
Kali ini, karena kontak pertama tim cadangan tentara masuk dalam medang perang, cukup banyak orang yang terluka. Untungnya, tim medis yang dipimpin oleh Dharmawan dalam keadaan siaga. Sehingga korban luka dapat segera diberikan perawatan.
Untuk jarahan medan perang, ada departemen logistik yang bertanggung jawab untuk membersihkannya. Jadi Heru Cokro tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, dan langsung pergi ke arah gerbang utara dengan dua regu tentara cadangan sebelumnya.
Lima menit kemudian, api suar menara penjaga beterbangan, klakson perang yang sebelumnya sunyi, berbunyi kembali!
Gelombang ketiga adalah kelompok sapi liar biasa level 5, sapi liar elit dengan level 8, serta raja sapi liar yang memiliki level 10. Berbicara tentang sapi liar, Jawa Dwipa adalah musuh besar mereka. Karena raja sapi liar, sapi liar betina dan sapi liar lainnya telah banyak dibunuh mereka sebelumnya. Bahkan anak sapi liar merekapun di tangkap dan dibawa kembali ke teritori Jawa Dwipa untuk dibudidayakan.
Kali ini, untuk membalas perseteruan darah ini. Generasi baru raja sapi liar, membentuk 200 kelompok, yang berkjumlah hampir 3000 sapi liar untuk membalas dendam Jawa Dwipa atas perlakuannya.
Untungnya, sapi liar itu terlalu bodoh dan pemarah. Sehingga jebakan yang ditempatkan menjadi tempat pemakaman yang efektif untuk mereka. Sangat disayangkan bahwa dua gelombang serigala liar sebelumnya telah menghancurkan sebagian besar perangkap. Dengan cara ini, jebakan pada empat rantai pertahanan telah dihancurkan, dan masih menyisakan 2.000 sapi liar. Gelombang binatang liar berikutnya, tidak bisa menikmati kekejaman empat rantai perangkap pertahanan. Hehe ~ he, ini sangat disayangkan Heru Cokro.
Pada jarak 400 meter dari wilayah, kawanan sapi liar dibagi menjadi dua kelompok, menuju ke arah gerbang barat dan gerbang utara, berharap dapat menghancurkan Jawa Dwipa menjadi rereuntuhan.
Heru Cokro yang melihat seribu sapi liar yang datang ke arahnya, dalam hati hanya bisa bersedih dan tersenyum kecut. Ini benar-benar konsep sebab dan akibat, retribusi atau karma akan datang pada waktunya. Mereka datang sesukanya, tanpa harus menunggu anda siap.
Pertahanan pasif tidak akan cukup menahan kawanan sapi liar ini, Heru Cokro berjalan ke atas menara panah, menemui Buminegoro, serahkan bendera kepadanya, biarkan dia berdiri di menara panah sebagai konduktor.
“Kapten Buminegoro, di sini saya akan memberi anda kekuasaan penuh sebagai konduktor. Permintaan saya hanya satu, jangan bergegas maju sebelum bala bantuan tiba. Jika pertahanan rusak, saya perintahkan anda untuk segera menyelamatkan diri dan mundur sementara bersama seluruh orang.”
Buminegoro merasa tersentuh atas jiwa patriot sang penguasa. Buminegoro yakin bahwa jika penguasa memiliki kesempatan, dia akan memimpin Jawa Dwipa dalam cahaya kemuliaan. Diapun berjanji dalam hatinya tidak akan mengecewakan rahmat Heru Cokro, karena penguasa sendiri tahu bahwa sebelum ini, dia bahkan tidak pernah menjadi tentara resmi, tetapi sekarang dia memiliki kekuasaan penuh atas tentara.
Heru Cokro yang melihat kecemasan Buminegoro, menepuk pundaknya dan berkata dengan lembut: “Kapten Buminegoro, jangan gugup, saya yakin anda memiliki kemampuan ini.”
Buminegoro tidak mengatakan apa-apa, hanya bisa mengangguk dalam diam.
