METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
DEBAT MALAM


__ADS_3

Biru berjalan lagi menuju ke arah belakang rumah bergaya arsitektur eropa klasik yang memiliki banyak tiang-tiang besar, tembok tebal dengan beberapa relief klasik yang jarang dijumpai pada rumah masa kini yang biasanya bernuansa minimalis atau industrial. Kesan angker diperkuat dengan pemilihan lampu-lampu dinding klasik bersinar kuning yang redup. Bentuk lampu itu seperti lampu-lampu dinding di lorong kastil eropa. Biru tak mendapati adanya satupun pintu baja penghubung rumah Bas dan Satya seperti tempat dimana ia melihat Bas muncul sebelum masuk ke rumah Satya.


“Ketemu nggak pintunya, Bi?” tanya Sari sembari tersenyum tipis.


Biru masih celingukan mencari-cari di mana pintu itu. Berdasarkan insting dan logikanya, seharusnya ada pintu di taman dekat kolam renang. Tapi jelas-jelas yang terlihat hanya tembok yang dindingnya berhias batu granit hitam.


“Nyerah?” Sari masih tersenyum.


“Iya deh. Nyerah aja.” jawab Biru pasrah


“Nggak mau nebak kira-kira di mana?”


“Kayaknya di situ.” Biru menunjuk tembok yang berdinding batu granit hitam.


Sari tersenyum penuh kemenangan. Biru salah menebak. Ia mengambil sebuah kartu mirip kartu ATM dari saku safarinya lalu menempelkannya di sensor kecil yang ada di salah satu tiang yang berada di tengah rumah.


Krek. Krek. Perlahan sebuah lukisan bergambar Bas yang sedang berdiri angkuh di sebelah mobil ferrari merah yang terletak di dinding tembok dekat ruang makan itu tampak retak. Lukisan yang gambarnya berskala 1:1 itu tampak nyata, benar-benar seukuran tinggi Bas yang sesungguhnya. Lukisan itu kemudian terlipat separuh bagian memperlihatkan di belakangnya ada pintu baja tanpa handel. Pintu itu terbuka dengan sendirinya lalu terlihatkan ruang makan rumah Satya di balik pintu itu.


Ajaib. Biru terpukau dengan kecanggihan Bas menyembunyikan pintu penghubung rumahnya dengan rumah adiknya. Kamuflase yang sempurna. Biru yakin hanya orang tertentu saja yang tahu ada pintu di balik lukisan Bas yang tampak nyata itu. Bas sangat menjaga privasinya. Sayangnya kok seperti arogan ya bisa tiba-tiba masuk rumah orang tanpa permisi, meskipun itu adalah rumah adik kandungnya sendiri. Lagipula iparnya kan berhijab. Harusnya dia menghormati tuan rumah dong tidak boleh keluar masuk rumah orang seenaknya.


Daripada menyimpan tanya di kepala, lebih baik Biru menanyakan langsung saja, “Apa pintu itu bisa dibuka dari sini tanpa ijin keluarga kak Satya?”


“Tidak. Ada sinyal otomatis ke ponsel pak Satya, bu Ritha atau kepala keamanan rumah berisi ijin yang harus diapprove sebelum pintu itu terbuka, Bi. Kalau ditolak, pintu tetap tak bisa terbuka.”


Wow. Canggih sekali memang sistem keamanan di rumah kedua kakaknya itu. Tidak seperti rumah Lily yang terbuka untuk siapa saja hanya dengan modal ketukan pintu atau teriakan salam saja. Di kampung semua masih aman, tidak perlu sistem keamanan yang rumit.


Biru masuk ke dalam rumah Satya lewat pintu penghubung itu. Ternyata ia sudah dinanti seluruh keluarga Satya di meja makan. Sari hanya mengantarkannya. Ia berbasa-basi sedikit dengan keluarga Satya. Tak sampai 3 menit Sari sudah masuk kembali ke markasnya lewat pintu baja itu.


