
Kebiasaan mukbang, minum kopi atau kongkow-kongkow itu bagi anak muda adalah suatu kelaziman yang menyenangkan. Dari masa ke masa warung kopi selalu jadi tempat pertukaran informasi informal. Kehadiran warung kopi tetap tak tergantikan sebagai media sosialisasi. Media sosial itu pergaulan palsu. Pergaulan asli tetap terjalin di warung kopi. Bentuk dan fungsi kedai kopi kini mengalami perkembangan menjadi lebih variatif. Sebelumnya kegiatan minum kopi telah dilakukan masyarakat tradisional di kedai-kedai sederhana di pinggir jalan yang khusus menjual kopi dan makanan tradisional atau kue-kue dan pastry. Kini kedai keberadaan kedai kopi dipadukan dengan tempat-tempat fungsional untuk relaksasi atau bekerja seperti taman wisata, work place, resto, outbound, dan tempat-tempat fungsional lain.
Sesampainya di kafe Lily Faiz dan saudara-saudaranya disambut oleh manajer kafe dan langsung diarahkan masuk ke area VVIP, sebuah area tertutup yang hanya bisa dibuka dengan access card. Area itu pemandangannya jempol, langsung menghadap taman, bukit dan lembah dimana terdengar gemericik air sungai yang oleh penyelenggara juga digunakan untuk aktivitas outbound dan river tubing.
Khusus kafe Lily Sukabumi, makanan yang disediakan selain kopi dan camilan adalah makanan lengkap ala resto tradisional sunda. Ada pepes ikan, tutug oncom, sayur asem, karedok, pesmol ikan, ase cabai, sate maranggi dan berbagai menu khas sunda lainnya. Mukbang kali ini Faiz sengaja memesan semua menu resto.
Faiz berjalan sampai pagar stainles yang berfungsi sebagai pembatas area VVIP yang tinggi dengan lembah di bawahnya. Matanya mulai menikmati pemandangan indah di sekitar. Di kejauhan tampak matahari mulai turun mendekati puncak bukit hijau di ufuk barat. Sementara di bawah terlihat taman bermain yang tertata apik dan sungai yang mengalir cukup deras. Ada beberapa orang yang berjalan menuruni tangga batu ke lembah untuk menikmati fasilitas arena bermain. Sebagian naik kembali ke area resto.
Beberapa orang yang sepertinya rombongan terakhir river tubing terlihat tengah bersiap-siap dengan baju pelampung dan ban. Mereka berjalan beriringan menyusuri aliran sungai. Ah, Faiz jadi ingin turun ikut main river tubing. Kelihatannya seru bermain dengan derasnya arus air di antara bebatuan besar dan hitam.
“Harusnya kita datang dari siang ya, Mar. Aku kangen river tubing sama-sama.”
“Nggak sekalian rafting di Citarik aja, Kak?” Amar malah menawarkan permainan yang lebih menantang. Arung jeram.
“Boleh juga. Masukan ke dalam daftar ittenary kegiatan kita!” ujar Faiz antusias.
Berbulan-bulan terlibat turnamen e-sport membuat Faiz merindukan kegiatan di alam. Metaverse? Bullshit. Dunia itu fana. Lebih mirip fatamorgana yang sengaja terprogram dalam coding bahasa komputer. Bunda benar, dunia nyata bisa memberikan kepuasan dan adrenalin lebih. Paling tidak aktivitas di dunia maya harus diimbangi dengan aktivitas di dunia nyata agar tubuh dan pikiran tetap sehat.
“Ittenary mah gampang. Tinggal ngomong sama bi Biru. Asalkan ada yang mau bayarin biayanya pasti dia setuju.”
“Berapa sih paket per-orangnya?”
“Tergantung jauhnya, Kak. Makin jauh biasanya makin mahal.”
“Ambil paket rafting yang paling jauh aja biar puas. Kalau bisa ngecamp sekalian dengan fasilitas VIP.”
“Paket lengkap dengan fasilitas penginapan, makan, snack dan vallet parking harganya sekitar 600 ribu sampai atau satu juta rupiah.”
“Nggak masalah. Kita kan masih dalam rangka merayakan kemenangan.” jawab Faiz enteng.
“Kakak yang bakal traktir semua?”
__ADS_1
Hem, Faiz mendehem dengan dagu sedikit terangkat.
Tak lama berselang setelah semua menu memenuhi meja, rombongan Biru muncul membuat heboh suasana. Kikan dan Hani yang bertampang lusuh agak sungkan masuk ke ruang VVIP yang fasilitasnya mewah. Berbeda dengan Rio dan Doni yang tampak percaya diri. Faiz menatap kedua cowok yang datang bersama rombongan Biru itu dengan lekat. Tajam seperti mata elang. Ia tak suka kedua cowok itu terlalu dekat dengan bibi dan sepupunya. Untuk itu ia mengatur tempat duduk dimana cowok berjajar di sisi kanan dan cewek duduk berhadapan di sisi kiri. Tentu saja ia cukup hanya berbisik pada Amar, maka anak itu dengan senang hati mengatur tempat duduk yang menurutnya lebih sesuai dengan ketentuan syariat yang menempatkan laki-laki dan perempuan terpisah. Walau sebenarnya masih salah juga sih, sebab mereka masih bisa lirik-lirikan.
