
Kecoa berlari-larian di dalam kamar mandi. Satu dua ekor terbang rendah lalu hinggap di sembarang tempat. Binatang menjijikan itu terlihat bermain kejar-kejaran riang. Hiy… Biru mengerutkan wajahnya. Jijik. Serangga besar berwarna coklat itu penampakannya jauh dari imut dan berbau tidak sedap. Segala hal tentang kecoa memicu rasa jijik dan takut. Biru selalu teringat momen menakutkan saat serangga itu tiba-tiba hinggap di tubuhnya dan membuat kulit Biru memerah. Bersentuhan dengan tubuh serangga yang menyukai tempat-tempat yang lembab dan kotor itu membuatnya trauma. Pokoknya kecoak adalah serangga paling dibencinya, selain nyamuk.
Tempat macam apa ini. Bukan hanya banyak kecoak yang berkeliaran, tembok kamar mandi yang berlumut dan air yang warnanya kekuning-kuningan itu juga menjijikan. Mana bisa ia buang air di tempat seperti ini.
“Tidak adakah toilet yang bersih, Kak? Saya tidak bisa buang air di tempat yang kotor seperti ini.”
“Rumah ini hanya punya satu toilet.” jawab mbak penjaganya dengan suara dan wajah datar.
Biru menatapnya. Mau mundur tak mungkin sebab tadi ia sudah terlanjur bilang ingin pipis. Ia akhirnya memaksakan diri menahan rasa takut dan jijiknya untuk masuk sebentar ke dalam kamar mandi kotor itu. Bukan untuk pipis. Namun hanya untuk buang-buang air dalam arti sebenarnya, menyalakan kran, menyiduk air dalam kolam, lalu menyiramnya ke lantai kamar mandi. Ia hanya ingin pura-pura saja. Dilihatnya ada jendela kecil di kamar mandi itu namun sama sekali tak bisa digunakan untuk keluar rumah buruk itu seandainya mereka menyekapnya lebih lama di rumah ini.
Tak lama di kamar mandi, kecoa-kecoa itu membuat bulu romanya meremang antara takut dan jijik. Ini satu pencapaian yang luar biasa, yakni mencoba bersahabat dengan binatang kotor yang kalau dilihat-lihat lagi
tampangnya menyeramkan. Andai bentuknya lebih besar, kecoa pasti jadi monster yang paling menakutkan di muka bumi ini.
“Namanya kakak siapa?” dengan cuek dan ramah Biru bertanya pada perempuan muda bertubuh kekar yang mengawalnya.
Perempuan itu tak menjawab. Malah menarik lengannya agar ikut ke ruangan tengah dimana terdapat perempuan mirip mama beserta sekelompok laki-laki dan perempuan bertubuh kekar.
“Duduk!”
Biru menurut. Ia duduk di sofa single berkulit vinil yang telah bolong-bolong di beberapa bagiannya. Untunglah sofa itu kering sehingga tidak ada kecoa di sana. Meski begitu Biru tetap merasa tak nyaman berada di tempat itu. Ia ingin segera keluar membebaskan diri dari sana.
Bagaimana ya? Apa lari sekarang saja? Akh, kayaknya percuma. Biru tak kenal tempat itu, jadi tak tahu kemana arah pulang. Gawainya pun lenyap. Lari tanpa panduan arah dan dukungan perangkat teknologi itu sulit. Apalagi
ditambah harus melawan 6 orang bertubuh kekar sekaligus. Lebih baik Biru ikuti dulu apa mau mereka. Santai saja. Jangan sampai kalah mental dan terintimidasi.
“Ceritakan siapa kamu!” Perempuan yang mirip mama itu mengangkat dagunya. Tangannya bersedekap. Matanya memperhatikan setiap senti tubuh Biru dengan ekspresi yang datar. Perempuan itu duduk sendirian di kursi yang paling bagus dan bersih. Culas sekali dia.
“Namaku Biru Zanneta Halim.” jawab Biru jujur tanpa rasa takut dan ragu sedikitpun. Baginya kecoa di kamar mandi lebih menakutkan dibanding orang-orang bertubuh kekar itu meski mereka sama-sama jelek dan menjijikan.
__ADS_1
“Apa hubunganmu dengan Satya Wirajaya Halim?”
“Adik seayah.”
Perempuan mirip mama itu membelalakan mata. Kaget. Mungkin teringat anaknya yang telah ditinggalkan begitu saja. Tak ada lagi adik seayah lain sebab sampai meninggalnya Wirajaya hanya punya 2 isteri.
Biru sengaja tak mengalihkan pandangannya dari tembok ruangan itu yang sebagiannya telah mengelupas. Ia melirik sedetik melihat bagaimana reaksi perempuan yang mirip mama itu setelah mendengar jawabannya. Ternyata dia benar-benar kaget, namun ia berusaha menetralisir perasaannya dengan bernafas tenang. Biru makin semangat melanjutkan cerita tentang jati dirinya.
“Kak Lily memberiku nama Biru karena aku terlahir dengan kulit kebiru-biruan. Mungkin mirip bayi avatar biru yang jelek yang diturunkan dari luar angkasa. Kami senasib. Kak Lily juga lahir dengan kulit kebiruan karena menderita kelainan jantung bawaan.”
