
Pada pukul 5 sore, Peleton Kavaleri telah kembali dari misi pemusnahan batalion raider menengah. Jendral giri mendapat berita bahwa Heru Cokro dan pejabat inti berada di pintu masuk teritori Jawa Dwipa untuk menyambut kepulangannya bersama para tentara.
Jendral Giri mengendarai kuda putihnya, berjalan di depan peleton kavaleri. Ketika dia melihat Heru Cokro dan rombongannya, dia segera turun, berlutut dengan satu lutut dan berkata dengan keras: “Jendral Giri, memberi salam kepada Yang Mulia.”
Pada saat yang sama, peleton kavaleri yang berada di belakangnya mengikuti, berlutut dengan satu kaki, dan berkata dengan serempak: “Salam Yang Mulia!”
Heru Cokro membantu Jendral Giri berdiri dan berkata sambil tersenyum: “Terimakasih telah kembali pulang dengan selamat!”
Wirama yang bertanggung jawab untuk mengawal rampasan, berjalan ke depan, menyerahkan rampasan kepada Biro Administrasi, Divisi Finansial, dan Divisi Cadangan Material. Sedangkan Heru Cokro memimpin Jendral Giri, memasuki aula diskusi yang berada di kediaman penguasa, ingin mendengarkan laporan pemusnahan batalion raider menengah secara terperinci.
Setelah duduk, Jendral Giri berkata: “Pemusnahan batalion raider kali ini lebih sulit daripada yang telah diharapkan. Awalnya, saya akan menggunakan keunggulan mobilitas peleton kavaleri untuk memberantasnya. Merujuk pada strategi peperangan sebelumnya dan mengeluarkan raider dari perkemahannya.”
“Saya tidak berharap bahwa pemimpin mereka sangat berhati-hati. Meskipun mereka tidak mengenali strategi kamuflase kami secara langsung, mereka masih tidak tergoda keluar dari pemukimannya untuk menangkap belasan raider yang kami kirim. Maka sebagai upaya terakhir, saya hanya dapat memimpin tim tentara langsung ke dalam perkemahan.”
Heru Cokro sejenak berpikir dan mengangguk. “Sepertinya saat perluasan pasukan selanjutnya, masih perlu untuk meningkatkan infanteri. karena infanteri sangat cocok mengahadapi situasi peperangan seperti itu.”
“Untungnya, musuh kali ini tidak begitu kuat, sehingga para prajurit masih berhasil memusnahkan batalion raider.” Lanjut Jendral Giri.
Heru Cokro tahu bahwa operasi perang kali ini tidak akan mudah, seperti yang dikatakan Jendral Giri. Selain itu, ketika mengingat kelelahan para tentara, dia bertanya dengan khawatir: “Bagaimana tentang korban dalam peperangan kali ini?”
“Korbannya lebih serius daripada yang telah diperkirakan. Kali ini, peleton kavaleri yang bergerak bersama Divisi Intelijen Militer, berjumlah 122 orang. Di antara mereka, satu orang meninggal dunia, lima orang terluka serius dan 24 orang dengan sedikit luka.”
__ADS_1
Ketika seseorang terbunuh, Heru Cokro tidak bisa menahan diri dan bertanya dengan penuh kekhawatiran: “Seorang meninggal dunia! Sudahkah anda memberi tahu keluarganya?”
“Berdasarkan data yang diberikan sebelumnya, prajurit yang telah jatuh tersebut adalah anak yatim dan tidak memiliki kerabat di Jawa Dwipa.”
Heru Cokro mengangguk, situasi ini tidak jarang ditemui di alam liar. Sebagian besar dari orang-orang terlantar itu sendirian. Paling-paling, ada beberapa yang sesama penduduk desa, jarang melihat melihat satu keluarga asli.
120 yang pergi ke medan perang, kembali dengan 29 korban luka dan 1 oreng telah tewas. Ini hampir seperempat dari rasio, membuat kemenangan ini terasa agak pahit.
Jika dia ada di sana pada saat itu, dia tidak akan pernah melakukan serangan langsung seperti itu. Bagaimanapun, itu adalah kemenangan, Heru Cokro tidak akan mengkritiknya secara langsung. Ini tidak baik untuknya, juga merupakan etika dasar seorang penguasa terhadap bawahannya.
Mengantar Jendral Giri pergi, Heru Cokro pergi ke PUSKESMAS untuk menjenguk tentara yang terluka.
Setelah menjenguk dan berbicara beberapa kata dengan 30 prajurit yang terluka. Untungnya, kebanyakan dari mereka memiliki cedera ringan. Sehingga cukup mudah ditangani oleh Dokter Dharmawan. Sedangkan yang paling membuat Heru Cokro bersedih, ada lima yang mengalami luka parah, seperti lengan dan kaki patah.
