
“Parrafin wax? Yang berbentuk seperti lilin, tidak memiliki rasa, tidak berbau, berwarna putih solid serta sangat mudah terbakar. Apakah ini yang penguasa maksudkan?”
“Ya, jendral sangat berpengetahuan luas.”
Jendral Giri tersenyum malu. “Penguasa tiba-tiba bertanya tentang parrafin wax, ini apa artinya?”
“Ya, jika saya dapat membeli banyak parrafin wax, dapatkah itu membantu strategi yang telah jendral rumuskan?” Tanya Heru Cokro, seakan memberi isyarat.
Jendral Giri akhirnya memahami maksud Heru Cokro, berkata dengan bahagia, “Itu akan sangat membantu. Binatang liar tidak lebih baik dari kami, mereka juga paling takut pada api. Jika ada parrafin wax, saya dapat mengatur api yang ganas di depan pemukiman. Saya merasa lebih percaya diri, ini dapat menghancurkan binatang liar dalam satu kali gerakan. Sehingga terjatuhnya korban pada pihak kita juga dapat diminimalisir.”
“Ya, dengan adanya jendral yang bekerja, saya merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Jendral, silahkan mempersiapkan personel, saya akan pergi ke pasar untuk membeli parrafin wax.” Heru Cokro berkata dengan gembira.
Jendral Giri segera memanggil 20 orang, langsung mengikuti dibelakang Heru Cokro yang berjalan kearah pasar.
Heru Cokro memasuki kabin kayu, klik platform perdagangan material untuk mencari parrafin wax. Parrafin wax dijual dalam satuan karung. Setiap karung berisi 50 kilogram parrafin wax dan dibanderol dengan harga 1 koin perak.
Dalam perjalanan ke pasar, Jendral Giri telah mengkalkulasi pasokan parrafin wax yang dibutuhkan. Seluruh tata letak susunan api memerlukan 40.000 parrafin wax. Maka Heru Cokro harus membeli 800 karung parrafin wax. Agar tidak kekurangan pasokan, Heru Cokro mengantisipasi dengan cara menghabiskan 10 koin emas untuk membeli 1.000 karung parrafin wax.
__ADS_1
Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan peringatan dini wilayah, Heru Cokro sekali lagi menghabiskan 10 koin emas untuk membeli cetak biru arsitektur menara penjaga. Catak biru arsitektur menara penjaga menggunakan batu sebagai bahan dasar. Pada saat yang sama, menara ini dilengkapi dengan menara suar yang berfungsi untuk menyampaikan peringatan. Sedangkan luas setiap menara penjaga dapat menampung dua orang.
[Menara penjaga]: Fasilitas dasar militer\, dengan kemampuan pertahanan\, deteksi yang kuat\, serta peringatan dini. Persyaratan konstruksi: 20 kau\, 200 batu. Waktu konstruksi: satu hari.
Di alun-alun di depan kabin kayu, Giri menginstruksikan 20 prajurit untuk mengangkut 1.000 karung parrafin wax ke barak tentara. Barang ini adalah barang berbahaya, jika ditempatkan di tempat lain, tidak ada yang bisa menjamin keamanannya.
Heru Cokro kemudian menyerahkan cetak biru arsitektur kepada Giri, menginstruksikan agar segera diserahkan kepada Buminegoro untuk segera ditindak lanjuti. Adapun lokasi menara penjaga dan tugas spesifik lainnya, secara alami adalah tanggung jawab Jendral Giri. Berdasarkan luas wilayah saat ini, Heru Cokro memperkirakan, yang terbaik adalah membangun lebih dari tiga menara untuk memastikan peringatan dapat berjalan dengan baik.
Dari pasar, Heru Cokro akhirnya merasa sedikit bebas. Dalam menghadapi invasi binatang liar yang akan datang, dia telah melakukan semua yang dia bisa kerjakan. Sekarang seluruh wilayah telah disusun seperti sangkar burung yang terlihat mudah untuk dimasuki. Namun, ketika ada yang menyerang. Harga yang harus dibayar sangatlah besar.
Kunci kemenangan atau kekalahan dalam perang tidak lebih dari pemanfaatan waktu yang baik. Tak perlu dikatakan, dia mengandalkan keuntungan dari spoiler kehidupan sebelumnya, dia sudah menyiapkan rencana invasi binatang liar ini, sejak wilayah dipromosikan ke tingkat RT, dia telah mempersiapkan perang ini lebih awal. Sedangkan penguasa lainnya hanya memiliki waktu persiapan tiga hari.