Waktu tidak mungkin menunggu, maka Heru Cokro hanya bisa mengatur sebanyak ini. Langsung membawa dua regu prajurit cadangan pergi dari gerbang utara. Rencananya juga terbilang sangat sederhana, yaitu untuk mengambil keuntungan dari regu kavaleri, menjemput bola, memimpin sapi liar ke arah lain, agar dapat mengurangi tekanan tim pertahanan.
__ADS_1
Sebelum grup sapi liar menyelesaikan formasi, Heru Cokro berhasil menerobos dengan kedua regu kavaleri. Melihat dengan matanya sendiri, bahwa ada tim manusia yang melarikan diri. Sapi liar elit yang berada di tengah kawanan segera membagi separuh sapi liar untuk mengejarnya.
Dengan cara ini, tekanan pertahanan di pintu utara dapat dikurangi hingga setengahnya. Buminegoro yang berdiri di atas menara panah, menatap sapi liar dengan cermat. Ketika mereka hanya berjarak 60 meter dari pagar, segera melambaikan bendera dan berteriak keras: “Tembak!”
Proyeksi kolektif tombak turun seperti hujan selama tiga putaran, 300 ekor sapi liar yang terdekat langsung terbunuh. 200 ekor sapi liar yang masih hidup bergegas kearahnya. Buminegoro yang telah terinfeksi atmosfer gila medan perang, serta jiwa patriot Yang Mulia Heru Cokro, menjadi sangat bersemangat. Berlari, turun dari menara panah, mengangkat tombak biasa setinggi-tingginya, dan berteriak: “Saudara-saudara, ikuti aku!”
Pada saat yang sama, dia langsung bergegas maju, bertarung melawan sapi liar dengan tombaknya. Membuat seluruh regu tentara cadangan terinfeksi akan semangat juangnya. Darah seluruh tentara cadangan seakan mendidih dan bergegas menyusul Buminegoro untuk memusnahkan kawanan sapi liar.
Sayangnya, jumlah tim tentara cadangan yang sedikit berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, dengan tombak kayu biasa yang memiliki tingkat pembunuhan terbatas. Dalam waktu kurang dari lima menit, tentara mulai mendapat luka. Beberapa sapi liar telah menerobos pagar beberapa kali, untungnya masih bisa dihentikan oleh para tentara.
Ketika Buminegoro merasa tidak akan dapat menahan serangan binatang liar lebih lama lagi, regu kavaleri akhirnya muncul dari kejauhan. Sejumlah 50 prajurit kavaleri, menembak selama dua putaran, menyebabkan sapi liar yang tersisa benar-benar musnah.
Tim kavaleri yang datang ini adalah kavaleri yang dibawa Heru Cokro sebelumnya. Ketika tim penyelamat ini tiba, moral tentara menjadi lebih baik dan mereka kembali ke posisinya masing-masing.
Heru Cokropun akhirnya dapat melonggarkan otot-otot sarafnya. Dia berjalan ke Buminegoro, menepuk pundaknya, tersenyum dan berkata: “Kapten Buminegoro, kerja yang sangat bagus. Perbuatan heroikmu, aku baru saja mendengarnya dari orang-orang, patut disebut sebagai pahlawan.”
“Baiklah, semoga ini tidak terjadi lagi. Saya juga tidak ingin mendengar anda ataupun suluruh penduduk Jawa Dwipa bertarung dalam medan perang yang sudah diketahui dengan pasti kekalahannya. Jangan pernah sekalipun memasuki medan perang dengan mengandalkan yang namanya keburuntungan. Itu hanyalah kebodohan, bukan seorang pahlawan.” kata Heru Cokro dengan tegas.
Heru Cokro berjalan ke tengah-tengah kelompok tentara, mengunjungi orang yang terluka. Kali ini, 20 anggota tentara terluka yang merupakan kerugian besar. Banyak diantaranya yang mengalami luka sangat parah.
Heru Cokro kemudian menginstruksikan tim medis untuk membawa orang yang terluka parah kembali ke pusat layanan medis untuk perawatan. Sedangkan yang memiliki cedera ringan, selama masih bisa melempar senjata, mereka masih harus mengikuti peperangan. Karena Heru Cokro tidak lupa, akan ada gelombang terakhir dari kawanan yang perlu mereka tangani dan ini lebih menakutkan daripada yang terakhir kali.