Doni tak peduli tatapan tajam itu. Tanpa rasa bersalah, ia berebut agar dapat tempat duduk tepat di sebelah Faiz.
“Selamat ya, Iz. Aku nonton lo setiap streaming pertandingan kamu. Komentarku cuma satu kata, HEBAT.” ujar Doni dengan semangat dan suka cita. Ini adalah sebuah keberuntungan besar baginya, bertemu idola baru yang selama ini misterius dan tidak pernah mengadakan acara meet and great dengan para fansnya.
“Aku juga main universe war, tapi yah jarang menang. Kamu salah satu pemain pro idolaku. Selain kamu, aku suka permainan Boni, Jose, David dan Aurora. Beruntung banget lo aku bisa ketemu kamu di sini. Aku bawa special stick. Nanti tolong tandatangani ya.”
Faiz tak menjawab kecuali dengan senyum tipis.
“Kapan main lagi?”
“Nggak tahu.”
“Udah banyak yang nanyain tuh di medsosnya GGS dan akun kamu.”
“Maaf, aku nggak mau ngomongin game dulu, Don.”
“Nanti aku pikirin.”
“Jangan lama-lama mikirinnya. Nanti keburu bulukan.”
Faiz tak menanggapi lagi. Ia bukan tipe orang yang mudah percaya pada orang lain. Perlu diuji apakah Doni orang yang bisa diandalkan buat jadi asisten. Tanpa Amar, ia merasa tak punya orang lain yang bisa dipercaya dan diandalkan. Kalau dipikir-pikir lagi, ia memang butuh asisten buat mengelola media sosialnya yang saat ini hanya satu, yaitu Rony Fa. Ia sering dikecam sombong karena hampir tidak pernah merespon para fansnya. Kalau memang Doni bisa diandalkan dan dipercaya, kayaknya bagus juga kalau dia pegang admin media sosial. Bayarannya kan bisa dicari dari endors produk.
Sudah dibilang Faiz tidak mau membicarakan soal game, tapi Doni terus nyerocos mengemukakan pendapatnya tentang pertandingan-pertandingan Faiz.
“Aku pegang kamu lo di pertandingan final perseorangan. Kenapa sih kamu bisa kalah? Menurutku pasti ada yang nggak beres di sistem universe war karena tiba-tiba aja muncul tower maut di dekat kamu. Padahal sebelumnya nggak ada. Aku
yakin betul nggak ada. Teman-temanku juga melihat kejanggalan yang sama. Banyak yang komplain universe war nggak sportif.”
__ADS_1
Dalam hati Faiz berkata, itu pasti kerjaan hacker yang dibayar oleh bandar judi yang menginginkan Baby F kalah. Doni benar. Tower maut itu seperti siluman yang tiba-tiba muncul. Itu tidak sesuai dengan aturan main di universe war.
Lepas dari perdebatan tentang kemunculan tower maut siluman, Faiz merasa kurang sigap mengambil langkah taktis. Hokinya juga sedang kurang bagus. Karena alasan itulah ia akhirnya menerima kekalahannya dengan lapang hati. Tapi ternyata tidak demikian dengan para fans fanatiknya. Banyak fans yang membelanya, protes dan tak terima dengan kekalahan itu. Terutama mereka yang ikut bertaruh untuk kemenangannya di arena judi. Mereka masih meluapkan marahnya di media sosial dengan cara-cara yang absurd dan Faiz tak peduli. Salah mereka sendiri. Seharusnya e-sport tak usah dikotori dengan judi yang jelas-jelas membuat miskin pelaku, juga membuat stres dan depresi.
“Minggu depan pertandingan ulang non gelar kan?”
Faiz masih diam. Doni benar-benar fans yang memantau aktivitasnya. Memang ada pertandingan ulang dengan juara perseorangan yang mengalahkan dirinya di partai final tempo hari. Entah siapa yang awalnya menginisiasi. Faiz telah menyetujui pertandingan itu. Tentu saja demi cuan. Tapi belakangan ia ragu, jangan-jangan yang menyelenggarakan pertandingan itu adalah bandar judi besar yang ingin meraih banyak keuntungan dari pertandingan itu.
“Ada streamingnya nggak?”
“Ada.” Faiz menjawab tanpa semangat.
“Boleh aku bantu kamu buat nyiapin streamingnya?”
“Tidak perlu. Aku streaming di kamar pribadiku.”
“Kamu pasti menang, Baby F. Aku yakin betul kamu dicurangin di pertandingan final tempo hari. Banyak banget lo yang dukung kamu. Kenapa tidak bikin komunitas untuk wadah mereka?"
Komunitas tidak penting. Faiz main game karena hobi dan cari cuan. Bukan cari fans, pengikut atau ketenaran.
"Aku bangga bisa kenal dan sekelas sama kamu. Semester depan kamu masih home schooling?”
“Enggak.”
“Kontrak pro player kamu dengan GGS gimana?”
“Batal. Aku mau main mandiri aja.”
"Aku dukung apapun keputusan kamu, Iz. Terima aku jadi asisten kamu ya. Please! Aku mau deh disuruh apa aja sama kamu. Nyemplung ke sungai itu juga aku mau asal diterima jadi asisten kamu. Sumpah. Aku ikhlas."
_________
__ADS_1
Sehat semua ya🙏 Corona omicron makin meraja lela. Jangan lupa protokol kesehatan dan selalu gembira di setiap keadaan💞🧚♀️