“Kamu belum makan kan, Bi?”


Biru mengangguk. Pasti sudah ada laporan dari Bas tentang kelakuannya hari ini. Ia sudah pasrah melangkah menuju kursi makan dan duduk di sebelah Faiza yang tengah menyantap pasta salmon kegemarannya.


Seperti biasa, tak ada pembicaraan saat sedang makan sampai piring bersih dan sendok garpu tertangkup di atasnya. Satya baru bicara setelah meneguk air bening dan mengambil potongan melon dan semangka yang tersaji di meja. “Bagaimana perasaanmu hari ini, Bi?”

__ADS_1


“Senang.”


“Sebabnya?”


“Menang semi final voli, boleh nonton final futsal dan boleh masuk rumah kak Bas.”


“Bibi menangnya berkat dimanajeri Faiz, Yah.” Si ganteng bermata biru itu tak mau kalah mengakui kehebatan perannya yang sebenarnya tidak terlalu penting. Meskipun ada benarnya tapi Biru mencibir melihat kesombongan keponakannya yang satu itu.


“Ohya?”


“Bibi sempat kalah mental dan Faiz minta keluar lapangan diganti dengan pemain cadangan.” terang Faiz datar.


Kenapa Faiz malah menjatuhkan bibinya seperti itu sih. Biru kesal. Terpaksa Biru menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal sampai akhir, termasuk Faiz yang memerasnya minta bayaran sepatu yang mahal. Sementara anak itu melahap melon dan semangka dengan gaya cuek meski ayah dan bundanya menatapnya tajam. Tak sedikit pun menunjukan rasa bersalah sama sekali.


“Faiz jahat, Kak. Masak dimintai tolong jadi manajer kurang dari 2 jam aja minta bayaran sepatu yang harganya lebih dari 150 juta. Bukankah itu namanya memeras. Dosa kamu, Iz. Kata pak ustadz merampas harta anak yatim itu dosa besar. Kamu kan tahu hadiah menang class meeting paling cuma kaos murahan. Masak jadi manajer sekali doang minta bayaran sepatu mahal, nggak sebanding lah.” adu Biru dengan nada tinggi sembari melirik Faiz yang tersenyum datar.


Psikopat banget sih tuh anak. Sebel. Cari perhatian kok sampai begitu amat.


“Jangan pamrih begitu, Iz. Bantu Bibi itu harus ikhlas.” nasehat Ritha dengan suara lembut yang diikuti anggukan dan tatapan tajam Satya.


Tidak ada urat yang keluar saat Faiz bicara. Sama sekali tidak terlihat ngotot, apalagi emosi. wajahnya datar dan halus seperti permukaan jalan tol. Ekspresinya yang dingin bikin Biru makin naik darah.


“Iya, Bibi mau beliin sepatu tapi nggak semahal itu.”


“Tadi Bibi bilangnya mau beliin sepatu apa pun yang Faiz mau.”


“Iya. Tapi jangan lebih dari sejuta.” ujar Biru dengan suara parau. Hampir saja ia menangis saking kesalnya pada keponakannya yang selalu merasa benar.


Tak ada belas kasihan sama sekali di mata Faiz. Dasar keras kepala. Psikopat.


“Tadi nggak ada omongan begitu lo, Bi. Bibi cuma bilang mau beliin sepatu apapun yang Faiz mau. Bibi harus konsekwen dong. Orang baik yang dipegang itu janji dan komitmennya,” Faiz masih berusaha menekan Biru dengan gayanya yang santai dan datar. Sama sekali tak merasa kalau permintaannya itu berarti memeras bibinya.


“Dasar kapitalis!” seru Biru kesal.

__ADS_1


“Kalau mau kaya memang harus punya mental kapitalis, Bi. Kalau mau sama rata sama rasa dengan orang kebanyakan, ikutlah mental orang sosialis. Hidup itu harus memilih mau jadi kapitalis atau sosialis.” sanggah Faiz datar.