Perempuan itu terus menatapnya. Belum terlihat yakin betul bahwa yang ada di hadapannya adalah anak kandungnya. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin dia memang benar-benar tak menghendaki kelahiran Biru di dunia ini. Menyedihkan.
“Papaku sudah meninggal sebelum aku dilahirkan dan mamaku meninggalkan aku di rumah sakit karena tak mau menanggung aib memiliki anak yang cacat dan perlu banyak biaya untuk membesarkannya. Selama ini aku diasuh oleh kakak perempuanku di pedesaan terpencil yang terletak di Sukabumi Selatan. Aku baru tinggal bersama kak Satya beberapa bulan lalu di rumah Menteng. Bukan di rumah peninggalan papa namun di rumah baru yang dibangun di pekarangan rumah peninggalan papa.”
Perempuan itu masih terus menatapnya. Kali ini ia bergerak maju menghampirinya dengan sedikit ragu.
Biru menurut tapi pandangannya ia buang ke lantai. Tak mau menatap wajah perempuan yang mungkin baru sadar kalau telah membuang permata yang harganya tak dapat dinilai dengan materi.
“Tataplah wajahku, Bi! Aku adalah Rissa Paryogi. Mamamu.”
Benar. Dia mengakui namanya sama dengan nama yang tertera pada akta kelahiran Biru.
“Maaf! Saya tidak mengenalmu, Nyonya.” Biru justru tertantang menepisnya.
Apa-apaan tiba-tiba mengaku jadi mamaku. Kemana saja kamu selama ini? Apa kamu pernah meredakan tangisku? Apa kamu pernah memberiku makan dan mengajariku duduk, berjalan dan segala hal yang dilakukan anak manusia?
Perempuan itu malah memeluknya, namun Biru tubuh Biru meresponnya dengan dingin dan kaku. Tidak menolak, namun tidak menyambut dengan hangat. Terlalu banyak kekecewaan yang berkecambuk di dadanya, tapi hati
kecilnya tetap menyimpan rindu pelukan ibu.
__ADS_1
“Maafkan mama, Nak! Jangan salah paham. Mama tidak pernah meninggalkanmu. Waktu mama pulang dari rumah sakit, keluarga membawa ambulan beserta bayi yang mati. Bayi itu di kubur di sebuah tempat pemakaman dan mama masih kerap mengunjunginya tiap hari raya. Mama sama sekali tak tahu kalau anak mama masih hidup.”
Cih, itu pasti hanya rekayasa hanya untuk membela diri. Biru tak percaya.
“Kalau kamu memang mamaku, mana mungkin tega menculik dan menempatkan aku di rumah kumuh dan kotor ini. Tolong, pulangkan aku! Di sini banyak kecoa. Aku jijik. Meskipun yatim piatu, dalam hidupku tak pernah sekalipun ditempatkan di rumah yang jauh dari layak seperti ini.” Biru mengangkat wajahnya dan menantang dengan matanya.
Perempuan itu tersenyum dan merangkulnya. Rasanya masih hambar, tidak sehangat dekapan ibu yang dirindukan dalam khayalannya. Dia bukan ibu yang baik, namun Biru sedikit senang sebab kelihatannya ia tengah mencoba menetralisir pergolakan batinnya untuk mempercayai kenyataan bahwa Biru adalah anak kandungnya.
“Maafkan mama, Sayang! Orang-orang ini memang pemalas. Masak markas kotor banget kayak gini. Padahal mama bayar mahal.”
“Bayar mahal buat menculik anak sendiri?”
Rissa tersenyum kecut. Bingung harus berkata apa. Tentu saja ia tak bisa jujur kalau target sebenarnya bukan Biru, tapi Faiz. Padahal Rissa yang menyuruh orang-orang bayaran itu mencari rumah tua yang tak terurus di pinggiran kota sebagai tempat penyekapan. Menempatkan anak Satya menderita di tempat kumuh pasti akan membuat dendamnya sedikit terpuaskan. Ternyata takdir berkata lain. Orang-orang bodoh itu malah menculik anak kandungnya sendiri. Dunia seperti menertawakannya. Niat buruknya berbalas pertemuan dengan puteri kandungnya yang telah dianggap mati beberapa hari setelah kelahirannya.
“Siapkan mobil, pak Jum! Aku mau makan malam di restoran yang paling mahal bersama anakku.”
Salah satu dari 3 lelaki kekar itu berjalan ke luar. Yang lainnya diam terperangah. Mungkin dalam hati ingin tertawa menyaksikan drama bodoh itu tapi tak tega. Tak ada kekuatan sama sekalu menyangkal nyonya bos.
Rissa menoleh lagi pada Biru dan tersenyum, “Yuk, kita makan malam.”
“Apa kalian tidak mau mengembalikan handphoneku.”
"Meng, kembalikan handphone Biru!"
Seorang perempuan kekar yang dipanggil Meng mengeluarkan handphone yang covernya bergambar panda. Benar. Itu pasti gawai Biru.
Biru mengambilnya dengan gembira, "Terimakasih."
Tanpa menunggu waktu lama Biru menghidupkan gawai itu lalu menelpon Satya.
__ADS_1