Metaverse World

Metaverse World
Latansa, Jenius Propaganda


__ADS_3

Tanggal 27 Februari, Latansa berhasil menyelinap masuk ke dalam benteng.


Berjalan menyusuri jalan, Latansa secara acak menarik seorang bandit ke samping untuk menyebarkan desas-desus.


“Saudaraku, pernahkah kamu mendengarnya?” Secara misterius dia bertanya kepada bandit itu.


"Mendengar apa?" Bandit itu bingung dengan pertanyaan acak itu.


"Apa? Apakah kamu belum tahu? Keponakan bibi keempat, saudara sepupu saya bekerja di bawah komandan kedua, dan dia kebetulan memberi tahu saya sebuah rahasia besar. Pemimpin kedua kami, Ulo Sowo akan melakukan sesuatu yang besar!” Dia bertindak terkejut seolah-olah bandit itu tidak tahu apa-apa.


"Apa itu? Katakan padaku dengan cepat, apa yang akan dilakukan oleh komandan kedua?” Seperti yang diharapkan, itu adalah sifat dasar manusia yang suka bergosip, hal ini mencakup semua orang dari masa lalu dan masa depan. Baik pria, wanita, tua dan muda. Tidak ada bedanya.


“Aku akan memberitahumu, tapi kamu harus berjanji padaku untuk tidak menyebarkannya, cukup kamu simpan untuk dirimu sendiri! Jika tidak, sepupu saya akan dihukum dengan berat!” Latansa melanjutkan aktingnya. Hanya berita langka dan rahasia yang lebih mudah untuk dipercaya.


“Baiklah, baiklah, aku berjanji, aku tidak akan memberi tahu orang lain. Sekarang, cepat beritahu aku!”


Latansa melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang menguping pembicaraan. Kemudian dia merendahkan suaranya dan berkata, “Saya mendengar darinya, bahwa komandan Ulo Sowo sudah terlalu muak dengan perlakuan komandan besar yang selalu melindungi komandan Joko Tingkir. Ulo Sowo akan melakukan pemberontakan, dan dia sendiri yang akan menggantikan Komandan Nogo Sosro.”


"Hey? Apakah itu benar atau tidak? Dia bahkan punya nyali untuk melakukannya?”


“Heh, itu adalah pilihanmu untuk percaya atau tidak. Pemimpin kedua kita tidak kenal takut, ketakutan apa yang dia miliki? Apakah anda ingat kejadian tahun lalu ketika dia memimpin penyerangan ke tentara?” Jelas, Latansa telah mengerjakan pekerjaan rumahnya, kalau tidak dia tidak akan tahu tentang peristiwa seperti itu.


"Kamu benar. Eits, sepertinya bidak seperti kita harus menderita lagi.”


“Huh, apa lagi yang bisa kita lakukan! Aku hanya memberitahumu ini karena aku tidak menganggapmu menyebalkan. Kita harus mempersiapkan diri. Kalau tidak, kita mungkin dikorbankan tanpa mengetahui apa-apa.” Latansa menjawab dengan nada bingung.


“Ya, ya, itu memang benar. Terima kasih banyak sudah memberitahuku. Saya bersumpah tidak akan memberi tahu siapa pun.”

__ADS_1


“Bagus, ingat! Jangan bilang siapa-siapa!” Secara dramatis Latansa menekankan lagi untuk memberitahunya agar tidak membocorkan rahasia itu kepada orang lain.


Tepat setelah Latansa meninggalkan pandangannya, dia segera memberi tahu sepupunya, setelah dia selesai menceritakan rahasianya, dia menekankan pentingnya merahasiakan kata-kata itu juga, mirip dengan perkataan Latansa sebelumnya.


Kemudian sepupunya tersebut melanjutkan cerita rahasia tersebut kepada tetangganya. Sehingga apa yang disebut dengan rahasia menyebar ke seluruh kamp dalam waktu setengah hari. Seluruh benteng membicarakannya, orang-orang yang berkumpul, berbisik-bisik secara misterius, dan pada akhirnya, menambahkan kalimat meminta yang lain untuk tidak menyebarkan rahasia tersebut.


Jam 11, ketika Nogo Sosro menerima rumor tersebut. Nogo Sosro yang duduk di kursi utama, memiliki suara dingin yang dalam dan muram, “Saudaraku, saudaraku! Pada akhirnya, kau masih ingin mengambil langkah terakhir.”


Di aula, tepat di bawah Nogo Sosro adalah ahli strategi tepercaya, bingung dengan berita aneh itu, sehingga dia masih mempertanyakan kebenarannya, “Pemimpin agung, ini terasa sangat aneh! Jika, komandan kedua benar-benar akan melakukannya, bagaimana dia membiarkan informasi seperti itu bocor? Ini tidak masuk akal.”


Wajah Nogo Sosro menjadi lebih gelap, dia bertanya, “Kata-katamu mengartikan ada dalang di balik semua ini? Seseorang menyebarkan berita palsu untuk mengaduk-aduk air dan meretakkan hubungan kita?”


“Itu semua hanya dugaanku. Tapi kita tetap perlu mempersiapkan diri, pencegahan tetap harus dilakukan.”


"Siapa? Siapa yang memiliki kepentingan di sini? Dan apa motifnya?” Nogo Sosro bertanya lebih lanjut.


Nogo Sosro melambaikan tangannya dengan tidak sabar meminta jawaban atas pertanyaanya, “Bicarakan apa pun yang ada di kepalamu, tidak perlu sungkan. Apa lagi yang harus dihindari pada saat ini?


“Kalau begitu, aku akan berterus terang. Menurut saya, itu adalah komandan ketiga, dia adalah tersangka terbesar.”


