Metaverse World

Metaverse World
Kangsa Takon Bapa Part 5


__ADS_3

Sembilan Naga Hitam terbagi menjadi tiga kelompok. Sehingga Aliansi Jawa Dwipa telah mengambil kesempatan untuk bangkit dan memahami kekuatan di Indonesia. Namun, setelah migrasi galaksi, para tetua akhirnya dibebastugaskan dan memiliki lebih banyak waktu untuk mengabaikan masalah dalam permainan. Karena bisnis monyet anak muda telah menyebabkan ketidakpuasan mereka.


Jelas, anak-anak muda masih menangani masalah menurut emosi mereka, daripada menanganinya dengan seni negosiasi dan kompromi, atau seni diplomasi. Maka pada saat seperti ini, para tetua secara alami harus turun gunung dan membereskan kekacauan yang dibuat oleh anak-anak muda. Lagi pula, mereka tidak akan membiarkan kekuatannya jatuh ke tangan orang lain.


Di mata mereka, Heru Cokro hanyalah seorang anak kecil yang baru saja lepas dari susu ibunya.


Maka dengan melalui diplomasi, menyatukan kembali semua kekuatan mereka adalah pilihan terbaik. Namun, Heru Cokro tidak mengkhawatirkan hal ini. Dia lebih peduli tentang Maria Bhakti. Dari tanda dan indikasi yang ada, terlihat jelas bahwa mereka masih menyembunyikannya. Dia tidak tahu apa-apa tentang pertemuan itu dan tidak tahu bahwa para tetua terlibat dalam koalisi.


“Prabowo Sugianto juga ada di dalamnya?” Heru Cokro bertanya.


Abraham Moses terkejut. Dia tidak mengira Heru Cokro akan setajam ini. Dia mengangguk dan berkata, "Ya!"


Selama pembagian Sembilan Naga Hitam, Prabowo Sugianto telah memainkan peran yang memalukan. Dialah yang menggoda Wijiono Manto untuk membentuk aliansi sendiri. Jika Sembilan Naga Hitam mencari reuni, mereka harus melalui Prabowo Sugianto.


Dengan kebijaksanaan rubah tua ini, pilihan terbaik adalah menerima dan mengakui Prabowo Sugianto ke dalam aliansi, atau dalam hal ini, kekuatan yang diwakili oleh Prabowo Sugianto.


Dapat diperkirakan bahwa ketika Aliansi Hartono Brother, Aliansi Garuda Emas, dan Aliansi Bhayangkara berkumpul dan bersatu kembali, aliansi yang baru dibentuk akan jauh lebih kuat dan lebih besar daripada sebelumnya.


Faktor-faktor ini menjawab mengapa mereka membuang Abraham Moses. Dalam aliansi kekuatan yang begitu besar, Abraham Moses bukanlah apa-apa. Satu-satunya alasan dia berada di aliansi itu adalah karena Roberto sangat membutuhkan sekutu untuk Aliansi Hartono Brothernya saat itu. Abraham Moses diambil sebagai tindakan darurat. Namun, dia tidak berguna bagi mereka sekarang, jadi tidak mengherankan jika mereka meninggalkannya.


Heru Cokro mengangguk dan berkata, “Baiklah, pembicaraan hari ini akan berakhir di sini. Kami akan membahas tentang aliansi setelah perang. Yang lebih penting sekarang adalah memenangkan perang ini.”


Setelah dia mengirim Abraham Moses pergi, Heru Cokro tidak tinggal lama di tenda. Dia berkendara kembali ke Giribajra.


Di kota Giribajra, orang-orang ketakutan. Berita tentang pasukan Guagra yang mendekat telah menyebar ke seluruh kota. Kota itu praktis tidak berdaya, karena militer telah dikirim untuk berperang dengan kerjaan lain, serta serangan ini tanpa pemberitahuan atau dadakan. Dengan demikian, apa lagi yang bisa raja gunakan untuk melawan para penyusup ini?


Nyatanya, masih ada waktu seminggu sebelum pertarungan terakhir. Wisnu meninggalkan periode waktu ini agar pemain dapat memanfaatkannya dan menyelesaikan misi sampingan. Namun, Heru Cokro mengabaikan semua ini dan langsung pergi ke istana.


Penjaga kerajaan menghentikan Heru Cokro di depan gerbang istana, “Siapa kamu? Ini adalah istana raja. Itu dibatasi hanya untuk personel yang berwenang.”


Heru Cokro turun dan memberikan kendali kepada pengawalnya Mahesa Boma. Kemudian, dia membungkuk sedikit dengan tangan terkatup, “Perwakilan pemain Jendra. Aku di sini untuk menemui raja, tolong sampaikan kata-kataku!”

__ADS_1


Para penjaga kerajaan memeriksa tanda pinggangnya dan segera menyampaikan kata-katanya kepada raja.


Mengikuti di belakang penjaga kerajaan, Heru Cokro tidak melihat ke istana. Dia hanya memikirkan dalam hatinya tentang bagaimana meyakinkan Prabu Wrehadrata untuk menerima rencananya.


Di istana, Prabu Wrehadrata sedang berdiskusi dengan Patih Jayakalana tentang bagaimana melawan pasukan Guagra. Pengawal kerajaannya melaporkan bahwa perwakilan pemain ada di sini yang memicu minatnya.


Jayakalana adalah orang yang sangat setia kepada Prabu Wrehadrata.


Dalam cerita ini, Patih Jayakalana berhasil meloloskan diri dari Kerajaan Magada akhirnya sampai di Kerajaan Hastina, dan menghadap Prabu Pandu Dewanata untuk menyampaikan berita tentang gugurnya Prabu Wrehadrata. Kemudian Prabu Pandu sangat prihatin dan mengajak Patih Gandamana untuk menghukum Jaka Slewah dan para pengikutnya, karena bagaimanapun juga Kerajaan Magada adalah sekutu dari Kerajaan Hastina.