Setelah makan malam, Heru Cokro mengadakan upacara kremasi di alun-alun Kuil Anala. Karena seluruh rentang teritori sekarang, akan menjadi ibu kota di masa depan, itu tidak cocok untuk membangun tempat pemakaman, jadi dia memilih kremasi dan berlokasi di Kuil Anala yang merupakan dewa seremonial. Setelah proses kremasi selesai, Heru Cokro menyimpan abu tentara yang tewas di Balai leluhur. Tunggu hingga promosi teritori selanjutnya, kemudian kubur di tempat pemakaman.
Penduduk Jawa Dwipa datang ke alun-alun Kuil Anala, untuk memberikan perpisahan dan penghormatan kepada pahlawan yang telah gugur di medan perang. Heru Cokro secara pribadi menyalakan api, melihat api mulai mengamuk dan menelan tubuh tentara.
Pada saat yang bersamaan dengan transformasi cahaya api, ekspresi Heru Cokro khusuk, membuatnya sulit dipahami.
Keesokan harinya, ketika Heru Cokro memasuki permainan kembali, ternyata sudah jam 10 pagi.
__ADS_1
Kemarin, Rama Heryamin mulai mengambil liburan sekolah. Pria kecil itu lengket kepadanya sepanjang hari, membawanya ke mana-mana, makan dan minum, itu benar-benar hari yang bebas.
Aula di depan kediaman penguasa penuh dengan orang. Divisi Cadangan Material membagikan kesejahteraan dasar yang telah dijanjikan sebelumnya. Ketika mereka menerima kupon, mereka langsung pergi ke Bank Nusantara untuk melakukan peminjaman, membeli rumah.
Selain bengkel tembikar dasar dan kilang anggur atau kilang bir, toko dan rumah hunian lainnya dihargai sekitar 60 koin perak. Dengan kupon bernilai 20 koin perak yang diberikan oleh teritori, sebagian besar dari mereka memenuhi syarat untuk membeli rumah.
Heru Cokro mengharapkan bahwa sebagian besar properti yang terdaftar akan terjual pada siang hari. Untungnya, Divisi Konstruksi telah membangun ratusan tempat tinggal berukuran kecil yang cocok untuk di huni satu keluarga. Jika tidak, Heru Cokro benar-benar tidak tahu bagaimana mengahadapi kritik warganya.
Untuk menerapkan privatisasi ini, menelan biaya lebih dari 600 koin emas. Pada tahap ini, mungkin tidak ada Penguasa yang berani memiliki tangan besar untuk mengimplementasikan acara akbar ini, kecuali Heru Cokro.
Tapi itu semua sangat sepadan dengan hasilnya. Heru Cokro memeriksa indeks ekonomi teritori, yang ternyata telah menembus angka 30 dan masih memiliki potensi naik. Dengan ini, selain jumlah populasi dan kebun murbai, kondisi lain untuk mempromosikan teritori ke tingkat Dusun telah terpenuhi sepenuhnya.
Pada jam 3 sore, kesejahteraan dasar warga Jawa Dwipa akhirnya selesai didistribusikan. Sedangkan untuk distribusi kesejahteraan dasar selanjutnya akan ditempatkan di halaman depan Divisi Cadangan Material.
Setelah semuanya telah menyelesaikan pekerjaannya, Heru Cokro mengumpulkan pejabat inti setiap divisi untuk mendengarkan laporan mereka dan laporan trofi batalion raider kemarin.
Dalam aula diskusi, Joyonegoro mulai melaporkan: “Kali ini, Jawa Dwipa memiliki 11450 unit makanan, 1200 unit kayu, 500 unit batu, 300 unit biji besi, 105 koin emas, 45 koin perak, 72 koin tembaga, lima cetak biru arsitektur dan satu item spesial batu kebangkitan.”
Kayu, batu dan cetak biru arsitektur, dihasilkan dari pemusnahan batalion raider. Jadi selama Heru Cokro tidak secara pribadi memimpin peperangan, maka ketika musuh telah hancur, tablet batu akan rusak dan perkemahan secara otomatis dihapuskan.
Kemudian Heru Cokro memeriksa lima cetak biru arsitektur tersebut. Ternyata hanya satu yang dapat digunakan, maka empat lainnya hanya dapat dijual ke pasar.
__ADS_1
Adapun semua jenis peralatan dan senjata, tidak dalam kisaran statistik yang disebutkan Joyonegoro. Karena Heru Cokro telah memerintahkan Wirama untuk mengirimkannya langsung ke kamp tentara, agar dapat digunakan langsung oleh peleton kavaleri.