METAVERSE BIRU

METAVERSE BIRU
PESTA


__ADS_3

Berada dalam club mewah yang berhias bunga segar dan lampu-lampu mewah warna warni membuat Faiz berkeringat. Berkali-kali ia mencoba menarik nafas panjang namun resahnya tak kunjung usai. Belum pernah ia merasa bimbang dan cemas sedalam ini. Seharusnya sejak awal ia harus membuat garis batas yang jelas dan tegas tentang bagaimana dan dengan siapa harus bergaul sebagaimana pernah dipesankan oleh kakek guru. Ia merasa bersalah sudah melanggar aturan masuk club di usianya yang masih di bawah umur. Batas usia minimal ditetapkan pemerintah untuk menyortir pengunjung, hanya untuk orang yang dianggap secara psikologis mampu berpikir dewasa dan memiliki kestabilan emosional menerima konsekwensi sisi kelam kehidupan malam. Sedangkan anak seusianya emosinya masih labil. Parahnya ia malah melanggar peraturan berulang-ulang kali lagi dan lagi. Dasar anak nakal.


Bukan salah Doni. Dia sudah cukup umur, bebas mau ke pergi club manapun. Dia tak bisa memaksa Faiz karena statusnya hanya sebagai asisten. Faizlah yang memegang kendali atas dirinya sendiri. Ia kurang tegas. Langkah logisnya dengan mudah dibajak oleh rasa penasaran dan keingintahuannya begitu besar pada dunia baru yang belum dikenalnya.


Faiz menghabiskan air mineralnya. Beberapa orang menghampiri mejanya meminta bergabung setelah bercengkerama satu sama lainnya dan menunjuk-nunjuk ke arah dirinya yang masih duduk terpaku.


"Hai, Baby F. Kenalkan aku Lidya."


"Aku Stevan."


"Aku Adi."


"Aku Vita."


"Aku Agil."


"Aku Tiara."


"Aku ..."


Ada puluhan orang muncul kemudian menghampirinya di belakang mereka. Satu persatu memperkenalkan diri dan menyalaminya dengan wajah yang ceria dan antusias. Faiz menghilangkan rasa groginya dengan senyum ramah pada mereka satu per satu.


"Aku Baby F. Mereka adalah sebagian dari orang-orang yang mendukungnya berkarir di e-sport. Mereka yang kadang nyawer bitcoin untuk menyemangatinya meraih kemenangan demi kemenangan. Aku harus berterimakasih atas dukungannya." Faiz menaruh keyakinan itu di kepalanya. Ia merasa berkewajiban melayani mereka sebagai wujud terima kasih pada para pendukungnya.


Doni sibuk mengatur para fans agar berfoto bersama dengan Cheryl dekat kue ulang tahunnya yang besar dengan karakter tokoh pahlawan universe war bernama Helena, avatar perempuan cantik yang mahir menembak dan mengendarai pesawat tempur. Cheryl pasti sangat mengagumi tokoh itu.


Setelah foto bersama, beberapa fans meminta foto berdua dengan Faiz menggunakan gawainya sendiri. Capek juga meladeni mereka. Artis bukan tapi rupanya ia punya penggemar fanatik lumayan banyak. E Sport memang sedang booming, terutama universe war. Faiz kira kehidupan pemain E Sport hanya terbatas eksis di dunia maya yang amat fana, namun kenyataannya efek cinta para fans meluber tumpah sampai ke dunia nyata. Untunglah Doni dan Cheryl sudah lebih dulu mewanti-wanti fans untuk bersikap sopan hingga diantara mereka tidak ada yang bersikap brutal terhadap Faiz. Fans dan hatter kadang sulit dibedakan karena hatter ada yang berasal dari fans fanatik yang kecewa pada suatu hal pada idolanya.


"Guys, bulan depan kami akan launching resto bertema e-sport di daerah Menteng. Datang ya. Kita akan adakan acara main bareng dengan Boni dan Baby F." Doni mencuri kesempatan untuk promosi resto yang masih dalam tahap perencanaan.

