Metaverse World

Metaverse World
Iron Maiden, Wakil Kapten Up The Irons


__ADS_3

Setelah salam, Sri Isana Tunggawijaya mengingat alasan mengapa dia menelepon, menoleh ke Heru Cokro dan berkata, "Cokro kecil, pernahkah kamu mendengar tentang permainan yang dikenal sebagai The Metaverse World?"


Heru Cokro terkejut, berpikir dalam hatinya “Mengapa bibi kecil menanyakan hal ini, jangan bilang dia sudah mengetahui sesuatu?”


Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena setelah dia lulus dia belum pernah kembali ke Jawa Timur dan tetap di Jakarta di mana dia menempuh pendidikan sarjananya. Setelah bekerja, dia kehilangan semua kontak dengan keluarganya. Jadi apa yang dilakukannya, tidak ada yang tahu.


Di permukaan, Heru Cokro tetap tersenyum, berkata tanpa perubahan emosi, “The Metaverse World? Seberapa istimewa permainan ini sehingga bibi kecil benar-benar memikirkannya selama tahun baru?”


“Alasannya, bibi kecil tidak bisa memberitahumu. Namun, aku sangat merekomendasikanmu untuk memainkannya. Jika kamu membutuhkan dana, bibi kecil dapat menyediakannya.” Sri Isana Tunggawijaya berkata dengan sangat berhati-hati.


Heru Cokro menganggukkan kepalanya. Dia secara praktis dapat memastikan bahwa bibi kecil mengetahui beberapa detail terselubung dari permainan tersebut. Namun, dia juga ragu apakah akan menceritakan kepadanya atau tidak.


Dia memikirkannya cukup lama, serta mempertimbangkan semua perhatian yang dia terima dan permusuhan dari Roberto.


Heru Cokro dengan sengaja berkata dengan nada santai, "Tidak perlu, sebenarnya saya telah memainkan permainan ini."


"Ah? Kamu sudah mulai bermain. Itu bagus, apa IDmu?” Sri Isana Tunggawijaya berkata dengan terkejut.


Heru Cokro menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, aku sudah terbiasa bermain sendiri. Mengapa tidak bibi kecil saja yang memberi tahu IDnya. Jika tiba saatnya saya tidak dapat bertahan hidup, saya akan bergantung pada bibi kecil. He~he~he."


Jika Heru Cokro bukan keponakannya, dan terhadap keponakan ini dia tidak merasa bersalah, dia pasti sudah merasa kesal. Kali ini, dia hanya bisa menahannya, “Baiklah kalau begitu, kamu masih keras kepala. Bibi kecil tidak akan memaksamu. Tapi ingat, ID bibi kecil adalah Iron Maiden, jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu harus datang mencariku.”

__ADS_1


Heru Cokro terkejut ketika kata-kata keluar dari mulutnya, "Kelompok tentara bayaran Up The Irons?"


“Hmph! Bagus jika kamu mengetahuinya. Mari kita hentikan pembicaraan sampai di sini. Sampai jumpa lagi!" Kesabaran Sri Isana Tunggawijaya sudah habis dan dia menoleh ke Rama, “Rama ucapkan selamat tinggal pada bibi. Jangan lupa jaga bocah Cokro ini biar tidak berulah!”


Rama dengan patuh menganggukkan kepalanya dan berkata dengan manis, "Sampai jumpa, bibi."


Setelah menutup telepon, Heru Cokro tidak bisa menenangkan diri. Dia tidak menyangka bahwa bibi kecilnya akan menjadi wakil kapten dari kelompok tentara bayaran peringkat dua. Maka Sri Wardani Samaratungga harus menjadi kaptennya, Gold Maiden.


Nasib benar-benar mempermainkannya. Jika dalam kehidupan terakhirnya dia tidak menutup telepon bibi kecil, maka dia mungkin telah memasuki permainan lebih awal. Dalam permainan, dengan dukungan Gold Maiden, apakah dia masih perlu berkeliaran dengan Rama? Tentu semuanya akan sangat berbeda.


Namun, tidak ada “jika” atau “andai” dalam kehidupan. Kali ini, secara tidak sengaja dia menerima bantuan seperti itu, efek apa yang akan terjadi padanya di dalam permainan? Semuanya tidak diketahui.


Pada saat yang sama, antara Sri Isana Tunggawijaya dan Sri Wardani Samaratungga terjadi percakapan yang menarik.


