
Setelah pasukan Kecamatan Jawa Dwipa memasuki teras, mereka membentuk dan bersiap untuk pertempuran terakhir.
Di dalam aula, melihat pasukan musuh seperti ikan berkerumun ke laut, pasukan aliansi terlihat putus asa di mata mereka. Pasukan Batalyon Paspam masih berada di depan, dan memimpin serangan ke aula.
Pasukan aliansi membelakangi tembok dan tidak punya jalan keluar, sehingga mereka hanya bisa berharap untuk kehidupan yang lebih baik di lain waktu.
Di aula pertemuan yang sempit, ini menjadi medan pertempuran terakhir dari kedua pihak.
Para prajurit dari Batalyon Paspam, Jenderal Jayakala dan Jenderal Giri memiliki kekuatan mental seperti baja dan semangat yang tak terpatahkan, dan maju terus. Mereka tidak takut mati dan memperlakukan kehormatan seperti hidup mereka. Menyerang dan membunuh adalah naluri mereka.
Para prajurit adalah mesin pembunuh yang sangat efisien yang berjalan dengan cepat, dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Kematian adalah hadiah terbaik yang bisa mereka berikan kepada musuh mereka, dan darah adalah hadiah terbaik.
Suasana dan pemandangan seperti itu membuat musuh menyerah dan berhenti berjuang.
Syamsul terus berusaha membangkitkan semangat mereka untuk melakukan perjuangan terakhir.
Pembantaian berlanjut. Darah segar menodai celah di lantai berbatu yang mengalir kemana-mana. Setelah diinjak, ada banyak jejak kaki berdarah, seperti tempat kediaman asura.
Cahaya pedang menyinari dan darah berceceran di mana-mana. Yang terluka menjerit kesakitan dan tenggelam dalam bayang-bayang pedang.
Heru Cokro berdiri di luar aula, menatap pembantaian ini tanpa berkedip.
Saat darah menodai bumi dan sekutu jatuh satu demi satu, saat pedang mereka patah menjadi dua, saat darah sekutu mengaburkan pandangan mereka, pasukan aliansi kehilangan keberanian dan mencoba melarikan diri. Mereka pergi melalui pintu belakang dan mencoba melarikan diri melalui halaman belakang.
Syamsul tertawa. Dia tidak mundur dan berkata, “Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu dan tidak pernah menyinggungmu?”
“Aku Jendra, penguasa Jawa Dwipa.”
“Pantas, sesuai namanya!” Kemudian dia tertawa, menarik pedang di pinggangnya dan menghadapi Jenderal Giri, berteriak, "Janc*k!" Ini adalah nyayian terakhirnya, saat Jenderal Giri ke depan dan menebasnya.
Kemarahan Syamsul menjadi kenangan terdalam Heru Cokro dari seluruh pertempuran ini. Dia benar-benar dapat memahami perasaan seorang penguasa terhadap wilayahnya.
__ADS_1
Syamsul tidak memilih untuk melarikan diri, dan di saat-saat terakhir, dia membuat pilihan untuk mati bersama dengan wilayahnya. Peperangan wilayah tidak ada hubungannya dengan kebenaran atau keadilan, apalagi baik atau buruk.
Yang ada hanya bertahan hidup! Yang kuat hidup, dan yang lemah mati! Inilah kenyataan dan prinsip yang harus di pegang teguh.
Heru Cokro masuk ke aula pertemuan, dan memerintahkan seluruh pasukan untuk membersihkan sisa tentara. Tak lama kemudian, notifikasi terdengar.
“Pemberitahuan sistem: pemain Jendra telah menaklukkan Desa Sangkapura. Silakan pilih apakah akan menaklukkan, menyerahkan ke pemain lain, atau menghancurkan.”
“Aku memilih untuk menaklukkan!"
Desa Sangkapura memiliki lokasi yang strategis, jadi Heru Cokro jelas akan menaklukkannya.
"Pemberitahuan sistem: setelah menaklukkan, kamu dapat mengganti nama wilayah, apakah kamu akan memilih untuk melakukannya?"
"Tidak!" Heru Cokro tidak tertarik dan tidak ingin memikirkan nama lain.
Setelah menaklukkan wilayah tersebut, Heru Cokro akhirnya punya waktu untuk mengatasi kekacauan yang dia buat.
