Metaverse World

Metaverse World
Semua Sekutu Jawa Dwipa Telah Tiba


__ADS_3

Tepat pada saat ini, 3 orang lainnya keluar dari formasi teleportasi.


Berjalan di depan paling depan adalah seorang wanita, usia 27 atau 28 tahun. Dia mengenakan gaun istana berwarna putih, sederhana namun elegan. Dia memiliki rambut hitam gelap seperti tinta namun halus seperti batu giok, digulung menjadi sanggul dengan beberapa ornamen sederhana, memperindah penampilannya lebih jauh.


Dia memiliki fitur wajah yang sempurna dengan kulit seputih persik.  Matanya yang berwarna aqua, sebening kristal namun cerah, tetapi jauh di dalamnya mengintai aliran dingin, seolah matanya bisa melihat melalui segalanya. Dia memiliki bahu yang sempurna, pinggang ramping, alis tajam, dan kulit putih.


Mereka telah bertemu di pelelangan, oleh karena itu Heru Cokro secara alami dapat mengenali wanita itu, Hesty Purwadinata.


Di belakang dan kiri Hesty Purwadinata berdiri seorang wanita, berusia 25 atau 26 tahun. Dia mengenakan gaun ungu lavender, mansetnya disulam dengan anggrek biru muda dengan lapisan perak yang menggambarkan kelopak bunga, ujung gaun itu diwarnai biru es. Brokat perak lebar menutupi dadanya, gaun itu bergoyang setiap kali dia bergerak. Dia memiliki sanggul rumbai sederhana, sepasang mata yang menarik, rona kulit merah kemerahan, mulut ceri kecil, dan tampak lembut dan cantik. Rambut hitamnya tergerai di sisi pipinya, menjuntai tertiup angin sementara matanya bersinar dengan kecerdasan dan keindahan.


Di masa lalu, Heru Cokro pernah bertemu Wulan Guritno, sehingga dia bisa langsung mengenalinya.


Wanita terakhir sebenarnya seumuran dengan Maya Estianti. Jubah sutra hijau panjangnya menyentuh lantai, polos dan sederhana, hanya mansetnya yang dijahit merah dengan beberapa bunga lavender yang setengah mekar, selempang sutra putih diikatkan di pinggangnya, kantong kecil dan batu giok di pinggangnya. Berbeda dengan kedua wanita itu, gadis kecil itu mengikat rambutnya dengan cara yang lebih sederhana, poni rambutnya tergerai dengan santai namun rapi. Dia membawa perasaan kesegaran alami.


Heru Cokro maju ke arah mereka dan tersenyum: “Nona Hesty Purwadinata, selamat datang, selamat datang!"


Hesty Purwadinata mengangguk sebagai balasan, berbalik dan memperkenalkan dua lainnya kepada Heru Cokro. Baru pada saat itulah Heru Cokro mengetahui bahwa gadis terakhir adalah Chelsea Islan, tentu saja mereka saling menyapa.

__ADS_1


Karena mereka memiliki waktu yang disepakati, dalam beberapa menit, Habibi dan Genkpocker tiba.


Sama seperti Maya Estianti, dua pendatang yang terlambat membawa satu-satunya tokoh sejarah mereka. Habibi membawa Jenderal Danang Sutawijaya yang terkenal sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam, sementara Genkpocker membawa serta ahli strategi terkenal Ki Ageng Pemanahan yang merupakan ayah dari Danang Sutawijaya.


Danang Sutawijaya, atau Panembahan Senopati yang merupakan ahli tombak kuda, dikenal karena keberanian dan kehebatannya dalam menumpas pemberontakan Arya Penangsang di Kesultanan Demak.


Berdasarkan serat atau naskah babad seperti Serat Bauwarna, Serat Centhini, Babad Tanah Jawi dan beberapa naskah lainnya disebutkan bahwa Danang Sutawijaya memiliki beberapa nama kecil dan julukan diantaranya adalah Raden Bagus Dananjaya, Raden Ngabehi Saloring Pasar, Raden Ngabehi Salering Peken, dan Risang Sutawijaya.


Danang Sutawijaya adalah putra sulung dari pasangan Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Ageng Pamanahan. Ibunya adalah adik dari Ki Juru Martani yang menjadi patih pertama Mataram pada masa pemerintahannya.


