METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
RENCANA BIRU


__ADS_3

Dua gadis remaja itu berlari riang menghampiri tiga remaja lain yang sedang tiduran menatap langit di atas rumput gajah mini di dekat taman mawar. Mereka tampak asyik menikmati kebersamaan yang semakin jarang terjadi dengan cara yang sederhana. Tak peduli matahari mulai meninggi.


“Hai, mata biru. Selamat ya! Sekarang sudah diakui khalayak jadi pemain e-Sport profesional. Hadiahnya pasti banyak. Kamu harus traktir kita.” todong Biru sesaat setelah sampai di tempat mereka berkumpul.


Ketiga remaja pria itu bangkit lalu pindah duduk di bawah pohon pinus yang rindang dekat dengan sumber air alami yang mengalir sepanjang masa. Sejak dulu sebenarnya mereka enggan kesenangannya direcoki anak perempuan resek. Sayang, Biru adalah bibinya. Tidak enak hati kalau ngusir.


Rumah kayu pinus buatan mereka sudah lapuk dan tak layak lagi ditempati sebagai markas. Bukan hanya karena kayunya yang lapuk, tubuh mereka juga sudah tumbuh berkali lipat pada masa pubertas sedangkan rumah kayu mungil itu dibuat sesuai ukuran tubuh mereka saat mereka masih SD. Rumah itu banyak sekali menyimpan kenangan kenakalan mereka waktu SD. Sering jadi tempat persembunyian kalau sedang jenuh dengan pelajaran sekolah dan dijadikan markas dimana mereka menyusun strategi buat main ke luar lingkungan pesantren dan rumah mereka. Rumah itu merupakan tempat penyimpanan barang-barang aneh ciptaan Faiz dan Amar seperti pesawat kayu, lukisan dari biji kopi dan cengkeh yang ditempel di mug kaleng, mobil dari ranting pohon, kuncir angin, dan banyak benda-benda kreasi mereka yang kini sebagian telah lapuk dimakan usia.


“Ih ngapain Bibi datang-datang langsung nodong gitu.”


“Bukannya menodong, Iz. Tapi mengingatkan kalau tiap penghasilan itu mesti dipotong pajak dan zakat.”


“Pasti mau bilang ada hak anak yatim juga di dalamnya, kan?”


Biru nyengir. Ide itu memang sudah terlalu basi karena sudah sering kali dilontarkannya, tapi ia yakin ide itu masih efektif dan bisa digunakan sebagai senjata.


“Kita berdua siap nampung shodaqoh, kak Faiz. Aku kan anak yatim juga.” Fathia menyambar dengan senyum manja dan kepala miring ke kanan.


Eh ada lagi anak yatim yang tahu cara memanfaatkan situasi saat ia sedang banyak uang. Faiz memandang Amar dan Azka yang tersenyum dengan ujung mata yang melirik ke arah Biru dan Fathia yang menodongnya. Mereka berempat pasti sudah sekongkol. Faiz jelas kalah suara. Menyerah sajalah. Dalam dunia yang disebut demokratis tidak mungkin menang satu lawan 4. Lagipula ini hanya masalah kecil dan sejujurnya tanpa diminta pun ia telah berniat menyenangkan hati kerabatnya.


“Kita makan dimana nih, Mar? Duo yatim ini perlu disumpal mulutnya supaya nggak comel.”


“Kafe Lily Sukabumi, Kak.” jawab Amar spontan menyebutkan kafe milik mamanya yang terletak di pinggiran kota Sukabumi. Seperti kafe Lily yang lain, letaknya juga di daerah perbukitan dengan pemandangan yang indah dan desain bangunan yang unik. Kafe Lily telah memiliki banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Bahkan belum lama the Lily Caffee juga membuka cabang di Melbourne, Sidney, Kuala lumpur, Bangkok, dan Yokohama.


“Ada diskon khusus nggak?”


“Pasti ada. Nanti aku bilang mama deh.”


“Minta diskon yang banyak ya. Kalau perlu gratis." Faiz terkekeh membayangkan kalau bisa makan gratis pasti lebih seru.


Amar hanya menanggapi dengan menaikan alisnya yang tebal dan tersenyum tenang.


"Oke nanti sore kita nongkrong di kafe Lily Sukabumi.” putus Faiz tegas. Lumayan, tidak harus keluar uang banyak untuk menraktir Bibi dan sepupunya. Bi Lily pasti memberikan diskon khusus. Bahkan mungkin gratis.

__ADS_1


Biru tertawa. Nanti sore Faiz pasti kaget tagihannya akan sedikit lebih banyak karena ia sudah berjanji akan menjemput Hani, Kikan, Rio dan Doni di stasiun dan terminal Sukabumi. Enteng. Anak itu tidak mungkin bangkrut cuma gara-gara traktir makan doang. Dia baru saja menang turnamen yang hadiahnya konon bernilai milyaran. Cuma makan pasti enteng banget, sebanyak-banyaknya makan di kafe Lily paling cuma habis jutaan.


Kalau perlu dikelitikin lagi dia agar mau ngebosin kegiatan jalan-jalan mereka juga. Hihihi.


“Iz, kamu nanti nggak akan langsung ikut pulang ayahmu kan?”