Dia memerintahkan kepada Patih Jayakalana untuk menghilangkan kekuatan militer dari wilayah afiliasi Desa Sangkapura. dia memberi tahu penduduk bahwa Desa Sangkapura berada di bawah kekuasaan Jawa Dwipa. Dia memerintahkan Batalyon Paspam untuk bertanggung jawab atas hukum dan ketertiban di desa untuk mencegah penjarahan. Dia membuat beberapa penghuni membersihkan kediaman penguasa dan memberikan instruksi untuk memulihkan hukum dan ketertiban.
Pada sore hari, Desa Sangkapura telah kembali normal.
Desa Sangkapura menjadi desa menengah, di antara para pemain mungkin bisa berada di peringkat 300 teratas yang bisa bersaing dengan Desa Petrokimia.
Desa Sangkapura memiliki total 33 pejabat. Ada 21 golongan III, 11 golongan IV, 1 golongan V dan tidak ada tokoh sejarah.
Setelah pertempuran, pasukan Desa Sangkapura hampir musnah, menyebabkan populasi desa berkurang drastis, dan hanya menyisakan 6.000 orang.
Setelah Desa Sangkapura ditaklukkan, tidak akan ada lagi pengungsi yang muncul. Karena Desa Sangkapura berada jauh di luar wilayah Kecamatan Jawa Dwipa, Desa Sangkapura tidak dapat dianggap sebagai milik Kecamatan Jawa Dwipa, kecuali jika Heru Cokro memindahkan semuanya ke Jawa Dwipa untuk tinggal.
Heru Cokro jelas tidak akan melakukan itu, karena dia punya rencana besar untuk Desa Sangkapura.
__ADS_1
Dia mulai mengubah struktur administrasi Desa Sangkapura, mirip dengan wilayah afiliasi Kecamatan Jawa Dwipa, dengan 23 pejabat sebagai basis. Ini untuk membangun Biro Administrasi, Biro Dalam Negeri, Biro Finansial, dan Biro Cadangan Material. Begitu Buminegoro membawa para pejabat elit, Desa Petrokimia dapat segera mulai berjalan kembali.
Dari para pejabat, satu-satunya talenta terbaik adalah Agha. Dia berusia 32 tahun dan merupakan pejabat pemberontak yang menentang kepemimpinan Syamsul yang otoriter.
Heru Cokro berada di kantor penguasa sendirian dengan Agha.
Pejabat pemerintah ini memiliki hati yang baik, bersih dan suci, sesuai dengan namanya, sehingga bersedia berdiskusi dan kooperatif dengan Heru Cokro.
Heru Cokro tersenyum, dan memintanya untuk duduk sebelum berkata, “Aku bukan penguasa yang otoriter dan hanya menggembungkan dompet pribadi saja. Aku yakin kamu akan mengetahuinya sendiri dengan berlalu waktu.”
Agha agak emosional. Sebagai seorang pembangkang, dia jelas bahwa Desa Sangkapura akan hancur baik dengan sendirinya atau dari pihak luar. Karena sudah seperti ini, dia hanya bisa berharap bahwa penguasa baru ini tidak lalim, dan mau mengayomi rakyatnya.
Heru Cokro jelas tidak menyangka akan begitu mudah untuk meyakinkannya. “Aku harap kamu dapat memimpin kesejahteraan warga!”
Agha memantapkan diri dan membungkuk, "Salam Paduka."
Heru Cokro membantunya berdiri dan berkata, "Dengan bantuanmu, Desa Sangkapura akan jauh lebih baik!"
Heru Cokro menunjuknya sebagai direktur administrasi, dengan seseorang yang akrab dengan jalannya Desa Sangkapura, akan membuatnya lebih mudah untuk beradaptasi.
********
Pagi hari berikutnya, armada angkatan laut Pantura berangkat pulang. Mereka meninggalkan unit pertama angkatan laut untuk menjaga Pulau Noko. Sedangkan unit yang dipimpin oleh Patih Jayakalana untuk sementara akan menjaga Desa Sangkapura. Adapun para perompak yang ditawan, mereka membawa mereka semua kembali ke Pantura.
Pulau Noko dan Pulau Bawean menempati tempat penting dalam strategi Heru Cokro, jadi dia tidak mempercayai penempatan para perompak ini di pulau-pulau itu.
Sore hari, 27 Oktober, armada angkatan laut Pantura kembali ke Pelabuhan Pantura.
Setelah Heru Cokro meninggalkan pelabuhan, dia dengan sengaja pergi ke desa dan membuat obrolan ringan dengan Kepala Desa Notonegoro. Dia menjelaskan pekerjaan konstruksi pangkalan angkatan laut yang dibutuhkan di Pulau Noko dan Pulau Bawean.
Pada malam hari yang sama, Heru Cokro kembali ke kediaman penguasa.
__ADS_1