Ki Ageng Pamanahan yang merupakan ayah dari Danang Sutawijaya, memimpin penyerangan bersama Ki Panjawi dan Ki Juru Martani dari Pajang menuju Demak. Mereka membantu Jaka Tingkir dalam menumpas pemberontakan Arya Panangsang di Demak.


Danang Sutawijaya yang juga anak angkat Sultan Hadiwijaya yang ikut serta membantu ayahnya, Ki Ageng Pamanahan dalam sayembara melawan Arya Panangsang. Karena Hadiwijaya mengkhawatirkan putra angkatnya yang turut ikut serta dalam melaksanakan tugas tersebut, dia memberikan bantuan pasukan Pajang untuk membantunya selama peperangan. Perang antara pasukan Pajang melawan Arya Panangsang terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Ageng Pamanahan, Arya Panangsang berhasil tumpas melalui tangan Danang Sutawijaya.


Ki Ageng Pamanahan berjanji setia kepada Sultan Hadiwijaya yang memberinya izin mendirikan tanah perdikan (kadipaten) di Mentaok yang saat itu merupakan wilayah bagian selatan Pajang.


Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, utusan dari Pajang datang ke Mataram untuk meminta kesetiaan Danang Sutawijaya. Namun, saat itu dia telah mempersiapkan untuk melepaskan diri dari Kerajaan Pajang. Mataram dan Kerajaan Pajang pun sempat bertempur hingga memaksa Sultan Hadiwijaya mundur.

__ADS_1


Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya sakit dan akhirnya wafat pada 1582. Sehingga upaya Danang Sutawijaya untuk memerdekakan Mataram pun semakin mudah, terlebih lagi Kerajaan Pajang mengalami pergolakan karena perebutan kekuasaan.


Pada 1586, Senopati resmi mengangkat dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Gelarnya tersebut berarti bahwa raja berkuasa atas pemerintahan dan keagamaan. Sementara gelar sultan baru resmi digunakan oleh penguasa mataram mulai 1641, di masa kekuasaan cucunya, Sultan Agung.


Pada 1587, Pangeran Benawa yang memerintah Kerajaan Pajang meminta agar kerajaannya bergabung dengan Mataram. Sejak saat itu, Pajang menjadi daerah bawahan Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Gagak Baning, adik Danang Sutawijaya, sebagai adipati.


Selama berkuasa, Danang Sutawijaya mulai memperluas daerah kekuasaan Mataram Islam ke wilayah di sekitarnya. Upaya untuk melakukan penaklukkan wilayah terus berlanjut hingga ke daerah pesisir utara dan Jawa Timur. Setelah Demak, Kedu, dan Bagelen berhasil dikuasai, Madiun, Surabaya, Kediri, dan Pasuruan juga tunduk terhadap Mataram.


Di bawah kekuasaannya, Kesultanan Mataram dikenal sebagai kerajaan bercorak agraris dengan ibu kota terletak di Kotagede, Yogyakarta. Selain itu, dia juga menjadikan agama Islam sebagai dasar tata pemerintahannya. Masa pemerintahan Danang Sutawijaya dapat dikatakan sebagai awal kebangkitan Kerajaan Mataram Islam.


Wafatnya Danang Sutawijaya diceritakan dalam Babad Sangkala, yaitu pada 1601. Dia Wafat saat berada di Desa Kajenar, lalu dimakamkan di komplek Pasarean Mataram, Kotagede. Setelah itu, singgasana Mataram diwariskan ke putranya, Mas Jolang yang bergelar sebagai Panembahan Hanyokrowati.


Melihat Danang Sutawijaya dan Ki Ageng Pemanahan, Heru Cokro iri, kedua talenta ini sangat dibutuhkan oleh Jawa Dwipa. Jenderal Danang Sutawijaya, seorang ahli tombak kuda, dia adalah kandidat terbaik untuk posisi instruktur kavaleri berat.


Ki Ageng Pemanahan juga seorang ahli strategi yang tidak dimiliki Jawa Dwipa. Sebagai perbandingan, Ki Ageng Pemanahan jauh melampaui skala Raden Said. Dengan kekuatan Jawa Dwipa yang berkembang pesat, mereka akan menghadapi berbagai tantangan, penasihat ahli strategi profesional seperti Ki Ageng Pemanahan sangat berarti bagi Jawa Dwipa.


Ketika semua orang telah tiba, tidak ada alasan untuk tinggal di alun-alun kota lagi, oleh karena itu Heru Cokro membawa mereka ke kediaman penguasa.

__ADS_1


__ADS_2