
Tante Nisa dan Rosyid kembali ke pesantren dengan diantar pak Bunari membawa beberapa dus buku warisan dari om Ardi yang akan disumbangkan ke perpustakaan. Ruang kerja om Ardi nyaris kosong. Eyang Dewi telah meminta ijin untuk bermalam di rumah itu untuk yang terakhir kalinya pada pembeli yang secara hukum telah memiliki hak atas rumah itu sebab akta jual beli telah selesai ditandatangani semua pihak. Faiz berinisiatif menemani Fathia dan eyang Dewi yang katanya masih perlu membereskan beberapa berkas serta barang pribadi om Ardi yang mungkin masih tertinggal dan akan dibawa ke Jakarta.
Entah apa peninggalan om Ardi yang masih tertinggal. Motor trail dan koleksi jam yang pernah dilihat Faiz tahun lalu sudah raib. Brangkas yang berisi dokumen dan aset penting telah terlebih dulu diamankan sejak rumah
ini dikosongkan dari penghuni. Semua dokumen terkait asuransi, perbankan dan dokumen administrasi lain telah selesai diurus sebagaimana mestinya. Faiz pikir tak ada lagi peninggalan yang berharga di rumah ini. Eyang hanya ingin bernostalgia dengan kenangan almarhum anak semata wayangnya. Lepas dari semua itu, Faiz senang menemani eyang karena beliau suka bercerita dengan gaya bicaranya yang terlihat anggun, bermakna, dan menyenangkan layaknya perempuan bangsawan jawa.
“Rumah ini sudah dipasarkan setahun yang lalu, baru kali ini ada yang cocok. Pembelinya ternyata plant director baru di PT Cantika Bestari, Iz. Sebelumnya pak Safi bekerja di sebuah pabrik skin care di Surabaya. Katanya sudah merasa betah di Sukabumi, jadi berminat beli properti di sini."
“Jabatannya sama dengan jabatan terakhir om Ardi ya, Yang?”
“Iya."
"Om kamu itu keras kepala, ingin menunjukan bahwa ia mampu berprestasi bekerja di manapun tanpa unsur nepotisme. Padahal eyang lebih suka kalau om kamu membantu ayahmu membesarkan Goldlight. Sekarang pabrik itu malah jadi bagian dari Goldlight. Bundamu ternyata telah membeli 50% saham PT Cantika Bestari beberapa saat sebelum om kamu meninggal.”
DEG. Selama ini Faiz tak pernah tahu perkembangan bisnis keluarganya. Ia baru sedikit paham mengapa tante Nisa seolah menyalahkan ayahnya pada kasus kematian om Ardi. Ternyata PT Cantika Bestari sudah diakusisi
sebagian oleh Goldlight. Dengan kata lain, om Ardi pada akhir hidupnya sedikit banyak bekerja untuk Goldlight juga.
Tapi Faiz tak ingin sibuk menduga-duga. Lebih baik ia menggali informasi lebih banyak dari eyang Dewi tentang sisi lain kehidupan keluarganya. Rosyid memandang benci dirinya dan ayah pasti ada pemicunya.
“Apa om Ardi meninggal ada hubungannya dengan ayah atau pesaing bisnisnya?”
“Eyang nggak tahu. Om kamu tidak pernah bicara apa-apa sebelum kematiannya. Bahkan memberi firasatpun tidak. Kalau menurut penuturan pak Safi tadi, PT Cantika Bestari sempat hampir bangkrut sepeninggal om kamu dan
baru bangkit lagi beberapa bulan ini setelah ada intervensi ayah kamu dan manajemen Goldlight."
“Ayah?”
“Ya.”
“Jadi menurut eyang apakah tetap ada kaitan antara meninggalnya om Ardi dengan ayah?” Faiz bertanya lagi agar ia dapat jawaban yang lebih pasti
“Eyang nggak tahu.” Eyang Dewi tetap menjawab dengan kata yang sama.
__ADS_1
“Tapi kata tante Nisa, kakek dan ayah Fathia sama-sama meninggal, berkorban demi Goldlight dan keluarga Wirajaya Halim. Apa mungkin pemilik lama PT CB tidak suka Goldlight mengakusisi pabrik itu lalu membunuh om Ardi yang mungkin dianggap menjadi sebab Goldlight bisa mengakusisi perusahaan itu?” Faiz mencoba menebak-nebak sesuatu berdasarkan logikanya saja demi menggali informasi lebih banyak lagi dari sisi eyang Dewi.
“Eyang nggak tahu, Iz. Om kamu tidak pernah bercerita apapun. Semua selalu dibilang baik-baik saja. Tantemu salah paham, Nak. Om kamu meninggal sebelum saham diakusisi Goldlight, jadi meninggalnya om Ardi tak ada kaitannya dengan Goldlight. Eyang tegaskan sekali lagi, bundamu dan om Ardi awalnya membeli saham PT CB atas nama pribadi."
Faiz meringis. Baiklah. Satu kata kunci bisa disimpulkan, meninggalnya om Ardi tak ada kaitannya dengan berkorban untuk goldlight seperti yang didengungkan tante Nisa.
Eyang mengambil foto dan 2 vandel kecil milik om Ardi lalu memasukannya ke dalam kardus yang telah disiapkannya. Wajahnya masih tampak muram. Garis-garis di wajahnya makin tampak nyata. Meski bibirnya tersenyum bijak, garis-garis wajahnya tetap melukiskan kesedihan yang dalam.