“Kayaknya sesekali ingin pulang sendiri. Biar ayah dan bunda pulang berduaan aja. Mereka perlu couple time berdua.” jawab Faiz ringan. Perhatian banget sih sama orang tua pakai dikasih kesempatan buat couple time


Yes. Biru suka dengan jawaban ini. Rencananya pasti bisa berjalan dengan mulus. Ia melirik Fathia sambil tersenyum dan mengangkat alis sebelah kanan.


“Faiza akan ikut pulang sama ayah bundamu nanti sore, Iz. Dia nggak betah lama-lama di sini. Katanya dia dan Alisa akan ikut


menjenguk Amel ke Sidney. Mereka akan pergi ke Sidney besok bersama abah dan mamanya Amar.”


Hah? Kok bisa rencananya berubah mendadak begitu. Kalau Faiza tidak betah lama-lama di Jampang itu sudah diduga Faiz sebelumnya.


“Benar, Mar?”


Amar mengangguk pasti.


“Enggak. Kita diajak bertualang sama bi Biru ke tempat-tempat wisata sekitar sini. Ada temannya bi Biru juga yang akan gabung. Jadi kita ramean. Kak Faiz ikut kita aja yuk! Abah ke Sidney sekalian ketemuan dengan rekannya


sesama peternak sapi dari Australia. Beliau juga diundang menghadiri konferensi ketahanan pangan internasional."


"Abah bakal sibuk di sana. Paling begitu sampai di Sidney kita cuma dititipin di apartemennya kak Amel. Males banget aku dicomelin dan disuruh ini itu sama kak Amel. Mending senang-senang sendiri di sini." tambah Azka.


Faiz mengernyitkan dahi. Dua kakak beradik itu enggan ikut adik dan orang tuanya ke luar negeri karena malas bertemu kak Amel. Memang sih kak Amel itu bawelnya minta ampun. Apartemennya harus selalu rapi dan bersih. Segala ini itu dilarang. Salah didenda. Kejam seperti ibu tiri. Mulutnya tidak berhenti mengomel meski telinga kita sudah sakit mendengar lengkingan suaranya.


“Kata mama kita harus jaga bi Biru, Kak. Mumpung di sini, mbak Sari mau intensif latihan silat sama Aki.”


“Kamu ikut kita aja, Iz. Anak muda semua. Perjalanan kita pasti seru. Fathia juga akan ikut sama kita.” rayu Biru kemudian.


“Iya, aku dan bi Biru sudah jadi bestie.” ujar Fathia sambil merangkul pundak Biru. Mereka sama-sama menoleh, saling pandang dan mengerdipkan sebelah matanya lalu tertawa kecil bersama.

__ADS_1


Lebay. Jadi bestie karena sama sama yatim aja bangga. Faiz memandang kedua gadis yang cengengesan itu dengan malas. “Rosyid ikut juga?”


“Enggak. Anak itu lagi konsen menyelesaikan komiknya.”


Syukurlah. Selain tampangnya yang tak pernah enak dipandang, kalau Rosyid ikut pasti akan merepotkan. Dia tidak bisa berlari kencang dengan kaki palsunya, juga akan kesulitan saat naik turun jalan setapak.


“Oke. Demi kalian aku ikut.”


Harus jaga wibawa. Meskipun ia tertarik ikut karena butuh refreshing setelah sekian lama berkutik dengan dunia game dan segala aktivitas daring yang membuat mata sangat lelah. Ia sebenarnya juga telah bawa drone dan kamera khusus untuk mengambil gambar-gambar yang mungkin berpotensi dijual di metaverse atau direpro jadi latar bagi komik multi dimensi yang akan dibuatnya.


“Yey. Kita bakal berangkat bersembilan." Fathia berteriak gembira. Ini perjalanan pertamanya menjelajah alam.


"Kita akan berangkat besok pagi habis subuh pakai 2 mobil.” Biru mulai mengatur kendaraan dan persiapan logistiknya.


"Mobil siapa aja?"


“Mobil fortuner Amar yang akan disupiri mang Nandi. Satu pakai mobil kami yang akan disupiri pak Bunadi.” jelas Fathia.


“Tim dibagi 2 khusus cowok dan cewek?”


“Enggak. Dalam satu tim harus ada cowok dan ceweknya biar lebih aman. Kamu ikut mobil Fathia aja, Iz. Bareng Hani, Rio dan Doni. Aku dan Kikan akan ikut mobilnya Amar dan Azka.”


“Terserah.” Faiz malas berpikir. Ikut sajalah sama rencana mereka. Cewek biasanya lebih detail mengatur ittenary dan logistik.


"Mau nyumbang voucher belanja toko ada di mana-mana nggak, Iz?"


"Apalagi ini?"


"Bagian dari shodaqoh anak yatim, Kak. Makin banyak shodaqoh kakak bakal makin makmur. Wajahnya akan memancarkan cahaya karena kebaikannya terlihat dari langit. Kak Faiz pasti akan tambah ganteng, bahkan makhluk langit pun akan jatuh terpesona." Fathia tersenyum manja dengan kepala miring.


Puih. Ternyata duo yatim bersatu rayuannya tak bisa terbantahkan.


________

__ADS_1


Happy monday💚 Happy valentine days💖 14 Februari 2022


Semoga hari kita dipenuhi banyak cinta dan kebahagiaan😘😍


__ADS_2