Metaverse World

Metaverse World
Witana Sideng Rana


__ADS_3

Selanjutnya, Notonegoro mulai melaporkan situasi personel: “Kali ini, semua batalion raider non-kombatan yang di bawa kembali ke teritori berjumlah 125 orang. Di antara orang-orang ini, ada koki, peternak, penjahit dan pandai besi. Kebanyakan dari mereka memiliki skil menengah, kecuali peternak yang merupakan skil lanjutan.”


Heru Cokro mengangguk dan berkata: “Setelah privatisasi, aula makanan teritori akan dibubarkan. Biarkan koki ini pergi ke kamp tentara, bertanggung jawab atas makanan para tentara. Penjahitnya kirim ke toko penjahit Laxmi. Pandai besi kirimkan ke bengkel senjata untuk membantu pelatihan magang Empu Supo Madrangi. Adapun untuk peternak lanjutan, biarkan dia bertanggung jawab atas kandang sapi dan semua peternakan yang ada di teritori.”


Di Jawa Dwipa saat ini, orang dengan talenta spesial tidak lagi terlalu langka. Oleh karena itu, Heru Cokro tidak perlu memberikan perincian satu persatu seperti sebelumnya, cukup berikan perkiraan kasar, semuanya dapat berjalan lancar.


Dengan tambahan 125 populasi ini, dapat menghemat 8 hari untuk peningkatan promosi teritori ke tingkat Dusun.


Hari ini tanggal 10 Februari, mungkin pada tanggal 15 Februari, Jawa Dwipa dapat melakukan promosinya lagi. Jika promosi teritori dari tingkat RW ke tingkat Dusun dapat dilakukan dalam rentang waktu 13 hari. Maka ini benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa. Bahkan Roberto yang tidak kekuarangan dana, sumber daya manusia dan kekuatan akan terheran-heran. Apalagi pemain lain yang ada di Indonesia.


Melihat hasil rampasan, Heru Cokro mengambil alih 100 koin emas, cetak biru arsitektur dan batu kebangkitan dari Joyonegoro. Sisa uang diberikan kepada Divisi Finansial. Sedangkan makanan dan material-material lainnya secara alami akan diberikan kepada Divisi Cadangan Material untuk di kelola lebih lanjut.


Sebelum menyerahkan cetak biru arsitektur kepada Divisi Konstruksi, Heru Cokro memeriksa kondisi konstruksi arsenal.


[Arsenal]: Gudang tempat penyimpanan\, pembuatan\, dan perbaikan senjata\, amunisi\, dan alat-alat perang lainnya. Persyaratan konstruksi: Cetak biru arsenal\, 600 kayu\, 400 batu. Waktu konstruksi: tiga hari.


Setelah memeriksa properti cetak biru arsitektur tersebut. Heru Cokro menginstruksikan Divisi Konstruksi untuk membangun gudang senjata dalam dua hari. Sedangkan lokasi konstruksi secara alami berada di dekat kamp tentara, tepat di sebelah bengkel senjata.


Selanjutnya, Heru Cokro mengeluarkan batu kebangkitan dan melihat propertinya.


[Batu kebangkitan] (pangkat jendral): Panggil karakter historis golongan VI secara acak untuk membantu pengembangan teritori anda.


Meskipun ini hanya batu kebangkitan terendah, ini masih sangat berharga. Heru Cokro tidak berharap bahwa kali ini mendapatkan keberuntungan seperti ini, hanya dengan memusnahkan batalion raider menengah. Dia tidak lagi ragu untuk menghancurkan batu kebangkitan. Cahaya warna-warni menyala, kemudian muncul seorang sarjana setengah baya.


“Pemberitahuan sistem: selamat kepada pemain Jendra telah berhasil memanggil karakter historis golongan VI Witana Sideng Rana, serta mendapat hadiah 50 poin prestise.”


Sarjana setengah baya melihat Heru Cokro, membungkuk dan berkata dengan hormat: “Yang Mulia!”

__ADS_1


Heru Cokro tidak berani mengabaikan, bergegas ke depan, membantunya berdiri dengan tulus berkata: “Tuan, tolong berdiri! Saya mohon kerja sama selanjutnya!”


Setelah suasana agak santai, Heru Cokro melihat properti Witana Sideng Rana.


[Nama]: Witana Sideng Rana (Golongan VI)


[Gelar]: Panembahan


[Dinasti]: Kedaton Giri


[Status]: Warga Jawa Dwipa


[Profesi]: Pejabat sipil


[Loyalitas]: 75


[Komandan]: 40 [Kekuatan militer]: 25


[Spesialisasi]: Transparansi tata kelola (meningkatkan efisiensi administrasi teritori sebesar 20%)\, wajah besi (meningkatkan prestise teritori sebesar 20%)\, adil dan jujur (meningkatkan integritas teritori sebesar 20%)


[Evaluasi]: Salah satu dari raja Kedaton Giri\, terampil dalam urusan\, dikenal cerdik dan keren. Selama periode pemerintahannya\, penegakan hukum sangat ketat\, hampir tidak ada pencuri yang lolos.


Untuk membahas tingkat pemerintahan, Kawis Guwa tidak dapat menyamai Witana Sideng Rana. Alasan mengapa Kawis Guwa dipuji oleh dunia adalah karena pemberontakannya bersama Trunajaya terhadap Mataram membuahkan hasil yang gemilang.