“Hush. Sudah. Sudah. Berhenti berdebat! Kalian tidak harus jadi kapitalis atau sosialis. Kita ini muslim, gunakan hati dan aturan syariat islam dalam tiap keputusan meski itu hanya masalah kecil. Kalian sudah diajarkan bagaimana fikih


muamalah kan?” Ritha menatap Faiz dan Biru dengan lembut. Kedua anak yang berdebat di meja makan itu mengangguk.


“Kamu tidak boleh mengukur apapun dengan materi, Iz. Harus tahu kapan waktu untuk berbagi, bersosialisasi dan kapan untuk berhitung dagang.” terang Satya bijak. Ia tersenyum bangga sembari mengacak-acak rambut anak lelaki yang duduk di sebelahnya.


Faiz berusaha menghindari tangan ayahnya menyentuh rambutnya yang hitam, lurus dan kaku seperti rambut ayahnya. “Ayah sudah cuci tangan belum?”


Satya nyengir kuda. “Tangan ayah nggak kotor, Iz.” Satya menunjukan telapak tangannya yang bersih kepada anaknya. Sejak tadi ia hanya makan pasta dan buah dengan menggunakan sendok dan garpu.


Faiz tetap cemberut.


Satya mengalihkan pandangannya pada Biru. “Kamu juga mesti nambah wawasan supaya tidak mudah merasa ditipu atau dimanfaatkan orang, Bi. Kalau berkomitmen itu harus jelas dari awal. Jangan sampai ada celah yang membuat kamu merasa dirugikan karena ucapan kamu sendiri. Karakter orang itu macam-macam dan tidak semuanya baik.”


Faiz memberikan jempol untuk ayahnya yang dianggap fair. Bibinya memang harus tahu bahwa dirinya agak-agak bodoh dan impulsif hingga mudah dipermainkan orang.


“Jadi bagaimana solusinya?” tanya Faiz yang masih ngebet dengan sepatu air jordan yang diinginkannya.


“Beli sendiri aja. Uang kamu kan banyak, Iz. Masak sih tega makai harta anak yatim.” Biru menjawab keras. Kesal. Biru tahu tabungan dan investasi Faiz banyak tapi anak itu tidak mau menggunakan uangnya buat membeli barang yang diinginkannya. Dasar culas.


“Sudah. Jangan berdebat lagi! Nanti ayah yang beliin.”


“Terima kasih, Yah. Janjinya dipegang ya. Jangan sampai nanti ayah berubah pikiran dan bilang aku tega makai harta anak yatim juga." tegas Faiz mengingat ayah dan bibinya sama-sama sudah ditinggal meninggal oleh orang yang sama. Bisa saja ayahnya melakukan hal yang sama dengan bibinya meminta belas kasihan dengan dalih anak yatim. Kalimatnya diucapkan santai tanpa emosi, namun mata birunya melirik tajam Bibinya dengan tatapan sinis.


Pintar sekali menyindirnya. Iya. Bibi tahu kalau sudah baligh secara agama sudah dianggap dewasa, artinya Biru mestinya harus mandiri dan tak perlu gembar gembor minta dikasihani sebagai anak yatim.


Hahaha. Semua tersenyum kecuali Biru yang mencibir kesal. Faiz selalu menang dalam debat. Biru mengakui kebodohannya dalam hati. Lain kali komitmen itu harus detail ke obyek yang dimaksud hingga tak bisa dimanfaatkan orang untuk mengambil keuntungan pribadi. Ini buat pembelajaran. Tidak hanya pada Faiz yang licik namun pada semua orang yang mungkin lebih licik dari si ganteng mata biru itu.


________


Ada banyak hal yang dapat diselesaikan bersama dengan bicara.⚘⚘⚘

__ADS_1


Happy weekend


__ADS_2