__ADS_1


Wow. Semua menyambut gembira dan antusias mendengar kabar itu. Doni tersenyum penuh kemenangan. Kehadirannya di pesta malam ini tidak sia-sia. Faiz tersenyum membayangkan cuan-cuan bertebaran di sekelilingnya. Optimis rencana bisnisnya akan berhasil gemilang.


"Hari selasa malam jangan lupa ada pertandingan persahabatan atau pertandingan ulang Baby F dan Mark, juara dunia universe war. Kalian harus nonton live streamingnya di VLOG kami." Doni tak lupa mempromosikan pertandingan independennya dua hari lagi. Dia benar-benar asisten yang serba bisa. Ilmu marketingnya sudah level intermediate, bukan beginner lagi. Cepat tanggap memanfaatkan situasi.


"Yeah. Kami pasti nonton."


"Sesekali adain give away dong, bang Doni." celetuk seseorang yang berdiri di belakang sambil berjoget bebas mengikuti irama musik disko yang dimainkan DJ Vio yang terkenal itu.


Musik menghentak di seluruh ruangan. Bau alkohol mulai menyeruak. Lampu kelap kelip berganti-ganti warna dengan cahaya yang temaram. Suara orang yang sibuk bercerita, hentakan tarian bebas dan musik saling beradu hingga terdengar seperti suara ricuh yang sulit ditangkap telinga dengan utuh. DJ Vio mulai melepaskan jaket kulitnya dan membuangnya secara serampangan. Ia hanya menyisakan tank top ketat berwarna kuning menyala dan celana hot pant yang menampakkan lekukan pinggulnya yang seperti gitar. DJ Vio memainkan musik sambil menari dan meneriakan kalimat-kalimat ajakan untuk bersemangat menggerakan badan sesuai irama musik.


"Kebetulan kami sedang buat kaos dan cashing hp bergambar Shisimaru dan Baby F. Sebagian akan dijual sebagai merchandise dan sebagian akan dibagikan sebagai give away." Doni masih menanggapi pertanyaan fans sambil berteriak dan bergoyang bebas seirama dengan musik. Suaranya beradu dengan suara musik yang menghentak.


"Wow. Jadi nggak sabar nunggu give away."


"Kami tunggu kabar baiknya ya."


"Baby F bikin poster dong. Aku mau beli merchandise poster dan kaosnya." Yang lain usul dengan suara teriakan kencang bagai gemuruh. Entah siapa yang menyuarakan. Semua orang sudah mulai sibuk dengan dirinya sendiri dan cari pasangan untuk bersama menikmati malam.


Faiz duduk di kursinya memegang erat botol air mineral kedua. Ia sengaja tak memesan minuman apapun walaupun semuanya tersaji gratis. Matanya awas berjaga-jaga kalau kalau ada orang iseng yang berniat mencelakainya. Sebagai orang baru di dunia malam, Faiz tak ingin dirinya terjebak. Ia tak butuh healing dengan suasana entertain yang hingar bingar begini. Sejak kecil ia biasa menenangkan diri di alam yang sunyi dengan tiduran di atas rumput memandang awan, menghirup wangi kopi di perkebunan, atau duduk santai mendengarkan musik atau suara gemericik air di tepi kolam.


Bodyguard pribadi yang diamanahi bunda menjaganya tertahan di luar ruangan sebab tak memiliki undangan. Makanya ia harus ekstra waspada sendiri selama berada di ruangan itu. Doni tak bisa diharapkan. Dia begitu menikmati suasana club, sibuk mencicipi beberapa jenis minuman dan berjoget sambil menyapa beberapa kawan yang dikenalnya. Kayaknya dia mulai mabuk sebab makin lama gerakan tubuhnya makin aneh tak beraturan. Satu hal yang paling Faiz takutkan, jangan sampai ada yang membubuhkan obat terlarang dalam makanan atau minuman yang dikonsumsinya.


"Kamu tidak mau coba, Baby?" seorang gadis sipit dengan pakaian pesta warna biru langit mendekat menawarkan sebotol minuman berwarna merah darah. Ia juga membawa 2 gelas kecil yang diletakkannya di atas meja.


