Metaverse World

Metaverse World
Panen Pasca Perang Yang Melimpah


__ADS_3

Selain itu, untuk akomodasi Tuan Kawis Guwa dan De Chandra, berada di kamar barat sementara. Setelah semua urusan selesai, Heru Cokro kembali ke kantornya sendiri.


Sekarang teritori memiliki Kawis Guwa dan Jendral Giri, ia memiliki lebih banyak energi untuk menyempurnakan pengembangan teritori.


Mengalami misi mempertahankan wilayah dari invasi binatang liar kali ini, Jawa Dwipa telah berhasil mengguncang dunia. Operasi perang selanjutnya di masa depan adalah untuk memastikan bahwa Jawa Dwipa mendapat manfaat sesuai dengan yang diinginkan, maka perlu untuk merencanakannya dengan hati-hati.


Pada pukul empat sore, tim yang dipimpin oleh Wirama telah kembali ke teritori.


Sepanjang jalan, mereka telah menangkap hampir seratus anak kerbau liar. Anak kerbau liar yang telah kehilangan orang tua mereka, hanya bisa dengan pasrah mengikuti kemana regu kavaleri pergi. Prosesnya berjalan lancar, lebih mudah daripada penangkapan anak sapi liar sebelumnya.


Di luar gerbang barat, pada kaki pegunungan yang berbatu, Divisi Konstruksi telah membangun deretan kandang sapi dan kandang kerbau dengan cara tercepat. Heru Cokro berdiri, berdampingan dengan Siti Fatimah untuk menyaksikan anak kerbau liar yang dimasukkan ke dalam kandang, dia tersenyum dan berkata: “Ini adalah langkah awal bagi peternakan hewan di Jawa Dwipa, bertumbuh menjadi besar! Saya bertanya-tanya. Pada tahap ini, pengelolaan peternakan masih dibawah manajemen Divisi Cadangan Material. Apakah anda memiliki kepercayaan diri?”


Siti Fatimah berkata dengan suara lembut: “Tentu Fatimah sangat percaya diri. Hanya saja, sepertinya kakak terlalu memperhatikan Divisi Cadangan Material, saya khawatir departemen lain mungkin cemburu.”


“Cemburu kenapa? Ini adalah sumber pendanaan teritori yang sangat penting. Mereka diklasifikasikan sebagai manajemen Divisi Cadangan Material, bukan tanpa alasan!”


“Kakak, anda tahu bahwa saya tidak berbicara konten ini. Divisi Cadangan Material sekarang mengelola penebangan, penggalian, penambangan, lumbung, perikanan, peternakan, bahkan bisa dikatan hampir memegang garis hidup teritori. Pada pertemuan pagi hari tadi, divisi lain berada di bawah yurisdiksi Biro Administrasi yang baru didirikan, hanya Divisi Cadangan Material kami yang beroperasi secara independen. Fatimah takut perlakuan khusus seperti ini membawa dampak yang tidak baik.”

__ADS_1


“Ternyata yang Fatimah khawatirkan adalah ini. Saya tidak berpikir itu perlu dipertimbangkan sama sekali. Karena teritori masih berada dalam fase pengembangan. Selain itu, alasan pertama saya melakukan ini adalah karena Fatimah merupakan orang yang sangat saya percayai dan orang yang kompeten dalam menangani urusan ini. Kedua, pada hari ketika teritori berada pada fase privatisasi atau kepemilikan pribadi, misi Divisi Cadangan Material akan berakhir. Pada saat itu, secara alami saya memiliki pengaturannya sendiri. Terkahir, Jika Divisi Cadangan Material sekarang berada dibawah manajemen Biro Administrasi, saya takut malah akan menimbulkan perpecahan di masa depan.”


Siti Fatimah mengangguk dan berkata. “Karena kakak telah mempertimbangkan semuanya, Fatimah tidak perlu khawatir lagi.”


“Fatimah, mayat-mayat binatang liar yang dikumpulkan di pagi hari, bagaimana kabarnya?” Heru Cokro bertanya dengan penuh minat.


“Ini penghasilan yang melimpah. Pertama, daging serigala liar, daging sapi liar dan daging kerbau dapat dimakan. Rata-rata, seekor anjing liar dapat menghasilkan 15 unit daging, seekor sapi liar dapat menghasilkan hingga 60 unit daging, sedangkan satu kerbau liar dapat menghasilkan 100 unit daging. Oleh karena itu, total daging yang telah dikumpulkan saat ini adalah 310.000 unit. Divisi Cadangan Material sendiri telah siap untuk mengawetkan dan menyimpannya. Harapannya dalam setahun kedepan, teritori tidak akan kekurangan daging, atau bahkan memiliki kelebihan.”