"Apa? Anda berbicara tentang Joko Tingkir? Bagaimana ini mungkin?” Nogo Sosro tentu terkejut dengan jawabannya.


Karena nasi sudah menjadi bubur, tentu dia tidak perlu ragu lagi. “Ya, pemimpinku yang agung. Coba pikirkan dengan baik, jika kamu dan komandan kedua mengangkat bendera perang. Siapa yang pertamakali mendapat manfaat darinya?”


“Apakah itu Jawa Dwipa? Jika kita bertengkar, mereka yang akan mendapat banyak manfaat, tidak diragukan lagi jika mereka memiliki motif seperti itu.”


Ahli strategi menganggukkan kepalanya, dan dengan percaya diri berkata, “Saya juga berpikir demikian, berpikir itu mungkin saja Jawa Dwipa. Tapi menurut pengintai kami, Jawa Dwipa tidak ada pergerakan, semuanya seperti biasa. Mereka masih terlena dalam suasana perayaan tahun baru. Bahkan mungkin mereka tidak menyadari keberadaan kita.”

__ADS_1


Nogo Sosro tidak yakin. Dia masih memiliki kepercayaan pada Joko Tingkir. Dia berdiri dan berjalan mengitari aula, mengerutkan kening, mencoba melihat dengan jelas melewati kabut tebal untuk memahami kebenaran.


“Menurutmu, apakah ini hanya lelucon dari saudara laki-lakiku yang kedua untuk mencoba menghancurkan kepercayaan saya pada Joko Tingkir, sehingga dia bisa mendapatkan keuntungan darinya.”


Kata-kata Nogo Sosro menyentuh hati ahli strateginya, ahli strategi itu berhenti sejenak dan memikirkan kemungkinan ini. Itu juga sangat mungkin terjadi. Komandan kedua memberi dirinya nama Ulo Sowo juga karena dia sangat mengagumi darah dingin dan kelicikan Nogo Sosro. Keseluruhan plot ini sangat mirip dengan gayanya.


Saat ahli strateginya tetap diam, Nogo Sosro tahu persis apa yang ada di hatinya. Sepertinya dia telah mendapatkan jackpot dan dengan dingin berkata, “Saudaraku, saudaraku! Kau pria yang tidak punya hati nurani. Kalau begitu, jangan mengutukku karena kejam. Berikan perintahku. Kirim orang-orang itu dan tangkap Ulo Sowo, hidup atau mati. Aku menginginkan tubuhnya berada didepanku.”


"Siap, laksanakan!" Ahli strateginya tidak berani tinggal lebih lama. Dia pergi tepat setelah mengumpulkan orang-orangnya.


Sebagai kamp utama benteng, di aula telah ditempatkan satu kompi bandit yang terdiri dari 70 bandit biasa dan 30 elit, berpatroli dan menjaga aula. Bandit ini langsung berada di bawah komando Nogo Sosro.


Namun, saat Nogo Sosro sedang berdiskusi di aula, Ulo Sowo sudah terlebih dahulu mengambil langkah pertama. Dia sangat memahami kakak laki-lakinya, apakah rumor itu benar atau tidak, tidak akan ada tempat untuknya lagi di rumah ini. Lantas, kenapa tidak memanfaatkan peluang dan kesempatan ini, mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkan diri? Untuk hasil yang lebih baik?


Sebagai pemimpin bandit kedua, Ulo Sowo memimpin dua kompi yang terdiri 60 elit dan 140 bandit biasa. Ulo Sowo mengirim bawahannya yang tepercaya untuk mengatur mereka keluar dari barak secara berkelompok, dan mengumpulkan mereka di halaman rumahnya.


Ketika semuanya telah siap, Ulo Sowo dan pasukannya langsung menuju aula, jumlah pasukannya yang besar memicu gelombang ketakutan dan kegelisahan di antara non-kombatan. Desas-desus yang mereka katakan dan dengar pagi ini, benar-benar terjadi.


Begitu Nogo Sosro mengetahuinya, dia mengirim utusan untuk mencari bantuan dari barak melewati pintu belakang, sementara dia secara pribadi bergegas ke gerbang depan. Dua faksi yang bertarung bersama sebelumnya sekarang saling berhadapan. Dengan campuran cibiran dan senyuman, Nogo Sosro membuka mulutnya, “Saudaraku, memang benar kamu berniat menggantikanku. Kenapa? Ingin menggantikan saya di tempat begitu cepat?”


Ulo Sowo menjawab dengan gestur wajah yang sama, “Bukankah kamu juga sama, Kak? Sejak kau kehilangan kepercayaan padaku. Maka adikmu ini hanya bisa meminta maaf padamu juga.”


Melihat keadaan menjadi suram, Nogo Sosro mundur selangkah. “Saudaraku, singkirkan pasukanmu. Saya berjanji tidak akan mengejar Tindakan salahmu ini.”


Tepat pada saat ini, salah satu bawahan Ulo Sowo datang ke sampingnya dan merendahkan suaranya, “Pemimpin, saya pikir dia mencoba mengulur waktu. Kita harus menyerang sekarang, jika tidak, semakin lama kita menunggu, semakin banyak ketidakpastian.”


Ulo Sowo menganggukkan kepalanya, “Tidak perlu berpura-pura lagi, kakak. Semuanya, serang!”

__ADS_1


Membandingkan kekuatan kedua belah pihak, pasukan Ulo Sowo dua kali lebih besar dari Nogo Sosro, jelas melebihi jumlah dua kali lipat. Namun, pasukan Nogo Sosro mampu bertahan dengan mengandalkan infrastruktur pertahanan aula utama, seperti penjaga dan pagar.


__ADS_2