Gadis itu tersenyum ramah. "Ini wiski paling spesial di Holy Holyday." terangnya sambil mengacungkan botol berbentuk unik di depan wajahnya.


"Maaf, saya tidak minum alkohol."


Gadis itu tersenyum remeh. Mungkin berpikir apa gunanya datang ke club kalau cuma diam, tidak joget atau minum-minum. Faiz tak peduli. Ia menguatkan hatinya dengan istigfar berkali-kali. Semoga Allah selalu melindunginya. Ia kembali gamang. Hatinya tetap diliputi rasa bersalah telah datang ke tempat ini. Di satu sisi merasa penting buat bisnis dan menperluas pergaulan namun sisi yang memberontak sebab yang dilakukannya sejatinya melanggar hukum agama dan peraturan pemerintah.

__ADS_1


"Kok sekarang nggak main di GGS lagi? Dipecat atau mengundurkan diri?" Gadis sipit itu masih berusaha menguliknya.


"Mundur karena mau fokus sekolah dulu." jawab Faiz datar.


"Oh sayang ya. Padahal GGS kemarin menang turnamen karena kamu."


Faiz memilih diam menjadi pengamat situasi sambil mengumbar senyum tipis agar tak dinilai sombong.


"Nggak mau dance juga?"


Faiz menggeleng. Gadis itu terlihat kecewa. Ia meneguk wiskinya sambil tersenyum sinis.


"Jarang main ya sekarang?" tanya cowok yang tiba-tiba datang menyeret kursi lalu duduk di hadapannya. Dia menyambar gelas yang tadi diperuntukan buat Faiz lalu menuang sisa wiski gadis bermata sipit sampai berbuih-buih. Sedikit tumpahannya mengotori meja.


"Belum ada turnamen, Guys."


Ooo, kedua rekan semejanya membulatkan bibir sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Kamu beneran nggak mau coba, Bro? Ini enak banget lo." Cowok dengan tuxedo coklat itu kembali menawarinya minum.


Sementara gadis bermata sipit yang tadi membawa botol wiski telah berjalan terhuyung dengan seorang pria yang menggandeng tangannya sambil menari bebas menuju arena disko. Cepat sekali dapat pasangan. Padahal Faiz kira ia akan menari dengan cowok bertuxedo coklat itu.


"Maaf, aku ada janji ketemu orang. Aku balik ya, Bro." Faiz berdiri dan memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Ia tersenyum dan menepuk pundak teman baru yang ia tak tahu namanya itu.


Cheryl entah ada di mana. Tak terlihat. Tamu undangannya begitu banyak. Makin malam suasana tambah riuh sebab masih ada orang yang berdatangan. Rasanya sesak dan tak nyaman lagi. Sudah cukup lama ia berada di dalam ruangan club itu, Faiz memutuskan untuk keluar tanpa pamit pada sang empunya acara. Doni yang kelihatan mabuk ia titipkan pada petugas club. Dia punya banyak kenalan. Mungkin salah satunya akan menolong Doni kalau dia sampai tipsy atau mabuk berat. Faiz harus cepat pulang agar tidak membuat bunda stres karena mengkhawatirkan anak lelakinya yang sulit diatur ini.


Samar Faiz melihat ada 2 orang yang berjalan di belakangnya sedang memperhatikannya dengan serius ketika ia turun ke tempat parkir di lantai basement. Dari postur tubuhnya seperti orang yang menguntitnya saat di Situ Gunung. Mau disapa, keduanya keburu pergi ke arah yang berlawanan. Untung hari masih belum terlalu malam dan masih ada beberapa orang yang lalu lalang keluar masuk basement yang terang benderang. Satpam club juga memberikan keamanan ekstra. Tentu saja pesta ulang tahun anak konglomerat perlu dilengkapi sistem keamanan berlapis yang cukup ketat. Ada satpam di setiap sudut gedung. Jam menunjukan pukul 10 malam, mas Tom sang bodyguard telah menunggu di ujung tangga dan bersiap mengantarnya pulang.


Bunda, Faiz pulang ....

__ADS_1


________


Sehat dan bahagia ya, Guys😘


__ADS_2