Benar saja, setelah tentara istirahat kurang dari sepuluh menit, api suar terlihat lagi.
Gelombang terakhir dari invasi binatang liar juga merupakan gelombang yang paling kuat. Mereka adalah kerbau liar biasa level 6. kerbau liar elit memiliki level 10, sedangkan raja kerbau liar adalah level 12. Binatang dari tiga gelombang sebelumnya telah menghancurkan jebakan. Meski ada satu atau dua yang selamat, ini tidak perlu dihitung, karena tidak akan terlalu berguna dalam menghadapi invasi binatang liar ini.
Dengan tubuh yang besar dan kuat, jebakan hanya menghasilkan sedikit korban untuk kerbau liar ini. Karena itu, ketika kerbau menghancurkan empat rantai pertahanan perangkap, seribu kerbau liar yang menyerang ini masih menyisakan 900 ekor.
__ADS_1
Demikian pula, kelompok kerbau liar dibagi menjadi dua kelompok seperti stategi gelombang binatang liar sebelumnya, masing-masing menyerang gerbang sisi barat dan gerbang utara. Di antara mereka, yang mengarah ke sisi gerbang utara, hanya berjumlah 300 ekor kerbau liar.
Meskipun gelombang kerbau liar ini sangat kuat, Heru Cokro tidak terlalu khawatir. Karena susunan api sebagai kartu as dalam peperangan ini belum digunakan, ini akan muncul dengan penuh kejutan, membakar kerbau liar ini.
Dalam suara spam pemberitahuan sistem yang terus berdering di telinganya, belum ada pengumuman bahwa ada wilayah yang telah berhasil melawan invasi binatang liar. Ini menunjukkan bahwa efisiensi Jawa Dwipa untuk menghilangkan kawanan binatang liar ini masih terbilang sangat tinggi.
Heru Cokro berdiri di atas menara panah, dengan tenang menyaksikan kerbau liar yang bergegas menuju pagar. Tepat ketika kelompok kerbau liar berada pada jarak kurang dari 50 meter dari pagar. Heru Cokro menembakkan panah api yang menyala ke arah tumpukan jerami. Begitu Jerami terbakar, terjadi ledakan dahsyat.
Api menyebar, membakar seluruh parrafin wax yang terdapat dalam parit. Seketika, seluruh parit yang memiliki panjang 200 meter terbakar. Kerbau liar yang tidak sempat mengelak, hanya bisa menjadi daging panggang. Sedangkan kerbau liar di belakang yang melihat api mengamuk, berhenti, tidak berani terus melangkah maju.
Pada saat ini, tombak biasa tim tentara cadangan, panah dari regu kavaleri, sama seperti dewa kematian yang mencabut nyawa.
Dalam waktu kurang dari sembilan menit, kerbau liar di gerbang utara telah hancur total. Sedangkan untuk sisi gerbang barat, Heru Cokro tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena jika anda membaca dengan cermat pada penjelasan sebelumnya, ada banyak parit yang berisi parrafin wax, lebih ganas di sana.
Benar saja, sebelum Heru Cokro bergegas ke pintu sisi barat, Pemberitahuan sistem yang menyenangkan terdengar di telinganya.
“Pengumuman dunia: Selamat kepada Jawa Dwipa yang terletak di wilayah Indonesia, di bawah kepemimpinan Penguasa Jendra, berhasil menolak invasi binatang liar. Mendapat juara 1 di peringkat dunia!”
……………………..
“Pengumuman dunia: Selamat kepada Jawa Dwipa yang terletak di wilayah Indonesia, di bawah kepemimpinan Penguasa Jendra, berhasil menolak invasi binatang liar. Mendapat juara 1 di peringkat dunia!”
………………….
“Pengumuman dunia: Selamat kepada Jawa Dwipa yang terletak di wilayah Indonesia, di bawah kepemimpinan Penguasa Jendra, berhasil menolak invasi binatang liar. Mendapat juara 1 di peringkat dunia!”
…………………….
__ADS_1
Setelah pengumuman, dunia dibuat kebingungan. Kali ini, Heru Cokro benar-benar menjadi pemain top kelas dunia.