“Kedua adalah kulit, yang memiliki jumlah total 6500 unit dari berbagai jenis kulit. Di antaranya, 4000 potongan kulit rusak, 1500 kulit biasa, 800 lembar kulit halus dan 200 lembar kulit sempurna.” Sesuatu tiba-tiba muncul dalam pikiran Siti Fatimah, berkata: “Benar, Laxmi bertanya kepada saya sebelumnya, bagaimana kakak akan menangani kulit-kulit ini?”


“Oh, ada yang terlupa, selain daging dan kulit yang saya sebutkan sebelumnya. Ada juga minyak, tanduk dan tendon binatang liar.”


Daging, kulit, dan bahan lainnya ini adalah hadiah tersembunyi dari sistem untuk penguasa yang telah menyelesaikan misi. Dengan daging ini, dapat meringankan krisis pangan teritori. Tentu saja, anda harus memiliki kemampuan untuk dapat memanfaatkannya secara maksimal.


“Tendon, tanduk, dan kulit binatang liar ini harus disimpan secara terpisah. karena ini adalah bahan baku untuk membuat peralatan dan senjata di masa mendatang.” Heru Cokro secara khusus mengingatkan.


Saat ini, Ghozi juga baru kembali dengan tim, membawa 60 anak sapi liar. Ketika melihat semua berjalan dengan baik. Heru Cokro pamit undur diri.

__ADS_1


Di kediaman penguasa, Heru Cokro berpapasan dengan Kawis Guwa dan Notonegoro yang baru saja kembali dari tur wilayah, tersenyum dan menyapa: “Bagaimana hasil tur wilayah yang sederhana ini!”


“Yang Mulia terlalu sopan. Saya telah berkeliling dan memiliki cukup banyak kakaguman terhadapnya. Meskipun Jawa Dwipa masih pada tingkat RT, ia memiliki tata letak yang masuk akal dan desain tata teritori yang baik. Baik itu dalam bidang mata pencaharian masyarakat atau berbagai industri teritori, ini diatur dengan efektif dan efisien. Selain itu juga, dapat memanfaatkan nilai geografis secara maksimal, bahkan meningkatkan potensinya. Dapat dilihat bahwa kepemimpinan Yang Mulia sangat cerdik dalam menyusun strategi. Saya sangat mengaguminya.“


Heru Cokro yang di puji oleh seorang sarjana terkenal dan seorang pemimpin suatu dinasti seperti Kawis Guwa, merasa bangga serta meningkatkan rasa percaya diri Heru Cokro.


Sejujurnya, pendekatannya dalam mengelola teritori tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri. Ini hanya hasil eksplorasi pada pengalaman kehidupan sebelumnya. Yah, bagaimanapun dikatakan, reinkarnator adalah reinkarnator. Kecerdasan, kebijaksanaan dan kemampuan memimpin adalah perkara lain.


“Tidak perlu memuji. Dengan bantuan Tuan Kawis Guwa sekarang, saya percaya bahwa efisiensi administrasi Jawa Dwipa pasti akan lebih tinggi daripada sebelumnya,” Heru Cokro berkata dengan tulus.


Kawis Guwa hanya bisa diam, dalam hal ini, ia tidak perlu memuji dirinya sendiri. Jika tidak, ini hanya akan jadi bomerang. Seperti kata pepatah ”diam adalah emas”. Disinilah momen pepatah ini akan tepat digunakan. Apabila dalam setiap waktu hanya diam saja, maka tidak ada bedanya dengan patung atau benda.


Setelah berbicara dengan Kawis Guwa dan Notonegoro, Heru Cokro kembali ke kantornya, membaca buku selama satu jam, kembali ke kamar dan offline.


Hari ini, Rama Heryamin dan Dia Ayu Heryamin tidak pergi sekolah atau kuliah, karena ini merupakan akhir pekan. Keduanya tidak keluar, tetapi tinggal di rumah bersama. Ketika Heru Cokro kembali ke apartemen, keduanya masih tidur. Dia hanya bisa mendesah dan memasukkan sarapan yang dia beli sebelumnya ke dalam mesin penghangat makanan.


Kembali ke kamar, Heru Cokro membuka Metaland Mainnet dan melihat forum. Tidak mengherankan, jika seluruh berita di forum ditempati oleh pertempuran dengan invasi binatang liar kemarin.

__ADS_1


__ADS_2