Yang ini lebih menenangkan dengan keuntungan yang amat besar. Dengan kalkulus prajurit dasar, pasukan telah menyingkirkan era kuno dan memasuki era militer reguler. Apalagi ditambah Jendral Giri yang merupakan salah satu karakter historis Walisongo, itu benar-benar keunggulan absolut.
Terakhir, ada dukungan logistik yang kuat. Panah yang cukup dengan sejumlah besar tombak, sudah cukup untuk menjamin konsumsi perang dengan binatang liar ini.
Kembali ke kediaman penguasa, Heru Cokro membaca buku selama satu jam di kantor, dan offline.
__ADS_1
Terbangun, berjalan keluar apartemen untuk membeli sarapan. Tak terasa ketika keluar dari rumah makan. Dedaunan, rerumputan dan pepohonan di sekitar telah basah kuyup di siram derasnya hujan. Heru Cokro berlari kembali pulang melewati jalanan yang becek. Cemas, kalau menunggu hujan benar-benar reda, akan membuat Rama Heryamin dan Dia Ayu Heryamin akan kelaparan.
Saat Heru Cokro pulang membawa sarapan, dengan kondisi kotor dan basah. Dia Ayu Heryamin yang melihatnya dari dalam ruang lobi merasa kasihan. Berlari keatas mengambilkan handuk dan baju ganti. Sesampainya di rumah apartemen, Dia Ayu Heryamin dan Rama Heryamin tersenyum satu sama lain, duduk bertiga di atas meja dengan wajah penuh pengertian.
Beberapa orang mengatakan bahwa kebiasaan adalah hal yang mengerikan. Sebelum Heru Cokro dan Rama Heryamin mulai makan, Dia Ayu Heryamin telah menghabiskan makanannya.
Satu bulan terakhir, dia sudah terbiasa membeli nasi pecel, susu kedelai panas, gorengan dan kerupuk untuk dijadikan menu pagi hari. Dua minggu terkahir, Rama Heryamin telah memulai sekolah barunya yang tidak jauh dari apartemen. Setelah menyelesaikan sarapan, Heru Cokro mengantarkan Rama Heryamin ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya.
Pada waktu sore hari, terkadang Heru Cokro yang menjemput Rama Heryamin. Jika Dia Ayu Heryamin tidak bisa, karena banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan. Bahkan seringkali Dia Ayu Heryamin tidak pulang kerumah, melainkan langsung kerja di malam harinya. Tanpa disadari, baik rutinitas ataupun gaya hidup Heru Cokro telah banyak berubah.
Dia Ayu Heryamin dan Rama Heryamin tidak sadar, mungkin ini adalah takdir yang mengikat diantara mereka. Takdir yang luar biasa ini, merubah masa depan mereka menjadi lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Di antara mereka, sudah bukan lagi hubungan seperti kolega ataupun teman. Melainkan sudah seperti keluarga sedarah. Mereka hidup di bawah atap yang sama, alami dan harmonis.
Seperti biasa, setelah mengirim Rama Heryamin ke sekolah, Heru Cokro kembali ke rumah dan membuka Metaland Mainnet. Forum hari ini luar biasa semarak. Tidak perlu dikatakan, akar dari semuanya adalah pengumuman sistem tadi malam.
Judul posting teratas adalah kuesioner. Subjek dari survei ini adalah untuk menebak siapa yang akan menjadi sepuluh besar tingkat nasional kali ini. Selain itu juga, untuk menebak akankah penguasa dari wilayah Indonesia bisa menempati peringkat dunia. Siapa saja kandidatnya.
Tidak ada keraguan bahwa Sembilan Naga Hitam masih merupakan kandidat populer terbesar. Apa yang membuat semua orang tertarik adalah bahwa selain Sembilan Naga Hitam, siapa lagi yang dapat menempati tempat di sepuluh besar di wilayah Indonesia.
__ADS_1
Di antara serangkaian kandidat, Heru Cokro ada dalam daftar, sebagai pemain ke sembilan yang telah mempromosikan wilayahnya ke tingkat RT. Selain dia, ada Prabowo Sugianto dari teritori Alpanhankam, Nadim Makaron dari teritori Gofar, Abraham Moses dari teritori Pindad, dan Hesty Purwadinata dari teritori Redho.