Metaverse World

Metaverse World
Raden Syarifudin


__ADS_3

Pada sore hari tanggal 25 September.


Heru Cokro dan pasukannya kembali ke Kecamatan Jawa Dwipa.


Ketika dia kembali, dia menyerahkan semua tahanan dan sumber daya ke Biro Urusan Militer dan Biro Dalam Negeri untuk ditangani.


Biro Urusan Militer bertugas memberikan pengadilan kepada para tahanan, dan membunuh yang jahat. Bandit yang tersisa akan ditempatkan sementara di luar kecamatan oleh Divisi Pencatatan Sipil. Untuk kelompok bandit gunung ini, Heru Cokro punya rencana lain untuk mereka.


Kembali ke kediaman penguasa, Heru Cokro membawa 2 peti perak dan satu peti permata ke Zahra, dan dia akan bertanggung jawab untuk menempatkannya di penyimpanan internal kediaman penguasa.


Tentu saja, dia juga tidak lupa memintanya untuk menyiapkan sekotak permen malt untuk Hanoman.


Adapun 2 peti emas, Heru Cokro mengambilnya untuk sementara waktu. Ditambah dengan emas yang mereka ambil dari bandit gunung, Heru Cokro memiliki total 31.000 emas di tas penyimpanannya.


Setelah berurusan dengan hal-hal kecil, Heru Cokro mengambil hadiah terbesar dari penyerbuan ini, yaitu Batu Kebangkitan peringkat raja.


Heru Cokro merobek token itu, dan dengan cahaya warna-warni yang menyebar, muncul seorang jenderal yang menunggang kuda putih muncul.


"Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra karena berhasil memanggil tokoh sejarah golongan VII Raden Syarifudin, diberikan 50 poin reputasi."


Saat melihat Heru Cokro, pemuda itu segera turun dari kudanya, berlutut di lantai dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Jenderal Syarifudin menyapa Paduka!”


Raden Syarifuddin atau Raden Qosim adalah putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Dia mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad 15 hingga 16 Masehi. Dia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.


Sebagai penghargaan atas keberhasilannya dalam menyebarkan agama Islam dan penanggulangan kemiskinan dengan cara menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, dia memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.


Filosofi Sunan Drajat yang paling masyhur adalah tujuh sap tangga, sebagai berikut:


Pertama, Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)


Kedua, Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)


Ketiga, Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)


Keempat, Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

__ADS_1


Kelima, Heneng, Hening, Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur).


Keenam, Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)


Ketujuh, Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan. (Berilah tongkat pada orang buta, berilah makan pada orang yg lapar, berilah pakaian pada orang yg telanjang, dan berilah tempat berteduh pada orang yg kehujanan) (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, dan berikan perlindungan orang yang menderita)


Dia adalah bakat besar! Raden Syarifudin juga memiliki keahlian di bidang kesusastraan dengan menciptakan tembang mocopat, yakni pangkur. Juga, ahli dalam bidang musik, yang terkenal dengan gamelan singo mengkoknya.


Heru Cokro sangat senang. Dia maju selangkah dan membantu Raden Syarifudin berdiri. "Jenderal, tolong berdiri!"


Setelah dia bangun, Heru Cokro melihat statistiknya.


[Nama]: Raden Syarifudin (golongan VII)


[Dinasti]: Kesultanan Demak Bintoro


[Status]: Jenderal Kecamatan Jawa Dwipa


[Profesi]: Perwira lanjutan


[Komando]: 70


[Kekuatan]: 75


[Kecerdasan]: 85


[Politik]: 35


[Spesialisasi]: Patriotis (Meningkatkan kekuatan tempur pasukan sebesar 20%)\, Pantang mundur (meningkatkan kecepatan pergerakan pasukan sebesar 20%)


[Meritokrasi]: Tehnik Tombak Drajat


[Peralatan]: Tombak besi halus


[Evaluasi]: Syarifudin adalah jenderal berbakat yang mampu mengangkat derajat warga miskin\, dan dapat digunakan sebagai garda depan atau pelindung.

__ADS_1


Kedatangan Raden Syarifudin merupakan anugrah keselamatan bagi Heru Cokro. Dia khawatir tidak memiliki jenderal yang baik untuk menambah pasukan. Dengan adanya dia, setengah masalahnya telah terpecahkan.