Demikianlah, Prabu Pandu, Patih Gandamana, dan pasukan Hastina sampai di Kerajaan Magada. Prabu Jarasanda, Raden Kangsa, dan Patih Suratimantra segera mengerahkan pasukan menghadapi mereka. Pertempuran sengit pun terjadi. Patih Gandamana berhasil meringkus Patih Suratimantra, sedangkan Prabu Pandu berhasil mengalahkan Prabu Jarasanda dan Raden Kangsa menggunakan Aji Pangrupak Jagad.


Kini, tubuh Prabu Jarasanda dan Raden Kangsa dibenamkan di dalam tanah oleh Prabu Pandu hingga sebatas dada. Prabu Jarasanda menangis memohon ampun. Ia mengaku salah telah membunuh ayahnya sendiri karena dibutakan oleh dendam sejak kecil. Namun demikian, dirinya kini telah bertobat dan ingin menebus dosa besar tersebut.


Karena dasar watak Prabu Pandu yang mudah kasihan, dia mengangkat tubuh Prabu Jarasanda dan Raden Kangsa dari dalam tanah. Prabu Jarasanda lalu berlutut menyembah Prabu Pandu memohon pengampunan dan dia pun berjanji tidak akan pernah mengganggu Kerajaan Hastina seumur hidupnya.


Kemudian Prabu Pandu menerima janji tersebut, dan mempersilakan Prabu Jarasanda tetap menjadi Raja Magada, karena bagaimanapun juga Prabu Jarasanda adalah ahli waris sah Prabu Wrehadrata.


Heru Cokro masuk ke istana. Kemudian, dia membungkuk dan menyapa raja, "Jendra, salam kepada raja."


Prabu Wrehadrata duduk di singgasananya dengan penampilan yang mengesankan, "Untuk apa kamu mencariku?"


“Aku di sini untuk membantu raja," jawab Heru Cokro, tidak tunduk atau sombong.


"Sombong sekali," kata Jayakalana dari samping.


"Dan kamu jenderal?" Heru Cokro dengan tenang tersenyum dan bertanya.


“Aku Jayakalana, jangan sombong. Tentara raksasa Guagra kuat, dan pasukan utama kita tidak ada di sini. Bagaimana kita bisa melawannya?" Jayakalana adalah orang yang lugas, jadi dia langsung mengajukan pertanyaan di benaknya.


“Aku tidak setuju. Dari apa yang aku dengar, raja telah mengumpulkan 700 ribu rakyat yang berkali-kali lipat dari tentara raksasa Guagra. Bagaimana kekurangan kekuatan itu?” Heru Cokro bertindak bodoh.

__ADS_1


Jayakalana mengejek dengan jijik, “Nak, apa yang kamu tahu? Rakyat itu tidak pernah menerima pelatihan militer. Mereka juga tidak memiliki senjata atau armor, jadi bagaimana mereka bisa pergi berperang?”


Heru Cokro mengangguk, "Lalu mengapa tidak memberi mereka senjata dan baju besi?"


Jayakalana hampir kehabisan kesabaran. Namun, Prabu Wrehadrata duduk di singgasananya dan merenung.


"Kamu tidak tahu apa-apa, namun kamu berani berbicara tentang menyelamatkan kota, ini konyol.”


Heru Cokro terus tersenyum normal dan berkata, “Tolong beri tahu aku, Jenderal!”


Melihat rajanya tidak menghentikannya, Jayakalana menahan diri dengan sangat sabar dan berkata, “700 ribu rakyat lemah ini. Bagaimana mereka bisa berperang? Jika kami memberi mereka senjata dan armor yang hanya dalam waktu sesingkat itu, bagaimana mereka bisa berlatih dan bertarung?”


Heru Cokro berpura-pura baru saja memahami kata-kata Jayakalana. Dia tersenyum dan berkata, "Jadi, itu sebabnya aku di sini."


Prabu Wrehadrata akhirnya tergerak, “Rencana apa yang kamu punya? Katakan dengan cepat!”


“Rajaku, agar rencana ini berhasil, raja harus membuat janji.”


"Apa itu?"


“Aku meminta agar raja tetap berada di istana.” kata-kata Heru Cokro mengejutkan semua orang.


Alasan mengapa Heru Cokro meminta ini adalah agar Prabu Wrehadrata tidak mengetahui bahwa yang dia lawan kali ini adalah anaknya sendiri.


Dalam Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, Prabu Wrehadrata memimpin langsung pasukan Magada menghadapi serangan mendadak ini.


Pertempuran sengit pun terjadi antara kedua belah pihak. Jaka Slewah bertarung menghadapi Prabu Wrehadrata, dan memperkenalkan diri sebagai dua potongan bayi yang dulu dibuang Prabu Wrehadrata, yang kini telah bersatu di bawah asuhan Nyai Jara. Mengetahui siapa yang menjadi lawannya, Prabu Wrehadrata langsung membuang senjata dan menyatakan ikhlas jika Jaka Slewah ingin merebut takhta Kerajaan Magada dari tangannya.


Namun, Jaka Slewah sudah gelap mata karena hatinya dipenuhi oleh dendam dan mencekik Prabu Wrehadrata hingga sekarat. Tidak hanya itu, kedua tangannya lalu bergerak mengupas kulit ayahnya hidup-hidup. Akhirnya, Prabu Wrehadrata meninggal secara perlahan-lahan dalam penderitaan di tangan putranya sendiri.


Oleh karena itu, Heru Cokro harus mengamankan akar masalah ini agar rencananya berhasil.

__ADS_1


__ADS_2