Metaverse World

Metaverse World
Perjalanan Generasi dan Pertarungan di Bumi Padang Rumput


__ADS_3

Di tengah situasi saat ini, dari tujuh jenderal pasukan padang rumput, satu telah meninggal, satu mengalami luka parah, dan satu lagi tidak cocok untuk menjadi kolonel. Dari empat jenderal yang tersisa, tiga diantaranya akan diatur ke divisi kedua legiun naga, sementara yang terakhir akan dikirim ke legiun harimau untuk bekerja di bawah Tipukhris. Dua kolonel legiun harimau yang tersisa akan dipilih dari jenderal-jenderal aliansi yang menyerah. Pergantian jenderal juga akan terjadi antara divisi pertama legiun naga dan legiun harimau. Ditya Mahodara dan Agus Bhakti akan dipindahkan dari legiun naga ke legiun harimau.


Para jenderal yang menyerah atau memilih untuk berpindah akan mengisi posisi yang ditinggalkan. Tiga mayor unit Pengawal Gentala, yaitu Aswatama, Agus Fadjari, dan Agus Bhakti, semuanya akan mendapatkan promosi. Aswatama yang diidentifikasi bukan sebagai anak Drona akan digantikan dengan nama Suliwang. Langkah ini untuk memastikan bahwa kendali Heru Cokro tetap kuat atas kedua legiun tersebut. Pangkalan utama legiun harimau tidak akan berlokasi di Prefektur Gresik, melainkan di Kecamatan Al Shin. Saat armada angkatan laut Pantura kembali, legiun harimau akan mengikuti kelompok migran ketiga menuju Kecamatan Al Shin. Mereka akan terlibat dalam pertempuran di pulau Kalimantan.


Aswatama dan Tipukhris memiliki niat untuk menaklukkan Kalimantan, sebuah rencana yang dianggap sebagai langkah besar. Dalam waktu singkat, Kecamatan Al Shin telah berhasil membentuk dua divisi yang kuat. Heru Cokro percaya bahwa suku asli yang ada di sana tidak akan berani untuk melawan Kecamatan Al Shin. Ketika legiun harimau mencapai kota tersebut, maka kota itu akan mengalami pertumbuhan yang pesat.


Pada tahap ini, reorganisasi militer telah selesai. Setelah Heru Cokro menyelesaikan penunjukan dan pengaturan struktur, ia menyerahkan urusan sisa kepada Departemen Urusan Militer. Pada sore hari, Heru Cokro akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat sejenak. Mulai dari awal Tahun Baru hingga sekarang, ia selalu berada dalam kesibukan. Namun, saat ini dia akhirnya mendapatkan setengah hari untuk beristirahat. Meskipun, besoknya masih akan penuh dengan berbagai perhatian, karena anggota Aliansi Jawa Dwipa akan berkumpul di Jawa Dwipa untuk merayakan pesta tahunan.


Selain para bangsawan, Heru Cokro juga telah mengundang berbagai guild seperti Up The Irons, Paviliun Segitiga, Satanic Sindrom, dan Tikus Berdasi. Terdapat juga guild bernama Satanic Sindrom yang bekerja secara rahasia dengan Maria Bhakti. Setelah Kecamatan Indonet ditingkatkan, Maria Bhakti mengumumkan hubungannya dengan pemimpin guild bernama Ekamata. Dengan bantuan dari Satanic Sindrom, Maria Bhakti mampu memperluas wilayahnya lebih cepat daripada Hesty Purwadinata. Meskipun Marga Lobia sudah tidak ada lagi, Maria Bhakti tetap mendukung mereka secara diam-diam.


Paviliun Segitiga didirikan oleh Ekamata setelah ia meninggalkan Sekte Jala Mangkara Wahyuono, yang membuat perseteruan antara keduanya. Heru Cokro juga menyadari pentingnya kerjasama antara Maria Bhakti dan Ekamata. Meskipun Marga Lobia sudah bubar, hubungan kerjasama antara mereka tetap kokoh dan bertahan lama.


Sambil memandang ke luar, Heru Cokro duduk santai di sebuah paviliun di taman belakang. Di luar, Rama sedang asyik bermain lempar tangkap bersama sekelompok anak. Beberapa dari mereka adalah penduduk asli, sementara yang lain adalah anak-anak pemain. Bagi mereka, dunia anak-anak adalah dunia di mana perbedaan tidak ada, dan semuanya adalah teman.


Melihat Rama bisa bersenang-senang dengan teman-temannya membuat Heru Cokro merasa senang. Dalam kesempatan langka saat ini, Heru Cokro membiarkan Rama membawa teman-temannya ke taman belakang dan menikmati bermain di sana. Zahra, sang pembantu, juga telah menyiapkan berbagai buah dan kue untuk mereka nikmati. Bagi anak-anak, bermain di Manor Penguasa adalah suatu kebahagiaan yang tak terlupakan.


Meskipun biasanya taman belakang adalah area terlarang bagi anak-anak, Heru Cokro dengan senang hati memberikan izin untuk kali ini. Ketika Rama berlarian kembali ke paviliun, Heru Cokro tersenyum lembut, memberinya handuk untuk mengusap keringatnya.


"Rama, kau pasti lelah setelah bermain begitu lama," kata Heru Cokro sambil tersenyum.

__ADS_1


Rama meraih handuk dan mengelap keringat dari wajahnya, lalu berkata antusias, "Tidak, Mas Heru! Aku baik-baik saja!"