“Bocah itu sangat menyebalkan. Saya awalnya ingin membantunya, tetapi dia masih berani bertingkah keren!” Sri Isana Tunggawijaya sangat marah.


Sri Wardani Samaratungga dengan lembut menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Dia mirip seperti kamu yang keras kepala! Apakah kamu tahu berapa harga hewan peliharaan pintar keponakanmu?”


“Seberapa mahal? Meski terlihat keren dan apik, paling banyak hanya memiliki harga 10-20 ribu kripton!”


“Kamu benar-benar bukan wanita sosialita. Itu adalah hewan peliharaan edisi terbatas dari Ganesha Tekno Ltd., yang harga satuannya adalah 1 juta kripton.” Sri Wardani Samaratungga melirik Sri Isana Tunggawijaya, berkata dengan tenang.

__ADS_1


"Ah? Mahal sekali, bagaimana anak ini bisa mendapatkan begitu banyak uang? Jika saya ingat dengan benar, dia harusnya baru lulus tahun ini!”


“Itu sebabnya aku bilang dia tidak sederhana. Berbicara kembali ke The Metaverse World, bagaimana seorang lulusan universitas memperhatikan permainan seperti itu dan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli kapsul metaland dengan harga selangit. Itu saja sudah tidak biasa. Saya pikir dia mungkin pemain beta seperti kita.” Sri Wardani Samaratungga menyimpulkan.


“Wardani, apa yang kamu katakana sangat masuk akal. Hey, bocah itu bahkan ingin berbohong kepada bibinya. Aku akan memberi pelajaran kepadanya.” Sri Isana Tunggawijaya ingin menelepon teleponnya lagi.


Sri Wardani Samaratungga segera mencegahnya, “Perhatikan keponakanmu. Dia pasti bukan pemain biasa. Ketika dia mengetahui bahwa kamu adalah wakil kapten kelompok tentara bayaran Iron Maiden, dia dapat menahan diri untuk tidak memberi tahu IDnya. Jelas bahwa dia tidak sesederhana pemain solo biasa. Jika kamu meneleponnya kembali sekarang, dia kemungkinan besar masih tidak akan mau mengatakan yang sebenarnya. Jadi, mari kita lihat situasinya dengan tenang.”


Sri Isana Tunggawijaya yang menjadi wakil kapten dari kelompok tentara bayaran terbesar kedua di Indonesia, dia jelas bukan orang yang sederhana. Setelah menenangkan dirinya, dia setuju bahwa apa yang dikatakan Sri Wardani Samaratungga masuk akal, bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk meminta penjelasan dari Heru Cokro.


"Oke, mari kita ikuti apa yang kamu sarankan. Bagaimanapun, alasan saya untuk menelponnya sudah tercapai. Ini bisa dihitung sebagai menggugurkan tugasku sebagai bibi. Apa yang terjadi setelah ini, mari kita menyesuaikan dengan situasi yang ada!” Memikirkan orang tuanya yang telah meninggal dunia, Sri Isana Tunggawijaya merasa sedih.


Heru cokro dan Rama Heryamin begadang hingga jam 11, kemudian Rama yang memeluk Hanoman kembali ke kamarnya untuk tidur.


Heru Cokro mematikan televisi pintar, bergegas ke kamarnya dan masuk ke dalam permainan.


Sebaliknya, waktu dalam permainan masih menunjukkan pukul 11.00 WIB.


Kembang api, lampion, dan barang tahun baru lainnya yang telah di beli beberapa hari lalu, dibagikan ke setiap keluarga oleh Biro Cadangan Material. Melirik ke luar, Heru Cokro bisa melihat bahwa setiap rumah telah menggantung spanduk dan lentera mereka. Meskipun Jawa Dwipa sederhana dan kasar, semangat tahun baru di sini lebih kental daripada kemeriahan yang ada di dunia nyata.


Melihat Heru Cokro yang akhirnya terbangun dari tidurnya, Laxmi yang sedang menggantung lampion di halaman belakang, dengan nakal berkata, "Kakak sangat malas, ini tahun baru dan kamu masih baru bangun tidur!"

__ADS_1


Saat pemain keluar dari permainan, di mata para NPC mereka kembali ke kamar untuk tidur. Merespons candaan Laxmi, Heru Cokro tidak memiliki jawaban yang bagus, dia merajuk dan berkata, “Hey, kamu mengatakan itu pada kakakmu, apakah kamu sudah tidak menginginkan hadiah tahun barumu?”


__ADS_2