
Ketika dia memilih Gresik untuk mendirikan pemukiman, dia cukup memiliki pemahaman tentang yang ada di pantai. Sehingga ia sepenuhnya mengeksploitasi sumber daya laut, itu benar-benar keuntungan geografis.
Garam laut dan ikan kering adalah salah satu cara dia menciptakan akumulasi modal awal. Untuk tujuan ini, dia tidak ragu untuk mengeluarkan banyak uang di awal periode kendala keuangan, membeli buku panduan tehnik garam laut dan tiga cetak biru arsitektur yang berbeda.
Ini adalah keuntungan dari reinkarnasi. Sementara perwakilan dari kekuatan besar masih berjuang untuk menghasilkan uang dengan membakar kripton dalam jumlah besar, dia telah menunjukkan industri yang sempurna dan terus memberikan dana pembangunan ke wilayah. Manfaat ini akan menjadi lebih jelas dari waktu ke waktu. Industri ini masih dalam masa pertumbuhan dan keuntungannya terbatas, tetapi staminanya melimpah. Setelah dipromosikan, keuntungan yang dihasilkan secara alami akan berlipat ganda.
Penguasa yang kuat dari kehidupan lampau membentuk konsensus sejak lama. Jika suatu wilayah ingin bertahan lama dalam promosi, ia harus membangun industrinya sendiri. Lagi pula, anda dapat menggunakan kripton untuk membeli mata uang dalam permainan, yang berumur kurang dari satu tahun.
Akhirnya Pusponegoro berdiri dan berkata: “Penguasa, aku meragukan beberapa hal. Hanya divisi petani yang membuka kembali 1500 perkebunan umum, tentu saja tidak masalah. Pertanyaannya, untuk lahan pertanian seluas 2000 hektar ini, tanaman apa yang akan ditanam? "
Heru Cokro menjawab: "Tentu saja padi. Padi akan menjadi makanan pokok, juga bisa diolah lagi menjadi tepung beras, bihun, kerupuk gendar dan beberapa olahan pangan setengah jadi lainnya. Sehingga dapat menjadi sumber pendapatan penting lain untuk wilayah."
Pusponegoro adalah seorang petani yang merawat tanah pertanian sampai akhir hayatnya, melirik dengan licik berkata: "Aku tidak pernah memikirkan padi bisa diolah menjadi banyak makanan setengah jadi." Jujur tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Lagi pula, dia hidup di masyarakat Nusantara yang makanan pokoknya pada saat itu adalah umbi-umbian, kemudian masuklah pedagang Tianghoa dan India membawa padi sehingga dapat mengganti makanan pokok sebelumnya.
Heru Cokro tersenyum tipis, “Jadi 2.000 petak ini harus ditanami padi dengan segera dan secepat mungkin, usahakan penanaman selesai sebelum akhir bulan. Sedangkan untuk bibitnya, saya akan membelinya di pasar. Selain itu ketika segala sesuatunya sudah matang dan tenaga kerja mencukupi. Petani harus menanam rempah-rempah yang diantaranya adalah kunyit, pala, kayu manis, cengkeh, jahe, saffron, kapulaga, kemukus, secang, kemiri, serai, kencur, daun ketumbar, biji ketumbar, kluwek, lengkuas, bunga lawing, lada, vanili, andaliman, adas, daun salam, asam jawa dan jinten. Karena ketika tentara kita sudah bisa mengusai jalur sutera, rempah-rempah tersebut akan menjadi salah satu alat penting untuk memegang kendali ekonomi dunia.”
Terkejut dengan rencana visioner sang penguasa, semua orang sangat kagum dan bangga. Begitu tidak ada pertanyaan lagi, Heru Cokro mengakhiri proses diskusi. Setelah keramaian menghilang, dia siap pergi ke pasar untuk membeli hal-hal yang dibutuhkan. Koin emas yang dimiliki Heru Cokro tersisa 110, 4 koin emas digunakan untuk mengganti profesi prajurit. Masih 106 yang dapat dibelanjakan.
Dia pertama-tama menghabiskan 1 koin emas untuk bibit padi, 2.000 hektar akan menjadi area penanaman padi terbesar di wilayah dalam rencana Heru Cokro.
Kemudian belanjakan 1 koin emas untuk membeli 500 unit garam. Garam ini cukup untuk pemakaian awal, selanjutnya Gudang Garam dapat memproduksi garam sendiri.
Sisa 104 koin emas, dia hanya langsung membeli 4000 unit makanan. Tambahkan stok 3100 unit makanan beserta ikan hasil tangkapan nelayan, seharusnya cukup untuk mendukung promosi kawasan ke tingkat RW.
Tanpa pikir panjang, ketika Heru Cokro menemukan ada arca delapan wasu lain yang dijual. Dia menghabiskan 105 koin emas untuk membeli tiga arca yang masih utuh, tidak seperti sebelumnya dalam kondisi rusak, sehingga harga menjadi dua kali lipat daripada pembelian sebelumnya.
[Nama]: Arca Pratyusa
[Level]: Pangkat perak
[Evaluasi]: Ini adalah Arca Pratyusa dengan energi Dewa Pratyusa. Tempat persembahan untuk mendapatkan berkah dari dewa terkait.
[Properti]: Berkat pelindung dewa surya (matahari). Ketahanan makhluk hidup meningkat 40%.