Heru Cokro menggelengkan kepala dengan senyum, "Baiklah, kalau begitu. Jangan lupa beristirahat sebentar dan makan. Saudari Zahra telah menyiapkan makanan untukmu di paviliun."


"Oke!" Rama berlari kembali ke teman-temannya, mengajak mereka untuk istirahat dan makan bersama. Segerombolan anak-anak berlarian mendekat, penuh semangat.


"Mas Heru!"


"Raden!"


"Yang Mulia!"


Orang-orang yang memanggilnya dengan berbagai panggilan itu adalah anak-anak, baik yang berasal dari suku asli maupun dari pemain. Meskipun panggilan mereka berbeda-beda, semuanya diucapkan dengan penuh rasa hormat dan kegembiraan.


Pada usia Rama, pandangan seseorang tentang dunia mulai membentuk. Heru Cokro merasa penting untuk membiarkan Rama bergaul dengan teman-temannya karena hal itu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan sosialnya. Dia menyadari bahwa melarangnya berinteraksi dengan teman sebaya mungkin merugikan bagi Rama.


Sebagaimana diharapkan, Rama senang melihat kakaknya menyambut teman-temannya dengan ramah. Senyumannya hangat, dan terutama saat dia melihat seorang gadis kecil yang baru berusia enam tahun bergabung dengan mereka. Gadis tersebut memiliki mata besar dan pipi bulat, dan Heru Cokro merasa begitu terpikat oleh keimutannya sehingga ingin menggendongnya. Gadis kecil ini tidak terlihat takut pada orang asing, malah dia terus tertawa, membawa semangat baru dan menghilangkan semua kelelahan yang dirasakan.


Kehadiran anak-anak yang lucu dan ceria ini berhasil membawa kebahagiaan dan mengusir segala kekhawatiran yang mungkin ada dalam pikiran Heru Cokro. Mereka membawa suasana riang ke taman, mengingatkan Heru Cokro tentang betapa berharganya momen-momen seperti ini dalam hidupnya yang penuh tanggung jawab.

__ADS_1


Saat suasana begitu ceria, Zahra, seorang pembantu setia, mendekat dan memberi tahu Heru Cokro bahwa Wiro ingin bertemu dengannya. Heru Cokro langsung memahami alasannya. Ki Ageng Djugo, dukun yang diketahui memiliki kemampuan penyembuhan, kemungkinan telah memberikan ramuan kepada Wiro. Karena itu, Wiro mungkin ingin datang untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Heru Cokro.


Heru Cokro memberi izin untuk membawa Wiro ke taman belakang alih-alih ruang baca, tempat ia bermain dengan anak-anak. Ini menggambarkan kepribadian yang hangat dan ramah dari Heru Cokro.


"Wiro, ayo bergabung!" panggil Heru Cokro kepada Wiro, sambil memberikan raut wajah ceria.


Wiro merasa agak gugup, bahkan dalam kehadiran Heru Cokro. Dia dengan rendah hati mendekati dan hanya menempati setengah kursi, menunjukkan rasa hormat dan rasa rendah diri dalam hadapan tuannya.


Meskipun Rama dan teman-temannya adalah sumber keceriaan, Heru Cokro dan Wiro memiliki percakapan yang lebih serius. Wiro memuji Rama dengan penuh kagum, mengakui kecerdasan dan kepandaian gadis kecil itu.


Heru Cokro mengisyaratkan bahwa Rama hanya tahu bagaimana bermain dan tertawa. Walaupun Heru Cokro sangat bahagia dengan kehadiran anak-anak, ia menyadari bahwa dia tidak terlalu pandai dalam mengurusi mereka.


Percakapan ini mengalir dengan alami, menggambarkan hubungan yang baik antara Heru Cokro dan Wiro. Wiro menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Heru Cokro atas bantuan dalam penyembuhan penyakitnya. Heru Cokro merespons dengan rasa hangat dan penuh pengertian.


Ketika Wiro mengatakan bahwa penyakitnya telah pulih, Heru Cokro dengan penuh perhatian menanyakan apakah keahliannya juga telah pulih. Wiro memberikan jawaban yang jujur dan rinci, menjelaskan bahwa meskipun racun telah hilang, tubuhnya masih perlu waktu untuk pulih sepenuhnya.


Heru Cokro menunjukkan perhatiannya dengan menawarkan bantuan lebih lanjut, termasuk ramuan-ramuan berharga dari Manor Penguasa yang dapat membantu dalam pemulihan Wiro. Heru Cokro menganggap hal ini sebagai tindakan yang wajar dan tulus.


Ketika Wiro ingin menolak tawaran tersebut, Heru Cokro memastikan bahwa Wiro menerimanya dengan tulus. Ini menggambarkan sifat teguh dan baik hati Heru Cokro.

__ADS_1


Akhirnya, Wiro mengucapkan terima kasih kepada Heru Cokro, mengakhiri percakapan mereka dengan penuh hormat dan rasa syukur.


Dalam kisah ini, tidak ada pembahasan mengenai perpindahan Padepokan Wiro Sableng ke Sekte Pedang Sachi. Heru Cokro mengerti bahwa Wiro akan memberikan penjelasan yang lebih lengkap ketika ia siap, dan tidak ingin memaksa Wiro untuk membahas topik tersebut dalam situasi yang cair dan hangat seperti ini.


__ADS_2