Karena sudah larut, mereka tidak bisa melakukan percakapan yang mendalam. Heru Cokro memperkenalkannya kepada Raden Said dan meminta Raden Said untuk menyambutnya. Adapun peran dan pengaturan khusus, itu akan dibahas besok.


Saat makan malam, Heru Cokro mengajukan pertanyaan kepada Maharani. "Bagaimana pembangunan Sekte Pedang Sachi?"


“Ini hampir selesai, kami akan mengadakan upacara pembukaan pada hari pertama bulan Oktober.” Maharani sangat bersemangat.


Heru Cokro mengangguk dan tertawa. “Wow, aku benar-benar harus memanggilmu Pemimpin Sekte Sachi mulai sekarang dan seterusnya. Selama upacara, aku akan memberimu hadiah besar.”


Matanya cerah, dengan posisi dan pangkat Heru Cokro, hadiah besarnya pasti akan besar. Dia bertanya dengan rasa ingin tahu, "Hadiah apa?"


"Kamu akan tahu ketika waktunya tiba." Heru Cokro ingin merahasiakannya.


"Tidak usah, jangan bilang apa-apa!"


Tanggal 26 September, jam 10 pagi.


Karena resimen 1 dan 3 belum kembali, Heru Cokro mengadakan pertemuan pemerintahan-militer Kecamatan Jawa Dwipa. Ini adalah pertama kalinya Kecamatan Jawa Dwipa mengadakan pertemuan seperti itu sejak urusan militer dan pemerintahan dipisahkan.


Setiap orang yang merupakan direktur divisi dan di atasnya ada di sini. Untuk bagian militer, semua kapten dan di atasnya ada di sini. Selain itu, Heru Cokro juga mengundang para profesional untuk menghadiri pertemuan tersebut.


Selama bulan September, Heru Cokro menghabiskan sebagian besar waktunya di luar dan tidak punya waktu untuk urusan teritorial. Untungnya dengan direktur di tempatnya, tidak banyak yang terjadi, tetapi juga tidak ada pencapaian yang menarik.


Ketika Heru Cokro berada di militer, selain pertempuran, dia hanya menghabiskan sisa waktunya untuk memikirkan rencana untuk masa depan dan pengaturan strategis wilayah tersebut.


Saat wilayah terus berkembang, dan lebih banyak kelompok pemain bergabung. Kecamatan Jawa Dwipa tampak makmur, tetapi secara internal masih ada banyak masalah. Masalah terbesar adalah kehilangan arah tanpa tujuan strategis. Oleh karena itu, Heru Cokro ingin mengadakan pertemuan ini untuk mendapatkan ide.


Heru Cokro berkata, "Kawis Guwa, beri tahu kami situasi dasar wilayah ini."


"Ya, Paduka!" Kawis Guwa bangkit. “Hingga saat ini, selain Kecamatan Jawa Dwipa, kami memiliki 8 desa afiliasi. Kami hampir mengambil wilayah dari Gresik, yang hanya meninggalkan wilayah utara, yaitu Pulau Bawean yang berada dekat dengan pulau kecil Noko. Dari segi populasi, Kecamatan Jawa Dwipa baru saja menembus 80 ribu, dan total populasi wilayah kami telah menembus 240 ribu.”


“Dari segi keuangan, Desa Pantura, Desa Kebonagung, dan Desa Batih Ageng telah menjadi mandiri, dengan tingkat pendapatan yang cukup stabil. 5 wilayah afiliasi baru masih membutuhkan bantuan pemerintah, terutama Desa Petrokimia, yang perlu membayar setengah dari Jalan Sendang Banyu Biru, membutuhkan bantuan keuangan dan subsidi dalam jumlah besar.”


Setelah Kawis Guwa menyelesaikan laporan, Raden Said yang merupakan perwakilan militer, berkata, “Yang Mulia, dengan Kecamatan Jawa Dwipa sebagai intinya, menghitung Desa Kebonagung, Desa Pantura, dan Desa Batih Ageng, wilayah tengah memiliki populasi lebih dari 200 ribu. Menghitung semua pasukan kami, bagaimanapun, kami hanya memiliki 15 ribu militan. Aku sarankan kita memperluas militer lagi.”

__ADS_1


__ADS_2