Keduanya saling melengkapi, Jawa Dwipa memiliki dua orang ini, urusan pemerintahan akan menjadi baik. Layaknya harimau yang mendapat sayapnya.


Melihat waktu yang tidak memungkinkan untuk pembicaraan lebih lanjut. Heru Cokro memerintahkan Notonegoro untuk menyiapkan tempat tinggal Witana Sideng Rana, serta memperkenalkan situasi dasar Jawa Dwipa.

__ADS_1


Selain itu, Heru Cokro secara khusus memberikan instruksi kepadanya, untuk memberi tahu direktur setiap divisi untuk mengadakan pertemuan di aula diskusi besok, pada pukul 9 pagi.


Tanggal 11 Februari, di aula diskusi kediaman penguasa.


Pejabat inti setiap divisi telah tiba, Heru Cokro duduk di tengah dan secara resmi memperkenalkan Witana Sideng Rana kepada semua orang.


Setelah sedikit perkenalan, Heru Cokro mengatakan: “Setelah hampir sepuluh hari kerja keras, privatisasi telah mencapai kesuksesan tahap awal. Hari ini, ada dua hal utama yang ingin saya sampaikan kepada semua orang. Bahwa tahap selanjutnya adalah untuk menyediakan pasokan militer secara mandiri. Dengan kerjasama bengkel kayu, kendaraan teritori juga perlu dimasukkan ke dalam yurisdiksi terpadu. Sehingga fungsi Divisi Cadangan Material menjadi lebih masif dan kompleks.”


“Jadi, saya memutuskan untuk secara resmi meningkatkan Divisi Cadangan Material menjadi Biro Cadangan Material, yang mencakup Divisi Persiapan Perang, Divisi Kendaraan dan Kuda, dan Divisi Komoditas. Divisi Persiapan Perang bertanggung jawab atas perlindungan logistik untuk material militer seperti senjata dan peralatan militer. Divisi Kendaraan dan Kuda bertanggung jawab atas dukungan transportasi cikar dan delman atau kendaraan lainnya.”


“Divisi Komoditas bertanggung jawab atas pengiriman bahan, serta bertanggung jawab atas pengoperasian toko makanan, tukang daging, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk tempat penambangan, penebangan, dan pernakan, berada di bawah yurisdiksi Biro Cadangan Material secara langsung.”


Joyonegoro dan lainnya tidak berharap bahwa penguasa akan membuat langkah besar seperti ini. Ini bukan renovasi sederhana Divisi Cadangan Material.


Tidak hanya tanggung jawab atas cadangan material, melainkan dibagi menjadi tiga kategori, penebangan, penambangan, dan peternakan dilucuti dan diklasifikasikan secara terpisah, memastikan otoritas ekslusif cadangan material.


Selain itu, rantai pasokan dan rantai cadangan dipisahkan satu sama lain untuk menghindari situasi tunggal. Ini adalah niat sebenarnya dari Heru Cokro.


Setelah semua orang mencerna kebijakan ini, Heru Cokro melanjutkan dengan mengatakan: “Saya tunjuk Witana Sideng Rana sebagai eksekutif Biro Cadangan Material yang sepenuhnya bertanggung jawab atas urusan cadangan material wilayah.”


Witana Sideng Rana segera bangkit, memberi hormat, dan berkata: “Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia, saya akan melakukan yang terbaik dan tidak akan membuat penguasa kecewa!”


Penunjukan ini, membuat semua orang terkejut. Namun memang benar bahwa saat ini, hanya dia yang dapat mengambil alih Biro Cadangan Material. Sedangkan untuk Joyonegoro, bahkan tidak dapat mengontrol Divisi Cadangan Material, apalagi mengelola Biro Cadangan Material.


“Wakil Direktur Divisi Cadangan Material, Joyonegoro akan menjadi Direktur Divisi Persiapan Perang. Kepala pertanian dan pertambangan Jarwanto, ditugaskan sebagai Direktur Divisi Kendaraan dan Kuda. Sedangkan Asisten Direktur Divisi Cadangan Material Puspita Wardani, akan bertanggung jawab sebagai Direktur Divisi Komoditas.” Heru Cokro mengumumkan pengangkatan setiap divisi.


Melihat Joyonegoro yang selama ini sangat konservatif, tentu Heru Cokro tidak akan memperlakukannya dengan buru. Maka dia cocok ditugaskan sebagai Direktur Divisi Persiapan Perang. Meskipun kinerja Jarwanto tidak mencolok, dia telah lama berurusan dengan pertambangan. Kali ini, Heru Cokro mengambil kesempatan ini untuk mengeluarkannya dari tambang, memberikan tanggung jawab sebagai Direktur Divisi Kendaraan dan Kuda yang relatif sederhana.

__ADS_1


Sedangkan Puspita Wardani yang merupakan magang dari Siti Fatimah yang di tunjuk sebagai Direktur Divisi Komoditas, sangat pantas mendapatkannya. Hal ini tentu didasarkan atas kinerjanya selama menjadi Asisten Direktur Divisi Cadangan Material sebelumnya.


Setelah menyelesaikan pengaturan Biro Cadangan Material, Heru Cokro kemudian mengumumkan isu yang kedua.


__ADS_2