu. Baru Biru seorang yang mengatakan iri padanya. Teman-teman yang lain biasa mencemooh dan merendahkannya karena dia miskin. Bahkan ia disisihkan dari pergaulan teman-temannya. Boro-boro ada uang buat nongkrong di kafe, nonton atau belanja di mall ternama, buat makan saja ia harus pontang-panting mencari pekerjaan paruh waktu yang hasilnya tak seberapa. Teman barunya sungguh baik hati. Sejak Biru masuk ke sekolah ini tiap hari ia bisa mencicipi makan enak dengan menu yang sama dengan yang dimakannya. Sebelumnya mana ada yang peduli dirinya. Meski meringis menahan lapar, Kayla hanya bisa menelan ludah saat mereka makan roti atau makanan pengganjal perut lainnya. Jarang sekali ada yang mau menawarkan makanannya untuk anak dekil seperti kayla, kecuali memang sedang ada kegiatan bakti sosial.

__ADS_1


“Kamu nggak pernah diajak nongki bareng Stefi atau siapa gitu, Bi?”


“Pernah.”


“Kamu tolak?”


“Aku terbiasa disiplin dengan peraturan pesantren, Kay. Sekarang aku membiasakan diri buat jadwal kegiatan mingguan buat laporan ke kakak iparku. Aku kan harus jadi anak yang bertanggung jawab sebagai wujud terima kasihku pada mereka. Lagipula dari kecil aku nggak biasa nongkrong, nonton atau belanja sama teman. Kalau mau nonton, biasanya sama keluarga. Kalau nggak sempat ya nonton sendiri di rumah. Semua kebutuhanku sudah dipenuhi oleh kakakku, jadi aku nggak perlu belanja.”


“Nggak pengen jalan-jalan cuci mata ke mall?”


“Sebulan sekali kakakku ngajak jalan ke mall beli baju yang aku suka. Bagiku itu cukup.”


Ya ampun Biru. Pemikiran kamu asyik banget, simple.


“Pulang sekolah nanti kamu ngapain?”


“Biasanya istirahat, latihan panah atau berenang. Sore nanti jadwalnya ikut kakakku nganterin keponakan yang perempuan latihan nari di sanggarnya eyang Dewi. Biasanya di sana aku cuma iseng ngambil video kegiatan mereka aja buat dokumentasi. Ditawarin latihan nari Jawa juga sih, tapi aku nggak tertarik. Naga-naganya nanti sore aku harus punya kegiatan lain supaya nggak iseng ya. Melihat latihan tari jawa itu membosankan.”


“Tadi kan Stefi ngajak kamu nongki di kafe Bulan. Kenapa nggak ikut aja?”


Biru kelihatan menimbang-nimbang.


“Enggak ah, Kay. Kata ustadzahku dulu, setiap waktu itu berguna jadi mesti cari kegiatan yang nilainya lebih positif dan menyenangkan. Nongki-nongki kan kerjaan orang iseng. Paling cuma makan, minum sama ngeghibahin orang doang. Mending belajar masak sama mbak Imah buat makan malam keluarga.”


Ting. Ada pesan di gawainya, yang isinya: Bi, nanti sore nonton pertandingan basket di GOR kuningan ya.


Biru langsung tersenyum. Kayaknya asyik juga nonton pertandingan basket. Daripada nonton Faiza latihan tari gambyong yang bikin matanya jadi ngantuk, melihat bola dipantul-pantul dengan gerak cepat pasti lebih menyenangkan bagi Biru. Segala hal yang bergerak cepat dan dinamis membuatnya lebih bersemangat. Biru langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang.


Biru tersenyum riang.


"Chat dari siapa?"


"Kak Rio. Ngajakin nonton pertandingan basket."


"Oh iya. Hari ini kan ada pertandingan babak penyisihan kedua antara sekolah kita lawan SMA 3."


"Kak Rio main?"


"Kayaknya enggak. Setahuku kak Rio itu masuk tim futsal, bukan tim basket. Mungkin ngajak kamu sama-sama jadi supporter aja, Bi."


Biru mengangguk. Nonton pertandingan olahraga lebih membuatnya bersemangat ketimbang nongkrong di kafe. Tahu aja deh kalau Biru suka olahraga.

__ADS_1


_________


many thanks😘


__ADS_2