“Eyang hanya tahu masalah ini versi ayah dan bundamu setelah eyang memaksanya bercerita. Beberapa bulan sebelum meninggal om kamu menawarkan ayahmu membeli saham PT CB karena saat itu perusahaan tidak punya dana segar untuk produksi akibat pemiliknya kalah di suatu kasus sengketa bisnis dengan perusahaan asing. Pada saat yang bersamaan anak pemiliknya juga terlibat kasus narkoba dan calon kepala daerah yang didukungnya dalam pilkada kalah. Intinya uang perusahaan banyak dipakai untuk kepentingan pribadi pemilik hingga mengganggu operasional pabrik. Tapi ayahmu waktu itu keberatan membelinya dengan alasan beda haluan dan tidak suka dengan pemilik lamanya."
Eyang beralih membuka laci meja kerja om Ardi yang selama ini terkunci. Beliau telah memanggil tukang kunci tadi siang agar membuatkan kunci serep karena kebetulan tak ada yang pernah tahu dimana letak kunci meja kerja yang terbuat dari kayu jati solid itu. Sampai saat ini dicari tak kunjung ketemu. Tidak di brankas. Tidak pula ada di tempat-tempat penyimpanan seperti di laci lemari, kantung baju, celana atau tempat lainnya.
“Belakangan ayahmu tahu kalau yang kemudian membeli saham perusahaan itu adalah bundamu. Menurut bunda alasan terbesar membeli saham PT CB adalah agar operasional perusahaan tetap dapat berjalan. Perusahaan butuh dana segar demi kelangsungan hidup ratusan buruh pabrik yang menyandarkan hidup sehari-hari dari gaji yang diperolehnya.”
“Bunda?”
“Ayah bundamu bertengkar hebat karena masalah itu.”
“Eyang melihat sendiri mereka bertengkar? Seperti apa?" Faiz penasaran.
Eyang Dewi menggeleng. "Orang tua kamu tak pernah bertengkar di muka umum, Iz. Sejak menikah, eyang selalu melihat mereka sebagai pasangan serasi yang saling dukung dalam segala hal."
“Tante Nisa juga nggak tahu?”
“Tak ada yang tahu urusan rumah tangga ayah bundamu. Mungkin pegawai atau asisten rumah tangga pun tak semuanya tahu. Eyang baru tahu setelah kepergian om kamu sebab eyang sempat berpikiran buruk pada ayahmu.”
“Apa ayah dan bunda sampai sekarang masih bertengkar soal itu?”
Eyang tersenyum, “Eyang pikir tidak. Tahun lalu ayahmu akhirnya mau membeli saham atas nama Goldlight dan intervensi ke dalam manajemen perusahaan PT CB.”
“Apa itu artinya ayah beli saham setelah bunda gagal?”
“Bundamu berpengalaman dan hebat dalam mendesain gedung dan mengelola manajemen proyek konstruksi, tapi tidak lihai mengelola perusahaan kosmetik."
__ADS_1
Hm. Spontan Faiz tersenyum sinis. Padahal bunda itu perempuan cantik kenapa tidak bisa mengurus usaha yang ada hubungannya dengan kecantikan. Malah suka bergaul dengan tukang dan mandor proyek yang tampangnya lusuh dan kulitnya terbakar matahari. Bunda lebih senang berada di dunia yang didominasi laki-laki. Heran.
“Ohya. Tadi eyang bilang sempat berpikiran buruk pada ayah. Kenapa?”
“Karena ayahmu sempat diinterogasi polisi beberapa hari. Tantemu bilang, sebelum pulang ke Sukabumi om kamu menerima telepon dari ayahmu yang marah dan mengancam akan membunuhnya."
Faiz melotot. Sampai segitunya ayah marah? Ada masalah besar apa sebenarnya diantara mereka sampai Faiz yang tak tahu apa-apa ikut kena imbas kebencian tante Nisa dan Rosyid. Kenapa ayah sampai semarah itu pada om Ardi? Dan sialnya pada hari yang sama om Ardi bertemu penembak misterius dan meregang nyawa karena kecelakaan itu. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Faiz. Besar sekali tanda tanya itu hingga terasa sangat berat membebani kepalanya.
“Apa sebabnya ayah semarah itu?”
“Cemburu karena bundamu membantu om Ardi diam-diam tanpa persetujuannya.”
“Jadi ayah marah sama bunda dan om Ardi? Mereka selingkuh?”
"Tidak. Bundamu tidak seperti itu, niatnya murni hanya menolong. Bunda yakin om Ardi bisa mengeloka PT Cantika Bestari dengan lebih baik apabila tidak diganggu kepentingan pribadi pemilik lama. Apalagi om Ardi suami adik kandungnya."
"Lagipula ayahmu hanya marah sesaat saja. Tidak benar-benar hendak membunuh om Ardi. Entah kenapa kebetulan peristiwa itu terjadi dan sampai saat ini belum ditemukan siapa sebenarnya penembak misterius itu serta apa motivasinya."
Menurut Faiz tidak ada yang kebetulan. Pasti ada orang yang berniat jahat dan menangkap momen ini sebagai waktu yang paling tepat mencelakai om Ardi agar tuduhan bakal dialamatkan ke ayah.
"Eyang percaya bukan ayah yang menyuruh penembak itu kan?"
Eyang Dewi menghapus butiran air di sudut matanya yang mulai keriput dengan selendang.
"Eyang percaya, pasti bukan ayahmu. Ayahmu seorang ksatria yang bertanggung jawab. Tidak mungkin melempar batu sembunyi tangan. Dia menghormati dan menyayangi eyang. Tidak mungkin sanggup membohongi eyang."
___________
Selamat membaca🙏
Maaf kalau feelnya belum dapet banget dan alurnya berjalan santai.
Terima kasih tetap setia mendukung Metaverse Biru ya💞🌻🌻🌻
__ADS_1