[Nama]: Arca Soma
[Level]: Pangkat perak
__ADS_1
[Evaluasi]: Ini adalah Arca Soma dengan energi Dewa Soma. Tempat persembahan untuk mendapatkan berkah dari dewa terkait.
[Properti]: Berkat pelindung dewa candra (bulan). Kestabilan iklim meningkat 40 %.
[Nama]: Arca Anala
[Level]: Pangkat perak
[Evaluasi]: Ini adalah Arca Anala dengan energi Dewa Anala. Tempat persembahan untuk mendapatkan berkah dari dewa terkait.
[Properti]: Berkat pelindung dewa agni (api). Hubungan diplomasi antar wilayah meningkat 40 %.
Soma adalah penguasa bulan, sekaligus seorang Graha, Candra digambarkan sebagai dewa muda dan cantik, dengan dua tangan, memegang gada dan bunga teratai. Dikatakan bahwa setiap malam dia mengendarai keretanya di langit. Kereta itu ditarik oleh sepuluh kuda putih, atau terkadang antelop. Selain itu kelinci juga sangat disucikan olehnya, dan semua kelinci berada di bawah perlindungannya. Candra juga termasuk salah satu dewa kesuburan.
Kedua, Dewa Anala merupakan representasi dari Dewa Agni. Sesuai dengan kepribadiannya, Agni digambarkan sebagai dewa dengan tubuh merah, rambut menyala, berkepala dua dan selalu bersinar, dagu lancip, gigi emas, enam mata, tujuh tangan, tujuh lidah, empat tanduk, berkaki tiga dan mengendarai biri-biri.
Agni sering disebut sebagai dewa seremonial dalam kitab suci Hindu, Weda. Dewa Agni menyandang gelar dewa ritual karena ia ahli dalam segala hal yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Dewa Agni juga diundang dalam suatu upacara (khususnya Agnihotra) sebagai duta para dewa yang mempersembahkan sesuatu kepadanya (Tuhan).
Terakhir, Dewa Pratyusa merupakan representasi dari Batara Surya. Dewa yang menjadi tumpuan makhluk di alam dunia ini, khususnya tumbuhan dan hewan, Batara Surya dikenal sangat sakti mandraguna serta salah satu dewa utama kahyangan. Batara Surya dikenal senang memberikan pusaka atau jimatnya kepada orang yang dipilihnya.
Heru Cokro sangat gembira dapat mengumpulkan 3 arca lagi. Tinggal 3 lagi maka delapan wasu akan lengkap dan sang jendral besar Bhisma akan datang, menjadi senjata tajam penaklukan jalur sutra. Sepertinya rencana ini dapat diimplementasikan lebih cepat.
Pada malam hari, pesta api unggun berlangsung sangat meriah. Orang-orang berkumpul di alun-alun di depan rumah penguasa dan menyalakan api dengan kayu. Sekelompok orang berkumpul dalam lingkaran, bernyanyi dan menari.
Tarian Fatimah menaklukkan seluruh hadirin. Tariannya fleksibel, lembut seperti awan yang melayang di langit, seperti air jernih, seperti peri dari negeri dongeng yang mengapung di atas ombak.
Tarian pedang Giri juga luar biasa. Pedang itu menyerupai ular putih. Merobek angin, seperti pesawat ulang-alik yang bergerak, empat langkah, terkadang selembut sutera, terkadang tiba-tiba seperti kilat. Itu benar-benar penampilan yang memukau.
Pusponegoro tak mau kalah, dengan warga desa asli Grissee yang melompati tiang. Tabuhan drumnya kuat dan bertenaga, suaranya renyah dan tinggi, sangat membahana. Penonton bergemuruh, nyanyian paduan suara yang monoton diiringi dengan suara seruling dari pipa bambu, tawa gadis desa, suara ceria dan gembira, mengguncang bumi.
Heru Cokro menyanyikan lagu dari Slank, yang berjudul Lembah Baliem.
Aku gak perlu uang ribuan
Yang aku mau uang merah cepe'an
Aku gak butuh kedudukan
__ADS_1
Yang penting masih ada lahan tuk makan
Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang... aku cukup senang
Dan akupun tenang
Aku gak ngerti ada banyak tambang
Yang aku tahu banyak hutan yang hilang
Aku gak perduli banyak nada sumbang
Kita orang ini dianggap terbelakang
Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang... aku cukup senang
Dan akupun tenang
Hei... yamko rambe yamko...aronawa... ombe
Hei... yamko rambe yamko...aronawa... ombe
Hei ngino kibe kumbano kumbu beko
Yumano kumbu awe ade
~ ~ ~ ~ ~
Semua orang di Jawa Dwipa, kecuali Heru Cokro dan Giri, semuanya adalah pengungsi dan kini punya kesempatan untuk berkumpul. Api unggun sederhana mengurangi rasa sakit karena menggerakkan orang dan perasaan cinta. Jarak antar manusia, etika yang kuat, membuat mereka benar-benar menganggap Jawa Dwipa sebagai rumah sendiri.
__ADS_1
“Pemberitahuan sistem: selamat pada pemain Jendra berhasil mengadakan pesta api unggun, penduduk sangat antusiasme, moral terkondensasi, dan meningkatkan moral 5 poin!”
Ketika Heru Cokro masih terbenam atas suasana pesta, Sistem sialan ini mengingatkan bahwa ini hanya permainan. Malampun larut, beliau pulang ke rumah, offline.